MUSE

MUSE
S4 ~ KISS



MUSE S4


EPISODE 10


S4 \~ KISS


\~ Ra menyelipkan kedua telapak tangannya di belakang kepalaku. Membuatnya mengatur permainan bibir kami, rasanya sangat manis. Sudah lama aku merindukan kenikmatan dari bibir dan lidahnya yang mengabsen seluruh rongga mulutku.\~


___________________


Oke, mau pakai baju apa kita malam ini?


Aku memilih tank top putih, outer jaket bomber berwarna ungu metalik yang glossy. Bahannya seperti mika, jadi agak semi transparan. Tak lupa celana kain ketat pendek model petenis. Boot setinggi 20 cm dengan heels rata. Aku menguncir rambutku naik menjadi dua bagian. Andai saja aku membawa pemukul baseball mungkin aku sudah ber- cosplay mirip dengan harley quin.


Ken hari ini berjanji akan menemaniku menemui teman-teman. Aku memang ingin membantunya menghidupkan suasana pada jalanan belakang perumahan. Jalanan itu mati karena tak bayak yang melewati. Jalan kecil dan di huni oleh banyak orang-orang tua.


“Kau cantik, girl.” puji Ken saat melihatku.


“Hehehe...,” aku terkekeh senang.


Kami berdua masih berjalan dan baik-baik saja sampai Ken tiba-tiba berubah menjadi Ra, dia mengataiku bodoh. Juga menolak mengakuiku sebagai pacarnya di hadapan kak Daffin dan semua anggota lainnya. Aku sedih dan juga kecewa, padahal aku tahu kalau di dalam dirinya bukanlah Ken, tapi tetap saja rasanya sangat menyakitkan.


Aku menangis dan akhirnya Kak Daffin memukul Keano. Mereka saling beradu tinju, membuatku ketakutan dan juga bingung. Wajah Ken terluka, dan itu karena aku mengajaknya kemari. Harusnya aku tak perlu mengajak Ken kemari, jadi Ra tak berubah.


“Kak, sudah!! Keano berhenti!!” Aku menengahi pertarungan itu, Keano bukanlah lawan Kak Daffin, walaupun Ra kuat namun Kak Daffin sudah terlatih. Tanpa ragu aku mendorong tubuhnya.


Ra pergi setelah meludahkan darah ke jalan. Ia memandangku dengan tajam bergantian dengan Kak Daffin. Entah apa yang menyebabkan pertengkaran ini? Yang pasti hatiku merasa sangat sakit karena Keano mencoba pergi dariku.


“Keano!! Kembali kau!! KEANO AMERA!!!” Aku berteriak memanggil-manggil namanya.


“Keano!! Kau jahat....” lanjutku.


“Shit!!”


“Tunggu Kak!” Momo mengikuti Ra. Sebenarnya ada hubungan apa di antara mereka berdua?


“Kau tak apa?” Kak Daffin mendekatiku, ia melihat pergelangan tanganku yang sedikit merah.


“Tidak, Kak. Maaf Kakak jadi terluka karena masalahku dengan Keano,” kataku.


“Tidak Inggrid. Aku tak berkeberatan menghajarnya. Dia telah mengatakan hal yang sangat menyebalkan padamu. Tentu saja aku marah. Sebagai pria tak seharusnya dia melukai wanita.” kata Kak Daffin panjang lebar. Aku tau kalau Kak Daffin punya hati yang lembut seperti Ken dan kuat seperti Ra. Mungkin kalau kepribadian Ken dan Ra bisa melebur menjadi satu dia akan sangat mirip dengan Kak Daffin.


“Sudahlah. Bukan saatnya bersedih,” senyumku.


Aku kemari punya tujuan, yaitu membuat jalanan menjadi ramai. Aku butuh teman-temanku yang notabene adalah orang-orang kaya, mereka bisa membantuku. Orang tua mereka akan membantu kami. Lagi pula aku akan segera berbaikan begitu Ken kembali muncul dalam tubuh Keano.


“Nuna? Kau tidak apa-apa?” Niel yang mendekap Ara melepaskan pelukannya dan menghampiriku.


“Kenapa bertengkar? Kalian biasanya sangat akur?” Ara ikut mengekor.


“Tapi Momo bilang Keano sangat dekat dengannya.” Nael menimpali.


