The Indigo Twins

The Indigo Twins
Tertegun



"Pak tolongin Ningsih" teriak Bu Reta yang mendekati tubuh mbk Ningsih yang sudah lemas.


"Ada apa dengan Ningsih Bu?" tanya pak Izul.


"Ayo masuk ke dalam dan lihat langsung Ningsih dan nenek Sun" ajak Bu Reta.


Warga yang mendengar teriakan Bu Reta penasaran dengan apa yang sudah terjadi kepada mbk Ningsih dan nek Sun.


Warga-warga memasuki rumah mbk Ningsih.


"Astaghfirullah nek Sun" pekik pak Izul yang kaget melihat nek Sun seperti itu.


"Pak coba periksa denyut nadinya, mungkin saja mereka hanya sekedar pingsan biasa" suruh Bu Reta.


Pak Izul memeriksa denyut nadi mbk Ningsih dan nenek sun.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun mereka berdua sudah tidak bernyawa lagi Bu" kata pak Izul.


Para warga berkerumun melihat jenazah mbk Ningsih dan nek Sun yang meninggal dunia dengan aneh.


"Baru tadi pagi saya ketemu sama nek Sun, saya tak menyangka jika nek Sun kini sudah berpulang walaupun saya bukan saudara ataupun kerabat tetapi kebaikan nek Sun membuat saya sungguh merasa kehilangan" kata pak Izul.


"Iya pak kami juga kehilangan tokoh terbaik dalam masyarakat" jawab warga.


25 menit lamanya mas Rafi berada di dalam taksi, setelah itu barulah dirinya sampai ke tempat tujuan.


"Ini pak" kata mas Rafi memberikan ongkos kepada supir taksi.


Mas Rafi tertegun melihat di rumah mbk Ningsih terpasang bendera kuning dan banyak warga yang berada di rumah mbk Ningsih.


"Ya Allah ada apa ini, kenapa pikiran ku menjadi tidak enak begini, ya Allah semoga tidak ada apa-apa sama Ningsih dan calon bayi ku" batin mas Rafi.


Mas Rafi berlari masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang tidak tenang memikirkan perkataan dokter Gladis.


"Ningsih" pekik mas Rafi yang melihat tubuh istrinya di tutupi oleh kain berwarna putih.


Perhatian semua orang tertuju pada mas Rafi yang baru sampai.


"Mas Rafi mbk Ningsih sama nenek Sun telah di temukan meninggal dunia dalam keadaan pintu rumah terbuka, saya tidak tau mereka meninggal kenapa" kata Bu Reta.


Mas Rafi begitu shock mendengar hal itu.


"Ya Allah tega sekali Gladis membunuh Ningsih sekaligus nenek Sun" batin mas Rafi.


Mas Rafi menangis memeluk tubuh istrinya yang sudah tidak bernyawa.


Tangis demi tangisan terdengar saat tubuh mbk Ningsih dan nenek Sun sudah siap di makamkan, pelan-pelan tubuh keduanya di tutupi oleh tanah.


Mas Rafi menangis sambil memeluk batu nisan sang istri yang kini tubuhnya sudah tertutupi tanah.


"Ningsih maafin mas hiks" tangis mas Rafi tak menyangka jika dokter Gladis tega membunuh kedua orang yang sangat di cintainya.


"Gladis sungguh tega diri mu membunuh Ningsih yang saat ini tengah mengandung dan juga nenek Sun yang sudah tua renta meninggal dunia, di mana hati mu itu Gladis, kenapa kau tidak memiliki rasa iba sama sekali" batin mas Rafi.


Beberapa tahun kemudian.


"Dokter Gladis" teriak suster.


Dokter Gladis mengentikan langkah dan membalikan badan.


"Ada apa suster?" tanya dokter Gladis.


"Dokter Gladis, dokter Kevin menyuruh anda untuk memeriksa Rio anak dari pak Rafi dan ibu Ningsih yang ada di lantai dua" kata suster, setelah mengatakan itu dia berlalu dari hadapan Gladis yang terdiam.


