The Indigo Twins

The Indigo Twins
Suara sirine menggema di desa Andin



"Ayo kita langsung antarkan jasad Andin ke rumahnya, om nanti ikutin aku sama yang lain ya"


"Iya" jawab pak Heru.


Aku melihat ke arah Roy yang masih sedih karena kehilangan Andin yang meninggal dengan tak wajar.


"Roy kamu lebih baik ikut mobil polisi aja, motor kamu biar Angkasa aja yang nyetir"


"Iya Roy, aku cuman takut ada apa-apa sama kamu di jalan" Alisa juga khawatir pada keadaan Roy yang masih di landa kesedihan.


"Aku gak apa-apa, aku baik-baik saja" Roy berusaha tegar walaupun dia tidak mampu, namun dia akan terus berusaha.


"Kamu jangan nekat Roy, kami cukup kehilangan Andin, jangan kamu juga" Reno tau Roy terluka karena kehilangan Andin, ia dapat melihat jika saat ini Roy tengah berusaha untuk tetap tegar meski tidak bisa.


"Iya Roy, kamu jangan ambil resiko, lebih baik kamu ikut mobil polisi aja, kami gak mau ada apa-apa sama kamu kalau kamu nekat tetap nyetir" larang Angkasa yang juga sangat khawatir kalau ada apa-apa dengan Roy.


"Ya sudah aku akan ikut mobil polisi" akhirnya Roy setuju juga.


"Ayo dek masuk, kita harus berangkat ke rumah duka sebelum makin malam" ajak pak Heru.


Roy mengangguk, dengan wajah yang masih lemas Roy masuk ke dalam mobil polisi.


Kami mengendari motor menuju desa Andin kembali, pak Heru mengikuti kami dari belakang.


Sepanjang perjalanan Roy menatap jalanan dengan tatapan kosong, pikirannya penuh dengan Andin dan Andin, segala kenangan yang ia lewatkan bersama Andin berputar-putar dengan sendirinya.


"Andin kenapa kamu ninggalin secepat ini, kamu tega din, kamu tega" batin Roy yang masih tak menyangka pada apa yang barusan terjadi.


Setetes air mata mengalir di pipi Roy tanpa aba-aba.


Pak Heru yang melihat Roy yang sangat terpukul atas kepergian Andin merasa prihatin namun pak Heru hanya bisa diam saja ia tau kalau saat ini Roy tidak bisa ganggu.


Aku terus mengemudikan motor ku menuju desa Andin kembali.


Kini matahari sudah terbenam secara sempurna, tidak ada cahaya matahari yang menerangi jalan ku, di sekitar ku hanya ada kegelapan.


Saat ini aku sudah masuk ke dalam jalanan yang di kanan dan kirinya penuh dengan pepohonan, jalanan itu nampak lebih angker dan menakutkan sebab tidak ada penerangan sama sekali.


Namun hal itu tidak menyulitkan ku, aku dan teman-teman terus melajukan motor menuju ke rumah Andin kembali.


Saat berkendara aku merasakan pergerakan makhluk halus yang berada di kanan dan kiri ku, namun aku berusaha tidak terkecoh pada apa yang mereka lakukan.


"Semoga mereka tidak gangguin aku" batin ku.


Kami terus melajukan motor, pak Heru terus mengikuti kami dari belakang.


Setelah sekitar 3 jam barulah kami sampai di desa Andin.


Wiu wiu wiu wiu


Suara sirene polisi itu menggema di seluruh desa itu, semua orang yang berada di sana langsung keluar dari dalam rumah begitupun juga dengan Risa.


Dia langsung bergegas melihat siapa yang sudah meninggal, ia hanya takut kalau itu Andin temannya.


Mobil berhenti tepat di depan rumah Andin, orang-orang pada mendekati rumah itu karena penasaran.


"Siapa yang sudah meninggal?"


"Kenapa di bawa ke sini?"


"Di sini tidak ada orang yang meninggal"


Ucapan warga itu terus terdengar di telinga kami.


