The Indigo Twins

The Indigo Twins
Menunggu



Jam pukul 1 malam dan ayah serta bunda baru sampai di rumah.


Mereka langsung masuk ke dalam rumah dan mendapat tiga pemuda tampan yang masih belum tidur.


"Loh kok belum tidur, udah malam" kata ayah.


Mereka menoleh ke asal suara.


"Lagi mau nonton bola ayah" jawab Angkasa.


"Nih di makan, bunda tadi beli di jalan" kata bunda dengan meletakkan tahu bulat dan jajanan lainnya di atas meja.


"Wih makasih bunda" kata Reno.


"Aliza sama Alisa udah bobok ya?" tanya ayah.


"Iya ayah udah tidur dari tadi merekanya" jawab Angkasa.


"Jangan malem-malem ya nontonnya, besok sekolah loh, awas jangan sampai kesiangan" kata bunda.


"Gak akan kok Bun, kita pasti akan bangun kok, tenang aja" kata Angkasa.


"Iya" kata bunda.


Ayah dan bunda lalu masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


Keesokan harinya.


Ketiga pemuda itu tertidur di ruang tamu dengan televisi yang masih menyala.


"Masya Allah ckckck enak benar tiga bocah ini tidur ya jam segini, gak lihat apa bentar lagi udah mau adzan subuh" kata ku dengan berkacak pinggang menatap mereka yang masih tertidur lelap.


"Sa kasa, ren tadz" panggil ku.


Mereka bertiga tidak bergerak.


Aku menghela nafas kasar.


"Gak akan bangun mereka ini, aku harus cari cara untuk bisa membangunkan mereka bertiga, hmm tapi apa ya? coba deh aku cari di dapur" kata ku lalu melangkah menuju dapur.


Aku melihat semua perabotan yang ada di dapur.


"Aha ini aja kali ya, pasti ampuh untuk bisa membuat ketiga pemuda itu bangun dalam satu kali pakai" kata ku tersenyum lalu kembali ke ruang tamu.


Aku tersenyum jahil lalu mencipratkan air itu ke wajah mereka.


"Hujan, hujan, hujan" teriak mereka.


Aku terkekeh melihat mereka yang sudah panik.


"Alizaa" teriak mereka yang sudah berhasil ku ganggu.


Aku langsung berlari keluar dengan tawa yang masih belum selesai.


"Untung mereka tidak mengejar ku" kata ku berhenti berlari.


Aku lalu berjalan menuju masjid sendirian karena yang lain masih belum bangun.


"Kenapa jalanan ini sepi sekali, kok tak ada orang satu pun ya yang lewat, mungkin mereka masih belum bangun" kata ku menatap jalanan yang sangat sepi dan sunyi hanya ada aku seorang yang melewatinya.


"Udah ah aku santai aja, tidak akan ada yang gangguin juga, bentar lagi juga para warga pasti akan menyusul ku" kata ku lalu kembali berjalan.


Saat sampai di sana aku langsung masuk ke dalam masjid, menekan saklar lampu lalu mendirikan sholat tahajud.


Di masjid ini sepi tak ada seorangpun tetapi tak membuat konsentrasi ku pecah, aku masih tetap fokus mendirikan sholat malam.


Rakaat pertama sudah aku selesai kini tinggal rakaat kedua.


Aku membaca surat-surat pendek dengan sangat fokus, selesai membaca surat pendek aku ruku' lalu i'tidal setelah itu melakukan sujud.


"Allahu Akbar" dalam hati ku saat selesai mengerjakan i'tidal.


"Allahu Akbar"


Dalam keadaan sujud, aku mendengar suara orang di belakang yang juga mengatakan 'Allahu Akbar'


Terlihat di belakang ada seseorang wanita berpakaian serba putih yang ikut sholat bersama ku.


"Siapa di belakang, perasaan di sini hanya aku doang, gak mungkin di belakang itu manusia apa jangan-jangan" batin ku menggantung.


"Oh tidak itu pasti" batin ku menjadi tak fokus.