“Kak Daffin kau tidak apa-apa? Ini ada plester.” Niel memberikan hans*plast pada Kak Daffin.


“Thanks.” jawab Daffin.


“Jadi kenapa kau mengumpulkan kami di sini?” tanya Nael padaku.


Aku akhirnya duduk di pinggir jalan bersama mereka, saat itu jalanan sepi karena malam semakin larut. Aku menceritakan semua tentang masalah para lansia dan warga miskin dibelakang perumahan. Mereka semua mengangguk dan mengerti.


“So, kita butuh bantuan orang yang kenal pada pemerintahan.” kataku.


“Mungkin Papaku bisa membantu kita.” ucap Niel.


“Papaku juga.” Ara ikut menjawab.


“Wah, emang Papa kalian orang kaya ya?” tanya Kak Daffin heran, iyalah dia heran, dia belum tau betapa kayanya mereka bertiga.


“Nggak kaya-kaya amat kok Kak.” jawab Ara.


“Nggak kaya tapi bisa beli pulau!” timpalku.


“Daebak!” puji kak Daffin.


“Nuna kau terlalu berlebihan. Papa bahkan tak memberikan kami uang untuk membeli mobil.” Niel ikut menjawabku.


“Benar.” Nael mendukung ucapan kembarannya.


“Oke, sudahlah. Kembali ke pembahasan kita. Jadi apa kalian setuju dengan saranku?”


“Setuju banget!!! Kami siap membantu.” ucap mereka serempak. Aku tersenyum sangat manis mendengar jawaban mereka.


Jadi rencananya kami akan meminta izin pada Pemkot terkait penggambaran street art pada jalanan sepi itu. Menghidupkan sepanjang jalan sebagai area wisata. Orang bisa berfoto dan membaginya pada sosial media. Street art seperti ini sangat umum di luar negeri. Kalau banyak orang yang tertarik datang ke sana, tentu saja pendapatan nenek dan para tetangganya akan naik. Mereka tak hanya bisa menjual susu, mereka juga bisa menjual kudapan sekaligus cendramata.


“Kita hidupkan jalan itu dengan seni kita!!” Aku mengangkat kaleng minumanku, mengajak toss mereka semua.


“Yeah!!!” seru kami bersamaan.


— MUSE S4 —


•••


Namun ternyata ucapan berbanding terbalik dengan realita. Sangat susah membujuk pemerintah daerah memberi izin pada kami. Mereka tak ingin adanya hal seperti ini memicu pungutan liar, pedagang liar, dan juga malah mengotori sungai di sekitar perumahan. Masalahnya memang sungai itu baru saja selesai di restorasi oleh kepala daerah yang baru. Dan memang menjadi bersih dan terawat, trus kalau banyak tangan-tangan nakal yang kembali membuang sampah seenaknya tentu saja akan kembali membuat sungai menjadi kotor.


Aku mengdenguskan napasku kasar dan mengesampingkan hal itu. Ulang tahunku tinggal sebentar lagi dan aku harus mempersiapkannya dengan baik. Kasihan Daddy dan Mommy yang sudah mengeluarkan banyak uang untuk memberikan pesta yang luar biasa mewah.


“Inggrid, kau tak menemui Keano? Bukankah dia Aladinnya?” tanya Mommy, siang ini aku kembali fitting baju ala princess Jasmin. Dan aku tak mengajak Keano.


Semenjak pertengkarannya dengan Kak Daffin beberapa hari yang lalu aku memang menjauh. Aku tak ingin bertemu dengan Ra maupun Ken. Walaupun Ken mengirimkan chat dan pergi ke rumahpun aku selalu mengirim Nick atau Gabby untuk beralasan. Hubungan kami sepertinya sedang terancam punah!


“Aku akan menemuinya nanti sore Mom.” Aku menjawab kekhawatiran Mommy, dalam hati aku berjanji akan menemuinya nanti malah untuk memberikan baju Aladin. Mau dia pakai atau tidak terserah! Aku masih punya banyak cadangan Aladin yang lainnya.


“Kau benar tak ada masalah dengan Keano kan? Tak biasanya kalian berpisah?”


“Ken sedang ujian masuk ke Fak kedokteran Mom. Aku hanya sedang tak ingin mengganggunya.”


“Ow, begitu.” Mommy menerima alasanku sekarang.


