
Di dalam mobil aku merasa lega saat sudah tidak ada para kawanan perampok yang mengejar mobil.
Tiba-tiba mata ku membulat sempurna saat melihat ada 2 pengendara roda dua yang mengejar kami, mereka keluar dari jalanan kecil yang berada di seberang jalan.
"Gawat itu para perampok tadi!" panik Reno saat melihat mereka bertiga yang kembali mengejar mobil, ia tadi sudah sempat bahagia saat kawanan perampok-perampok itu sudah berhenti mengejar mobil, namun kini ia kembali menjadi panik.
"Kita harus pergi dari sini, mang lebih cepat lagi, kita harus bisa pergi dari mereka!" suruh Angkasa yang ikutan panik saat kawanan perampok-perampok itu kembali mengejar mobil, ia terus melihat ke belakang yang ada ketiga perampok-perampok itu yang mengejar mobil ini.
Mang Asep tidak menjawab, ia terus menancap gas untuk menghindar dari para perampok yang mempunyai dendam pada kami karena kami sudah membuat mereka cedera.
Aku kembali panik, rasa tegang menyatu dalam tubuh ku saat kawanan perampok-perampok itu terus mengejar mobil ini, mereka benar-benar tidak membiarkan kami lolos sama sekali.
Mereka berdua kembali memepet mobil, kami yang ada di dalam mobil semakin panik saat perampok yang di bonceng mengarahkan senjata tajam ke arah kami.
"Aaaaaaahhh!" teriak kami yang panik ketika melihat senjata tajam yang membuat kami ketakutan.
"Reno aku takut" Alisa langsung bersembunyi ke Reno, ia benar-benar ketakutan saat melihat senjata tajam itu yang berada tepat di dekatnya hanya di pisahkan oleh kaca saja.
"BERHENTI!" hardik perampok-perampok itu yang terdengar marah besar, mereka pasti dendam pada kami karena kami telah membuat mereka jatuh.
"Berhenti gak, kalau kalian gak berhenti kaki akan pecahin mobil ini!" ancam mereka.
"Gimana ini non" mulia panik mang Asep saat mereka mengancam seperti itu, ia mulai kehilangan fokusnya saat kawanan perampok-perampok tidak kunjung berhenti mengejar mobil.
"Jangan berhenti mang, apapun yang terjadi jangan berhenti" jawab Angkasa, ia tau kalau mobil berhenti pasti kami tidak akan bisa di selamatkan sebab perampok-perampok itu pasti akan membuat kami seperti hantu terompah.
Mang Asep pun mengangguk, ia terus melajukan mobil dengan kencang, mereka semua terus mengancam dengan memegang senjata tajam.
"Reno aku takut" Alisa ketakutan saat mereka terus menggedor-gedor kaca mobil.
"Kamu jangan takut sa, kita pasti akan baik-baik saja" jawab Reno.
"Kalian berhenti, jika kalian masih ingin selamat!" ancam mereka terus menerus.
"Jangan dengarkan mereka mang, terus jalan, jangan pedulikan mereka, mereka tidak akan melakukan apapun" jawab Angkasa.
Mang Asep mendengar apa yang Angkasa katakan dan mencoba mengabaikan para kawanan perampok-perampok yang terus mengejar mobil ini.
Craangg!
"Aaaaaaahhh!" teriak kami saat kaca spion kembali mereka pecahkan.
"Berhenti, kalian berhentilah!" suruh perampok-perampok itu.
"Reno aku takut, Reno aku takut hiks hiks" tangis Alisa saat mereka tidak kunjung berhenti mengejar mobil yang terus melaju.
Mang Asep mulai panik saat mereka terus melakukan tindakan-tindakan kriminal, ia tidak bisa seperti ini, karena ia pasti akan tertangkap oleh mereka.
Mobil terus melaju dengan kencang menjauhi mereka semua yang masih terus mengejar, dari kejauhan mang Asep melihat sesuatu, ia langsung melajukan mobil ke jalanan yang aman.
Mereka semua yang mengejar mobil berhenti, mereka berdecak kesal karena tidak bisa mengejar mobil lagi karena mobil masuk ke jalanan tol yang terhubung ke kota B.
"Mang kok ke sini, ini bukan jalan menuju desa mang, kita tidak akan sampai di desa kalau lewat jalanan ini?"
"Iya saya tau non, saya terpaksa lewat jalan tol biar mereka gak bisa ngejar mobil ini lagi, non tenang saja, saya akan bawa non pulang dengan selamat kok" jelas mang Asep yang tidak punya cara lain lagi selain lewat jalan tol.
"Baik mang"
Kami semua diam, mang Asep terus melajukan mobil melewati tol, rasanya lega saat para kawanan perampok sudah tidak lagi mengejar kami meskipun kami akan lama sampai di desa.
Mobil terus melaju melewati tol itu hingga sampai di kota B.
Setelah sampai di kota B mang Asep melajukan mobil ke jalanan yang sepi dan sunyi, di kanan dan kirinya banyak sekali pohon-pohon yang menjulang tinggi.
"Mang ini di mana, kenapa lewat jalanan ini?" merasa aneh Alisa saat tidak mengenali jalanan yang saat ini di lewati oleh mobil.
"Tapi jalanan ini gak angker kan mang!" memastikan Reno yang terus melihat sekeliling jalanan, ia merasakan hawa tak nyaman dari jalanan yang saat ini di lewati.
