The Indigo Twins

The Indigo Twins
Terpaksa



"Ayo anak-anak" ajak bunda dengan mendorong kursi roda ku.


Angkasa membuka pintu kamar mayat.


Dengan terpaksa kami semua masuk ke dalam kamar mayat yang di penuhi beragam macam mayat yang meninggal dengan berbagai macam faktor.


Aku langsung memejamkan mata kala jiwa ini merasa kalau ada banyak sekali makhluk halus yang menghuni kamar ini.


"Bismillah semoga mereka tidak menganggu ku amin" batin ku.


Kami masih diam beberapa saat di dalam kamar mayat.


"Dokter Gladis masih ada di luar gak sih, apa udah pergi atau gimana, aku sudah tidak kuat ada di sini" keluh ku yang sudah tak tahan berada di sini.


"Coba aku akan mengintip dulu apakah di luar masih ada dokter Gladis atau tidak" kata Angkasa.


Angkasa membuka sedikit pintu dengan sangat pelan-pelan, lalu dia melihat dengan satu mata.


"Aman, dokter Gladis sudah pergi" lapor Angkasa dengan suara pelan.


"Ayo kita harus pergi dari sini, aku seperti merasakan ada banyak kehadiran makhluk-makhluk tak kasat mata di dalam kamar mayat ini" ajak ku.


"Iya ayo kita pergi" jawab Angkasa.


Angkasa membuka pintu.


Bunda mendorong kursi roda, kami dengan terburu-buru pergi dari kamar mayat menuju kamar kembali.


"Akhirnya kita bisa juga lolos juga, aku sejak tadi sudah dag dig dug takut ketahuan" syukur Angkasa.


"Syukur dokter Gladis gak tau kalau kita sedang mencari tau tentang dirinya, kalau tidak dokter Gladis pasti akan mewaspadai kita" kata ku.


"Kita lakukan penyelidikan pelan-pelan aja, takut nanti dokter Gladis curiga kalau kita masih ngotot untuk menyelidikinya terus-terusan, untung aja kita selamat hari ini kalau tidak gimana, kita yang pastinya akan kena masalah" kata bunda.


"Ucapan bunda ada benarnya juga kita, tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini dengan waktu singkat dalam keadaan yang tidak memungkinkan seperti ini, cepat atau lambat kita juga akan tau sendiri tentang dokter Gladis dan apa tujuan utama sosok-sosok itu mengikuti dokter Gladis selama ini" jawab ku.


"Tunggu-tunggu kamu merasa aneh gak za pada pengikut dokter Gladis itu?" tanya Angkasa.


"Aneh gimana?" tanya bunda yang memang tidak bisa melihatnya.


"Aneh gitu, masa di antara mereka semua tidak terlihat ada darah ataupun bekas luka yang menandakan kalau mereka semua itu meninggal karena di bunuh" jawab Angkasa.


"Kalau mereka tidak meninggal karena di bunuh terus meninggalkan kenapa dong?" tanya bunda.


"Nah itu yang menjadi misteri, aku sejak tadi memikirkan hal itu, tapi sampai sekarang masih belum bisa terpecahkan juga" jawab Angkasa.


"Gini aja kalian lebih baik tanyakan saja langsung sama hantunya, biar kita tau mereka meninggal kenapa" kata bunda.


"Iya Bun nanti kita akan tanyain" jawab ku.


Tiba-tiba pintu kamar perawatan terbuka.


"Assalamualaikum" salam pak Heru yang muncul dari balik pintu.


"Wa'alaikum salam" balas kami yang melihat pak Heru datang bersama istri dan seorang anak kecil berusia 8 tahun.


"Hei Zidan" sapa nunda menoel gemas pipi Zidan yang chubby.


"Gimana kamu udah baikan?" tanya pak Heru sambil meletakkan buah-buahan di atas nakas.


Aku mengangguk.


"Sekarang cuma nunggu kering dulu, baru Aliza bisa diperbolehkan untuk pulang om" jawab ku.


