MUSE

MUSE
S6 ~ BUNUH DIRI



MUSE S6


EPISODE 21


S6 \~ BUNUH DIRI


\~ Hidup tak berpihak padanya, cinta juga tak berpihak padanya, semua meninggalkannya, orang tua, oma, Jae Hyung, sampai Ivander. Lalu untuk apa dia hidup? Untuk apa dia menderita seperti ini sendirian?\~


__________________


(Banyak alur maju mundur (plot twist), mohon pelan-pelan membacanya ya gaeskuh! ❤️❤️ )


•••


Aroma wangi masakkan membuat Gabby terbangun, sudah hampir pukul 12 siang, matahari mulai tinggi dan memanas. Punggung Gabby pun sudah mau patah rasanya karena tidur terlalu lama.


“Kau sudah bangun sleeping beauty?” Ivander tengah mengaduk masakkannya, ia menyapa Gabby disela-sela kegiatannya memasak.


Gabby bersandar pada kusen pintu kamar. Hanya berbalutkan pakaian dalam dan kimono santin berwarna putih yang tak terikat. Gabby memang sengaja memakai pakaian dengan lengan yang longgar agar tangannya yang terluka mudah keluar masuk pakaian.


Wanita berambut panjang itu terus tersenyum saat melihat Ivander menyelesaikan kegiatannya, sesekali ia menggigit bibir bawahnya gemas. Ivander bertelanjang dada, dia hanya memakai celana jeans panjang dan apron masak, menampilkan guratan otot lengan dan dadanya yang kencang. Bagaimana mungkin Gabby tidak terkesima karenanya?


“Kau bisa memasak?” Gabby melipat tangannya di depan dada, masih mengamati lekukan otot lengan Ivander yang kencang. Pemandangan indah di pagi hari yang harus ia syukuri.


“Yah, hidup sendiri selama belasan tahun membuatku bisa melakukan apapun. Memasak salah satunya.” Ivander menghidangkan masakkannya di atas meja.


Omelet dengan irisan ham dan paprika, tumis labu siam dengan udang, dan juga ayam goreng ala Korea yang crispy, tapi lembut di dalamnya. Terhidang lengkap dengan sepiring nasi putih yang mengepul hangat.


“Korean fried chicken? In the morning?” tanya Gabby keheranan, siapa yang memakan ayam dengan saus pedas gurih manis itu sebagai sarapan, bisa-bisa perutnya bergejolak.


“Ini sudah siang Tuan Putri Tidurku yang cantik!!” Ivander melepaskan apronnya dan memeluk pinggang Gabby, Gabby tertawa, baru menyadari bahwa kedua jarum jam sudah berada tepat di tengah.


Ivander mengecup bibir Gabby, lalu menggandengnya untuk duduk di depan meja makan.


“Ja, minum air hangat dulu supaya pencernaanmu lancar.” Ivander mengambil segelas air dan memberikannya kepada Gabby, Gabby menerimanya dan menghabiskannya langsung.


“Ayo kita makan, kau pasti laparkan?” Ivander menyendokkan lauk ke dalam piring Gabby.


“Enak sekali!” Gabby mengerjap pelan saat mengunyah makanannya, “kau harusnya buka restoran, Van! Pasti banyak orang akan mencintai masakkanmu.” Gabby menyendok lagi nasinya, makan dengan lahap.


“Benarkah?” Ivander mendekati Gabby, ia duduk di sampingnya. Ivander tidak makan, dia hanya mencomot beberap kali lauk, omelet yang paling sering.


“Aku pasti akan jadi pelanggan setiamu, memakan masakkanmu setiap hari.” Gabby mengangguk.


“Sayangnya aku hanya akan memasak untuk anak dan istriku. So, kalau kau mau memakannya setiap hari, jadilah istriku.” Ivander memeluk pinggang Gabby, mengecup sisi samping kepalanya.


“Aa—apa?” Gabby gelagapan, wajahnya merona kemerahan. Ivander tersenyum, tawa riangnya membuat suasana makan siang mereka menghangat.


“Aku tak pernah memikirkan pernikahan sebelumnya, Gabby. Tapi melihat wajah cantikmu saat aku terbangun pagi ini membuatku berpikir, sepertinya pernikahan bukanlah hal yang buruk.” Ivander mengelus wajah Gabby, netra keduanya saling menatap penuh binaran cinta.


“Menikah? Benar, aku juga sama sekali tak pernah memikirkan hal itu.” Gabby menunduk, bunga hatinya mulai bermekaran, ucapan manis Ivander bagaikan rabuk yang menyuburkan tanah dan meresap membentuk jutaan bunga yang indah.


“heirate mich, Liebes.” Ivander menggenggam tangan Gabby.


