The Indigo Twins

The Indigo Twins
Kepergian kak Tias



Waktu terus berlalu, sudah 1 bulan aku di rawat di rumah sakit, keadaan ku masih sama, tidak ada perubahan sama sekali, mereka tak bisa masuk ke dalam ruangan ICU, mereka hanya bisa menatap ku dari kaca.


Hari ini sekolahan sudah aktif, waktunya mereka bertiga bersekolah, sebelum berangkat ke sekolah mereka pasti selalu menatap ku yang masih berada di ruangan ICU.


"Za ini sudah 1 bulan, aku kangen za, buka mata kamu, apa kamu gak bosen tiduran terus, ayolah bangun, banyak orang yang sedang nunggu kamu bangun za, aku mohon sekali pada mu bangunlah" batin Angkasa menatap sedih ke arah ku yang masih tak kunjung membuka mata.


"Za hari ini aku mau sekolah, dulu kita berangkat berempat, tapi hari bertiga, rasanya ada yang kurang za, kamu cepat sembuh ya, aku mau sekolah dulu, nanti habis sekolah aku akan ke sini lagi, kamu baik-baik di sini" batin Angkasa.


"Ayo sa kita berangkat, nanti kita telat" ajak Reno pada Angkasa yang menatap ke arah ku tanpa berkedip.


Angkasa menghela napas berat, rasanya tak mau ia pergi meninggalkan ku walaupun sesaat.


"Ayo kita berangkat, nanti habis sekolah kita ke sini lagi, masalah restoran biar bunda yang urus, ada tante Zera dan mbk Indri kok yang akan bantu bunda" ajak Alisa.


"Iya, ayo kita berangkat" jawab Angkasa menatap ke arah ku yang berada di ruangan ICU sekalis, lalu melangkah keluar dari rumah sakit.


Restoran Qien yang waktu itu rusak sudah di perbaiki, semuanya sudah berjalan dengan normal seperti biasa, namun mereka bertiga masih tidak mau berkerja karena tidak ada aku di sana, mereka terus menjaga ku yang masih berada di ruangan ICU tanpa perubahan sedikitpun.


Angkasa melajukan motor dengan kehampaan, benar-benar sepi rasanya hidupnya saat tidak ada aku yang biasanya bersamanya.


Walaupun keadaannya masih di rundung kesedihan, dia masih terus berusaha tegar menghadapi kenyataan pahit ini.


Selama aku kecelakaan dan di rawat di rumah sakit, tak sekalipun Angkasa mau pulang ke rumahnya, dia pasti pulang hanya untuk mengambil salinan lalu kembali lagi ke rumah sakit.


Teruntuk masalah eyang, ada tante Lani dan om Azril yang pulang dari luar negeri, keadaan kakak Angkasa sudah pulih dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa, sehingga mereka tidak khawatir saat meninggalkannya.


Reno dan Angkasa terus melajukan motor, setelah beberapa saat akhirnya motor berhenti tepat di depan sekolahan.


Mereka memarkirkan motor terlebih dahulu, baru melangkah mendekati gerbang sekolah.


"Kak Tias" teriak Alisa saat melihat kak Tias yang berdiri di depan gerbang sekolah sendirian.


"Hai" sapa kak Tias dengan senyuman manisnya.


"Kak Tias apa kabar, sudah lama kita gak ketemu?"


"Aku baik-baik saja, loh kok kalian cuman bertiga, mana Aliza kok gak sekolah juga?" kaget kak Tias saat tak menemukan ku di antara mereka.


"Aliza kecelakaan kak, dia koma di rumah sakit, sudah 1 bulan dia di rawat di sana" jawab Alisa dengan wajah sedihnya.


"Kok bisa?" terkesiap kak Tias.


"Ada orang dengki kak, dia yang sudah bikin aku sama Aliza kecelakaan, tapi di antara kami dia yang paling parah, aku cuman lecet-lecet saja" jelas Alisa.


"Ya Allah kasihan sekali Aliza, semoga dia cepat sembuh" prihatin kak Tias.


"Amin" jawab mereka kompak.


"Oh ya kak bagaimana dengan orang tuanya Roy?" penasaran Alisa.


