The Indigo Twins

The Indigo Twins
Dukun beranak



"Emangnya istrinya pak Prapto itu keguguran kenapa bu?" tanya Alisa.


"Kayaknya sih kualat, karena dia itu dulu jadi dukun beranak, orang-orang kebanyakan kalau mau ngegugurin kandungan itu ke dia, mangkanya Allah buat dia gak bisa punya anak sampai sekarang" jawab bu Hanung.


"Pantas aja dia gentayangan" batin ku.


"Dukun beranak, kok Alisa baru dengar di kampung ini ada dukun beranak" terkejut Alisa.


"Iya, di sini itu memang ada dukun beranak, sekarang orangnya udah meninggal, nama baik kampung kita pasti akan kembali setelah meninggalnya bu Resti, kampung kita bisa aman lagi karena biasanya setiap 5 tahun sekali pasti ada aja ibu hamil yang kehilangan anaknya, meskipun masih berada di dalam kandungan" jelas bu Wahida.


"Hilang gimana bu?"


"Hilang gitu saja, gak tau kemana, dulu itu ada yang ngalamin kayak gitu, namanya bu Lula, dia lagi hamil besar, tiba-tiba saat kurang 2 Minggu melahirkan, anak yang ada di dalam kandungan bu Lula hilang gitu aja, kayak ada orang yang ngambil, kami rasa bu Resti lah penyebab hilangnya anaknya bu Lula dan juga ibu-ibu lainnya yang juga pernah kehilangan anak di dalam kandungannya" jawab bu Wahida.


"Iya mangkanya kami ngusir dia dari kampung ini" tambah bu Hanung yang geram pada dukun beranak.


"Kalau di usir, terus sekarang bu Resti sama pak Prapto tinggalnya di mana?" penasaran Alisa.


"Di tengah-tengah hutan, mereka tinggal di sana, mangkanya jarang keliatan, apalagi bu Resti, dia gak pernah lagi kami temui setelah kami usir dari kampung ini, kalau pak Prapto sering kami lihat, tapi kandang-kandang, gak setiap hari" jawab bu Weni.


"Oh gitu, sekarang kemana bu Lula, kenapa Alisa asing banget dengar namanya, bahkan baru kali ini Alisa dengar namanya?" tanya Alisa.


"Bu Lula udah gak tinggal lagi di kampung ini, dia ikut suaminya yang kerja di luar kota, saat sudah kehilangan anaknya, bu Lula dan suaminya pergi dari sini dan gak pernah balik-balik lagi, kemungkinan besar mereka menetap di kota, karena dulu sebelum pergi bu Lula sempat bilang mau keluar kota ikut semuanya" jawab bu Weni.


"Pantas aja Alisa gak pernah lihat orang yang namanya bu Lula itu selama ini" kata Alisa.


"Jangankan kamu, kami aja udah lupa sama wajah bu Lula karena udah lama banget dia pergi dari desa ini, sampai sekarang ibu gak tau kabarnya kayak gimana" jawab bu Weni.


"Jadi udah makan korban" batin ku.


"Ibu gak ada yang di ganggu sama hantunya bu Resti?" tanya pak Tono tukang sayur keliling di desa ini.


"Enggak pak, emang bapak di ganggu sama bu Resti?" tanya bu Wahida.


"Bukannya di ganggu lagi Bu, malahan tadi malam itu bu Resti mengelilingi rumah saya dengan terus tertawa terbahak-bahak, saya yang dengar aja udah takut banget, saya gak berani keluar karena saking takutnya, anak saya yang paling kecil itu nangis sepanjang malam karena di ganggu bu Resti" jawab pak Tono.


Rumah pak Tono adalah satu-satunya rumah yang paling dekat dengan hutan, di sekitar rumah pak Tono hanya ada beberapa rumah yang berdekatan.


