The Indigo Twins

The Indigo Twins
Curiga pada pengantin wanita



Kami berjalan menuju masjid yang tidak seberapa jauh itu.


Di jalan adzan magrib sudah di kumandangkan, kami cepat-cepat berjalan ke masjid.


Setelah sampai di sana kami menunaikan sholat magrib berjamaah, setelah selesai baru kami berangkat ke rumah bu Weni.


Ketika sampai di sana, pandangan ku jatuh pada seorang wanita paruh baya yang pucat berdiri di keramaian ibu-ibu.


"Oh jadi dia yang meninggal dunia" batin ku.


Aku mendekati ibu-ibu yang berada di sana yang tengah menata nasi yang sudah di masak dan menaruhnya ke dalam piring kemudian di beri lauk, lalu di letakkan di lincak yang berada di seberang sebelum di berikan pada warga-warga yang bertahalil.


Pelaksanaan tahlilan di mulai dengan khidmat dan tanpa masalah, orang-orang yang hadir di tahlilan tidak banyak, karena kebanyakan warga-warga lainnya datang ke rumah pak Jarwo yang melangsungkan pesta pernikahan putrinya selama 14 hari 14 malam.


"Amin"


"Amin"


"Amin"


Saat kalimat itu terdengar aku dan ibu-ibu lainnya sibuk menata nasi dan lauk ke dalam piring dan di tata di lincak sebelum di berikan pada orang-orang khususnya kaum adam.


Kami semakin kalang kabut saat beberapa warga mendekati kami karena tahlilan sudah selesai.


Mereka membawa piring-piring yang sudah di isi dengan nasi lengkap dengan lauk, mereka memberikan makanan itu pada warga-warga yang ada di halaman rumah bu Weni yang di tempati warga-warga yang bertahalil.


Kami makan di rumah bu Weni, setelah selesai kami mencuci piring-piring kotor yang sudah di gunakan bersama-sama, baru berangkat ke rumah pak Jarwo.


"Aliza" panggil seseorang yang membuat langkah ku terhenti.


Aku berbalik badan menghadap ke belakang.


"Angkasa" terbit senyuman di wajah ku saat melihat Angkasa.


"Loh kok kamu ke sini lagi, bukannya tadi kamu ikut bareng orang tua kamu, kenapa malah kembali lagi?" heran Reno.


"Iya aku tadi memang ikut, tapi aku balik lagi ke sini karena papa sama mama berangkat ke luar negeri lagi, abang aku kecelakaan di sana" jawab Angkasa.


"Ya Allah kasihan sekali"


Terkejut kami mendengar berita itu.


"Abang kamu gak apa-apa kan sa?" khawatir bunda.


"Angkasa masih gak tau perkembangannya bun, papa sama mama lagi ke sana, nanti kalau sampai di sana mereka pasti akan ngabarin Angkasa" jawab Angkasa.


"Kenapa kamu gak ikut aja ke sana?" heran Alisa.


"Aku gak mau, aku mau di sini saja" jawab Angkasa.


"Kalau aku ikut ke sana, kemungkinan besar aku gak akan kembali ke negara ini lagi" batin Angkasa.


"Ya sudah kamu tinggal di sini saja dulu, nanti bunda akan telpon papa sama mama kamu, bunda juga ingin tau bagaimana keadaan kakak kamu" Angkasa mengangguk.


"Iya bun" jawab Angkasa.


"Ayo kita ke rumah pak Jarwo, aku udah gak sabar pengen lihat kondangannya, di desa gaib itu aku gak sempat berleha-leha di sana, karena ada banyak kingkong yang dapat membuat kami ketahuan"


"Untung kamu gak sampai ketahuan, kalau ketahuan kan nanti bahaya, bisa-bisa kamu gak akan kembali ke sini lagi selamanya" ketakutan bunda.


"Hal itu gak akan terjadi bun, kami itu pasti akan kembali, bunda tidak usah khawatir berlebihan"


gong


gong


gong


"Ayo kita ke sana, aku gak sabar nyampe di sana"


"Iya ayo" kami mempercepat langkah menuju rumah pak Jarwo yang sudah mulai mendekat.


Terbit senyuman di wajah ku saat kini rumah pak Jarwo yang sudah di dekorasi dengan bunga-bunga tengah berada tepat di hadapan ku.


"Ayo masuk" ajak bunda.


Aku mengangguk senang dan masuk ke dalam rumah pak Jarwo yang penuh dengan warga-warga yang kebanyakan dari desa Kamboja dan juga desa Penari.


Aku duduk di kursi yang sudah di tata rapih karena malam ini akan ada pementasan tari tradisional, malam ini awal pembukaan perayaan yang setiap tahun rutin di adakan.


"Bunda kenapa ada tariannya segala, kayak pembuka perayaan yang biasa di adakan setiap tahunnya?"


"Memang perayaan rutin setiap tahun itu kali ini di adakan di rumah pak Jarwo" jawab bunda.


"Kenapa di adain di sini bun, biasanya kan selalu di desa sebelah?"


"Mungkin karena sekalian ngadain acara pernikahannya Indri biar pestanya lebih lama juga" jawab bunda.


Aku diam dan merasa aneh karena baru kali ini perayaan itu di adakan di desa Kamboja, biasanya selalu di desa Penari.


"Bunda kok di pelaminan kosong, pada kemana mbk Indri dan suaminya?"


"Mungkin belum selesai dandan, tunggu aja dulu, mereka pasti akan keluar" jawab bunda dengan terus melihat tarian tradisional yang di bawakan oleh beberapa perempuan yang berasal dari desa Penari.


Aku menunggu sebentar dan benar saja pasangan suami istri yang baru nikah itu duduk di pelaminan.


"Wanita itu bukannya" batin ku.


Mempelai wanita itu tak asing bagi ku, aku menajamkan penglihatan ku karena barang kali pengelihatan ku salah.


"Tidak, dia benar-benar pengantin wanita yang ku temui di desa gaib, kenapa dia bisa ada di sini" batin ku terkejut ketika melihat pengantin wanita itu.


"Bunda nama mempelai wanitanya itu siapa?"


"Indri, kalau yang cowok itu namanya Ilyas, dia anaknya pak Sabeni, orang kaya di kampung sebelah" jawab bunda.


Aku terkejut bukan main saat tau jika pengantin wanita itu benar-benar mbk Indri.


"Sa itu bukannya pengantin wanita yang kita temui di desa gaib" bisik ku di telinga Angkasa.


"Iya dia memang wanita yang nangis-nangis minta tolong sama kita agar kita ngeluarin dia dari sana" jawab Angkasa pelan karena di sekeliling kami ada banyak warga.


"Kenapa dia bisa ada di sini sa, apa dia udah bisa keluar dari desa gaib itu"


"Aku juga gak tau za, tapi kenapa aku merasa dia yang kita lihat di sini beda sama dia yang kita lihat di desa gaib" firasat Angkasa.


"Beda gimana?"


"Kalau yang di sini wajahnya agak pucat, gak segar seperti di alam gaib, dan apa itu, kenapa cara dia ngelirik orang-orang sangat sinis sekali" aku melihat kembali ke arah mbk Indri dan ternyata benar ada banyak perubahan di dalam dirinya.


Dia benar-benar sangat berbeda dengan mbk Indri yang kami temui di desa gaib, dan perbedaan itu membuat kami sangat curiga padanya.


"Sepertinya tubuhnya ada yang ngendaliin"