The Indigo Twins

The Indigo Twins
Keanehan dari diri Ustadz Fahri



"Dukun beranak, dukun beranak yang mana lagi?" aku menatap aneh ke arah mbk Hilda, dia sudah tau tentang keberadaan dukun beranak itu namun kini ia menjadi aneh.


"Ya dukun bernama itu lah mbk, mana ada lagi dukun beranak di kampung ini"


"Dukun beranak itu udah di kurung sama Ustadz Fahri" aku membulatkan mata ketika mendengar ucapan mbk Gea.


"Hah yang bener mbk"


Terkejut kami saat mendengar ucapan mbk Gea.


"Iya, baru aja Ustadz Fahri pulang dengan membawa kendi yang di dalamnya berisikan dukun beranak itu, dia udah berhasil nangkap dukun beranak itu" jawab mbk Gea.


"Kalau dukun beranak itu udah di kurung sama Ustadz Fahri, lalu tawa seram tadi itu milik siapa?"


"Nenek-nenek misterius, dia pastinya pemilik suara itu" jawab Reno.


"Bisa jadi, karena memang mereka berdua yang lagi buat warga resah"


"Emang siapa nenek-nenek misterius itu, kenapa dia berkeliaran di desa ini, apa dia salah satu warga yang juga meninggal dunia?" Angkasa belum kenal secara keseluruhan pada warga-warga yang tinggal di desa ini.


"Namanya mbah Gamik, dia itu pemilik ilmu hitam yang saat ini di kuasai sama dukun beranak itu" jawab mbk Hilda.


"Jadi mbah Gamik itu ibunya dukun beranak?" terkejut Reno saat tau hal itu.


"Benar, dia adalah ibunya dukun beranak" jawab mbk Gea.


"Mbk tau dari mana, aku saja yang tinggal di desa ini gak tau sama sekali tentangnya?"


"Mbk juga awalnya gak tau za, tapi barusan ada genderuwo yang ngasih tau hal itu pada kami, dia itu genderuwo yang udah ngikutin Ustadz Fahri hingga sampai ke sini" jawab mbk Hilda.


"Oh gitu, jadi mbah Gamik itu ibunya dukun beranak, tapi masalahnya kenapa dia ada di sini dan gangguin warga-warga lainnya, apa yang dia inginkan?"


"Kata genderuwo itu dia itu arwah yang masih belum tenang sampai sekarang ini, mangkanya dia gangguin warga-warga, genderuwo itu minta kalian nyelesain masalah ini, dia yakin kalau kalian bisa ngembaliin desa seperti dulu yang tentram dan damai lagi" jawab mbk Hilda.


"Agak rumit mbk, karena kematian mbah Gamik itu masih belum kita ketahui, dukun beranak itu saja gak tau meninggalnya kenapa, besok Aliza akan nyari tau tentang mbah Gamik pada warga-warga yang tinggal di sekitar sini, aku yakin mereka pasti ada yang tau"


"Iya, pokoknya kamu harus bisa nyelesain masalah mbah Gamik, kalau masalah dukun beranak itu udah aman, karena Ustadz Fahri sudah ngurung dia dan dia gak bakal bisa keluar" jawab mbk Hilda.


"Iya, semoga saja dia gak akan gangguin orang-orang di kampung ini lagi" harapan Angkasa.


"Amin"


"Sekarang kita masuk aja ke dalam, kita tanyain pada Ustadz Fahri tentang dukun beranak itu" mereka berdua mengangguk lalu berlari masuk ke dalam meninggalkan mereka berlima yang masih diam di tempat.


"Ustadz" panggil Reno.


Tak ada siapapun yang kami temukan di ruang tamu.


"Kok ruang tamu gak ada orang, mana Ustadz Fahri, apa dia ada di dalam kamarnya?" pikir Angkasa yang tak menemukan siapapun di dalam ruang tamu.


Reno berjalan mendekati kamar Ustadz Fahri yang berada di sebelah kamarnya.


"Tadz, Ustadz, apa Ustadz ada di dalam?" tidak ada suara apapun yang Reno dengar.


