The Indigo Twins

The Indigo Twins
Jalanan Gaibah



Kami berdua terus berjalan namun jalanan ini benar-benar aneh, tak sama seperti jalanan di desa pada umumnya.


Aku memerhatikan jalanan ini yang benar-benar aneh sekali.


"Kok jalanan ini ada sedikit perbedaan dari jalanan desa yang biasa aku gunakan, apa ini masalahnya sehingga aku bisa masuk ke dalam masjid hantu tadi, apa jangan-jangan aku juga salah jalan sehingga bisa masuk ke dalam sana dan bertemu dengan jin-jin tadi" batin ku masih belum sadar dengan apa yang terjadi.


"Tapi kalau aku memang salah jalan, terus jalanan asli yang menuju ke masjid mana, kok gak ada, ini benar-benar aneh" batin ku yang masih tak habis pikir dengan segalanya.


Kami masih terus berjalan tanpa henti.


"Gimana za, menurut kamu jalanan ini sama gak dengan jalanan di desa?" tanya Angkasa.


"Enggak sama sekali, ada banyak perubahan pada jalanan ini, tak sama seperti jalanan di desa" jawab ku.


"Kok bisa berubah, perasaan kan kita tadi lewat jalanan yang biasa kita lewati pas mau ke masjid, tapi kenapa sekarang jadi kayak gini?" tanya Angkasa yang sudah bingung dengan keanahen ini.


"Itu yang aku pikirkan sejak tadi, aku juga bingung ada apa ini sebenarnya, kenapa kita bisa berada di jalanan ini, perasaan kita lewat di jalanan yang biasa kita gunakan untuk pergi ke masjid, tapi anehnya kita bisa bertemu dengan masjid hantu beserta dengan penghuninya yang sudah jelas bukan manusia dan sekarang kita malah terjebak di jalanan ini " jawab ku yang juga bingung dengan segalanya.


"Apa kita salah jalan?" tanya Angkasa.


"Salah gimana, orang jalanan menuju masjid itu cuman ada satu, masa iya kita salah jalan" jawab ku yang masih yakin kalau jalanan yang sudah aku lewati benar.


"Iya juga, tapi kenapa kok bisa gitu kita terjebak di jalanan aneh ini" kata Angkasa tak mengerti.


"Aku juga tidak tau, kita jalan saja dulu, mungkin kita akan menemukan jalan keluarnya setelah ini" ajak ku.


Angkasa setuju dia kembali berjalan mengikuti ku.


Keanehan-keanehan terus terjadi dengan jalanan yang aku dan Angkasa lewati saat ini.


Kami terus saja berjalan dengan tanpa alas kaki.


Satu, dua, tiga...n


Sudah berapa kali kami menelusuri jalanan itu namun hasilnya tetap sama.


"Aneh, kita kayak muter-muter aja, gak nyampe-nyampe ke ujungnya, sebenarnya ujungnya jalanan ini di mana sih, kok terasa tidak ada ujungnya sama sekali?" tanya ku yang sudah lelah berjalan tanpa henti sejak tadi.


"Oke fix ini kita tersesat za, kita sudah sedari tadi mutar-mutar, namun tak kunjung menemukan jalan keluar juga" jawab Angkasa.


"Coba kita jalan sekali lagi, jangan menyerah, ayo kita lawan jalanan gaib ini" ajak ku.


"Tapi capek za, mau kita jalan berapa ribu kali hasilnya tetap sama" kata Angkasa.


"Tapi sa kalau kita diam saja di sini, kita gak akan bisa pulang, kamu mau terjebak selamanya di jalanan aneh ini?" tanya ku.


"Gak maulah" jawab Angkasa.


"Ya sudah, kita harus berusaha sebisa mungkin untuk keluar dari jalanan ini, kita gak boleh diam aja, bisa-bisa kita gak akan bisa pulang ke rumah, kamu mau hal itu terjadi?" tanya ku.


"Enggak" jawab Angkasa.


