The Indigo Twins

The Indigo Twins
Memboceng pocong



Dari kejauhan Angkasa melihat tukang sate keliling yang berada di pinggir jalan, penjual sate tersebut adalah warga yang tinggal di kampung Kamboja, hanya saja pedagangnya terkadang tidak berkeliling di kampung Kamboja saja tapi di luar kampung dan juga di tempat-tempat yang ramai di kunjungi saat malam hari.


"Ada tukang sate tuh, aku samperin aja, lumayan biar ngurangin laper di perut"


Angkasa mendekati tukang sate, ia menghentikan laju motornya tepat di depan tukang sate.


"Mang sate 1 porsi ya"


"Siap, loh Angkasa, kok ke sini?" terkejut mang Asep saat mengenali Angkasa.


"Laper mang, jadi terpaksa keluar buat nyari makan"


"Kenapa gak makan di rumah aja?"


"Semuanya pada tidur mang, gak enak buat bangunin mereka, lebih baik Angkasa cari makan sendiri"


"Oh gitu, bentar ya, mang akan siapin sate spesial buat kamu"


Angkasa tersenyum."Iya mang, jangan lama-lama"


Mang Asep mengacungkan jempol tanda setuju, kemudian mang Asep mengipasi sate biar cepat matang, tak lupa mang Asep membolak-balik sate tersebut biar matang sempurna.


"Mang tau gak kalau pak Jarwo sudah meninggal"


"APA MENINGGAL?"


"Iya mang, pak Jarwo meninggal dunia"


"Ah kamu bercanda ya, barusan pak Jarwo makan di sini, masa iya dia meninggal"


Angkasa langsung mengerutkan alis."Makan di sini, kapan pak Jarwo makan di sini?"


"Barusan, selisih 5 menit sama kamu, mangkanya mang gak percaya kalau pak Jarwo meninggal, orang jelas-jelas barusan pak Jarwo makan di sini dengan lahap"


Angkasa merasa aneh pada apa yang mang Asep katakan.


"Tapi mang pak Jarwo itu meninggal sekitaran jam 10, beliau selesai di makamin sekitar jam 12, masa iya pak Jarwo makan di sini"


Mang Asep diam, ia benar-benar terkejut sekali.


"Kamu gak lagi bohong kan?"


"Enggak mang, untuk apa Angkasa boong, pak Jarwo sudah meninggal, dia meninggal kecelakaan karena ngindar dari warga-warga yang pada ngejar dia"


"Ngindar dari warga-warga, emang apa yang pak Jarwo lakukan sehingga ngindar dari warga?"


"Di rumah pak Jarwo di temuin mayat, dia ngindar dari warga karena gak mau masuk penjara"


"MAYAT, mayat siapa yang ada di rumah pak Jarwo?" semakin terkejut mang Asep saat mendengar penjelasan Angkasa.


"Gak tau mang, karena mayatnya sudah gak berbentuk, dan kebanyakan sudah menjadi tengkorak, mangkanya gak ada satu orangpun yang ngenalin"


"Siapa ya sekiranya mayat-mayat di rumah pak Jarwo" penasaran mang Asep.


"Kalau mang penasaran tanyain aja langsung pada polisinya besok, barang kali mang kenal sama korban-korban itu"


"Iya, besok mang akan tanyain sama polisinya, ini sate kamu sudah selesai" mang Asep memberikan satu porsi sate pada Angkasa.


Angkasa mengambilnya."Makasih mang"


"Sama-sama, cepat makan, nanti keburu dingin"


Angkasa tidak menjawab dan mulai menyantap makanannya, tak lupa ia membaca doa sebelum makan.


"Mang satenya 100 tusuk" suara yang terdengar pelan itu membuat Angkasa penasaran pada pemiliknya, ia benar-benar ternganga ketika mendengar pesanan yang super banyak itu.


Angkasa menatap ke arah pemilik suara tersebut.


Bertapa terkejutnya Angkasa saat melihat seorang wanita yang pakaiannya putih, tatapan matanya kosong, wajahnya pucat, rambutnya panjang terurai dan terlihat begitu misterius.


"Baik neng, silahkan duduk dulu neng"


Wanita misterius itu duduk ajak menjauh dari Angkasa.


Angkaa melirik ke arah wanita misterius yang menatap kosong ke depan, Angkasa menelan ludah pahit saat melihat ada hewan-hewan kecil yang memenuhi rambut wanita itu.


"Menakutkan" batin Angkasa yang kembali meneruskan makannya dengan tak selera.


"Ini neng"


Wanita misterius itu mengambil sate yang mang Asep berikan, ia memakan sate itu dengan sangat cepat.


Angkasa yang melihat cara makan wanita misterius itu menelan ludah, mata Angkasa terbelalak saat melihat baju putih wanita itu yang di bagian bawahnya sudah kotor seperti lama tak di cuci.


