MUSE

MUSE
S3 ~ LEON IS MY NAME



MUSE S3


EPISODE 99


S3 \~ LEON IS MY NAME


\~ Kami berbagi ruang dan juga kehangatan lewat sentuhan tangan. Hanya menyentuh tangannya saat tanah liat berputar saja bisa membuat jantungku berdegup sekencang ini. \~


______________


Aku berlari lebih kencang, menikmati hembusan angin sore yang dingin. Dedaunan yang gugur seakan bergerak mengikuti irama deruan napasku. Aku sangat bahagia hari ini, setelah 10 tahun penantian, akhirnya Kanna menerima cintaku.


— MUSE S3 —


•••


6 tahun yang lalu....


Drap... Drap...


Suara langkah kakiku terhenti di sebuah taman kota. Aku terengah-engah begitu menghentikan langkahku. Aku mencoba mengatur napasku, sedikit membungkuk untuk menekan lututku, mengambil oksigen sebanyak mungkin. Aku mendekati Kanna yang terduduk di bangku taman dan berjongkok di depannya.


“Hah..., hah...,” masih mencoba mengatur napas.


“Leon!!” Kanna langsung berdiri dari bangkunya begitu aku sampai.


“Hallo, Cimut!” Aku kembali mengangkat tubuhku seraya menghembuskan napas panjang agar jantungku tenang.


“Ini. Lap keringatmu.” Kanna memberikan sapu tangannya padaku.


“Ok,” ku terima sapu tangan pink miliknya dan mengelap wajahku.


Wajah Kanna tersipu, memerah seperti tomat. Dia terlihat sangat imut, pipi bulatnya membuatku gemas. Aku sangat menyukai wajahnya yang chubby. Kami sudah berteman dari kecil. Dia adalah wanita terlembut, dan terimut yang pernah aku kenal.


Wajah Kanna memang tidak cantik, tapi bukan berarti dia jelek. Walaupun matanya sipit, tapi binarnya selalu memancar. Bibirnya tipis dan mungil seperti paruh burung pipit. Pipinya yang gembul terlihat mempesona karena berhiasan dua buah lesung pipi yang menggoda. Membuatnya terlihat sangat manis. Hanya orang bodoh yang mengatakan bahwa Kanna adalah wanita yang buruk rupa.


Banyak kawanku mengatakkan bahwa aku bodoh. Disaat banyak wanita cantik yang antri untukku aku malah memilih wanita gendut di depanku ini. Bagiku Kanna adalah wanita yang sempurna, karena aku merasa begitu nyaman saat bersamanya.


“Kenapa harus menungguku di bangku taman?” tanyaku heran. Hari ini aku ada eskul basket, aku meminta Kanna menungguku agar kami bisa pulang bersama. Tapi bukannya menunggu di samping lapangan dia malah menungguku di taman ini.


“Aku malu.” jawabnya. Hish, aku benci jawaban itu. Kenapa dia begitu minder dengan dirinya.


“Kenapa? Kan sudah aku bilang kalau kau itu cantik!! Kau itu gadis yang luar biasa!!” Aku menekan pundaknya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa dia adalah pribadi yang berharga.


“Aku jelek dan gendut.” Kanna menunduk.


“Tak ada manusia yang jelek di mata Tuhan, Kanna. Dan di mataku kau adalah manusia tercantik di dunia.” Aku memeluk dirinya.


“Leon, maafkan aku, ya.” Kanna mencoba untuk tersenyum kembali, walaupun matanya masih berkaca-kaca.


“Jangan menangis, Cimut!! Nanti bajuku kena ingusmu!” Aku mencubit pipinya, empuk sekali.


“Jahat!!” Kanna memukul lenganku.


“Hahaha, ayo pulang!” Aku menggandeng tangannya. Jari jemari Kanna terlipat erat pada jemariku.


“Thanks, Leon.”


“Yup!”


Kami menelusuri terotoar ramai di depan pertokoan. Kami memang harus melewati beberapa blok pertokoan dan perkantoran sebelum masuk ke kawasan perumahan tempat tinggal kami. Memang sedikit jauh, tapi terasa dekat karena aku terus menggandeng tangannya.