"Ya udah ayo kita jalan lagi, aku juga capek, tapi gak ada cara lain, selain terus berjalan dan mencari jalan keluarnya agar kita bisa segera pulang ke rumah" kata ku.


"Iya ayo" jawab Angkasa dengan menghela napas, ia sudah sangat lelah terus menerus berjalan tanpa henti sejak tadi.


"Ayo semangat, kita harus buktikan kalau kita bisa melangkah maju dan bisa keluar dari jalanan Gaibah ini" ajak ku penuh semangat.


"Doubel A meluncur" slogan yang akan terus di gunakan nantinya, kami dengan semangat kembali berjalan untuk bisa keluar dari jalanan Gaibah ini.


Langkah demi langkah terus saja kami lakukan.


"Kemana sih jalan keluarnya, kenapa gak ketemu, ada di mana sebenarnya, kenapa sudah sekali di temukan" kata ku.


"Gak tau, kita harus berusaha terlebih dahulu, cepat atau lambat kita pasti bisa keluar dari jalanan Gaibah ini" jawab Angkasa.


Kami masih terus berjalan dengan memperhatikan sekitar, berharap dapat menemukan jalan keluarnya.


Aku dan Angkasa hendak berjalan ke sebelah kiri tiba-tiba.


"Eh sa di sana ada jalan" kata ku yang melihat ada jalanan yang di tutupi dedaunan yang ada di sebelah kanan.


"Mana?" tanya Angkasa.


"Lihat itu" tunjuk ku ke arah jalanan itu.


Angkasa melihat jalanan yang aku tunjuk.


"Apa itu jalan keluarnya?" tanya Angkasa.


"Mungkin saja, ayo kita ke sana" jawab ku yang sudah tak sabar untuk bisa pulang ke rumah kembali.


Aku menarik Angkasa dengan penuh semangat karena sudah sekian lama kami akhirnya menemukan jalanan yang berbeda juga.


Aku menyingkap daun-daun yang menutupi jalanan itu lalu setelah itu melangkah melewati jalanan tersembunyi tersebut.


Tiba-tiba aku merasakan merinding kala kaki ku menginjak jalanan itu.


"Kok aku merinding ya sa?" tanya ku menempel padanya.


"Udah jangan takut, ada aku di sini, aku pasti akan jaga kamu" jawab Angkasa.


Walaupun mendengar jawaban Angkasa, rasa merinding yang tiba-tiba datang itu tak kunjung hilang.


"Ayo kita jalan, semoga saja jalanan ini memang benar jalan keluar yang kita cari-cari" ajak Angkasa.


Aku mengangguk meski rasa takut itu masih terasa di dalam tubuh ku.


Kami berdua berjalan, aku menggandeng tangan Angkasa karena rasa takut itu semakin menjadi-jadi.


"Gelap banget jalanan ini, gak sama kayak jalanan di desa aku" kata ku pelan.


"Apa kita kembali aja sa ke jalanan tadi?" tanya ku yang was-was.


"Kalau kita kembali, kita pasti akan terus muter-muter gak jelas, jalanan itu seperti tidak ada ujungnya, lebih baik kita lewati jalanan ini saja, mungkin kita akan menemukan jalan keluarnya" jawab Angkasa.


"Tapi sa perasaan aku gak enak" kata ku.


Angkasa diam dan masih terus berjalan.


"Itu cuman perasaan kamu aja, udah jangan takut, ada aku di sini, kamu gak usah khawatir" jawab Angkasa masih terus menenangkan aku yang sudah sangat ketakutan.


Aku dan Angkasa masih terus berjalan tanpa henti.


Aku terus melihat ke kanan dan kiri yang hanya ada pohon-pohon, tak ada tanda-tanda akan ada permungkiman penduduk yang bisa kami mintai bantuan.


Suasana malam yang gelap menahan mencekam dan terasa mengerikan.


Aku dan Angkasa masih terus berjalan tanpa henti.