
Keesokan harinya.
Aku terbangun dari tidur lelap ku, tadi malam aku bisa tidur dengan nyenyak begitu pun dengan Alisa, meski awalnya sudah di ganggu sama hantu, tapi alhamdulilah dia bisa kembali melanjutkan tidurnya.
Aku beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi, melakukan ritual mandi dengan secepat mungkin, setelah selesai aku keluar dan menunaikan sholat subuh di dalam kamar ini.
Setelah selesai sholat aku mendekati Alisa yang masih berada di dalam alam mimpi.
"Sa bangun" kata ku dengan menggoyangkan tubuhnya.
Alisa menggeliat, pelan-pelan ia membuka matanya.
"Kenapa?" tanya Alisa yang masih belum bangun sepenuhnya.
"Bangun udah pagi, sana kamu mandi sana, setelah itu sholat, sebelum waktunya habis" jawab ku.
"Enggak mau, aku gak mau mandi sendiri, karena aku takut sosok itu muncul saat aku berada di dalam mandi, iih takut" kata Alisa yang heboh saat membayangkan hal itu.
"Gak akan ada hantu yang bakalan gangguin kamu, di luar itu ada Tiger, White, mbk Hilda dan juga dua Kun, mereka gak akan biarkan hantu manapun masuk ke dalam rumah ini, sekarang kamu mandi sana, aku mau keluar sebentar" jawab ku.
Alisa membalas dengan dehaman saja.
"Sana mandi cepatan, sebelum waktu subuh lewat"
"Iya" jawab Alisa.
Aku keluar dari dalam kamar sedangkan Alisa masuk ke dalam kamar mandi.
Saat aku menuruni anak tangga tiba-tiba telinga ku mendengar suara-suara yang berasal dari luar rumah.
"Suara siapa itu, kok kayaknya rame banget" kata ku.
"Aku harus liat" kata ku.
Aku berjalan keluar dari dalam rumah dan mendapati mbk Hilda dua Kun, Tiger dan White yang tengah berada di depan rumah.
"Aliza"
Kaget mereka saat melihat ku membuka pintu.
"Kenapa kok kaget gitu?" tanya ku.
"Gak apa-apa kok" jawab mereka.
"Gimana, apa kalian udah nemuin informasi tentang hantu yang udah gangguin Alisa tadi malam itu?" tanya ku.
"Udah" jawab mereka.
"Siapa dia dan apa yang dia inginkan sebenarnya?" tanya ku penasaran.
"Itu masalahnya, kami gak tau siapa dia, dan untuk tujuannya kemungkinan besar dia cuma ingin nakut-nakutin Alisa doang, gak ada tujuan tertentu" jawab mbk Gea.
"Gak tau gimana, apa dia itu hantu yang ngikutin aku di perjalanan ataukan suruhan orang?" tanya ku.
"Kalau suruhan orang gak mungkin, tapi kalau ngikutin kamu saat pulang ke desa juga enggak" jawab mbk Hilda.
"Terus apa yang kalian dapatkan kalau hal itu saja kalian tidak tau" kata ku.
"Kami cuman tau kalau dia itu hantu baru dan kuburannya berada di ujung jalan tepatnya di bawah pohon bambu yang sepi itu, teruntuk apakah dia warga desa ini mbk rasa enggak, karena mbk gak kenal sama sekali padanya" jelas mbk Hilda.
"Kalau mbk gak kenal sam dia apalagi aku" kata ku.
"Gini aja za, kamu cari tau ke warga-warga kuburan siapa yang berada di ujung jalan itu, pasti di antara mereka ada yang kenal" kata mbk Hilda.
"Haruskan aku nanya sama warga tentang siapa orang yang di kubur di sana?" tanya ku.
"Iya, kamu harus nanya, karena kalau kamu gak nanya sama mereka, kita gak akan tau siapa dia, mbk aja gak kenal sama dia, bagaimana bisa kita tau siapa dia dan kenapa dia bisa meninggal sehingga dia gentayangan dan gangguin Alisa" jawab mbk Hilda.
