The Indigo Twins

The Indigo Twins
Rencana



"Seram juga kalau malam-malam di ganggu sama dia, menurut tukang sayur itu tadi malam rumahnya di kelilingi oleh bu Resti, iih serem banget, untung tadi malam bu Resti cuman datang biasa aja, gak ngapa-ngapain, itu aja udah buat aku ketakutan setengah mati" kata Alisa.


"Jadi bukan kamu saja yang di ganggu sama dukun beranak itu" kata Reno.


"Iya, bukan aku doang, tadi ada warga juga yang di ganggu sama dukun beranak itu, mangkanya kita harus pikirkan cara untuk hentikan ulahnya, aku tidak mau di ganggu lagi sama dia, Ustadz Fahri punya caranya gak?" tanya Alisa.


"Ada caranya, tapi sebelum saya gunakan cara itu untuk menghentikan hantu itu, saya mau melihat keadaan nanti malam, jika di rasa hantu itu terus menerus mengganggu warga, terpaksa saya akan gunakan cara itu untuk menghentikannya" jawab Ustadz Fahri.


"Caranya apa tadz?" tanya Reno.


"Ada, kamu tidak perlu tau, yang jelas cara ini sangat ampun untuk menghentikan hantu yang lagi gentayangan" jawab Ustadz Fahri.


Mbk Hilda dua Kun, Tiger dan White tiba-tiba muncul di hadapan kami.


"Bagaimana, apa kalian udah cari tau siapa pemilik kuburan itu?" tanya mbk Hilda.


"Udah mbk, ternyata pemilik kuburan itu istrinya pak Prapto, namanya bu Resti, dia itu dulunya dukun beranak, mangkanya saat dia meninggal jadi hantu dan gentayangan di mana-mana" jawab Alisa.


"Dukun beranak, dulu kayaknya mbk pernah dengar ada dukun beranak yang kalau gak salah rumahnya berada di tengah-tengah hutan, mbk dulu tau tentang hal itu dari neneknya mbk, sekarang beliau udah meninggal, kalau mbk main ke dalam hutan selalu di marahin karena takut di culik sama dukun beranak itu" kata mbk Hilda.


"Rumahnya pak Prapto memang berada di tengah-tengah hutan mbk, dia jarang keluar rumah apalagi istirnya, gak pernah sama sekali, bahkan kami aja baru tau kalau pak Prapto punya istri, kami dulu ngiranya kalau dia bujang lapuk kayak Ki Suryo" sahut Alisa.


"Oh gitu, pantesan mbk gak pernah lihat hantu ibu-ibu yang tadi malam gangguin kamu itu" kaga mbk Hilda.


"Mbk tadi malam lihat gak kalau dia gangguin orang-orang di desa ini?" tanya ku.


"Enggak, mungkin dia langsung sembunyi saat melihat kami, karena kami yakin dia pasti takut sama Tiger, awalnya kan dia ngeyel banget, pas Tiger tantang dia langsung lari gak tau kemana" jawab mbk Gea.


"Mbk tau gak caranya ngusir dia?" tanya Alisa.


"Enggak tau, dia itu hantu yang bandel banget, kalau kalian mau ngusir dia, lebih baik usir dengan sehalus mungkin" jawab mbk Santi.


"Caranya?" tanya kami kompak.


"Caranya cuman satu yaitu ajak damai, tanyain apa yang dia inginkan sebenarnya, kenapa dia gangguin warga-warga dan minta dia buat kembali ke alamnya, kalau dia setuju maka semuanya akan selesai" jawab mbk Santi.


"Boleh di coba, nanti malam kita keliling kampung buat nyari dia, lalu kita ajak damai dia, semoga saja dia mau menerimanya" kata Ustadz Fahri.


"Ide bagus, kita gunakan cara itu dulu, moga aja nanti dia mau damai dan gak gangguin warga lagi" jawab ku.


"Amin" jawab mereka.


"Kalau gak berhasil gimana?" gaya Alisa.


