
"Assalamualaikum" salam seseorang yang amat kami kenali dan hal itu membuat kami langsung tertuju padanya.
"Wa'alaikum salam" jawab kami kompak saat melihat Angkasa dan Ustadz Fahri kembali setelah lumayan lama kami menunggunya.
"Akhirnya kamu balik juga, kami udah lama nungguin kamu" omel Alisa pada Angkasa.
"Maaf" jawab Angkasa dengan cengar-cengir karena dia tadi habis ngejar selendang hitam sehingga lama balik ke rumah.
"Kalian dari mana aja, kenapa lama banget pulang ke sini?"
"Dari rumah pak Jarwo za" Angkasa mengambil duduk di dekat Reno.
"Ustadz ini mbk Indri, tadz bagaimana caranya dia terlepas dari suami gaibnya?"
Ustadz Fahri menatap ke arah mbk Indri."Apa sebelumnya kalian sudah pernah berhubungan badan?"
Mbk Indri langsung menggeleng cepat."Tidak Ustadz, saya sama dia baru saja nikah"
"Kalau sudah berhubungan badan kenapa tadz?" penasaran Alisa.
"Kemungkinan besar dia akan hamil, dan jika sampai dia melahirkan, akan sulit terlepas dari suaminya" kami pun tercekat saat tau hal itu.
"Terus sekarang mbk Indri bisa terlepas dari suaminya?"
"Masih bisa, cuman suaminya tidak akan ngelepasin dia begitu saja, dia pasti akan membuat kerusuhan, tapi saya akan berusaha untuk melindungi mbk Indri dari suaminya" jawab Ustadz Fahri.
"Makasih tadz, saya tidak tau harus kemana, saya tidak mau dia bawa saya kembali ke alam itu" mbk Indri cukup senang setelah mendengar hal itu.
Ustadz Fahri hanya mengangguk."Nak Indri untuk sementara kamu lebih baik tinggal di sini saja"
"Apa boleh tante?" mbk Indri menatap tak percaya ke arah bunda.
"Boleh, siapa yang bilang gak boleh" terbit senyuman di wajah mbk Indri saat dirinya di perbolehkan untuk tinggal di rumah ini.
"Terima kasih tante" mbk Indri begitu senang karena di keadaan seperti ini masih ada orang baik yang akan membantunya.
"Sama-sama, kamu tidak usah khawatir suami gaib mu membawa mu, kamu kalau mau istirahat silahkan, mbk Rinda tolong bawa Indri ke kamarnya" titah bunda.
"Baik bu, ayo Indri" mbk Indri mengikuti mbk Rinda yang membawanya ke kamar.
"Kalian istirahat gih sana, ini udah malam" suruh ayah.
"Iya ayah" jawab kami kompak.
"Besok ayah sama bunda mau berangkat ke luar kota lagi, kalian gak apa-apa kan bunda tinggal?" kami mengangguk kompak.
"Gak apa-apa bun"
"Dan untuk masalah restoran jangan lupa di urus, kalau ada masalah langsung hubungi bunda sama ayah saja" perintah bunda.
"Baik bun, kalau ada masalah nanti kami akan bilang sama bunda"
"Iya, bunda gak usah khawatir, kami itu libur 1 bulan, jadi kami gak akan pusing-pusing lagi dengan masalah sekolah" tambah Alisa.
"Anu bun, ada anak kelas 10 B6 yang meninggal karena di bunuh sama teman sekelasnya, jadi kasusnya di bawa ke jalur hukum, mungkin sekarang para dewan guru sedang sibuk ngurus hal itu" jawab Alisa.
"Kalian ngurus kasus itu?" mata bunda langsung melotot tajam.
"Dia minta tolong bun, masa kita gak tolongin" jawab Alisa dengan menatap ke arah lain.
Bunda langsung mencubit telinga kami berdua dengan kerasnya.
"Aarrrgghh sakit bun"
"Biarin, kalian ini nekat sekali, kalau kalian kena masalah gimana, bunda gak mau kalian terlibat terlalu dalam, apalagi sampai ke jalur hukum" omel bunda.
"Kita gak akan di tetapkan jadi tersangka kok bun, kita ini adalah orang-orang yang sudah mengupas habis kejahatan itu, seharusnya bunda itu senang, kenapa malah ngomel-ngomel" tak habis pikir Alisa.
"Bunda itu cuman gak mau kalian kena masalah, itu aja, lain kali kalau ada kasus-kasus begituan, jangan ikut-ikutan, kalau sampai bunda tau kalian masih ikut ngungkap pelaku dalam kasus yang seperti itu, bunda akan mondokan kalian semua" ancam bunda.
"Jangan bun, kalau kami mondok kami akan teriksa bun, karena di dalam pondok itu banyak sekali penunggunya, kita gak akan bisa betah berdiam diri di sana" tolak Alisa.
"Mangkanya kalau gak mau di mondokin, jangan langgar perintah bunda" perintah bunda.
"Siap bun, kami gak akan langgar kok" jawab kami.
"Sana kalian tidur gih" kami mengangguk patuh.
Bunda masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat, kami bernapas lega saat ayah dan bunda sudah tidak ada di ruang tamu.
"Tadz gimana dengan masalah mbk Indri, apa dia memang bisa terlepas dari suami gaibnya?" Alisa kembali memastikan hal itu iya atau tidaknya.
"Masih bisa, tapi saya yakin suami gaibnya mbk Indri gak akan ngelepasin dia gitu aja, kita harus jaga baik-baik mbk Indri, kita gak boleh lengah karena takutnya suaminya mbk Indri akan bawa dia ke alam gaib kembali" jawab Ustadz Fahri.
"Iya, barusan aja saat kalian gak ada di rumah, kami udah dapat teror, kayaknya itu semua dari suaminya mbk Indri" curiga Reno.
"Kok bisa kalian di teror, mbk Hilda, dua Kun sama yang lain kemana, kenapa mereka biarin kalian di teror?" tercekat Angkasa.
"Mereka tiba-tiba gak ada di depan, gak tau sekarang pada kemana, mungkin aja mereka saat ini lagi bawa pergi suami mbk Indri jauh-jauh" jawab Reno.
"Moga aja mereka bisa bawa pergi suaminya mbk Indri, aku hanya takut mbk Indri akan bernasib sama seperti kakaknya yang sudah menjadi penduduk di desa gaib itu karena telat di selamatin" harapan Alisa.
"Aliza saat kamu ke desa gaib itu, apa ada orang-orang yang kamu kenali?" Ustadz Fahri memastikan kembali.
"Cuman mbah Gamik saja tadz, kalau yang lain gak ada"
"Emang kenapa tadz, kok Ustadz nanya hal itu lagi?" penasaran Alisa karena waktu itu Ustadz Fahri sudah pernah bertanya tentang hal ini.
"Enggak, saya cuman takut ada warga yang berada di sana juga" jawab Ustadz Fahri.
"Tadz aku ngerasa perayaan itu membawa dampak negatif" tatapan kami semua langsung tertuju pada Angkasa.
"Saya juga merasa seperti itu, perayaan itu memang membawa dampak negatif, tapi kita masih belum tau apa yang akan terjadi selanjutnya, kita harus waspada saja, karena menurut saya perayaan itu memakan korban jiwa, saya dengar-dengar anak-anak pak Jarwo banyak yang meninggal setelah perayaan itu selesai" Ustadz Fahri tau hal itu dari warga-warga.
"Enggak cuman anaknya pak Jarwo tadz, biasanya banyak anak-anak kecil yang hilang tepat pada perayaan itu berlangsung, gak tau mereka pergi kemana" tambah Alisa.