
Aku menangis sejadi-jadinya karena tak dapat menyelamatkan mbk Reni.
"Mbk maafkan aku" kata ku dengan air mata yang membasahi wajah ku.
Ki Suryo tersenyum sinis saat melihat botol kaca yang berisikan mbk Reni di dalamnya ia lalu keluar menemui orang tua Reno.
"Ikutlah denganku" ajak ku Suryo.
Keduanya bangun dan mengikuti Ki Suryo.
"Makamkan mayat ini di depan warung makan kalian, pastikan tak ada satupun orang yang melihat kalian, besok kalian akan mengetahui hasilnya" kata Ki Suryo.
"Baik Ki terimakasih Ki sudah mau membantu kami" jawab Robi.
"Sama-sama" kata Ki Suryo.
Robi membawa mbk Reni lalu memasukkannya ke dalam bagasi.
Ki Suryo berjalan dengan membawa botol itu.
"Mau kemana Ki Suryo aku harus ikutin dia" kata ku.
Aku mengikuti Ki Suryo dari belakang, Ki Suryo melangkah memasuki jalanan kecil di samping rumahnya.
Jalanan itu membawa ku ke dalam hutan yang gelap, banyak tanaman-tanaman liar yang aku injak.
"Di mana ini, sebenarnya mau kemana Ki Suryo" kata ku menatap sekeliling.
Aku terus mengikuti Ki Suryo, di dalam hutan yang gelap aku melihat sebuah rumah kuno yang berbeda dengan rumah Ki Suryo.
Ukiran yang ada di rumah ini amat sangat bagus.
Aku masih terus mengikuti Ki Suryo, Ki Suryo masuk ke dalam salah satu ruangan yang penuh dengan kaca di kanan dan kirinya.
Ki Suryo mendekati lemari kaca yang besar ia memasukkan botol kaca itu.
Aku melihat ada banyak botol-botol kecil berisikan orang di dalamnya.
"Apa mereka semua korban Ki Suryo sama seperti mbk Reni" kata ku terkaget.
Tak ada orang yang bisa aku tanya aku lalu mengikuti Ki Suryo pulang, selanjutnya aku masuk ke dalam mobil orang tua Reno.
Mobil itu berhenti di depan warung makan yang tidak besar.
"Sepi nih pa gak ada orang, papa cepat keluarin cangkul dan gali tanah sebelum ada warga yang lewat di jam segini" kata Desi.
Dengan cepat Robi mengeluarkan cangkul dan menggali tanah.
Jam saat ini menunjuk pukul 12 malam, jalanan ini amat sepi tak ada seorangpun yang lewat.
"Apa benar setelah mereka melakukan persugihan mereka akan kaya" kata ku menatap tak yakin.
Saat tanah sudah dalam tergali mereka memasukkan mayat mbk Reni yang belum di mandikan maupun di sholatkan, pelan-pelan tubuh mbk Reni di tutup dengan tanah.
"Sudah selesai ayo ma kita pulang saja sebelum ada warga yang memergoki ulah kita" ajak Robi.
"Iya ayo pa" setuju Desi.
Keduanya pergi meninggalkan tempat ini.
"Dasar orang tua yang tidak memiliki hati, aku sumpahin kau akan kena karma yang amat pedih" kata ku menatap mobil yang berjalan meninggalkan ku.
Keesokan malamnya.
Warung makan mereka sangat ramai di kunjungi, orang-orang hilir mudik berganti makan di sana.
"Ternyata apa yang di katakan oleh Ki Suryo benar, warung makan kita benar-benar ramai" kata Robi pelan.
"Iya tau gini kita dari dulu aja melakukan persugihan" jawab Desi senang.
Aku menatap takjub kearah mereka berdua yang amat sangat tergila-gila akan harta semata.
"Adakah manusia sekejam ini, wahai manusia janganlah kau melakukan persugihan dan menyekutukan sang pencipta jika kau tak mau merasakan azab yang sesungguhnya" kata ku berdiri di belakang mereka.