"Za"
Panggil seseorang dari belakang ku.
Aku menoleh ke belakang.
Alisa melihat ke arah mereka semua yang berkumpul di depan rumah.
"Ngapain kalian pada ngumpul di sini, apa yang kalian bicarain?" tanya Alisa.
"Ini, kami lagi ngomongin hantu yang gangguin kamu tadi malam, kata mbk Hilda kuburan hantu itu ada di ujung jalan tepatnya di bawah pohon bambu" jelas ku.
"Pohon bambu, di ujung jalan?" kata Alisa mengerutkan alis.
"Di ujung jalan yang mana?" tanya Alisa.
"Sebelum jalanan menuju ke desa sebelah itu kan ada jalan yang lurus ke selatan, nah di bawah pohon bambu itu kuburannya hantu yang gangguin kamu tadi malam" jelas mbk Hilda.
"Oh jalanan itu, tunggu-tunggu bukannya jalanan itu gak pernah warga pake karena medannya yang sulit, tapi setau aku di sana gak ada kuburan deh" kata Alisa.
"Awalnya di sana memang gak ada kuburan, tapi sekarang ada dan kuburan itu milik hantu yang gangguin kamu" jawab mbk Hilda.
"Siapa sebenarnya hantu itu, kenapa di kubur di sana, apa dia warga di desa ini ataukah korban pembunuhan seperti mbk dulu?" tanya ku.
"Gak tau juga, kalau korban pembunuhan kayaknya enggak, karena kuburan hantu itu memiliki batu nisan sedangkan mbk dulu gak ada" jawab mbk Hilda.
"Kita harus cari tau siapa pemilik kuburan itu, biar kita atur rencana untuk hentikan ulah hantu itu, aku pengennya malam ini juga hantu itu sudah gak berkeliaran lagi, bagaimana pun caranya" kata Alisa.
"Ya gak bisa secepat itu sa, kita aja masih belum tau hantu itu berasal dari mana, dia orang yang tinggal di desa ini atau tidak, dan juga dia itu meninggalnya kenapa sehingga bisa gentayangan" kata ku.
"Kita harus cari tau di mana za, mereka aja gak ada yang bisa cari tau, apalagi kita" kata Alisa.
"Kalian nanya aja dulu pada warga sekitar tentang kuburan itu, barang kali mereka ada yang tau siapa hantu itu dan kenapa dia bisa meninggal" kata mbk Gea.
"Kita mau nanya ke siapa?' tanya Alisa.
Aku melihat ke arah jalan yang berada di depan rumah.
"Itu ada ibu-ibu, ayo kita hanya pada mereka saja, barang kali mereka tau" tunjuk ku ke arah mereka.
Alisa setuju lalu kami berdua berlari mendekati ibu-ibu itu yang sedang berbelanja di depan rumah ku.
"Permisi bu" kata kami.
Ibu-ibu yang ada di sana langsung melihat ke arah kami.
"Ada apa Alisa dan Aliza?" tanya bu Weni.
"Sa kamu yang nanya" kata ku pelan.
"Begini bu, Alisa dengar ada kuburan di ujung jalan yang seram itu, apa ibu tau kuburan siapa itu?" tanya Alisa.
"Oh kuburan itu, kalau gak salah itu kuburannya istrinya pak Prapto yang meninggal kemarin" jawab bu Weni.
"Emang pak Prapto punya istri?" tanya kami terkejut karena selama ini kami mengira pak Prapto tidak memiliki istri.
"Iya, dia punya istri" jawab bu Hanung.
"Kok Alisa gak tau siapa istrinya pak Prapto" kata Alisa
"Karena istrinya pak Prapto itu jarang keluar rumah, sekitar 5 tahunan dia mengurung diri di dalam rumah setelah keguguran terus" jawab bu Wahida.
"Cuman karena hal itu istrinya pak Prapto gak keluaran rumah?" tanya ku yang merasa aneh.
"Iya, mungkin dia itu malu karena nikah bertahun-tahun masih belum punya anak" jawab bu Sarwendah.