DEG!


Dokter Gladis sangat terkejut mendengar apa yang barusan suster itu katakan padanya.


"Apa tadi, Rio anak Ningsih dan Rafi" batin dokter Gladis yang terkejut.


"Apa mungkin Ningsih masih hidup dan melahirkan anaknya, tidak tidakk, gak mungkin Ningsih selamat dari racun Botulinum toxin itu, aku harus cek apakah benar Ningsih masih hidup dan melahirkan anaknya atau tidak, aku tidak mau mereka menghancurkan karir ku dan membuat ku hancur lebur" batin dokter Gladis shock.


Dokter Gladis dengan langkah terburu-buru langsung mendatangi lantai dua.


Dokter Gladis membuka pintu, terlihat seorang bocah kecil yang sedang tidur di brankar di temani oleh kedua orang tuanya.


Dokter Gladis melangkah mendekati mereka, senyuman mengambang di bibir dokter Gladis.


"Apa aku bilang, Ningsih tidak akan bisa melahirkan anaknya setelah aku menyuntikan dirinya dengan racun paling mematikan yang ada di dunia ini" batin dokter Gladis kala melihat orang asing yang kebetulan namanya sama dengan mbk Ningsih dan mas Rafi.


"Anak yang lucu, tapi sayangnya kamu harus lahir dari rahim ibu yang bernama Ningsih dan kebetulan juga ayah mu bernama Rafi, hmm aku akan membuat mu tidak merasakan sakit setalah ini" kata dokter Gladis lalu menyuntikan sesuatu ke cairan infus Rio.


Pelan-pelan anak mungil untuk memejamkan matanya untuk selamanya.


Sekali lagi dokter Gladis tega membunuh seseorang yang tidak berdosa, karena hati yang sudah di penuhi amarah dan dendam.


Dokter Gladis tidak peduli dengan bocah kecil yang tidak di kenalinya namun dengan teganya dia membunuhnya.


"Sudah ku bilang, jika kau tidak bisa ku dapatkan maka orang lain juga tidak boleh mendapatkan mu, kini aku puas dengan segalanya, aku jamin tak akan ada orang yang tau tentang apa yang aku lakukan selama ini" batin dokter Gladis.


Setelah kepergian istrinya (Ningsih) mas Rafi stres karena dokter Gladis sudah menghancurkan segalanya, dia menjadi gila setelah itu.


Aku terbangun dari mimpi buruk itu, tubuh ku di banjiri keringat yang terus saja bercucuran, tubuh ku bergetar hebat, aku menyaksiakan segala kejahatan dokter Gladis lewat mimpi.


"Allahu Akbar, astaghfirullah, jadi ini alasan kenapa Angkasa bisa takut saat melihat dokter Gladis" kata ku paham dengan segalanya saat ini.


"Ya Allah Aliza gak nyangka ada orang sekeji itu" kata ku shock dengan mimpi barusan.


"Tega sekali dokter Gladis pada mereka semua, pantas saja tidak ada luka yang terlihat di dalam tubuh mereka, rupa-rupanya dokter Gladis telah meracuni mereka, licik sekali dia" kata ku kaget.


"Aku harus bisa bantu mereka, aku akan buat dokter Gladis mengakui kesalahannya, aku tidak akan biarkan dia hidup tenang setelah membunuh orang lain, ini kejahatan besar, aku harus kasih tau Angkasa besok pagi, biar kita bisa memikirkan rencana untuk membuat dokter Gladis di tangkap oleh polisi" tekat ku.


Aku melirik jam yang masih menunjukkan pukul 12 malam, semua orang yang tidur dengan lelap di kamar ini.


Aku memang sengaja tidur lebih awal dan kini aku tidak bisa tidur lagi, pikiran ku di penuhi dengan mimpi mengerikan barusan.


Aku terus berusaha memejamkan mata dan pada akhirnya aku juga bisa kembali melanjutkan tidur ku.