
"Gak boleh, ayo kamu ikut saja gak usah cari-cari alesan" jawab ku.
Terpaksa Alisa mengikuti ku dan yang lainnya.
Kaki kami berhenti di depan rumah kuno, pelan-pelan aku membuka pintu.
"Aman, sepertinya di rumah kuno ini memang tak ada makhluk hitam itu, ayo kita masuk ke dalam" ajak ku.
Mereka mengekor di belakang ku.
Di dalam rumah kuno mata kami di jamukan dengan barang-barang antik yang sangat banyak sekali.
"Banyak sekali patung-patung di rumah kuno ini, apa mungkin Ki Suryo sangat menyukai benda-benda seperti ini" kata Alisa.
"Gak tau juga, kamu nanya saja langsung sama Ki Suryonya, baru deh semua yang kamu pertanyakan bisa di jawab dengan mudah" jawab Reno.
"Mana mau aku nanya sama dukun gila itu, iih ogah" kata Alisa.
"Sudah-sudah kalian jangan pada bahas Ki Suryo, yang terpenting itu kita harus cari pintu yang mengarah ke ruangan serba kaca" kata ku.
"Baiklah kita akan mencarinya" jawab mereka.
Kami semua meraba-raba pintu dan membukanya, namun masih tak kunjung menemukan ruangan yang ku maksud itu.
Alisa membuka pintu dari salah satu kamar.
"Tidak ada apapun di dalam kamar ini, kamar ini seperti kamar pada umumnya, tak ada keanehan apapun" kata Alisa lalu kembali menutup pintu.
"Za gak ada tau ruangan yang kamu maksud, kamu salah kali" kata Alisa.
"Gak mungkin aku salah, orang jelas-jelas di mimpi itu ruangan tempat mbk Reni di kurung penuh dengan kaca" jawab ku.
"Tapi masalahnya ruangan itu gak ada, kita sudah mencarinya kemana-mana tapi masih tak kunjung di temukan juga" kata Alisa.
Aku tak menjawabnya dan masih terus mencari.
"Kemana ruangan itu, kenapa tidak terlihat, ilmu apa yang sudah Ki Suryo gunakan untuk menutup ruangan itu agar kita tidak dapat melihatnya" bingung ku.
tok tok tok
Angkasa mengetuk semua dinding yang terbuat dari kayu itu karena rasa bosan.
tok tok tok tuk tuk
"Loh kenapa bunyinya bisa berubah gini" kata Angkasa merasa aneh.
tuk tuk tuk
Berulang kali Angkasa mengetuk dinding yang suaranya aneh itu.
"Iya bunyinya beda sama yang tadi, tapi aku rasa bunyinya hanya ada di dinding ini saja, lihat nih dinding ini tak berbunyi seperti itu" kata Alisa.
Aku mengetuk dinding itu tiba-tiba, mata ku membulat sempurna saat melihat dari celah kecil kalau ada sesuatu yang tersembunyi di balik di dinding.
"Eh sepertinya dinding ini palsu deh, lihat aja bunyinya beda" kata ku.
"Pecahin aja dan lihat ada apa di balik keanehan dinding itu" ide Alisa.
"Caranya pake apaan, masa iya pake tangan kosong, bisa-bisa tangan aku yang akan cedera hanya karena ingin menghancurkan dinding ini" kata Reno.
Mata ku melihat sesuatu yang sangat berguna.
"Eh itu ada linggis, kalian gunakan saja linggis itu untuk menghancurkan dinding aneh itu" tunjuk ku pada linggis yang berada di dekat patung.
Saat dinding itu hancur sungguh kami di buat kaget dengan penemuan pintu tersembunyi.
"Nah sepertinya memang pintu ini yang kita cari-cari sejak tadi, ayo kita buka pintu ini dan lihat apakah ruangan berkaca itu ada di dalamnya" kata ku.
Pelan-pelan aku membuka pintu.
"Nah kan benar, ruangan kaca itu ada di sini" kata ku.