"Agak sedikit angker, tapi mau bagaimana lagi, hanya ini satu-satunya jalan yang paling aman untuk kita lewati saat ini, mamang hanya takut perampok-perampok itu menunggu kita di jalanan umum yang biasanya di lalui masyarakat seperti tadi" jelas mang Asep.
"Iya gak apa-apa mang, yang penting kita sampai di desa lagi, terlepas dari para kawanan perampok-perampok itu saja kita sudah senang" jawab Angkasa.
"Kok jalanan ini sepi ya mang?" merasa aneh Alisa yang tidak menemukan satu pengendara motor ataupun mobil yang juga melintas di jalanan ini.
"Jalanan ini angker non, orang-orang pada gak ada yang mau lewat karena takut di ganggu sama penghuninya" jelas mang Asep.
"Pantesan gak ada satu orangpun yang terlihat di sini" jawab Alisa.
Kami semua yang ada di dalam mobil bukannya semakin tenang malah semakin gelisah, hawa merinding terasa di dalam diri kami saat mobil terus masuk ke dalam jalanan yang sepi dan sunyi ini.
Perhatian kami terus melihat ke kanan dan kiri yang kosong, tidak ada satupun orang yang kami lihat namun entah kenapa tubuh kami merasakan merinding tanpa sebab.
"Mang kenapa gak lewat jalanan lain aja yang gak seram kayak gini?" heran Alisa yang merasa merinding saat masuk ke dalam jalanan ini.
"Kalau lewat jalanan biasa lama non nyampenya, bisa malam kita yang akan nyampe di desa lagi, tapi kalau lewat jalanan ini Insya Allah 3 jam kita akan sampai di kota A lagi" jelas mang Asep.
"Tapi mang jalanan ini seram, Alisa merasa ada banyak hantu yang menghuni jalanan ini sehingga membuat jalanan ini menjadi suram dan menakutkan" ketakutan Alisa sedari tadi, ia terus melihat ke kanan dan kiri yang sepi sekali, tidak ada satu kendaraan pun yang melintas, tak cuman itu di jalanan ini tidak ada satu rumah yang kami lihat.
"Udah non diam saja, gak akan ada yang terjadi kok" jawab mang Asep.
Mobil terus melaju dengan cepat membentang jalanan yang sepi dan sunyi ini.
Jam masih menunjukkan pukul 2, tetapi suasana jalanan sudah seperti jam 6, jalanan ini benar-benar gelap dan suram, semakin mobil melaju semakin terasa merinding di tubuh kami.
"Ren kok aku jadi merinding ya, ini sebenarnya kita ada di mana, kenapa jalanan ini melebihi jalanan desa yang seram itu, aku kira jalanan awak masuk desa sudah menjadi jalanan terseram tapi ternyata masih ada yang lebih seram lagi" merinding Alisa yang merasakan hawa tak nyaman sejak tadi.
"Udah kamu diam saja, mang Asep lebih tau dari pada kita, gak mungkin dia bawa kita ke tempat yang tidak benar, dia pasti akan bawa kita kembali ke desa secepatnya, kamu diam saja dan terus berdoa semoga tidak ada apa-apa yang terjadi di sini" jawab Reno dengan menenangkan Alisa yang ketakutan.
Alisa terus diam dengan pandangan yang masih menghadap ke depan, rasa merinding datang menyerangnya silih berganti.
Suara-suara hewan-hewan kecil terus terdengar di telinga kami, suara-suara itu membuat suasana jalanan semakin bertambah mencekam dan sangat menakutkan.
Aku terus melihat ke kanan dan kiri yang sepi dan sunyi.
"Kenapa jalanan ini semakin lama semakin bertambah seram saja, apa yang sudah terjadi pada jalanan ini, kenapa aku merasa ada banyak makhluk halus yang mengintai kami" batin ku yang juga merasa merinding yang luar biasa seperti yang Alisa rasakan, namun aku bersikap biasa saja agar mereka tidak ada yang curiga.
Mobil terus melaju, suasana jalanan semakin bertambah seram dan menakutkan, jalanan ini benar-benar panjang 3 kali lipat panjangnya dari pada jalanan desa.
Kami semua saling berpegangan tangan karena merasakan merinding yang luar biasa.
"Ren aku takut" lirih Alisa.
"Sstt jangan berisik" jawab Reno.
Tak ada yang mengeluarkan suara di antara kami, pandangan kami terus menghadap ke depan.
Tiba-tiba mata kami menangkap seorang wanita berpakaian putih, rambutnya panjang sampai ke mata kaki, matanya melotot tajam, baju putihnya penuh dengan darah berdiri di pinggir jalan seperti menunggu kedatangan kami.
"Aaaaaaahhh!" teriak kami saat melihat penampakan hantu yang seseram itu di jalanan ini.
Kami berempat menutup mata dengan terus berteriak ketika mata kami menangkap hantu yang seram di dalam jalanan yang angker ini.
Mang Asep diam, ia terus mengemudikan mobil tak menghiraukan sama sekali penampakan hantu seram itu, ia memang dapat melihat hantu yang seram itu, namun mang Asep tidak menunjukan ekspresi apapun dan terus melajukan mobil, karena ia tau percuma dia berteriak karena itu tidak akan membuat hantu seram itu pergi.
Di belakang kami masih diam dengan memejamkan mata, kami tidak mau membuka mata karena kami masih merasakan keberadaan hantu itu.
Mobil lewat tepat di dekat hantu seram itu, kami semua masih menutup mata dengan perasaan yang campur aduk ketika melihat hantu yang seseram itu di jalanan ini.