Angkasa langsung menelan ludah pahit, ia menghabiskan sate itu dengan cepat karena perasaannya tidak enak.


"Oh iya makasih Angkasa"


"Sama-sama mang, Angkasa duluan ya mang"


"Iya"


Angkasa melajukan motor meninggalkan mang Asep.


"Kenapa bisa ada hantu jadi-jadian seperti dia, anehnya lagi kenapa dia makan di tempat mang Asep, apa sebenarnya selama ini pelanggan mang Asep kebanyakan yang kayak gitu kalau sudah larut malam?"


"Pantesan aja tadi mang Asep gak percaya kalau pak Jarwo meninggal, rupa-rupanya pak Jarwo yang makan di sana sudah berubah jadi han-


Ucapan Angkasa terhenti saat matanya melihat ada seseorang yang duduk di jok belakang dari spion.


Angkasa menelan ludah."Mati, siapa dia sebenarnya, kenapa ikut di belakang ku" batin Angkasa yang panas dingin.


Makhluk halus yang duduk di jok belakang Angkasa tak lain adalah pocong.


Angkasa di buat panas dingin saat sadar akan keberadaannya, saat ia akan masuk ke dalam jalanan desa yang gelap, bertapa dag-dig-dugnya hati Angkasa karena pastinya rasa merinding itu akan semakin menjadi-jadi.


Angkasa berusaha untuk tetap tenang, ia sebisa mungkin relaks walaupun di belakang ada pocong yang nebeng.


Motor masuk ke dalam jalanan desa, baru aja masuk ke jalanan desa, hidung Angkasa langsung mencium bau kembang yang sangat menyengat.


Angkasa langsung menelan ludah pahit, ia menahan napas, ia tidak mau mencium bau kembang itu.


Sepanjang perjalanan Angkasa menahan napas, ia bernapas lewat mulut bukan hidung.


Pocong yang nebeng di belakangnya masih tetap tidak berpindah sedikitpun, rasa tegang semakin menjadi-jadi saat telinga Angkasa sayup-sayup mendengar suara yang membuatnya semakin merinding.


"Hiks hiks hiks"


Tangisan itu begitu lirih, namun terdengar jelas di telinga Angkasa.


Angkasa menambah kecepatan, ia benar-benar sangat takut, baru kali ini ia merasakan takut yang luar biasa.


"Matilah aku, matilah aku" batin Angkasa yang panas dingin.


Motor melaju dengan kencang, Angkasa berusaha menghindar dari suara tangisan itu, ia berharap pemilik suara tangisan itu tidak mengganggunya.


Angkasa semakin dag dig dug saat kotor mau hampir sampai di rumah.


"Dia masih ada gak ya?" batin Angkasa.


"Aku harus cek dia masih ada apa enggak, aku gak boleh pulang ke rumah bawa dia, dia bisa bikin masalah di desa nantinya" batin Angkasa.


Angkasa dengan ragu-ragu melirik ke arah spion.


"Huft alhamdulilah akhirnya dia pergi juga" laga Angkasa saat sudah tidak melihat pocong itu di jok belakang.


"Aku harus cepat-cepat sampai di rumah sebelum dia kembali lagi"


Angkasa menambah kecepatan, ia ingin segera sampai di rumah.


Bertapa leganya Angkasa saat motor sudah masuk ke dalam halaman rumah.


"Akhirnya aku nyampe juga di rumah"


"Kenapa sa, kenapa kamu kayak orang habis ketemu sama hantu" Angkasa menatap ke arah mbk Hilda yang berada di depannya.


"Bukan ketemu lagi mbk, barusan ada pocong yang nebeng aku pulang, mangkanya aku lega banget saat dia sudah pergi"


"Kamu kenapa pake keluar rumah segala, apa yang kamu cari?"


"Cari makan mbk, mangkanya aku keluar, tapi gak sengaja ketemu sama pocong itu, untung aja dia gak ikut ke sini"


"Kalau ikut ke sini, dia pasti akan berurusan dengan Tiger"


"Loh kemana Tiger sama yang lain, kenapa cuman mbk seorang yang ada di sini?"


"Mereka lagi keliling kampung, nanti mereka juga akan balik ke sini, sama kamu istirahat gih, ini sudah malam, masalah rumah biar mbk yang akan urus"


"Iya mbk"


Angkasa memasukkan motor ke dalam garasi terlebih dahulu baru masuk ke dalam rumah.


Saat hendak membuka pintu, Angkasa kembali teringat pada bau kembang yang tadi sempat ia cium.


Angkasa tak jadi membuka pintu."Aku gak mau masuk ke dalam, aku lebih baik ke kamar Reno aja, malam ini aku tidur aja di sana"


Angkasa membuka kamar Reno yang tidak pernah di kunci, ia merebahkan tubuh di samping Reno yang tidur pulas.