"Tunggu apa lagi, ayo kita masuk ke dalam" jawab Angkasa.
Kami melangkah masuk ke dalam ruangan ini.
"Gila banyak banget kacanya, hebat juga Ki Suryo membuat ruangan berkaca seperti ini" takjub Alisa.
"Eh mana pintu masuk tadi, kenapa sudah rata seperti kaca-kaca ini" panik ku.
"Astaga kita tak memperhatikannya tadi, terus bagaimana cara kita keluar kalau pintunya saja tak kita temukan" jawab Angkasa.
"Akkkkhh aku mau pulang, aku gak mau terkurung di sini juga" rengek Alisa.
"Kamu tenang dulu, kita cari saja nanti jalan keluar dari ruangan ini, aku yakin kok kita bisa terbebas dari sini, tak mungkin ruangan ini tidak ada pintu keluarnya" kata Reno.
"Iya sa kamu jangan panik dulu" kata ku.
"Baiklah, awas saja sampai kita tidak bisa keluar kalian bertiga yang akan aku kubur" ancam Alisa.
Aku menggelengkan kepala mendengar itu semua.
"Ayo ikut aku" ajak ku.
Mereka mengekor di belakang ku.
Aku berhenti di depan lemari kaca yang besar dan di dalamnya penuh dengan botol-botol kaca kecil yang berisikan korban-korban Ki Suryo.
Aku mengambil satu botol kaca yang berisikan seseorang yang sangat aku kenali.
"Kalian kemana saja selama ini, aku sudah sangat tersiksa berada di dalam botol ini, kalian ini bagaimana, kenapa kalian tidak mencari ku, apa kalian tidak sayang pada ku hah" omel mbk Hilda.
"Tadi itu banyak yang terjadi pada kami, kami saja tak sempat istirahat hanya karena ingin menyelamatkan mbk Hilda" jawab ku.
"Boong, kalian pasti tak merasa kalau aku sudah hilang sejak kemarin malam, memang kalian ini tidak pengertian sama sekali, aku begini hanya karena ingin menyelamatkan kalian, tapi kalian malah tak segera menyelamatkan aku" kata mbk Hilda.
"Eh mbk kemarin malam ini kita ada di rumah sakit, paginya kita harus ngelayat dulu ke rumah pak Beni, setelah pulang baru deh kita langsung datang ke sini buat nyelamatin mbk, eh tapi kok bisa mbk Hilda ada di dalam botol, siapa yang sudah memasukkannya" kata Alisa.
"Siapa lagi kalau bukan genderuwo itu, mereka yang sudah dengan tega menangkap ku dan memasukkan ku ke dalam botol lalu menyerahkannya pada Ki Suryo, dan Ki Suryo tanpa mempunyai rasa iba memasukkan ku dalam lemari yang begitu pengap ini, mana bisa aku betah berada di dalamnya, sungguh tempat ini seperti penjara tanpa oksigen saja, pengap" jawab mbk Hilda.
"Sabar mbk, kita ini butuh proses yang mau ke sini, banyak sekali tantangan yang harus kita lewati, mbk harus ngertiin kita juga dong" kata ku.
"Iya, ayo cepat bebasin aku dari sini, aku ingin keluar, aku tak betah berada di dalam botol terus" tintah mbk Hilda.
Aku membuka penutup botol itu namun begitu sulit, aku terus berusaha membukanya tapi tak bisa.
"Kenapa susah sekali, coba deh kamu yang bukain" kata ku.
Angkasa mengambil botol itu dan membukanya.
"Kenapa botol ini susah sekali di bukanya, apa yang sudah Ki Suryo gunakan sehingga menjadi seperti ini" batin Angkasa.
"Gak bisa, tutup botol ini gak bisa di buka" kata Angkasa lalu tanpa aba-aba Angkasa menjatuhkan botol itu dengan sengaja.
"Aduh, sakit banget punggung aku, iiih gimana kalian ini, kenapa kalian malah main jatohin aja, remuk badan aku tau" teriak mbk Hilda tak terima.