Kalau rumah warga yang lain kebanyakan jaraknya sangat jauh, sama seperti rumah ku, jaraknya ke rumah pak Tono sangat jauh, tapi amannya di sekitar rumah ku masih banyak rumah-rumah penduduk tak sepi seperti rumah pak Tono.


"Yang benar bapak di ganggu sama bu Resti?" tanya bu Weni tak menyangka.


"Iya bu, tadi malam hantunya bu Resti berkeliaran di kampung ini, kata tukang sate yang biasanya selalu berkeliling setiap malam juga sama, dia bilang tadi malam di cegat sama bu Resti" jawab pak Tono.


"Iih seramnya"


Mereka semua begidik ngeri mendengar hal itu.


Mereka baru tau kalau bu Resti ternyata jadi hantu.


"Ternyata bukan aku saja yang di ganggu sama hantu itu" batin Alisa.


"Ada apa za, kenapa kamu malah ngajak pergi tiba-tiba gini?" tanya Alisa.


Aku diam dan terus berjalan dengan menarik tangan Alisa.


"Za jawab, ada apa sebenarnya, kenapa kamu tiba-tiba berubah draktis begini?" tanya Alisa yang keheranan.


"Nanti aku jelasin di dalam" jawab ku.


Alisa tidak lagi bertanya dan terus berjalan bersama ku tanpa memberontak.


"Kenapa kamu narik-narik aku, ada apa sebenernya, cepat jawab" tintah Alisa ketika sudah berada di dalam rumah.


"Lihat itu, aku narik kamu buat pergi dari sana gara-gara itu" tunjuk ku pada seseorang yang berjenis kelamin laki-laki yang bersembunyi di dekat pohon bambu yang tak seberapa jauh dari posisi ibu-ibu itu.


Alisa melihat orang itu dari jendela.


"Itu bukannya pak Prapto, kenapa dia nguping?" tanya Alisa yang mengenali orang itu.


"Aku juga gak tau, mangkanya aku langsung narik kamu ke sini, karena aku takut ada apa-apa nantinya" jawab ku.


"Apa yang kalian lihat?" tanya seseorang dari belakang kami.


Kami terkejut mendengar suara itu.


Perlahan-lahan kami berbalik badan dan menghadap ke arah mereka bertiga yang kini berada di belakang kami.


Di wajah mereka terlihat rasa penasaran yang begitu mendalam ketika melihat ulah kami yang begitu mencurigakan.


"Pak Prapto" jawab kami.


"Pak Prapto?"


"Ada apa dengan pak Prapto?"


Tak mengerti mereka dengan apa yang kami maksud.


"Di luar ada pak Prapto, kalian tau gak, hantu yang tadi malam gangguin aku itu, ternyata istrinya pak Prapto yang meninggal kemarin" jawab Alisa.


"Kok gak ada berita orang meninggal kalau memang hantu itu istrinya pak Prapto" kata Ustadz Fahri.


"Gak tau juga tadz, kami aja baru tau kalau ternyata pak Prapto itu punya istri, tapi katanya istrinya pak Prapto itu sudah 5 tahun mengurung diri di dalam rumah" jawab ku.


"Pantas aja saya gak tau wafatnya istrinya pak Prapto" kata Ustadz Fahri.


"Kenapa istirnya pak Prapto bisa gentayangan, dia meninggal kenapa?" tanya Angkasa.


"Kalau meninggalnya kenapa kami juga tidak tau, tapi tadi kami dengar kalau tanya istrinya pak Prapto itu dukun beranak, dia adalah orang yang selama ini membantu menggugurkan janin yang berada di dalam kandungan, mungkin saja karena pekerjaan tercelanya itu membuatnya gentayangan" jawab Alisa.


"Wajar aja kalau pas udah meninggal jadi hantu, lihat aja kelakukannya kayak gitu" kata Angkasa yang tak menyangka jika ada orang yang rela membunuh anak tak berdosa meski ayah dan ibunya ingin mengugurkannya.