"Hiks hiks tolong jangan sampai adik ku merasakan apa yang aku rasakan, aku mohon tolong dia" kata bisik seseorang di telinga ku.
Aku melihat sekeliling namun tak menemukan apapun.
Dari arah selatan sepeda motor dengan kecepatan tinggi melaju mendekati ku.
"Arrgghhh" teriak ku saat motor itu menabrak ku.
"Astaghfirullah hal adzim" kata ku terjaga dari tidur lelap ku.
Nafas ku terengah-engah, jantung ku memompa dengan cepat.
"Ya Allah, ya Allah, ya Allah" hanya nama itu yang ku sebut.
Tubuh ku di banjiri oleh keringat.
"Astaghfirullah hal adzim jadi seperti itu kematiannya mbk Reni tapi siapa tadi yang telah membisikan kata-kata itu, apa itu mbk Reni" kata ku.
Aku kembali merebahkan tubuh ku, dengan pikirkan linglung aku menatap langit-langit kamar.
"Kenapa aku bisa bermimpi seseram itu" kata ku.
Aku terus menatap langit-langit sampai mata ku kembali terpejam.
Pagi harinya.
Setelah selesai berpakaian aku turun ke bawah untuk sarapan.
"Hai Aliza" kata seseorang.
"Loh kok kamu tiba-tiba ada di sini" kata ku terkaget.
"Aku sengaja berangkat pagi-pagi ke sini, papa sama mama dan eyang juga sudah berada di bandara" jawab Angkasa.
"Owh pantesan, kamu sudah bawa baju-baju mu?" tanya ku.
"Sudah" jawab Angkasa.
Aku duduk di samping Angkasa
"Alisa mana Bun kok gak kelihatan dia sudah bangun apa gimana?" tanya ku.
"Palingan bentar lagi dia juga akan turun" jawab bunda.
"Halo semua aku sudah siap" kata Alisa.
"Makan dulu, kalian bawa bekal ke sekolah saja biar gak jajan sembarangan" kata bunda.
"Iya Bun" jawab kami.
"Kakek sama nenek kok kemas-kemas mau kemana?" tanya ku.
"Kakek mau pulang ke kampung saja sudah aman juga situasi di sini, kasihan tanaman padi kakek gak terawat kalau lama kakek tinggal" jawab kakek.
"Katanya seminggu ini belum seminggu loh" kata ku merasa tak rela.
"Ada perubahan nanti kalian kalau libur sekolah juga boleh main ke kampung kakek" jawab kakek.
"Siap kakek kita pasti akan ke sana kok" kata Alisa.
Kami semua sarapan bersama.
"Kakek" panggil ku.
"Ada apa za?" tanya kakek.
"Tadi malam itu aku bermimpi tentang mbk Reni yang mati karena di jadikan tumbal pesugihan sama orang tuanya, tadi malam itu Ki Suryo memberikan uang pada orang tau mbk Reni untuk membelikan makanan atau minuman anehnya uang itu gak boleh di makan sama orang lain" jawab ku.
Kakek tersenyum mengerti.
"Intinya za setiap orang yang mau di jadikan tumbal harus di berikan makanan atau minuman, nah makanan itu yang akan menjadi alat pembeli nyawanya, kalian kalau di kasih makanan atau minuman dari orang yang tidak di kenal jangan mau, bisa jadi mereka hanya ingin menjadikan kalian tumbal saja" kata kakek.
"Oh gitu pantesan setelah mbk Reni memakan bakso yang di beli dari uang itu dia bisa nurut" paham ku.
"Emangnya semua orang yang akan jadi tumbal itu harus di beri iming-iming dulu?" tanya Alisa.
"Iya biasanya iming-iming itu berbentuk makanan maupun minuman kalau benda yang gak dapat di makan itu bukan termasuk ke dalamnya" jawab kakek.
"Owh gitu" kata kami.