“Mau beli mi instan nggak? Kita rayakan seminggu hari jadi kita.” Aku menawarkan Kanna makanan agar ia tak bersedih lagi.


“Boleh!! Yee..!” Kanna tertawa, memang gampang menyenangkan hati Kanna. Kau tinggal memberinya makanan yang enak.


Kami masuk ke dalam sebuah mini market, aku bertanya padanya sembari mengitari rak display berisi berbagai macam jenis mi instan, “mau rasa ayam bawang? Soto? Atau pedas?”


“Hmm, aku ayam bawang, deh.”


“Mau pakai telur?”


“Iya, sosis juga.” Kanna menunjuk sosis siap makan di dekat deretan mi.


“Oke.”


Kami membayar dan meminta kasir untuk memasak mi kami di dalam microwave. Kami sesekali bercanda sambil menunggu mi-nya matang.


“Ini, dek.” kata Kakak penjaga kasir. Ia mendorong dua buah cup mi.


“Terima kasih.” kata Kanna seraya mengambil sumpit dan sendok sekali pakai.


“Terima kasih.” kataku juga sambil menerima dua cup mi tadi.


Kami duduk di meja panjang yang memang sengaja disediakan di mini market untuk menikmati mi atau kopi. Jadi pengunjung bisa lebih santai menikmati mi tanpa harus berdiri.


“Hati-hati, Leon, masih panas.” Kanna memperingatkanku.


“Kau juga.”


Kami menikmati makanan kami, sesekali bercanda dan tertawa. Kami biasa juga melakukan hal ini, namun bedanya kami sekarang sudah resmi pacaran.


“Enak, nggak?” tanyaku.


“Enak.”


“Mau nambah?”


“Bolehkah?” tanya Kanna dengan wajah berbinar, dia sepertinya masih lapar.


“Boleh, donk! Aku ambilin, ya.” Aku beranjak untuk mengambil lagi sebuah mi cup. Lalu membayarnya di kasir. Tak butuh waktu lama untukku kembali padanya dengan sebuah mi cup rasa soto.


“Ini, sudah matang.” Aku menyerahkan mi itu kepadanya.


“Yeee...! Leon memang yang terbaik!” Kanna bertepuk tangan pelan.


“Ck, bisa aja?” decakku gemas.


Aku meminum air mineral sambil mengamati Kanna memakan mi-nya, ia memakan mi itu dengan lahap dan semangat 45.


“Pelan-pelan, donk, Kanna!” Aku mengusap pinggiran bibirnya, ada banyak kuah mi yang menciprat, membuatnya belepotan.


Lagi-lagi Kanna tersipu karena tindakkanku, Duh, lagi-lagi aku gemas, aku sangat suka dengan tingkahnya yang malu-malu ini.


“Sudah lama aku nggak makan mi, Leon.” kikihnya pelan. Pembawaan Kanna memang sangat lembut, suaranyapun sangat halus. Andai saja orang hanya mendengarkan suaranya tanpa melihat Kanna, mereka pasti akan mengira Kanna adalah wanita yang sangat cantik.


“Hei, lihat, tuh. Ganteng-ganteng pacarnya jelek!” Aku mendengar seseorang wanita bergunjing di belakang kami.


“Kok perutnya muat, ya?” Kikih mereka.


Kanna langsung menghentikan suapannya dan mulai berkaca-kaca.


“Aku akan damprat mereka.” Aku hendak bangkit dan menghampiri dua wanita itu.


“Jangan, Leon!!” Kanna mencengkram pergelangan tanganku untuk menghentikan aksiku. Ia bergeleng pelan.


“Lepasin, Cimut!! Mereka harus diberi peringatan!! Mulut mereka mesti diberi pelajaran.”


“Please!!” Kanna memandangku, air matanya hampir tumpah, membuatku tidak tega untuk melanjutkan aksiku.


“Baiklah! Ayo kita pulang saja!” Aku mengajaknya pulang agar hatinya bisa lega.


Sepanjang perjalanan Kanna hanya diam saja. Ia kembali menundukkan wajahnya dan melamun. Entah apa yang sedang ia lamunkan? Yang aku tahu pasti hatinya sangat sakit.