"Orang tua Roy baik-baik saja, mereka sering ke makam Roy, mereka sudah kembali menjadi orang tua Roy seperti dulu lagi, namun sayangnya Roy keburu pergi, dia tidak melihat kasih sayang orang tuanya di dunia nyata" menatap sedih kak Tias saat teringat pada Roy.


"Geng Arashka masih tetap ada, cuman sudah gak seperti dulu lagi, yang dulunya biasanya sering ngumpul-ngumpul bareng, sekarang sudah jarang, seminggu sekali biasanya, kebanyakan anggotanya sekarang sibuk dengan kehidupannya masing-masing, sudah banyak juga yang kerja" jawab kak Tias.


"Semoga saja mereka dapat pekerjaan yang halal" harapan Angkasa.


"Amin" jawab mereka semua.


"Kakak kok gak masuk ke dalam?" penasaran Reno.


"Aku sengaja nungguin kalian di sini, karena aku mau pamitan" jawab kak Tias.


"Pamitan?" kompak mereka dengan mengerutkan alis.


"Iya, aku mau pindah sekolah, sebenarnya aku pengen pindah dari dulu, cuman masih ada Roy di sekolahan ini, jadi aku tunda beberapa tahun, tapi sekarang sudah gak ada dia lagi di sini, jadi gak ada alasan lain aku berada di sini" jawab kak Tias menatap sedih saat teringat kembali pada Roy yang kini berada di alam sana.


Alisa mengembuskan napas berat, kembali teringat pada pemuda yang sudah mengganggunya selama ini adalah rindu yang paling berat, karena dia tak akan pernah melihatnya kembali.


"Kakak mau pindah ke mana?" penasaran Reno.


"Ke luar negeri, aku akan tinggal bersama tante ku yang ada di sana, mungkin setelah lulus kuliah aku akan kembali ke negara ini" jawab kak Tias.


"Lama banget kak" terkejut Alisa.


Kak Tias menanggapi dengan senyuman."Ya begitu, tapi tenang kok aku akan tetap kembali ke negara ini, nanti aku akan cari kalian semua, pasti nanti kalian pada dewasa"


"Jelas kak" sahut Reno.


"Kami akan tunggu kakak kembali, kakak cari saja restoran Qien, itu punya bunda aku, kakak nanya sama karyawan tentang aku dan Aliza, mereka pasti akan tau" jawab Alisa.


"Iya, kelak aku akan cari kalian, aku pergi dulu, kalian hati-hati ya, terima kasih sudah membantu ku selama ini" pamit kak Tias.


"Sama-sama kak, kakak hati-hati juga di sana, jangan lupa jaga diri, di luar negeri itu gak sama seperti di sini" peringatan Angkasa.


Kak Tias mengangguk dengan di iringi senyuman manis."Iya, aku pergi dulu, sampai jumpa lagi"


"Sampai jumpa" mereka membalas kak Tias dengan senyuman, mereka juga melambaikan tangan pada kak Tias.


Kak Tias masuk ke dalam mobil hitam, mobil hitam itu berlalu membawanya meninggalkan sekolahan dan juga negara ini.


"Kenapa di setiap pertemuan harus ada kata perpisahan" sudah ketiga kalinya orang-orang yang dekat dengan Alisa pergi ke tempat yang jauh, ada yang masih bisa di gapai, ada yang tidak.


"Itulah kehidupan, pasti ada yang namanya sedih dan senang, keduanya pasti saling bertemu, kita kuat-kuatkan diri saja dengan apa yang aka terjadi di depan, walaupun berat kita harus bisa lewati bersama" Angkasa terus menatap ke arah jalanan yang banyak sekali anak-anak yang berdatangan.


Reno menghela napas."Semoga setelah ini gak ada lagi perpisahan yang datang dan akan membuat semuanya terasa menyakitkan, sudah cukup dunia kita di penuhi air mata"


"Semoga saja begitu, sekarang waktunya sekolah, ayo kita harus semangat sekolah, walaupun gak ada Aliza" ajak Alisa.


Mereka mengangguk kompak, lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam sekolah.