The Indigo Twins

The Indigo Twins
Rumah mbah Gamik



"Enggak tau juga tadz, tapi biasanya itu anak-anak kecil di desa ini hilang saat ada acara perayaan di desa sebelah yang di isi dengan tarian tradisional, pasti setelah perayaan itu ada aja anak kecil yang hilang"


"Apa ada hubungannya ya hilangnya mereka dengan perayaan itu?" pikir Angkasa.


"Siapa biasanya yang ngadain perayaan itu?" penasaran Ustadz Fahri.


"Pak Sabeni, orang kaya di desa sebelah itu, dia yang selalu ngadain perayaan itu setiap tahunnnya"


"Apa tujuan perayaan itu di adakan?" Ustadz Fahri merasa aneh pada kegiatan itu.


"Agar warga tidak di serang wabah penyakit yang terjadi di jaman dulu, di desa ini waktu itu terjadi wabah penyakit gatal-gatal dan panyakit kulit yang menewaskan banyak sekali penduduk, terutama di desa ini ada juga desa sebelah sehingga pak Remo ayah dari pak Jarwo mengadakan acara perayaan itu, tapi kebayangkan gak di selenggarakan di desa ini karena di larang sama kakek, alhasil perayaan itu di adakan di desa sebelah, tepatnya di lapangan yang dekat dengan sungai"


"Aneh, kenapa ada wabah penyakit dan orang-orang di desa ini malah melakukan perayaan gak jelas itu, seharusnya kan mereka lebih mendekatkan diri pada Allah, karena hanya Allah yang bisa menolong mereka, bukannya malah mengadakan acara perayaan seperti itu" batin Ustadz Fahri yang merasa aneh.


"Ada apa tadz, kok tiba-tiba diam?" merasa aneh Reno pada Ustadz Fahri yang tiba-tiba diam.


Lamunan Ustadz Fahri langsung buyar."Enggak apa-apa, acara perayaan itu kapan di adakannya?"


"Gak tau juga tadz, mungkin gak lama lagi"


"Kok saya merasa kalau acara perayaan itu ada hubungannya dengan hilangnya anak-anak kecil di desa ini" kecurigaan Ustadz Fahri.


"Aku juga merasa gitu tadz, tapi bunda gak bolehin aku sama Alisa nyelidiki perayaan itu karena perayaan itu di adakan oleh orang-orang yang berada di desa ini, sehingga kami tidak di perbolehkan untuk mencari tau lebih dalam lagi" jawab Alisa.


Ustadz Fahri diam, ia tau kalau bunda pasti tidak mau kami kena masalah hanya karena ingin mencari tau motif di balik perayaan itu.


"Udah ayo istirahatnya, kita harus ke rumah mbah Gamik, kapan sampainya kalau kita kelamaan di sini" ajak Angkasa.


"Haduh aku sampai lupa sama mbah Gamik, ayo kita lanjut jalan lagi, aku ingin cepat-cepat sampai di sana, aku ingin tau ada apa saja di rumah mbah Gamik" jawab Alisa.


Kami bangun dan kembali berjalan menuju rumah mbah Gamik.


Jalanan setapak itu terus kami lewati sampai-sampai matahari sudah berada di atas kepala.


"Di mana rumahnya mbah Gamik itu, kenapa jauh banget, pantesan pak Prapto jarang keluar rumah karena memang perjalanan dari rumahnya ke desa benar-benar jauh" Alisa mengambil kayu untuk di jadikan tongkat.


"Pak Prapto? siapa pak Prapto, emangnya di desa ada yang namanya pak Prapto?" merasa asing Ustadz Fahri pada nama yang barusan Alisa sebut.


"Iya tadz, pak Prapto itu warga desa juga, dia adalah suaminya dukun beranak, dia memang jarang berkumpul selama ini, palingan dia keluar rumah cuman karena belanja ke pasar saja, kalau teruntuk berbaur dengan masyarakat, kayaknya gak pernah deh" jawab Alisa.