“Bagaimana kalau mampir ke rumahku? Kita buat sebuah vas bunga?”


“Hm?” Kanna mengangkat wajahnya.


“Nanti kau bisa pakai vasnya untuk menaruh bunga di atas mejamu.”


“Aku tidak bisa, Leon.”


“Aku akan mengajarimu, Kanna.” Aku mengajak Kanna berlari kecil agar kami bisa segera sampai ke rumah.





“Permisi, Om Leo, Tante Niken.” Kanna menyapa kedua orang tuaku sebelum masuk ke dalam rumah.


“Hallo, Kanna. Kalian sudah makan?” tanya Mama.


“Sudah, Tante.” jawab Kanna.


“Papa dan Mama mau pameran?” tanyaku heran, soalnya Papa sedang sibuk menata beberapa keramik karyanya pada kotak palet dari kayu.


“Iya, mendadak dapat tawaran dari pihak mall di kota B.” jawab Papa.


“Hanya satu setengah jam perjalan, jadi kami putuskan untuk berangkat.” Mama ikut menjawab.


“Ow, begitu.” Aku mengangguk tanda mengerti.


“Kau panaskan lauknya, ya. Mama sudah masak.” Mama melepaskan apron masak dan bergegas membantu Papa.


“Siap, Ma. Kalian hati-hati, ya,” seruku sambil bergegas masuk ke ruang kerja Papa.


“Hati-hati, Om, Tante.” Kanna mengekorku.


“Jangan main sampai malam! Ingat kerjain PR dan belajar!!” teriak Mama.


“Iya, Ma!!”


— MUSE S3 —


•••


Aku kembali dengan sebongkah tanah liat dan juga air. Aku meletakkannya di atas meja putar, memercikkan air ke atas tanah sebelum melumattnya secara lembut dan perlahan. Aku melakukannya agar tanah liat menjadi mudah untuk dibentuk.


“Kemarilah, Kanna,” panggilku.


“Oke.” dengan riang Kanna mendekat. Aku bersyukur moodnya sudah kembali baik saat ini.


“Duduk kemari, rasakanlah pergerakannya, Kanna.” Aku meletakkan telapak tangan Kanna pada tanah liat yang berputar.


“Ah, basah dan lembek.” Kanna terkikih.


“Kau bisa menekan tuas bawahnya dengan kakimu agar mejanya kembali berputar.”


“Baik, Leon.” jawabnya antusias.


Kanna duduk di antara pahaku, bisa ku cium aroma wangi bunga mawar dari rambut panjangnya yang sedikit ikal.


Kami berbagi ruang dan juga kehangatan lewat sentuhan tangan. Hanya menyentuh tangannya saat tanah liat berputar saja bisa membuat jantungku berdegup sekencang ini.


“Aku mencintaimu, Kanna. Jangan pernah menganggap dirimu jelek, karena bagiku kaulah yang tercantik.”


“Leon.”


Kanna mengeluskan wajahnya pada wajahku, tangan kami sangat kotor, dan wajah adalah satu-satunya cara kami mengungkapkan cinta lewat sentuhan.


“Siapa nama pacarmu, Kanna?”


“Leon, namanya Leon!!”


“Right, Leon is my name.” Aku tersenyum dan mencium bibirnya yang mungil.


Aku mencintaimu Kanna, begitu dalam dan selalu bertambah dalam setiap harinya. Entah sejak kapan aku mulai mencintaimu? Yang pasti perasaan ini berdegup begitu nyata untukmu.


Jangan pedulikan apa kata orang Kanna! Cukup jadi dirimu yang apa adanya! Karena aku mencintaimu apa adanya.


— MUSE S3 —


Met sahur, baby! ❤️❤️


Masih dengan keromantisan masa remaja mereka yang menggelitik hati gaes. Harus di baca ya!! Muach \~ ❤️


MUSE UP!!


YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.


VOTE, LIKE, dan COMMENT


PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!


Terima kasih sudah membaca,


Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama


Love,


Dee ❤️❤️❤️