The Indigo Twins

The Indigo Twins
Jasad Andin



Aku dan Angkasa mengecek satu persatu kelas yang ada di lantai 1,2 dan 3 namun tidak ada siapapun yang kami temukan.


Kelas itu kosong, tak ada sesuatu yang membuat kami curiga sedikitpun.


"Kok jasadnya Andin gak ada di sini ya, apa mungkin pembunuhnya gak bunuh Andin di sekolahan ini?" dugaan Angkasa.


"Kalau bukan di sini mereka mau bunuh Andin di mana coba?"


"Iya juga sih, tapi kenapa gak ada siapapun di sini kalau memang benar Andin di bunuh di sini, seharusnya kan ada jejaknya walaupun sedikit, tapi ini apa, enggak ada sama sekali" Angkasa mengacungkan jempol pada pembunuh Andin yang membereskan segala bukti dengan sangat bersih.


"Sebentar-sebentar Risa bilang kalau Andin di sekap, pertanyaannya Andin itu di sekap di mana, gak mungkin di dalam kelas, karena pastinya bakal ada yang tau"


"Pasti Andin di sekap di tempat yang tersembunyi dan di yakini gak bakalan ada orang yang masuk atau menempatinya" feeling Angkasa.


"Pertanyaannya di mana tempat itu?"


"Bisa ruangan kosong, belakang sekolah, atau enggak...


Perkataan Angkasa terputus.


"GUDANG"


Kompak kami yang sama-sama teringat pada gudang yang belum di periksa.


"Bisa aja Andin ada di sana"


"Ayo kita ke sana, kita harus cek kebenarannya" ajak Angkasa berlari.


Aku setuju lalu menyusulnya berlari menuju gudang.


Saat sampai di gudang kami tertegun ketika melihat Andin yang di ikat di kursi, terlihat memar-memar yang memenuhi kulitnya, aku merasa itu terjadi karena ada yang sudah memukulnya tanpa ampun.


"Andin"


Terkejut kami tak percaya jika Andin meninggal karena di sekap.


"J-jadi benar kalau ada orang yang udah bunuh Andin" aku menutup mulut ku dengan tak percaya ketika melihat itu semua.


"Ini kasus kriminal za, kita harus bawa ke jalur hukum biar kasusnya di usut tuntas"


"Iya, aku akan hubungi om dulu, kamu hubungi Reno suruh yang lain ke sini"


Angkasa mengangguk lalu menghubungi Reno.


"Ada apa sa?"


"Aku sama Aliza udah nemuin jasadnya Andin, sekarang kamu ajak yang lain ke gudang, jasad Andin ada di sana"


"Baik"


"Ada apa ren?" penasaran Alisa.


"Angkasa nyuruh kita buat ke gudang, karena jasadnya Andin ada di sana"


DEG!


Hati Roy langsung hancur ketika mendengar kalau Andin temannya benar-benar telah meninggal.


"Ayo kita harus ke sana" ajak Alisa.


Mereka berlari ke arah gudang.


Aku mengubungi pak Heru agar datang ke sini buat mengevakuasi jasad Andin.


"Halo om"


"Iya ada apa Aliza?"


"Om bisa ke sekolahan gak, di sini ada jasad"


"Jasad, jasad siapa Aliza?" penasaran pak Heru.


"Udah om ke sini aja, nanti Aliza bakal jelasin semuanya"


"Ya udah om akan ke sana, kalian tunggu saja di sana, jangan kemana-mana"


Aku mematikan sambungan telepon.


"Gimana sa, kamu udah ngasih tau Reno kan?"


"Udah, Reno sama yang lain pasti akan datang ke sini" jawab Angkasa.


"Di mana jasadnya Andin?" kami melihat ke belakang yang sudah muncul Reno, Roy dan juga Alisa.


"Itu" tunjuk Angkasa ke arah Andin yang masih berada di tempat yang sama.


"Andin" tak percaya Roy ketika melihat dengan jelas temannya yang kini sudah tak dapat bergerak lagi.


"Andiiin" teriak Roy shock berat.