"Enggak, malahan Aliza pengin cepat-cepat sembuh karena banyak kasus yang harus Aliza selesain, Aliza tidak jera sama sekali untuk menolong mereka entah itu sudah tiada ataupun belum, Aliza tidak peduli dengan ancaman dan bahaya yang akan Aliza hadapi di depan, karena Aliza punya Allah yang bisa melindungi Aliza di setiap saat" jawab ku.


"Nih bocah terbuat dari apa sih, masa udah terluka sampai kayak gini masih aja gak ada jera-jeranya, masa gak punya rasa bodo amat gitu untuk menolong mereka-mereka yang sudah tiada, huft memang anak yang aneh" batin pak Heru tak mengerti.


"Lain kali lebih hati-hati lagi ya dek, om kamu aja yang jadi anggota polisi ngeri liat kamu yang masih kecil sudah bisa mengurus kasus-kasus berat kayak gini" kata tante Zera istirnya pak Heru.


"Iya tante Aliza akan berusaha untuk lebih waspada lagi karena Aliza tak ingin kejadian-kejadian yang tidak di inginkan terjadi pada Aliza ataupun yang lainnya" jawab ku.


"Itu siapa?" tanya tante Zera menunjuk pada Angkasa.


"Itu Angkasa anaknya sahabat mbk dek" jawab bunda.


"Bunda" teriak Alisa yang baru pulang dari sekolah bersama reno, Rani dan juga ayah.


"Udah pulang?" tanya bunda.


Alisa mengangguk, mata Alisa menatap seseorang yang tidak terlalu asing di depannya.


"Tante Zera" kata Alisa langsung memeluk tante Zera yang begitu dia sayangi.


Tante Zera membalas pelukan Alisa.


"Udah gede tau keponakan tante, dah lama juga tante gak main sama kamu karena om kamu selalu di pindah tugas keluar kota hingga keluar pulau dan Alhamdulillah kini om kamu menetap di kantor posisi yang saat ini menjadi tempatnya bekerja" kata tante Zera.


Sudah 5 tahun tante Zera tidak bertemu lagi dengan kami karena hal tersebut.


"Syukur kalau kayak gitu" kata bunda.


"Ini Zidan ya" kata Alisa berjongkok sambil menoel gemas pipi Zidan.


"Halo Aunty Aliza" sapa Zidan saat Alisa mencubit gemas kedua pipinya.


Wajah Alisa langsung suram bak bunga belum di siram.


"Yang Aliza yang di sana, ini itu aunty Alisa, iih gemasnya" gemas Alisa lalu mencium wajah Zidan bertubi-tubi.


"Hehe maaf keliru aunty, Zidan masih belum bisa membedakan mana aunty Aliza mana aunty Alisa karena menurut Zidan kedua aunty Aliza dan Alisa sama tidak ada bedanya sama sekali" jawab Zidan.


"Ada dong bedanya, nanti kamu juga tau siapa aku dan siapa dia" kata Alisa.


"Ini siapa lagi?" tunjuk tante Zera pada Reno dan Rani yang berdiri mematung tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Ini anak-anak angkat mbk, mbk sengaja mengangkat mereka semua agar rumah menjadi ramai gak sepi gitu, sana salim sama tante Zera" suruh bunda kepada Reno dan Rani.


Kedua adik kakak itu menyalami punggung tangan tante Zera.


"Halo tante nama aku Rani dan ini kakak aku namanya Reno" kata Rani.


"Iiih lucunya dapet dari mana sih kok bisa punya anak ganteng-ganteng sama cantik-cantik, aku hanya punya satu tau" kata tante Zera.


"COD" jawab ayah membuat kami semua tergelak.


"Ayah ada-ada saja" kata ku.


"Loh kan benar" jawab ayah.


"Iya, sana kalian mandi gih, setelah itu makan, bunda mau nebus obat dulu" kata bunda.


"Baik Bun" jawab mereka.