
"Allahu Akbar, Allahu Akbar" suara adzan itu membuat kami terkejut karena kami tidak sadar kalau kini waktu sudah memasuki adzan subuh.
"Gak nyangka udah adzan aja" kaget Alisa.
"Ayo kita siap-siap buat sholat subuh, kemudian siap-siap buat berangkat ke sekolah, kita harus cari tau siapa pelakunya, biar Andin gak gentayangan terus dan kasus nanti bisa segera di selesain"
"Iya, ayo kita siap-siap" setuju Angkasa.
Kami bersiap-siap untuk menunaikan sholat subuh berjamaah di masjid terdekat.
Setelah selesai bersiap-siap kami menunaikan sholat subuh, setelah selesai kami kembali ke rumah sakit lagi.
"Dokter bagaimana keadaan Roy?"
"Pasien sudah membaik, kami akan mindahin pasien ke ruangan perawatan"
"Alhamdulillah" kami merasa lega mendengar jawaban dokter.
"Kami boleh jenguk dia gak dok?"
"Boleh, sebentar saya akan pindahin ke ruang perawatan dulu"
Aku mengangguk, dokter itu kemudian memindahkan Roy ke ruangan perawatan.
"Dokter kenapa Roy gak bangun?" Alisa melihat mata Roy yang masih terpejam kuat.
"Pasien masih belum siuman, namun keadaannya sudah stabil, mungkin sebentar lagi pasien akan siuman"
"Oh gitu terima kasih dok"
"Sama-sama saya permisi dulu" kami mengangguk lalu kemudian dokter pergi meninggalkan kamar Roy.
Aku melihat ke arah Roy yang masih memejamkan matanya."Roy masih belum siuman, ini siapa yang mau jaga Roy di sini, kita gak mungkin ninggalin Roy sendirian di sini, kalau ada apa-apa sama dia gimana"
"Gini aja, biar aku yang jaga Roy di sini, lagian aku kan diskors sama bu Riska, aku akan gunakan waktu selama tiga hari itu untuk jaga Roy di sini, kalian lebih baik berangkat ke sekolah aja, kalau kalian nemuin siapa pelakunya langsung kasih tau aku aja" jawab Alisa.
"Ya udah kamu jaga Roy, kalau ada apa-apa sama Roy, langsung kasih tau kami" perintah kak Tias.
"Baik kak" jawab Alisa.
"Sa kami berangkat dulu, kamu baik-baik di sini" Alisa mengangguk mengerti.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam" kami keluar dari dalam ruang perawatan Roy dan menyisahkan Roy dan Alisa yang berada di dalam ruangan itu berduaan.
Alisa menatap ke arah Roy yang masih memejamkan mata.
"Roy buka mata kamu, kamu jangan kayak gini, kamu harus bisa kuat, jangan tinggalin aku kayak Dava yang pergi gitu aja, aku kan nanti jadi sedih" saat di tinggal Dava Alisa merasa tamengnya pergi dan dia harus berjuang lagi sendiri.
"Gimana ya kabarnya Dava, udah lama aku gak ada komunikasi sama dia"
Alisa mengambil hpnya dan memeriksa wa."Kenapa Dava udah lama gak on, apa dia udah ganti nomor dan juga udah nemuin orang baru" pikir Alisa yang bukan-bukan.
"Dasar buaya, emang gak guna aku nungguin dia" kesal Alisa yang melempar hpnya ke sofa.
Roy yang mendengar hal itu tersenyum, ia pelan-pelan membuka mata seolah-olah dia baru terbangun dari tidur panjangnya namun faktanya ia sudah bangun sejak tadi dan mendengar semua apa yang Alisa katakan.
"Roy kamu udah bangun" Alisa langsung mendekati Roy dengan gembira.
Roy membalas dengan dehaman, ia melihat ke arah sofa dan pandangannya jatuh pada tas seseorang yang sangat ia kenali.
"Apa di sini ada Tias?"
"Iya, tapi sekarang dia udah berangkat sekolah bareng yang lain, soalnya mereka mau nyari orang-orang yang terlibat dalam kematian Andin"
Roy diam, ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, kecelakaan dahsyat itu sungguh membuatnya susah untuk bergerak karena rasa sakit itu sungguh luar biasa.
"Roy kamu gak apa-apa kan, gak ada yang sakit kan?" khawatir Alisa yang takut ada apa-apa dengan Roy.
"Enggak sa, aku gak apa-apa, aku baik-baik saja" Roy tersenyum meski ia masih merasakan sakit di kepala akibat benturan keras itu.
Alisa bernapas lega."Syukurlah kalau seperti itu, eh Roy kamu kenapa kok bisa kecelakaan, kamu ugal-ugalan di jalan hah?"
"Roy kamu udah gila apa?"
"Ya seperti itu, gak guna juga aku hidup sa, aku udah nyerah"
DEG!
Sesak rasanya dada Alisa saat orang yang selalu kuat itu sudah menyatakan menyerah.
"Gak Roy, kamu gak boleh nyerah, kamu harus tetap kuat, kamu gak boleh ngomong gitu, kamu gak kasihan sama orang tua kamu apa"
Roy tersenyum paksa."Orang tua? aku udah gak punya orang tua, orang tua aku udah meninggal sa"
Jleb!
Alisa tersenyum getir mendengar jawaban Roy, ia tau Roy pasti sangat terluka sehingga tak menganggap orang tuanya sendiri.
"Seterluka itu Roy hingga dia bilang kayak gini" batin Alisa.
"Kenapa kamu diam, apa yang kamu pikirin?"
"Ah enggak, gak ada apa-apa kok"
"Sa di mana Andin?"
Alisa langsung memegangi dadanya saat Roy bertanya hal itu.
"Kenapa dia gak ada di sini, apa dia ikut sekolah bareng Tias dan yang lain?"
Alisa menggeleng."Andin udah meninggal Roy"
Roy langsung terdiam, ekspresinya juga berubah saat teringat jika orang yang ia cintai kini sudah tak bisa ia ajak berkomunikasi lagi.
"Kamu yang sabar Roy, ikhlasin Andin, aku tau ini berat buat kamu"
Roy mengangguk, ia masih tak bisa melupakan seseorang yang menjadi penyemangatnya selama ini.
"Sa aku minta tolong boleh?"
"Minta tolong apa?"
"Tolong beliin bunga mawar putih"
Alisa mengerutkan alis."Buat apaan?"
"Ada deh, plis beliin bunga itu, aku mau ngasih bunga itu buat seseorang"
Alisa mengerti siapa orang yang Roy maksud."Ya udah aku beli sebentar, kamu tunggu di sini dulu, jangan kemana-mana, kalau butuh apa-apa tinggal panggil suster aja oke"
"Oke"
"Aku pergi dulu" Roy mengangguk lalu Alisa keluar dari dalam kamar itu.
Kini di dalam kamar ini hanya tersisa Roy seorang.
Roy melirik hpnya yang berada di atas nakas, ia mengambilnya lalu menghubungi seseorang.
tutt
tutt
tutt
"Gak di angkat" kecewa Roy saat panggilannya tidak di angkat oleh mamanya.
Roy kembali meletakkan hpnya di atas nakas, ia menyeka sedikit air mata, ia begitu merindukan mamanya namun rasa rindu itu sampai saat ini masih tidak pernah terbalaskan.
"Mama maafin Roy" lirih Roy yang sungguh merasa bersalah atas apa yang terjadi pada adik kecilnya itu.
Namun nasi sudah menjadi bubur, semuanya tidak bisa di ulang kembali.