Roy berlari mendekati Andin, dengan cepat Angkasa langsung menarik kerah baju belakangnya.


"Lepasin aku mau ke Andin" berontak Roy yang tak bisa diam.


"Jangan Roy, kamu jangan ke sana, takutnya ada sidik jari kamu yang nempel di sana, kita masih belum tau siapa yang udah bunuh Andin, maka dari itu kita tunggu polisi datang, sebentar lagi polisi akan datang" jelas Angkasa.


"Iya Roy, kalau sidik jari kamu nempel di sana, semuanya akan tambah runyam, bisa-bisa kamu yang akan kena masalah" setuju Reno pada Angkasa.


Roy terpaksa mengurungkan niatnya yang hendak mendekati Andin yang kini sudah tak lagi bisa ia ajak berbicara.


Pertahan Roy runtuh saat melihat gadis yang menjadi semangatnya selama ini sudah tutup usia.


Roy terduduk di bawah dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti.


"Andin" tak menyangka Roy saat kenyataan ini menghancurkan segalanya.


Alisa menatap perihatin pada orang yang dulu sangat menyebalkan di matanya.


"Roy kamu yang sabar ya" Alisa menenangkan Roy yang terpukul akibat kepergian Andin.


Roy diam, ia begitu tak menyangka jika hal ini akan terjadi.


Di saat kesedihan tengah menghampiri Roy tiba-tiba aku melihat sosok yang tersenyum meski air mata terus mengalir di pipinya.


"Makasih udah mau berjuang hanya karena nyariin titik terang dari kemarin ku"


Kami yang dapat melihat Andin hanya mengangguk saja.


Wiu wiu wiu wiu wiu


Suara sirine polisi terdengar di telinga kami.


Tak lama kemudian pak Heru sampai di gudang.


"Di mana jasadnya?"


"Itu om, cepat evakuasi dan antarkan ke rumah duka, kami akan tunjukin rumahnya"


Pak Heru mengangguk lalu mengevakusi Andin bersama rekan-rekannya.


Roy tak henti-hentinya menitihkan air mata ketika melihat Andin yang sudah terbungkus dalam kantong jenazah.


"Roy, kamu yang sabar, aku tau ini berat buat kamu, tapi aku yakin kamu bisa lalui ini semua, ayo kita antarkan Andin kembali ke desanya, di harus segera dikebumikan" ajak Angkasa.


Roy mengangguk, ia menyeka sedikit air mata lalu mengikuti kami untuk keluar dari dalam sekolahan ini.


"Za kita masih belum tau siapa yang udah nyekap Andin, kita harus cari tau dulu" Alisa udah sangat penasaran sekali pada pihak-pihak yang terlibat dalam kasus ini.


"Waktunya gak cukup sa, matahari udah mulai terbenam, belum lagi kita yang akan ngelayat ke rumah Andin, akan tambah malam jika kita nyari tau pelakunya hari ini juga"


"Terus kita mau nyari pelakunya kapan, dia gak bisa kita biarin gitu aja, kita harus tangkap dia?" Alisa tidak akan membiarkan pihak yang terlibat dalam kasus terbunuhnya Andin dapat berkeliaran bebas.


"Besok, kita akan usut tuntas besok, kita memang nemuin jasad Andin, namun kita masih belum bisa mecahin misteri di balik angka 4,6,8 itu, aku yakin sekali ada sesuatu di balik angka itu"


"Kalau besok aku gak akan bisa bantu, aku kan diskors dari sekolah ini, mana bisa aku ikut bantu nyelidiki pembunuhannya" Alisa sungguh ingin sekali ikut mencari tau pihak siapa saja yang terlibat dalam kasus pembunuhan berencana ini.


"Kamu besok tetap masuk aja, jangan pikirin bu Riska, kalau dia akan nambahin hukuman buat kamu, aku yang akan bela kamu, kamu tidak usah takut" jawab Reno.


"Ya udah, aku besok akan tetap masuk" senang Alisa meski ia tidak patuh pada aturan yang sudah bu Riska berlakukan.