The Indigo Twins

The Indigo Twins
Curiga pada siluman ular



"Maksud Ustadz siluman ular itu yang sudah membuat banyak kejanggalan yang terjadi di desa ini, iya?" Reno mengerti arah tujuan Ustadz Fahri.


"Benar, saya rasa siluman ular itu ada sangkut pautnya dengan kejadian aneh yang terjadi di desa" jawab Ustadz Fahri.


"Itu memang benar tadz, dia adalah dalang utama adanya kejanggalan di desa selama ini bukan mbah Gamik, pasti ada seseorang yang mengambinghitamkan mbah Gamik untuk mencari rasa aman, dan pasti warga akan langsung percaya karena mbah Gamik sudah masuk ke dalam kartu merah" setuju Angkasa pada pendapat Ustadz Fahri.


"Tapi siapa yang sudah menjadikan mbah Gamik kambing hitam?" penasaran Alisa.


"Pasti ada dan dia adalah warga di desa ini juga, cepat atau lambat semuanya akan terbongkar juga, sebaik-baik apapun seseorang menyembunyikan bangkai pasti baunya akan tercium juga" jawab Ustadz Fahri.


"Bunda mbk Indri sekarang sedang butuh bantuan kita bun, dia itu mau di nikahi sama makhluk halus, Aliza harus tolongin dia bun, Aliza gak bisa lihat dia tersiksa di sana, tolong izinin Aliza nolongin mbk Indri, Aliza mohon sekali bun"


"Kamu mau nolongin Indri dengan cara apa, dia ada di alam gaib sedangkan kamu ada di sini, kamu tidak bisa masuk ke sana za"


"Bisa bun, Aliza bisa masuk ke sana"


"Caranya?"


"Caranya cuman satu yaitu buka lemari besar yang ada di rumah mbah Gamik, di sana adalah jalan menuju desa gaib itu, Aliza harus ke sana bun, Aliza harus tolongin dia bun, Aliza gak mau dia terjerat di desa gaib itu selamanya"


"Bahaya nak, perjalanan menuju ke rumah mbah Gamik itu jauh, apalagi sekarang udah malam, akan tambah sulit datang ke sana" larang bunda.


"InsyaAllah Aliza bisa kok bun, Aliza yakin tidak akan ada apa-apa yang terjadi pada Aliza, Aliza akan kembali secepatnya dalam keadaan baik-baik saja, Aliza janji sama bunda"


"Za kamu boleh ke desa gaib itu, tapi kalau untuk masuk ke dalam hutan dan datang ke rumah mbah Gamik bunda gak mau ngizinin karena hal itu sangat berbahaya, hari saat ini sudah gelap, bakal tambah susah, bunda hanya gak mau ada apa-apa sama kamu" aku mengusap wajah ku karena bunda masih tak kunjung mau mengizinkan ku ke rumah mbah Gamik untuk masuk ke desa gaib itu lagi.


"Bunda plis izinin Aliza kali ini saja, Aliza gak akan kenapa-napa bun, Aliza akan baik-baik saja, bunda gak usah khawatir, bunda hanya tinggal diam di sini tungguin Aliza kembali dari sana, Aliza bakal berusaha sebisa mungkin bawa mbk Indri kembali ke sini"


Bunda hendak kembali melarang ku.


"Bunda bahayangin kalau bunda yang berada di posisi mbk Indri dan tidak ada siapapun yang bisa bantu bunda, apa yang akan bunda lakukan, apa bunda akan terima hidup selamanya di dalam desa gaib itu iya?"


Bunda diam, memang berada di posisi mbk Indri benar-benar sulit.


"Bunda tidak mau hidup selamanya di dunia yang berbeda itu dan bunda juga pasti ingin keluar dari sana tapi kemungkinan kecil untuk bunda bisa keluar, dan hal itu yang saat ini mbk Indri alami, dia sekarang pasti sedang berusaha keluar dari desa gaib itu, tapi tidak bisa, dia tidak bisa keluar bun, dia butuh pertolongan kita, dia hanya butuh pertolongan kita saja tidak lebih"


"Iya bunda tau kalau berada di posisi Indri itu sulit, tapi bunda juga gak mau anak-anak bunda kenapa-napa, kamu kali ini jangan ngebantah bunda, sekarang kamu masuk ke dalam kamar dan jangan pernah nekat keluar dari sana" suruh bunda dengan nada yang meninggi.


"Aliza gak mau bunda, Aliza gak mau"


"Kamu harus dengerin bunda, masuk ke dalam kamar, jangan coba-coba lari dari sana" bunda menyeret ku masuk ke dalam kamar.


Aku terus memberontak namun tenaga bunda lebih besar dari ku sehingga aku sulit untuk bisa pergi.


"Masuk ke dalam" perintah bunda.


"Bunda tolong buka, jangan kurung Aliza di sini" teriak ku dengan menggedor-gedor pintu.


Bunda mengunci pintu itu tak mendengarkan teriakan ku yang terus minta untuk di keluarkan.


"Bunda lepasin Aliza, Aliza gak mau di sini, bunda tolong lepasin Aliza"


"Kamu diam saja di sana, jangan sesekali coba-coba keluar dari sana kalau kamu tidak mau bunda mondokan" ancam bunda.


Aku tidak lagi memberontak, ancaman bunda benar-benar tak bisa di anggap enteng.


Aku terduduk lemas di bawah dengan tangan yang terus memukul pintu berharap bunda membukanya.


"Bunda buka, Aliza mau keluar, Aliza mau nolongin mbk Indri, Aliza mohon bunda" lirih ku yang terus menangis dengan memeluk tubuh ku sendiri.


Bunda kembali ke ruang tamu, mereka yang ada di sana tidak ada yang berani melawan bunda yang sedang marah besar.


"Kalian jangan coba-coba datang ke rumah mbah Gamik, kalian harus tetap berada di sini, jangan ada yang berani keluar dari rumah dan datang ke rumah mbah Gamik, mengerti" tegas bunda.


"Mengerti bun" jawab mereka dengan menunduk.


"Sekarang masuk ke dalam kamar, ini sudah malam, kalian istirahat sana" satu persatu di antara mereka membubarkan diri dan masuk ke dalam kamar masing-masing.


Bunda mengembuskan napas, ia merasa lelah setelah habis marah-marah.


"Bunda kasihan Aliza bun"


"Ayah diam, kali ini bunda ngelakuin hal ini demi kebaikan dia juga, bunda itu hanya gak mau Alisa kenapa-napa ayah, sudah cukup Intan yang jadi korbannya, bunda gak mau anak kita juga, ayah ngerti napa"


"Tapi bun jangan gitu juga, Aliza itu berniat baik, ada Allah yang akan selalu jaga dia bun, anak kita tidak akan kenapa-napa, Allah selalu jaga dia bun, bunda harus percaya itu"


"Bunda tau ayah, tapi untuk saat ini bunda gak mau Aliza kembali terjebak di alam gaib sepert waktu itu, jadi demi menghindari hal itu terjadi, bunda terpaksa lakuin ini, ayah untuk kali jangan berusaha nahan bunda, jalan yang bunda ambil sudah benar, ayah tidak boleh ikut campur lagi"


Ayah pun diam, percuma dia membela ku karena saat ini bunda sedang marah besar dan akan sulit nasihatnya dapat bunda dengarkan.


Ayah beranjak dari tempat duduk.


"Ayah mau kemana?"


"Mau tidur, udah malam" ayah meninggalkan bunda sendirian di ruang tamu, ia masuk ke dalam kamar.


Bunda mengembuskan napas kasar dan menyusul ayah ke kamarnya.