"Andiiin" teriak Risa saat pak Heru dan rekan-rekannya mengeluarkan kantong jenazah yang berisikan Andin di dalamnya.


"Andiiin" Risa langsung memeluk tubuh Andin saat Andin sudah di letakkan di dalam ruang tamu.


"Ya Allah kenapa nak Andin bisa meninggal?" terkejut bu RT yang tau kalau Andin yang meninggal dunia.


"Iya, kenapa Andin bisa meninggal, dia meninggal kenapa?" penasaran ibu-ibu lainnya yang juga berada di sana.


"Ayo kita tanya pada anak-anak itu, dia pasti tau Andin meninggal kenapa" usul salah satu di antara mereka.


Mereka setuju lalu mendekati kami.


"Dek mau nanya kenapa Andin meninggal, apa yang sudah terjadi padanya?" penasaran bu RT.


"Andin meninggal karena di bunuh bu" jawab Alisa.


"DI BUNUH"


Terkejut mereka yang sangat shock ketika tau kenapa Andin meninggal dunia.


Kami mengangguk kompak.


"Siapa yang sudah membunuh Andin?"


"Apa salah Andin?"


"Dia anak baik-baik, kenapa masih ada orang yang berniat jahat padanya?"


Pertanyaan-pertanyaan itu di lontarkan oleh mereka semua yang sangat penasaran pada dalang utama dari meninggal Andin.


Kami bingung mau menjawab yang mana dulu.


"Coba kalian jelaskan dari awal, biar kami ngerti" tintah bu RT.


"Gini bu awalnya kami curiga pada Andin yang sudah 8 hari tidak masuk sekolah, kami pelan-pelan nyelidiki tentangnya, hingga pada akhirnya kami nemuin Andin di gudang dalam keadaan sudah tidak bernyawa" jelas Angkasa.


"Ya Allah" shock mereka semua yang tak pernah membayangkan jika hal ini akan terjadi.


"Di temuin di gudang, emang siapa yang sudah membunuh Andin?" penasaran ibu-ibu itu.


"Kami masih belum tau bu siapa saja yang terlibat dalam kasus ini, kami saat ini sedang berusaha untuk mencari tau siapa yang terlibat di dalamnya" jawab Reno.


"Iya, kalian harus cepat tangkap pembunuh itu, dia harus di penjara" bu RT mulai geram pada orang-orang yang sudah membunuh Andin hingga sesadis itu.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin bu, tolong doakan kami semoga kami bisa nangkap tersangka itu" jawab Alisa.


"Kami pasti akan doakan kalian"


"Bu RT cepat hubungi orang tua Andin, mereka pasti gak akan tau kalau anaknya kini sudah meninggal" tintah seorang ibu-ibu yang berada di dekat ku.


"Iya, saya yang akan beritahu keluarganya agar mereka cepat pulang kemari" jawab bu RT langsung menghubungi orang tua Andin.


"Pak tolong gali kuburan, malam ini Andin harus di makamkan, sebelum membusuk" perintah salah satu ibu-ibu yang keluar dari dalam ruang tamu.


"Baik bu" jawab bapak-bapak itu.


Bapak-bapak itu kemudian berangkat menggali kuburan.


"Za kita mau nunggu Andin dikebumikan?" bisik Alisa di telinga ku.


"Iyalah, masa kita pulang, nanggung, bentar lagi juga Andin akan segera di makamkan, kita tunggu saja dulu sampai Andin selesai dikebumikan, baru kita pulang"


Alisa melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul 8 malam."Tapi za bakalan malam kalau kita nunggu Andin sampai di makamkan"


"Gpp sa, sekali-kali, kasihan Roy juga, dia pasti ingin nganterin Andin kepengistiratan terakhirnya, masa kamu gak kasihan sama dia"


Alisa melirik Roy yang masih terpukul."Iya sih, ya udah deh kita tunggu Andin di makamkan, baru kita pulang"