(Menikahlah denganku, Cinta.)


“Teile jeden Tag deine Liebe, dein Glück und deine Tränen?” Gabby membalas genggaman Ivander yang hangat sambil tersenyum.


(Untuk berbagi cinta, kebahagiaan, dan air mata setiap hari?)


“Ja, Schatz.” Ivander tersenyum, ia memeluk wanita kesayangannya, mengelus lembut rambutnya yang indah.


(Ya, Sayang.)


Butiran krystal bening menetes dari mata Gabby, Ivander mengecupnya. Merasakan rasa asin dan basahnya air mata Gabby. Sungguh baru kali ini Ivander begitu mengharapkan seseorang untuk terus bersamanya. Membagi kebahagaiaan, cinta, dan air mata.


“Setelah semuanya terungkap, setelah pembunuhnya tertangkap, aku akan melamarmu pada kedua orang tuamu, Gabby.”


Gabby memejamkan matanya, berharap misteri kematian Krystal bisa segera terungkap.


— MUSE S6 —


Dua minggu kemudian ...


Hotel kamar 1405 milik keluarga Zean telah kembali beroprasi. Entah apa yang membuat Gabby ingin menginap semalam di kamar bekas pembunuhan itu. Ia mengitari seluruh ruangan, mencoba mencari bayangan pada teka-teki yang tak terpecahakan.


Gabby terduduk pada sisi ranjang, mengamati tiap-tiap foto olah TKP yang didapatkannya dari hasil menyogok detektif kepolisian. Mengeluarkan bukti untuk orang luar adalah hal ilegal. Beberapa foto yang memuat kebrutalan pembunuh itu pada tubuh Krystal kembali mengiris hati Gabby.


Gabby memandang pisau yang digunakan pembunuhnya, yang menancap di tengah-tengah dada Krystal. Tak ada yang istimewa, tapi kenapa terasa begitu mengganjal. Pisau bergerigi dengan ujung tajam, pembunuhnya pasti mengambilnya dari pantry.


Gabby menutup matanya, menangisi kembali kepergian Krystal yang tidak wajar. Krystal memang bukan wanita baik-baik, tapi Gabby sangat mencintainya dulu.


“Katakan padaku siapa yang membunuhmu, Krys?” Gabby mendesahh pilu, jemarinya mengelus foto-foto itu.





Siang tadi ...


Setelah mengambil beberapa bukti foto dari kepolisian Gabby datang menemui Adrian di ruangannya. Gabby membanting semua foto-foto itu di atas meja.


“Katakan padaku, Adrian!! Yang sejujurnya!!” Gabby menarik dasi Adrian, menatap pria itu dengan sorot mata tajam, meminta pengakuan dari Adrian.


“Apa maksudmu, Gabby?” Adrian ketakutan, mendadak keringat dingin bermunculan, membasahi pelipisnya.


“Kau selalu menghentikan aksiku untuk mencari kebenaran dari kematian Krystal! Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku?? Apa yang kau tahu?!” Gabby menggebrak meja Adrian, Adrian semakin memucat, akhirnya ia tersungkur, berlutut di depan Gabby.


“Tolong ampuni aku, Gabby! Tolong jangan laporkan aku ke polisi. Namaku sudah buruk di mata Papa, kalau sampai kasus ini menimpaku Papa pasti akan semakin membenciku.” Adrian menunduk, hampir menangis. Takut usaha yang dibangunnya selama ini untuk menyenangkan hati sang Ayah bakalan hancur karena kasus Krystal menyeret namanya.


“KATAKAN ADRIAN!! Katakan semuanya!!”


“Ba-baik, aku katakan.”


Adrian mengangkat wajahnya, keringatnya masih mengalir. Jantungnya berdegup dengan cepat. Ia masih berpikir, dari mana ia harus menceritakan semuanya.


“Kau tahukan, Krystal saat itu sedang mengantar tunangannya ke hotel milik kelurga kami dan bertemu kembali denganku juga Ivander?”


“Iya, lalu kenapa?”


“Siang itu, bukannya pulang Krystal malah merayuku, ia mengajakku tidur dengannya,” ucap Adrian, ia menceritakan flashback kisahnya dan juga Krystal.


(Flashback on)


“Ayo pergi dari sini, Krys.” Ajak Adrian.


“Tunggu, Adrian!” Krystal mengehempaskan tangan Adrian dan mendatangi Ivander.


“Boleh aku minta nomormu lagi, Van?” Krystal mengeluarkan ponselnya.


“Sure, Mi Amore!” Ivander tersenyum, ia menerima ponsel Krystal dan mengetik nomornya.


“Thanks, bye, Van. Aku akan menghubungimu.” Krystal tampak bahagia.