Baiklah, Mommy benar, aku tak pernah berpisah dari Keano. Masakah benar cintaku hanya sedangkal ini? Ra bukanlah halangan yang besar! Aku akan menyingkirkannya atau membuatnya jatuh cinta padaku. Kalau memang dia ingin gadis manis, bukankah aku tinggal berubah menjadi gadis yang manis? Bener nggak gaes?!


“Mom ajari aku berdandan.” pintaku.


“Hah??? Kau salah makan apa Inggrid?” tanyanya keheranan.


“Cumi asam manis masakanmu tadi, Mom.” jawabku sembarangan.


“Jadi kau mau bilang masakan Mommy nggak enak?!” jewer Mommy.


“Iya, nggak enak. Kebanyakan saus tomat.” Aku mengusap telingaku yang memerah.


“Daddy makan dengan lahap tuh!” Mommy masih tak mau mengakui kalau masakannya hari ini hancur. Sehancur hubunganku dengan Ra.


“Dia bucin!” seruku.


Lagian Daddy pasti takut tak dijatah makan makanan yang lain! Hahahah! Daddy kelewat ganas dan Mommy kelewat nurut. Aku tak bisa membayangakan seperti apa masa muda mereka dulu?! Mungkin serigala yang menerkam kelinci?! Hmm, Bisa jadi, bisa jadi.





“OK beres, wah, cantiknya anakku!!” Mommy bahagia begitu selesai mendandaniku dengan tint dan juga bedak.


“Mommy memang nggak pintar dandan.” Mommy mengetukkan jarinya pada meja rias, bingung mesti tambahkan produk apa lagi ke wajahku.


“Inggrid sudah cantik dari sananya, Nggak dandan juga semua orang bakalan terpesona.” kata Daddy. Ia membanting diri ke atas ranjang empuk, lalu memakai kaca mata bacanya.


“Benar.” kata Mommy.


“Hish..., aku meminta bantuan ke orang yang salah kayaknya,” pikirku sebal.


“Tambah ini saja Inggrid.” Mommy memuaskan blush on pada wajahku.


“Cukup, jangan banyak-banyak, nanti kaya kokeshi doll.” tolakku.


“Nah, sekarang sempurna!!” seru Mommy.


“Cantik.” seru Daddy.


“Perasaan nggak ada yang berubah!!” Aku bingung.


Ah, sudahlah, masa bodo, saatnya ke rumah Ken. Semoga saja bukan Ra yang menyambutku. Tapi kalau Ra juga nggak masalah sih, kan aku bertekat jadi gadis yang manis malam ini.


Aku memakai mini dress berwarna biru langit bertaburkan bunga-bunga kecil. Terdapat kerutan di depan dada, lalu terikat pada leher belakang. Tak lupa aku mengucur rambutku ala ponny tail, dan sepatu wedges sebagai sentuhan terakhir.


“Hallo Mi!” sapaku Pada Mami Melody.


“Wow, cantik sekali kau, Nak! Salah makan apa?” tanyanya.


“Cumi asam manis masakan Mommy.” jawabku cepat dan bergegas naik ke lantai dua.


“Hahaha, dasar.” tawa Mami terdengar renyah.


Tok tok tok.


Aku mengetuk pintu kamar Keano. Karena judulnya menjadi gadis manis, maka akupun harus bersikap layaknya gadis manis bukan?


“Siap....a?” Keano membuka pintu, ia sedikit terkejut dengan kehadiranku. Atau mungkin terpesona dengan diriku. Hahahaha, tak ada yang mengalahkan pesona Inggrid.


“Hai, Ken.” sapaku sambil membuat ekspresi sok imut yang sebenarnya membuatku sedikit mual.


“Aku bukan Ken, aku Ra!” jawabannya bikin sebal, huh, baiklah, memang kau yang aku inginkan.


“Hallo, Ra.” sapaku dengan senyuman lebar paling manis yang hampir membuat mataku menghilang.


“Mau apa kemari?” Ra bertanya sambil mengamatiku dari ujung rambut sampai kaki. Lihatlah wahai cowok kampr*t! Inggrid berevolusi menjadi cewek manis. Kau sukakan? Sukakan?


“Mau kasih kostum Aladin. Ken berjanji akan menemaniku berdansa di pesta ulang tahunku.” Aku menyerahkan bungkusan padanya.