"Kok gak ada yang jawab, Ustadz Fahri kemana ya, apa dia udah tidur, gak mungkin, biasanya Ustadz Fahri jarang tidur malam, kenapa sekarang malah tidur di jam segini, aku rasa Ustadz Fahri gak tidur deh, coba aku ketuk lagi, dia pasti ada di dalam dan kemungkinan besar gak dengar suara aku"


"Ustadz" panggil Reno dengan mengetuk pintu kamar Ustadz Fahri.


"Tadz aku masuk ya"


Tiba-tiba pintu itu terbuka dan memperlihatkan Ustadz Fahri yang keluar dari dalam kamar dengan wajah pucatnya.


"Kok Ustadz Fahri pucat banget, apa dia sakit, tapi tadi enggak deh, dia baik-baik aja saat mau berangkat ke makam dukun beranak itu" batin Reno yang merasa aneh pada Ustadz Fahri.


"Ustadz kenapa, kok pucat gitu?"


"Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja" jawab Ustadz Fahri dengan suara serak dan tatapan kosongnya.


"Kok tumben Ustadz nyebut kata aku, biasanya kan selalu saya" batin Reno yang semakin merasa aneh.


"Ustadz ayo kita ruang tamu, Aliza sama Angkasa nungguin Ustadz di sana" ajak Reno.


Tanpa mengatakan sepatah katapun Ustadz Fahri berjalan melewati Reno untuk menemui ku dan Angkasa.


"Kok bau parfumnya Ustadz Fahri bikin aku merinding, biasanya kan parfumnya selalu parfum Mekah yang wanginya enak banget, kenapa sekarang malah beda" pelan Reno yang merasa aneh.


"Ayo katanya mau ke Aliza" ajak Ustadz yang mendapati Reno diam saja.


"Ah iya, ayo tadz" Reno tersadar dari lamunannya ia langsung mengikuti Ustadz Fahri dari belakang.


Aku tersenyum saat melihat keduanya yang mendekat namun tiba-tiba senyuman itu berangsur-angsur memudar saat melihat wajah Ustadz Fahri yang pucat pasi seperti tak teraliri darah.


"Ada apa kalian nyari aku?" pertanyaan itu langsung membuat kami terkejut karena biasanya Ustadz Fahri tak pernah bilang kata aku, pasti selalu saya tapi kali ini tidak.


"Kok tumben Ustadz nyebut kata aku" batin Angkasa yang merasa aneh.


"Kita mau nanya apakah benar dukun beranak itu udah di kurung sama Ustadz apa enggak?" penasaran Reno yang mengambil duduk di dekat Angkasa.


"Iya, dia sudah aku kurung, dia gak akan gangguin orang-orang lagi, kalian tidak usah khawatir, masalah dukun beranak itu sekarang sudah selesai, kalian gak usah nyelidiki dia lagi, percuma" jawab Ustadz Fahri dengan suara yang agak serak.


"Kok suaranya Ustadz Fahri serak, tunggu-tunggu suara ini kayak suaranya hantu Alisa, apa jangan-jangan Ustadz Fahri yang ada di depan ku saat ini bukan Ustadz Fahri beneran" batin ku yang terkejut ketika teringat pada hantu Alisa.


"Gak mungkin, masa iya ada hantu yang nyerupain Ustadz Fahri, pasti suaranya Ustadz Fahri berubah karena dia sakit tenggorokan" batin ku yang berusaha berpikir positif.


Angkasa yang mendengar suara hati ku merasa semakin curiga pada Ustadz Fahri yang kini berada di depan kami.


"Apa Aliza bilang, hantu Alisa suaranya serak seperti suaranya Ustadz Fahri, apa mungkin saat ini yang ada depan ku ini bukan Ustadz Fahri, dia memang rada-rada aneh, tapi masa iya dia bukan Ustadz Fahri beneran, rasanya gak mungkin deh" batin Angkasa yang masih belum sepenuhnya yakin siapa orang yang berada di depannya saat ini.