“Bye, Krystal. Aku menantikannya.”


Adrian berdecis, baik Ivander maupun Krystal sama saja. Keduanya sangat memuakkan di mata Adrian. Yang satu arogan dan mata keranjang, yang satu naif dan buta karena cinta.


Sungguh pemandangan yang memuakkan dan menyebalkan. Ingin rasanya aku mengubur mereka berdua bersamaan. Pikir Adrian sebal, Adrian yang saat itu baru saja kehilangan segalanya menjadi pria yang penuh emosi.


“Jangan bermain-main dengan Ivander lagi, Krystal! Tak cukupkah rasa sakit yang dulu pernah dia berikan padamu?” geram Adrian, ia menggandeng Krystal dengan kasar. Mereka berbelok pada koridor sepi arah pintu emergency exit.


“Auch, sakit, Adrian! Lepasin!” Krystal mengibaskan tangannya sampai genggaman Adrian terlepas.


“Jangan nekat dan menghubungi, Ivander, lagi.”


“Kenapa kau begitu perhatian padaku, Adrian? Apa kau menyukaiku?” tanya Krystal, ia maju selangkah, membuat tubuhnya semakin lekat dengan tubuh Adrian. Krystal mengelus naik dada bidang Adrian sampai ke pundaknya.


“Jangan coba merayuku, Krystal.” Adrian menelan salivanya, tonjolan dada Krystal menyentuh dadanya.


“Kau semakin tampan Adrian, semakin hari kau semakin mirip dengan Ivander. Apa kau mau menggantikannya? Memanjakanku?” bisik Krystal nakal pada telinga Adrian. Mungkin pribahasa yang bisa melukiskan perasaan Krystal saat itu adalah tak ada rotan akarpun jadi. Tak ada Ivander masih ada Adrian, wajah dan perawakan mereka mirip.


Adrian menelan ludahnya, ia mengajak Krystal cek in pada kamar 1405, kamar yang selalu dipakai oleh keluarga Zean saat menginap di hotel itu. Tawaran Krystal bagaikan obat penenang bagi hatinya yang tengah geram, Adrian tak menolaknya, siang itu mereka bercumbu, merasakan kenikmatan dan persatuan yang hangat. Penuh nafsu serta gairah, tak ada cinta.


“Jangan ceritakan hal ini pada Gabby, OK!” Adrian memakai kembali pakaiannya. Adrian tahu perasaan Gabby terhadap Krystal, jadi tak mungkin ia menyakiti hati Gabby.


“OK!” Krystal melakukan hal yang sama, ia berbenah diri.


“Bye, Adrian.” Krystal mengecup bibir Adrian sebelum meninggalkan kamar 1405. Tanpa ia sadari, ada seseorang yang tak sengaja melihatnya saat pintu lift tertutup.





Setelah berpisah dari Adrian, Krystal malah merasa semakin merasa menginginkan Ivander. Merasakan lagi gesekan tubuh kekar Ivander yang menghujam ke dalam tubuhnya. Krystal merindukan rasa itu, merindukan dekapan Ivander. Tanpa ragu Krystal kembali menghubunginya, mengajak Ivander bertemu.


“Aku mencintaimu, Ivander.”





Lalu waktu berjalan dengan cepat, Ivander kembali menolak Krystal untuk kedua kalinya. Alasan kehamilan pun tak bisa menempatkan Krystal pada posisi pertama di dalam hati Ivander.


Dua hari sebelum kematiannya, Krystal minum dibar bersamaan dengan Adrian. Mencurahkan isi hatinya, supaya menjadi lebih baik.


“Kakakmu memang b4jingan, Dri!!” Krystal menenggak habis isi di dalam gelas mungilnya.


“Kan sudah aku bilang! Kau yang terlalu bodoh!” ledek Adrian, agak sebal juga karena begitu terperosok Krystal baru menghubunginya.


“Aku bahkan melepaskan pria sebaik Hyung demi dirinya.” Krystal menaruh dagunya di atas meja bar, kecewa.


“Kau yang bermain api, Krystal. Jangan kecewa, sudah menjadi resiko untukmu terbakar habis.” Adrian meminum bir langsung dari botolnya.


Krystal memesan satu gelas vodca lagi. Wajahnya semakin memerah karena pengaruh alkohol. Adrian membiarkan Krystal, ia memang harus mabuk untuk meredakan stressnya.


Triing ... 🎶


Ponsel Krystal berbunyi. Krystal membacanya sekilas sebelum berdecak sebal.


“Kenapa?”


“Sialan!! Wanita ini tak berhenti menerorku! Ia mengatakan akan membunuhku bila masih bersama dengan Ivander.” Krystal mematikan ponselnya, dan merebahkan kepalanya di atas meja.