“Baiklah, akan kuberikan padanya besok.” Ra menerimanya dan hendak menutup pintu.


“Tunggu...!” Aku menahan pintunya.


“Apa lagi?” tanyanya ketus.


“Kau harus mencobanya!! Muat atau tidak? Supaya penjahitnya bisa mengubah ukurannya kalau tidak pas.” kataku sembari mendorong pintu sampai gemetaran karena kalah kuat.


“Oke oke, masuklah!” Ra sengaja melepaskan tangannya dari pintu sehingga aku terjerembab ke depan.


“Sialan!! Cowok sialan!! kampr*t emang!! Sabar Inggrid sabar, demi Ken Ken.” ku abaikan rasa malu dan sebal di dalam dada.


“Akan aku coba, tunggulah!!” Ra beralih ke kamar mandi dan memakai kostum itu. Sesaat kemudian ia kembali dengan kostum Aladin. Kostum berwarna ungu dan juga silver metalik pada celananya. Lalu sepatu berujung lancip dengan warna kuning emas. Tak lupa topi peci berwarna senada dengan rompinya.


“Sepertinya Pas, tapi kenapa bajunya hanya rompi? Tak ada dalamannya?!” Ra melihat ke arahku, sedangkan aku sedang melongo sambil memandang perut six packnya tanpa berkedip.


“Inggrid!!!” panggilnya sambil berkacak pinggang. Ia akhirnya menyentakkan jarinya membuat sebuah irama didepan wajahku.


“Ya??!” Aku menghapus air liur yang mungkin saja menetes. Ingin membuat Ra terpesona padaku tapi kenapa malah jadi aku yang terpesona padanya.??


“Kau mikir mesum ya?” tanyanya.


“Nggak kok!”


“Jangan bohong!”


“Dibilang enggak!!” seruku sebal.


“Oh, ya sudah.” Ra melepaskan rompi ungu dari tubuhnya, kini dia hanya memakai celana gombor berwarna silver dan berjalan mendekatiku. Berdiri tepat di depanku, perutnya benar-benar tepat terlihat di depan wajahku.


“Omo...!” seruku, mau apa dia?


“Kau tak pantas memakai baju seperti itu, Inggrid.” katanya. Aku langsung mengdongakkan wajahku untuk menatapnya. Sorot matanya dan tubuh indahnya membuatku tak bisa berpaling dari pesonanya. Ku mohon, jangan menatapku dengan wajah tampanmu atau aku akan meleleh detik ini juga!


“Ra?!” Aku memanggil namanya saat Ra mulai membungkukan badannya dan mencium bibirku.


Ra menyelipkan kedua telapak tangannya di belakang kepalaku. Membuatnya mengatur permainan bibir kami, rasanya sangat manis. Sudah lama aku merindukan kenikmatan dari bibir dan lidahnya yang mengabsen seluruh rongga mulutku.


“Kau cantik sekali Inggrid.” katanya, aku jadi heran, kenapa Ra menjadi begitu kalem dan lembut.


“Ken?”


“Iya, ini aku Inggrid.” ternyata bukan Ra yang menciumku, tapi Ken.


“Ken, kau muncul?”


“Iya.”


“Kapan?”


“Saat kita berciuman.” jawabnya.


Aku agak kecewa mengetahui hal itu. Aku kira Ra telah jatuh pada pesonaku dan mau menciumku.


“Ken, bisa kau cium aku lagi?” pintaku.


“Tentu, sebanyak yang kau mau, girl.”


Aku tersenyum dan melanjutkan ciuman itu. Sedikit ada rasa kecewa menggelitik hatiku. Benarkah aku mulai menyukai sosok Ra? Tidak mungkin, cintaku pada Ken tak mungkin beralih begitu cepat. Mungkin aku merasakan hal yang sama karena wajahnya adalah wajah Ken.


— MUSE S4 —


Muse Up


Yuk di VOTE


LIKE


COMMENT


JANGAN LUPA BACA NOVEL SY YANG LAIN.


Terus jangan lupa banyak minum air putih.


Banyak makan buah. Biar stay healty.


Jangan lupa tetep jaga bumi kita dengan membuang sampah pada tempatnya dan juga mengurangi penggunaan plastik.


Bawa tas belanja dan juga wadah makan sendiri gaes.


Love yu.


Love people


Sweet, dee ❤️❤️❤️