
MUSE S3
EPISODE 126
S3 \~ I FEEL YOU
-Bagiku Kanna adalah MUSE yang tak pernah tergantikan di dalam hidupku. Tiap ditail dan lekukannya selalu kubuat seperti saat aku mengusap lembut bagian dari tubuhnya.-
_______________
PYYYAARRR....!
Bunyi vas terjatuh, menggema keras di ruang gallery. Aku menunduk untuk mengambil serpihannya. Serpihan itu menggores jariku sampai mengeluarkan darah. Hatiku berdesir panjang dan miris. Semua karya yang aku buat selalu dengan memikirkan Kanna. Bagiku Kanna adalah MUSE yang tak pernah tergantikan di dalam hidupku. Tiap ditail dan lekukannya selalu kubuat seperti saat aku mengusap lembut bagian dari tubuhnya.
Air mata menetes dari kedua bola mataku.
“Kenapa aku menangis?” Aku menghapus lelehannya dengan usapan kasar.
Ruang gallery perlahan kembali tenang. OB Membersihkan pecahan keramik yang berhamburan pada lantai.
Aku masuk ke dalam ruang kerjaku. Kembali teringat bayangan wajah cantiknya dalam balutan kebaya putih bersih. Namun dia bersanding bukan denganku. Dengan lelaki lain. Aku geram, aku marah, dan aku kembali sakit.
Sepertinya aku memang tak pernah bisa melepaskan rasa cintaku untuknya. Walaupun aku telah berubah menjadi lelaki kejam dan penuh dendampun, Kanna masih memandangku dengan pandangan lembutnya. Seakan meminta maaf akan segala kesalahan yang pernah dibuatnya.
Apakah aku begitu kejam sekarang?
Apakah aku yang salah membalaskan dendamku padanya?
Aku menaruh dahiku di atas meja. Mengetukkannya pelan beberapa kali. Desiran perih tak kunjung berhenti, menghantam ulu hatiku.
“ARG!!!” Aku bangkit dan memukul dinding sekuat tenaga. Tanganku terasa begitu sakit dan remuk. Aku yakin tulangku pasti retak. Aku ingin mengganti desiran menyakitkan di dalam hatiku dengan rasa sakit pada tanganku.
“Leon?!” Lova masuk dan melihat kelakuanku.
“Pergilah, Lova. Aku sedang tak ingin berbicara apapun!” Aku memintanya meninggalkan ruanganku.
“Kenapa dengan tanganmu?” Lova langsung bergegas menghampiriku. Ia mengecek kondisi tanganku.
“Kau itu seniman Leon!! Tak taukah kalau tanganmu itu sama berharganya dengan nyawamu?” Lova menggerutu, dia marah padaku.
“Jangan pedulikan aku, Lova.”
“Bagaimana aku tidak peduli? Kau tunanganku.” Lova berkacak pinggang, ia memijit pelipisnya sebentar sebelum pergi.
Tak lama Lova kembali dengan sebuah kotak obat. Ia mengambil salep dan mengoleskannya pada sambungan ruas jari dan punggung tanganku yang mulai membiru.
“Kau harus ke dokter, Leon.”
“Baik aku akan ke sana.”
Aku bergegas meninggalkan ruang kerja. Lova terus mengekorku, ia mengambil alih kemudi, “aku antar! Kau tak akan bisa menyetir dengan tangan bengkak!”
Aku diam dan mengijinkannya menyetir mobil. Tak butuh perjalanan lama untuk tiba di Rumah Sakit. Kami sampai pada ruang IGD, menunggu dokter jaga memeriksa lukaku. Siapa tahu butuh rotgen untuk memastikan apakah ada tulangku yang retak.
NGINGG...!!! NGING...!!
Suara sirine ambulan membuatku kaget. Beberapa orang perawat yanh berjaga langsung tergopoh-gopoh menghampiri mobil putih itu. Sepertinya korban kecelakaan.
Seorang wanita muda dengan tubuh bersimba darah keluar dari mobil. Begitu turun semua perawat langsung mengerumuninya, memasang oksigen dan juga infus, seorang perawat wanita bahkan langsung menyobek baju dan memeriksa suara perut pasiennya yang menonjol. Memastikannya beberapa kali sebelum akhirnya bergeleng lesu. Mereka lantas menggledeknya masuk ke ruang emergency.
Ranjang dorong melewatiku, saat melewatiku aku bisa melihat wajah wanita itu. Wajah cantik yang selalu menemani malam-malamku. Yang pernah menghiasi hari-hariku dengan senyuman indahnya. Bibir tipisnya terlihat begitu pucat, rambut ikalnya basah karena darah.
Dialah MUSE ku, wanita yang kucintai dengan setulus hatiku. Yang aku sakiti beberapa bulan yang lalu, berharap dia akan kembali padaku.
“Kanna??!!”
Aku limbung, aku terjatuh dan menangis. Tidak!! Tidak mungkin itu Kanna. Tidak mungkin!! Kannaku baik-baik saja, dia hidup bahagia dengan suaminya.
“Leon!!”