"Kalau gak berhasil saya yang akan bertindak, kalian tidak usah khawatir, cepat atau lambat dia pasti akan pergi" jawab Ustadz Fahri.


"Oke kalau gitu, semuanya setuju ya kalau nanti malam kita akan keliling kampung buat cari dia?" tanya ku pada mereka semua.


"Iya nanti kita cari dia" jawab mereka kecuali Alisa.


"Enggak, aku gak mau nyariin dia, aku itu pengennya gak mau ketemu lagi sama dia, kalian aja yang nyari dia, aku gak mau ikut, aku lebih baik di rumah aja" jawab Alisa.


"Emang kamu berani di rumah sendirian?" tanya Reno.


"Beranilah" jawab Alisa dengan beraninya.


"Sa kita itu nanti malam mau keliling kampung buat nyari dukun beranak itu, kamu kan gak mau ikut, jadi kamu jaga rumah aja, kami gak tanggung jawab loh kalau semisal saat berada di dalam rumah ada hantu yang gangguin kamu" kata ku dengan nada yang terdengar menakutkan di telinga Alisa.


"Iya, apalagi hantunya lebih seram dari pada dukun beranak itu, beh pasti sangat bahagia hantu itu karena nemuin orang yang ia cari-cari" kata Angkasa menambahkan.


Alisa yang mendengar kata-kata yang membuatnya ketakutan langsung ciut, seketika keberaniannya hilang entah kemana.


"Gimana, kamu masih mau berada di dalam rumah sendirian?" tanya ku.


"Gak mau, gak mau, gak mau, aku mau ikut aja, aku gak mau berada di dalam rumah sendirian, aku takut hantu itu akan datangin aku ketika tau kalau di dalam rumah ini gak ada kalian" jawab Alisa yang ketakutan saat membayangkan hal itu.


Aku tersenyum penuh kemenangan karena pada akhirnya aku bisa mengajak Alisa untuk ikut berkeliling kampung.


"Nah gitu dong ikut, kalau gak ikut kami gak tanggung jawab kalau kamu di ganggu sama hantu" kata Reno.


"Iya, aku ikut, puas" kata Alisa.


Kami tertawa melihat dia yang tertekan.


"Iih jangan ketawa" tak suka Alisa.


"Udah-udah, ayo kita sarapan, setelah itu berangkat ke sekolah, hari ini kita mau nyelidiki gadis pucat itu, kita gak boleh lupain dia meski di kampung ini ada hantu yang juga gentayangan" kata ku.


"Iya" jawab mereka.


"Haduh, gak di sekolah gak di rumah, mesti ada aja hantu, kapan mereka gak gangguin aku, mereka gak tau apa kalau aku ini penakut, bisa gak minta tolong sama orang lain saja, di luaran sana kan masih banyak yang juga bisa lihat mereka yang tak kasat mata" kata Alisa yang sudah bosan sama yang namanya hantu.


"Eh jangan, aku ini kalau gak berpetualang gak seru, biarin aja ada hantu yang minta bantuan, kita kan juga bisa memperoleh pengalaman dari kejadian-kejaida mistis yang sudah kita pecahkan" kata ku.


"Iya sih, aku sih suka berpetualang, tapi berpetualangnya gak terlalu menyeramkan kayak dukun beranak ini, dia kan hantu yang sukanya gangguin orang, kalau biasanya kan hantu-hantu yang minta bantuan kita gak mungkin gangguin kita" jawab Alisa.


"Walaupun mereka hantu, mereka juga tau diri sa, masa mereka masih mau gangguin kita, mereka itu akan kembali ke alamnya setelah tanggungan di dunia sudah selesai, gak kayak kebanyakan hantu yang salah gangguin orang" kata ku.


"Aku tau" jawab Alisa.


"Ayo kita sarapan aja, jangan pada bahas hantu, nanti malah telat sampai di sekolah" kata Reno.


"Iya juga, ayo kita ke meja makan" ajak ku.


Kami berjalan menuju meja makan untuk sarapan terlebih dahulu.