"Oh pantesan saya tidak pernah mendengar nama pak Prapto di desa ini" wajar Ustadz Fahri yang tidak tau pada pak Prapto yang memang mengasingkan dirinya selama ini.


"Eh itu ada rumah, apa mungkin itu rumahnya mbah Gamik" tunjuk Angkasa pada rumah yang terbuat dari kayu yang berdiri dengan kokoh di dalam hutan.


Kami langsung melihat ke arah rumah itu."Kayaknya memang iya, hanya itu rumah satu-satunya yang kita temui di dalam hutan ini"


"Ayo kita ke sana, aku udah gak sabar lihat isi di dalam rumah itu" ajak Alisa.


Kami berlari menuju ke rumah tua yang sudah mulai ada kerusakan dari segi bangunannya namun masih tetap berdiri kokoh di dalam hutan sendirian.


Kami berdiri di depan rumah itu yang banyak sekali kaca-kaca yang sudah pecah.


Di kanan dan kiri pintu terdapat kepala sapi, di dinding kayu itu banyak ukiran-ukiran kuno, di atas pintu itu terdapat tulisan ana caraka yang tidak bisa aku baca karena tidak mengerti huruf-huruf ana caraka itu.


"Kayaknya enggak ada deh sa, ayo kita coba ketuk pintu rumah ini, kalau gak ada yang bukain pintu, berarti gak ada orangnya di dalamnya" jawab Reno.


Kami mendekat ke arah pintu.


tok


tok


tok


Alisa mengentuk pintu rumah itu.


"Permisi, pak Prapto, apa bapak ada di dalam?" tidak ada jawaban yang terdengar di telinga Alisa.


tok


tok


tok


Sekali lagi Alisa mengentuk pintu rumah itu."Permisi pak saya Alisa, apa bapak ada di dalam?"


Tetap saja tidak ada jawaban yang keluar.


"Kok gak ada yang keluar, apa jangan-jangan di rumah ini gak ada siapa-siapa?" dugaan Alisa.


"Kalau gak ada orangnya terus kemana pak Prapto, dia kan masih hidup, hanya istrinya saja yang meninggal"


"Iya, tapi buktinya gak ada orang yang bukain pintu, berarti pak Prapto lagi keluar" feeling Alisa.


"Terus ini gimana dong, apa kita masuk aja ke dalam rumah mbah Gamik?" Reno meminta persetujuan yang lain untuk mengambil tindakan selanjutnya.


"Jangan, lancang namanya kalau masuk ke dalam rumah orang tanpa seizin pemiliknya" larang Ustadz Fahri.


"Tapi tadz bagaimana caranya kita masuk ke dalam rumah ini kalau pemiliknya saja tidak tau ada di mana?"


"Kita tunggu saja sebentar, mungkin pak Prapto sebentar lagi akan kembali ke sini" jawab Ustadz Fahri.


Terpaksa kami pun menunggu kedatangan pak Prapto.


Kami duduk di teras rumah pak Prapto sembari menunggu kedatangannya.


"Mana pak Prapto ya, kenapa gak balik-balik, dia pergi kemana, apa mungkin dia lagi datang hajatan ke rumah pak Jarwo?" pikir Alisa.


"Gak mungkin sa, pak Prapto sama pak Jarwo itu kayak saling bermusuhan, waktu itu aku pernah lihat mereka saling tatapan menatap, kayak sama-sama tak mau kalah gitu, gak tau apa yang mereka perebutan sebenarnya"


"Ada permasalahan apa pak Jarwo sama pak Prapto?" penasaran Alisa.


"Mungkin aja karena mbah Gamik dan istrinya yang sudah membuat anak-anak warga hilang, dan juga mbah Gamik di tuduh dalang utama munculnya wabah penyakit kulit itu, sehingga pak Jarwo masih membenci pak Prapto karena mertua pak Prapto sudah membuat warga-warga tewas"


"Bisa jadi" jawab Alisa.