Aku duduk dari sujud hingga akhirnya sholat selesai di dirikan.


Aku langsung menjadi panas dingin karena hal ini.


"Duh kenapa perasaan aku masih gak tenang gini, aku penasaran banget siapa di belakang ku tapi aku takut melihatnya" batin ku.


"Ya Allah hilangkanlah makhluk yang ada di belakang hamba mu ini, entah kenapa hati ini begitu ngeri dengan makhluk tak kasat mata kali ini, kenapa aku manjadi takut begini sekarang, bisanya aku tidak pernah setakut ini" batin ku.


tap tap tap


Wajah ku langsung memucat saat mendengar suara langkah kaki seseorang yang semakin mendekat.


"Duh gimana ini, ya Allah tolong hamba, kenapa hari ini hamba merasa begitu takut dengan makhluk mu, oh tidak kenapa detak jantung ku memompa lebih cepat dari biasanya, di tambah lagi dengan angin sepoi-sepoi yang menambah lengkap saja ketakutan yang menyerang ku, aduh bagaimana ini" batin ku ketar-ketir.


DEG!


Tubuh ku langsung tak bergerak saat merasakan ada sebuah tangan yang menyentuh pundak ku.


Mata ku langsung terpejam karena takut.


Aku menelan ludah pahit, dengan sisa keberanian aku membalikkan tubuh ku.


"Aaarrrgghh" teriak ku kaget.


"Aaarrrgghh kenapa?" tanya Angkasa.


"Ish ngagetin aja" kesal ku lalu memukul dada Angkasa.


"Ada za?" tanya Angkasa.


"Tadi tu ada yang ikut sujud bareng aku di situ mangkanya aku takut pas lihat kamu, karena aku tadi ngira kalau kamu itu hantu" jelas ku.


"Owh jadi kamu takut gitu" kata Angkasa berusaha menahan tawa.


Mendadak ekspresi wajah ku langsung berubah.


"Ish anak ini kenapa dia masih nanya lagi kalau sudah tau jawabannya, sungguh menyebalkan" batin ku kala melihat Angkasa yang seperti sangat senang sekali.


Aku tak menjawab dan malah menghadap ke depan.


"Jawab nona" kata Angkasa.


Aku menghembuskan nafas kasar.


"Enggak malahan aku senang kok, aku ceritanya ini mau meminta tanda tangannya, puas" jawab ku kesal.


"Sialan nih bocah, aku kan nanyanya baik-baik eh dia jawabannya kek orang terpaksa gitu" batin Angkasa.


Angkasa lalu mendirikan sholat malam.


Ustadz Fahri dan yang lainnya masih belum datang juga, sambil menunggu yang lain datang kami berdua bercengkrama di dalam masjid untuk mengusir ke senyapan.


"Kemana sih semua orang, kok gak datang-datang aku sudah lelah menunggu mereka, sudah sejak tadi kita berada di sini tapi tak ada satu orangpun yang muncul juga, sebenarnya mereka itu nyasar ke mana sih" kata ku yang sudah lelah.


"Entahlah kita tungguin aja, bentar lagi juga sampai juga" jawab Angkasa.


Aku menghela nafas dan berusaha bersabar untuk menunggu kedatangan mereka.


Tidur miring, terlentang, duduk, berdiri semua telah aku dan Angkasa lakukan tetapi tetap tak ada manusia satupun yang datang juga.


"Kasa kamu telpon bunda atau Ustadz Fahri gitu, aku sudah sangat lelah menunggu ke datangan mereka" tintah ku.


"Aku gak bawa hp, mau telpon pakek apa, pake peci iya" jawab Angkasa.


"Ish capeklah aku nunggu mereka dari tadi, andai aku tau hal ini akan terjadi aku pasti akan bawa hp" kata ku kesal.


"Tungguin saja dulu, nanti juga mereka akan datang, sabar" jawab Angkasa.


"Sampai kapan kita berada di sini, aku pengen pulang, tapi sia-sia aku datang ke sini jika pada akhirnya aku tak jadi sholat berjemaah di sini" kata ku.