The Indigo Twins

The Indigo Twins
Bayangan besar



"Semoga aja gitu, aku sungguh gak mau di ganggu sama hantu itu lagi, apalagi hantunya seram banget, gak kebayang deh aku lihat dia pas malam-malam, akkh gak mau, aku takut" kata Alisa yang begidik ngeri.


"Kamu tenang aja, ada kami di sini, kami gak akan biarin dia gangguin kamu" jawab ku.


Mendengar ucapan ku Alisa sedikit tenang.


Ustadz Fahri kemudian kembali melajukan mobil.


Selama di perjalanan aku merasakan hawa merinding yang tidak pernah aku rasakan saat melewati jalanan di desa Kamboja ini.


"Kok aku ngerasa merinding gini ya, kalian ngerasa juga gak?" tanya Reno.


"Iya, tapi gak ada apa-apa kok, semuanya aman, gak usah khawatir" jawab Angkasa.


Mendengar hal itu Reno pun diam tak lagi memikirkan yang aneh-aneh, meski rasa merinding itu masih melekat di dalam dirinya.


Mobil terus melaju, Ustadz Fahri sengaja menambah kecepatan agar cepat-cepat sampai di rumah.


Setelah sampai di rumah kami keluar dari dalam mobil.


Saat hendak masuk ke dalam rumah, Alisa merasa ada seseorang yang berdiri di belakangnya.


Dengan cepat ia melihat ke belakang.


"Gak ada siapapun, kenapa aku ngerasa ada orang di belakang ku" kata Alisa yang tidak melihat siapa-siapa.


Halaman rumah kosong, tidak ada siapapun yang terlihat.


"Ada apa sa?" tanya ku.


"Gak ada apa-apa kok" jawab Alisa.


"Ayo masuk, udah malam nih, gak baik berada di luar malam-malam" ajak Ustadz Fahri.


Kami mengangguk lalu masuk ke dalam rumah setelah itu melangkah menuju kamar masing-masing.


Setelah sampai di kamar aku membersihkan tubuh, setelah selesai aku menunaikan sholat magrib sebelum waktunya habis.


"Assalamu'alaikum warahmatullah, assalamualaikum warahmatullah" kata ku dengan menoleh ke kanan dan kiri.


Aku mengusap wajah ku tiba-tiba aku melihat bayangan besar dari tembok yang ada di depan ku.


Glup!


Aku langsung menelan ludah melihat itu semua.


"Siapa yang ada di belakang ku" batin ku tercekat.


"Apa mungkin dia makhluk halus yang tadi nyebrang jalan itu" batin ku yang langsung tertuju pada dia.


Bayangan itu masih ada, terlihat jika bayangan itu amat besar, lebih besar dari tubuh ku.


Rasa merinding tiba-tiba menghampiri saat bayangan itu masih tak kunjung pergi dari sana.


Wussshhhh


Sekilas aku melihat ada bayangan yang lewat dari tembok yang ada di depan ku.


"Siapa yang lewat" batin ku semakin ketakutan.


"Apa dia pemilik bayangan itu, tapi kayaknya enggak, karena bayangan itu masih diam, berarti barusan yang lewat itu makhluk halus lain" batin ku.


"Kenapa mereka tiba-tiba gangguin aku, berasal dari mana mereka sebenernya, apa mungkin dari kebun, Alisa bilang dia sempat di ganggu sama hantu saat berada di kebun buah naga, mungkin saja di kebun sayur-sayuran itu ada hantu juga yang ngikutin aku tanpa aku sadari" batin ku.


"Kenapa aku tidak sadar, kalau aku sadar, aku pasti akan minta bantuan Tiger ataupun mereka bertiga untuk ngusir dia" batin ku yang amat menyesal.


"Aku harus liat seperti apa wajah hantu itu, apakah sama seperti yang Alisa ceritakan atau tidak" batin ku berusaha memberanikan diri untuk melihat seperti apa wajahnya.