“Laporkan saja ke polisi.”


“Malas. Ntar kalau dia tahu aku telah berpisah dari Ivander pasti berhenti sendiri.” Krystal menggeliat, ia lelah dengan tubuhnya yang akhir-akhir ini kurang istirahat.


“Kenapa?”


“Lelah, aku tak bisa tidur belakangan ini?”


“Kau harus melepaskan cintamu pada Ivander, Krys.”


“Enak saja! Kalau aku menyerah dia akan hidup bahagia! Dia telah membuangku, menghancurkan semua yang kumiliki, dan aku pasti akan ikut menyeretnya jatuh ke dalam neraka.” Krystal merancau, ia mengambil gelasnya dan meminumnya dengan cepat.


“Apa maksudmu?”


“Besok aku ceritakan, dukung saja rencanaku. Bukankah kau juga begitu membencinya?!” Krystal mengecup pipi Adrian sebelum bangkit meninggalkannya.


Adrian menatap sahabatnya dengan pandangan kebingungan. Apa yang sedang direncanakan oleh Krystal?





Sejam sebelum kematian Krystal.


Krystal menenggak hampir satu botol pil obat tidur. Lelah, frustasi, dan juga sakit hati menggrogoti jiwanya. Membuatnya semakin hancur dan tak lagi bisa menerima kehidupannya. Hari ini Krystal sengaja tidur di kamar 1405, memesan kamar itu lewat bantuan Adrian. Kamar tempatnya menghabiskan malam pertamanya bersama dengan Ivander dulu.


“Aku akan membawamu hancur bersamaku, Van!” gumam Krystal.


Krystal mengambil ponselnya, mengetik cepat. Menunjukan pesan itu kepada Adrian.


KRYSTAL:


Aku akan membunuh diriku


Pakai kesempatan ini untuk


Menjatuhkan nama Ivander


ADRIAN:


Kau jangan gila Krystal!!


Jangan main-main dengan hidupmu


KRYSTAL:


Aku benci hidupku, Dri!


Lebih benci lagi dengannya.


Dia membuatku menderita.


ADRIAN:


Apa kau tidak memikirkan Gabby?


Bagaimana perasaannya bila kau mati?


KRYSTAL:


Aku sudah berpamitan padanya.


Tersenyum dan tertawa sebahagia mungkin


Aku juga membuatnya tahu bahwa aku sedang bersama Ivander malam ini.


ADRIAN:


Gila!! Jangan main-main Krystal.


KRYSTAL:


Itu permintaan terakhirku Adrian.


Fitnahlah Ivander.


Penjarakan dia.


ADRIAN:


Krystal.


Kumohon berhentilah!


ADRIAN:


Krystal??!


ADRIAN:


KRYSTAL!!


Adrian memberikan panggilan beberapa kali pada ponsel Krystal, namun wanita berambut coklat itu tak mau mengangkatnya. Adrian kebingungan, antara harus menuruti permintaan Krystal dan membuat Ivander jatuh seperti yang diharapkannya belakangan ini. Atau mencegah Krystal melakukan hal bodoh itu?!


“Shit!!” Adrian bergegas, memacu kendaraannya menuju ke hotel, ia harus menghentikan tindakan Krystal.


Di hotel, Krystal menatap pisau bergerigi dengan ujung tajam yang baru saja diambilnya dari pantry. Krystal hendak menyayat pergelangan tangannya, membunuh dirinya sendiri dan melimpahkan segala kesalahan pada Ivander. Krystal telah mensetting seakan-akan ia memang sedang menemui Ivander. Krystal telah menelfon Gabby, mengatur plot kematiannya dengan Adrian.


“Ini tak akan menyakitkan, Krystal. Sebentar lagi obat tidurnya bekerja, kau tak akan merasakan sakitnya.” Krystal menghela napasnya panjanh, bergumam pada diri sendiri.


Krystal berpikiran sempit, baginya hidup sebatang kara itu menyesakkan. Hidup tak berpihak padanya, cinta juga tak berpihak padanya, semua meninggalkannya, orang tua, oma, Jae Hyung, sampai Ivander. Lalu untuk apa dia hidup? Untuk apa dia menderita seperti ini sendirian? Lebih baik menyusul orang tuanya, lebih baik menyusul mereka ke alam sana. Mungkin ada hidup yang lebih baik setelah kematian.


Krystal menetesakan air matanya, ia hendak menyayat pergelangan tangannya saat suara bel pintu kamarnya berbunyi.


“Siapa?”


(Flashback off)


— MUSE S6 —


MUSE up


Jangan lupa bagi jempolnya


Like


Comment


Dan juga share


Jangan lupa di vote gaes!!


Thanks a lot