
MUSE S7
EPISODE
S7 \~ “Katanya batu obsidian bisa membuat pemiliknya menerima energi positif dan juga membawa keberuntungan.” Leoni mengikat gelang dengan batu hitam itu ke tangan Levin.
_____________
“Ehem…,” dehem Arvin saat melihat anak bontotnya begitu mesra di hadapan semua orang. Benar sih mereka saling merindukan, tapikan tidak disalurkan saat itu juga sampai seakan semua yang ada di sana cuma ngontrak. Dunia milik mereka berdua yang lain numpang pipis doang.
Wajah Levin dan Leoni sontak berubah merah padam, benar-benar keluapaan dengan satu rombongan yang datang bersama untuk mendukungnya bertanding.
“Bisa kita ke aprtemenmu sekarang, Boy?” tanya Arvin.
“Sure. Ayo kita berangkat!!” Levin merangkul pundak Leoni dan berjalan memimpin.
Mereka semua meninggalkan area kedatangan di bandara internasional menuju ke mobil yang telah di siapkan oleh Levin. Rencananya mereka akan tinggal dua minggu di Madrid sampai pertandingan Levin usai.
Sesampainya di apartemen, mereka semua langsung merebahkan diri di kasur masing-masing. Lelah setelah menempuh perjalanan jauh.
Levin mengantarkan Leoni ke kamarnya. Pemuda itu dengan cekatan mendorong koper milik Leoni dan mempersilahkan gadis itu masuk.
“Sory, kecil ya kamarnya.”
“Tak apa, aku sendiriankan?!” Leoni tersenyum. Ia mengamati kamar berukuran empat kali empat dengan lantai pualam dan juga interior minimalis. Banyak aksen brown mirror dan besi bercat gold.
“Iya, Kakak-kakakku memilih tidur di hotel. Daddy dan Mommy akan memakai kamarku sementara aku tidur di kamar yang lain dengan Chico dan Bryan.” Karena hanya ada tiga kamar di apartemen ini maka pada pilih tidur di hotel. Lagian semuanya sudah memiliki keluarga masing-masing sekarang.
Levin duduk di tepi ranjang, Leoni mendekat, berdiri di antara kedua paha Levin yang terbuka. Leoni mengelus rambut hitam Levin yang kini jauh lebih panjang.
“Selama dua minggu meski berada di sini kita tak akan bisa sering bertemu.” Levin memeluk pinggang Leoni dan menyandarkan kepalanya di dada. Menikmati indahnya dekapan sang kekasih sembari merasakan kenyamanan dari detak jantung Leoni yang berirama.
“Kenapa?”
“Aku harus latihan.”
“Oh, begitu.” Leoni mengangguk, ia sudah bisa menebaknya. Tak mungkin kalau seorang atlet tidak melatih diri saat akan menuju ke pertandingan.
“Aku sudah meminta Kak Inggrid dan Kak Gabby menemanimu keliling kota Madrid. Jadi kau tidak akan terlalu kesepian.”
“Iya, aku tahu. Berjuanglah, Vin!!” Leoni mengecup kening Levin.
“Kenapa hanya di kening??”
“Sini!” Levin menunjuk bibirnya. Wajah Leoni menghangat, dengan perlahan ia mendekatkan diri dan mendaratkan sebuah kecupan hangat sepelan mungkin.
Levin menarik pinggang Leoni supaya semakin melekat erat, menjepitnya dengan kaki supaya Leoni tidak mundur. Levin menguluum bibir mungil Leoni dan mulai meraupnya dengan rakus. Tanpa sadar keduanya sudah masuk ke dalam lautan hasrat dan terkurung dalam kabut gairah.
Lidah mereka bergulat, mengitari rongga mulut dan merengguh madu manis yang terkurung dalam pesona kenikmatan. Tangan Levin merangkak naik, mengelus masuk ke dalam kaos kedodoran yang dipakai oleh kekasihnya. Tangan Levin yang kasar karena terlalu banyak latihan belakangan ini begitu terrasa saat bergesekan dengan permukaan kulitnya yang mulus.
Tangan Levin berhasil melucuti kait bra milik Leoni dan masuk untuk menangkup kedua gunung kembarnya. Leoni mulai melemas, terkulai dalam pelukan Levin. Ini pertama kalinya Levin berbuat lebih jauh dibandingkan biasanya. Dulu saat masih SMP mereka paling hanya bergandengan tangan. Saat SMA juga hanya berciuman. Dan … apa ini berarti sudah saatnya??
Suasana yang dingin mendadak memanas. Levin memilin kelereng merah jambu milik Leoni sementara bibirnya telah bersarang di leher sang kekasih.
“Umm …” Leoni memejamkan mata dengan erat, rasanya sangat aneh. Begitu aneh sampai sekujur tubuhnya melemas dan tak bertenaga. Entah sejak kapan Leoni telah berada di bawah kungkungan Levin. Leoni tak memberontak, namun juga tak berani membuka mata.
Levin menggulung naik kaos Leoni dan mulai mengecup perutnya yang ramping, kecupannya semakin naik dan naik sampai kepada pusat dadanya. Menyesap pelan bagian sensitiff milik seorang wanita. Tubuh Leoni panas dingin, ia terus menggeliat pelan. Kakinya bergerak seakan ingin memberi jarak agar tubuh Levin tidak menempel pada tubuhnya.
“No … Vin!! Jangan!!” Leoni merasa belum siap.
Levin melepaskan panggutannya. Ia menatap wajah cantik Leoni yang bersemu merah. Terus memerah seiring dengan cummbuan hangat barusan.
“Maafkan aku! Oh, aku hanya terlalu merindukanmu sampai terbawa suasana.” Levin mengecup pergelangan tangan Leoni dan merapikan pakaiannya.
Leoni tersenyum tipis, lalu memeluk Levin. Keduanya berbaring sembari berpelukan. Menikmati suara deruan napas dan detak jantung yang begitu memburu.
“Bagaimana kabar Papa dan Mama-mu?” Levin berusaha mengalihkan pikirannya.
“Baik, mereka minta maaf tidak bisa datang karena Papa ada pameran di Luar negeri, tapi mereka pasti akan menonton siaran langsungnya. Mereka titip salam dan doa kemenangan,” jawab Leoni. Keduanya mulai berangsur-angsur tenang, tak lagi saling menderu dan saling menginginkan.
“Oh iya … aku punya sesuatu untukmu, Vin.” Leoni beranjak dari pelukan Levin dan mengorek isi tasnya. Mengambil sebuah gelang dengan ukuran batu di tengahnya.
“Gelang?”
“Katanya batu obsidian bisa membuat pemiliknya menerima energi positif dan juga membawa keberuntungan.” Leoni mengikat gelang dengan batu hitam itu ke tangan Levin.
“Kau membuatnya sendiri?” Wajah Levin berseri seri, Leoni mengangguk. Jurusannya sebagai pengerajin batu membuat Leoni bisa memoles bebatuan dengan mudah, membentuknya mejadi bandul yang indah.
“Thanks, Baby!”
“Kau harus menang, OK!” Leoni tersenyum.
“Tentu saja.” Levin pun menggesekkan hidungnya pada hidung Leoni.
...— MUSE S7 —...