Belum sempat aku menoleh ke belakang tiba-tiba aku mencium bau kembang yang amat jelas dan langsung membuat bulu kuduk ku berdiri semua.


"Kenapa ada bau kembangnya segala, tadi kan gak ada, kenapa sekarang ada" batin ku yang langsung ketakutan.


Semakin lama bau kembang itu semakin menyengat yang membuat ku panas dingin.


"Matilah aku, bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan, dia masih berada di belakang ku, aku tidak mau dia terus menerus berada di sana, bisa-bisa aku tidak akan bisa tidur kalau dia tidak mau pergi" batin ku yang sangat ketakutan.


Mata ku melotot sempurna saat melihat ada tangan yang hendak mencekik leher ku.


"Jangan habisi aku, jangan habisi aku, aku masih mau hidup, berikan aku hidup" batin ku yang sangat ketakutan.


Aku merasakan tangan itu yang terus mendekati leher ku.


"Jangan habisi aku, jangan habisi aku" batin ku yang panas dingin.


"Aliza"


Panggil seseorang yang membuat ku langsung merasa lega.


"Iya" jawab ku melihat ke arahnya.


"Ayo turun ke bawah, makanan udah siap" kata Angkasa.


"Iya" jawab ku.


Angkasa hendak kembali menutup pintu.


"Stop" teriak ku.


Angkasa langsung berhenti dan menatap ku dengan perasaan heran.


"Kenapa?" tanya Angkasa.


"Tungguin aku sebentar, aku mau lipat mukenah dulu, kamu jangan kemana-mana, tepat diam di sana" jawab ku.


"Iya, cepetan" kata Angkasa.


Secepat kilat aku membuka mukenah dan melipatnya setelah itu berlari mendekati Angkasa dengan tubuh yang masih di landa rasa merinding.


"Ayo kita ke bawah" kata ku dengan melihat ke dalam kamar memastikan kalau pemilik bayangan itu tidak ikut ke bawah.


"Iya ayo" jawab Angkasa.


Kami berdua turun ke bawah, aku memegang lengan Angkasa sebagai penguat.


"Semoga dia tidak ngikutin aku, semoga dia tidak ngikutin aku" batin ku yang sungguh sangat takut pada pemilik bayangan yang tadi berdiri di belakang tubuh ku.


Angkasa yang mendengar suara hati ku langsung mengerutkan alis.


"Semoga dia tidak ngikutin aku, maksud Aliza apaan" batin Angkasa yang merasa aneh.


Angkasa melihat wajah ku yang terpancar rasa cemas di tambah rasa tegang di dalamnya.


"Kenapa za, kok kamu kayak was-was gitu?" tanya Angkasa.


"Enggak apa-apa" jawab ku cepat dengan perasaan yang masih was-was.


"Beneran gpp?" tanya Angkasa kembali memastikan.


"Iya beneran" jawab ku.


Angkasa menatap wajah ku yang masih terpancar rasa takut, sesekali aku melihat ke belakang takut pemilik bayangan itu ngikutin aku.


"Gak ada yang kamu sembunyiin kan?" tanya Angkasa.


Aku diam, rasa takut itu bukannya menghilang malah makin bertambah.


"Za" kata Angkasa yang melihat ku diam saja.


"Sa di dalam kamar tadi ada hantu, dia berdiri di belakang ku saat aku habis sholat" jawab ku.


"Jadi ini yang membuat Aliza bergelagat aneh" batin Angkasa.


"Kamu lihat gak seperti apa wajah hantunya?" tanya Angkasa.


"Enggak, aku gak berani lihat, sumpah aku takut banget" jawab ku.


"Kok tumben Aliza takut, apa karena efek dari alam gaib itu yang membuat Aliza takut saat di ganggu hantu" batin Angkasa.


"Mungkin aja sih" batin Angkasa.


"Udah kamu jangan takut, ada aku di sini, dia gak mungkin gangguin kamu lagi, ayo kita ke meja makan, yang lain pada nungguin kamu di sana" ajak Angkasa.


Aku mengangguk lalu berjalan menuju meja makan.