“Katakan Lova, katakan itu bukan Kanna!”
“Maaf, Leon.” Lova memelukku.
“Tidakk...!!! Tidak mungkin!!”
“TIDAK!!!” teriakkanku membuat seluruh isi UGD semakin kebingungan.
— MUSE S3 —
•••
Aku menunggu bersama Lova di depan ruang oprasi. Menunggu Kanna menyelesaikan oprasi pengangkatan janinnya yang meninggal di dalam kandungan. Juga beberapa patah tulang karena benturan hebat.
“Kanna hamil?” Aku syok saat dokter menyatakan putri kecil Kanna telah meninggal.
“Bisa anda panggilkan suaminya?”
“Baik, Dok.”
Aku tidak menghubungi suaminya. Suami macam apa yang membiarkan wanita hamil berkeliaran seorang diri di jalan sampai bisa tertabrak mobil. Aku juga belum menghubungi keluarganya. Masih syok dengan ucapan dokter barusan.
Tak butuh waktu lama. Operasi Kanna berjalan dengan baik. Dokter mengijinkanku menemuinya setelah Kanna sadar nanti. Aku hanya bisa menunggu Kanna dengan cemas di depan ruang ICU. Apa yang akan terjadi kalau dia tau bayinya telah tiada? Bagaimana aku harus menjelaskannya? Apa aku hubungi saja suaminya?
•
•
•
Air mata Kanna mengalir deras. Ia mengusap perutnya seakan-akan mencari keberadaan malaikat kecilnya itu. Hatiku sakit melihatnya terus merintih dan menangis.
“Kanna...,” ku panggil namanya saat masuk ke dalam ruangan tempatnya dirawat.
“Leon?” Kanna terkejut, ia menghentikan air matanya.
“Ini aku Kanna.”
“Di mana anakku, Leon? Di mana bayiku?” Kanna menatapku seakan masih ada harapan baginya untuk melihat bayi itu.
“Maaf, Kanna. Dokter menyatakan dia sudah meninggal di dalam kandunganmu.” dengan lembut aku menjelaskan pada Kanna.
“Oh, dia pergi, ya? Dia pasti kecewa dan akhirnya pergi.” Kanna menangis dan mengusap lagi perutnya.
“Kanna.” Aku menggenggam tangannya.
“Dia anakmu, Leon. Dia bayimu, dia putrimu.” Kanna menarik tangannya.
“Apa kau bilang???” Aku langsung mengangkat wajahku, meminta penjelasan.
“Malam kau memperk*saku, kau ingat?” Kanna memandangku dengan nanar.
“Tapi..., tapi kau menikah dengan, Zean?”
“Apa dokter tak memberitahumu berapa usianya?”
“Enam bulan.”
“Aku menikah baru 4 bulan, Leon.”
“Kau!!! Kenapa kau tak mengatakannya padaku?!” hatiku hancur, aku mulai marah, kenapa dia tak datang padaku??! Kenapa tak mengatakan bahwa bayi itu anakku?
“Karena kau pasti tak akan percaya.” Kanna kembali menangis.
“Kenapa kau jahat sekali Kanna?!!” Aku menangis, ternyata bayi itu anakku.
“Dan aku membunuhnya, Leon! Aku membunuhnya.” Kanna semakin menangis meraung-raung, membuat alat pendeteksi vitalnya berbunyi dengan keras.
“Tolong jaga emosi pasien, Tuan. Silahkan keluar!!” para suster menghampiri ruangan Kanna.
“Kau jahat Kanna!!!” tuduhku.
“Benarkah??” Kanna balas bertanya, pandangannya kosong. Kanna lalu tertawa sendiri.
“Kau gila!!” Aku mengumpat padanya.
“Iya, Leon. Aku sudah gila.” Kanna melepaskan selang infusnya dan mencoba bangkit.
“Jangan Nyonya!! Jangan!!” para suster mencoba menghentikan kelakuan Kanna.
Darah kembali mengucur dari luka jahitan yang masih sangat basah. Kanna seakan sudah tak bisa merasakan rasa sakitnya. Kesedihan di dalam hatinya merubahnya menjadi seperti orang gila.
“Di mana anakku suster? Aku ingin memeluknya. Aku ingin mengatakan betapa aku menyesal telah membunuhnya.” Kanna terjatuh, walaupun mentalnya sekuat baja namun tubuhnya tak lagi kuat.
“Kanna.” Aku memeluknya.
“Apa kau juga merasakannya, Leon? Rasa sakit ini?” tanya Kanna sebelum ia jatuh pingsan.
“Ya, Kanna. I feel you.” jawabku sembari menggenggam erat tangannya.
— MUSE S3 —
😭😭😭😭
Air matakuh...
Ga terasa udah sampe klimaks cerita.
Semoga terhibur. Saksikan anti klimaks yang nggak kalah mengaduk-aduk perasaanmu.
MUSE UP!!
YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.
VOTE, LIKE, dan COMMENT
PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!
Terima kasih sudah membaca,
Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama
Love,
Dee ❤️❤️❤️