MUSE

MUSE
S3 ~ LOVANYA



MUSE S3


EPISODR 120


S3 \~ LOVANYA


\~Ia menangis, seorang Leon menangis demi cintanya. Leon yang ku kenal adalah pria yang kuat, dia singa jantan yang hebat. Air mataku ikut keluar, akupun begitu terluka melihatnya menangis utuk orang lain.\~


_______________


Halo, namaku Lovanya, semua memanggilku Lova. Namaku diambil dari kata love yang berarti cinta. Aku seorang gadis yang introvert. Aku tak mudah bergaul, saat SMA -pun, aku hanya punya beberapa teman saja.


Aku juga tak terlihat, tak banyak yang menyadari kehadiranku. Sebagai orang introvert, aku memang sedikit menutup diri karena malas untuk bercengkrama. Aku tak suka berbasa-basi seperti kebanyakan anak perempuan pada umumnya. Bagiku lebih baik melakukan dengan perbuatan dibanding dengan omong kosong yang tak pernah ada habisnya.


Keadaanku berbanding terbalik dengan seorang pria satu angkatanku bernama Leon. Dia sangat bersinar, seperti namanya, dia memang singa jantan dengan surainya yang indah. Seluruh sekolah mengenalnya, seluruh sekolah menyukainya. Pembawaannya yang supel dan riang membuat para wanita sangat mudah jatuh hati kepadanya. Termasuk aku.


Ya, aku menyukai Leon mulai dari kelas 1 SMA. Namun aku tak pernah punya keberanian untuk mengungkapkannya. Aku takut tertolak, jadi aku hanya bisa mengagguminya dari kejauhan.


Aku selalu mencuri-curi pandang saat upacara dan saat melewati kelasnya. Aku juga tak pernah melewatkan satupun jadwal latihan basketnya. Aku selalu menontonnya bertanding. Memberikan semangat walaupun ia tak pernah mengetahuinya.


Sampai suatu ketika, hatiku hancur melihatnya selalu jalan bersama dengan seorang adik tingkat gendut bernama Kanna. Mereka bilang mereka adalah teman sejak kecil, aku sedikit ragu melihat cara Leon memandang gadis itu sangatlah penuh dengan luapan cinta.


Hatiku sakit, karena aku juga menyukai Leon. Aku takut tak lagi bisa memandang wajahnya, tak lagi bisa mengagguminya. Sampai suatu saat, ketakutanku terbukti. Leon mengungkapkan cintanya pada Kanna saat kemenangan tim basket. Saat itu pengujung kelas XI, dan Kanna kelas X.


Apa yang dilihatnya dari gadis gendut yang mirip bab1 itu? Apa yang membuatnya begitu menyukai Kanna?


Aku hanya bisa menonton dengan tercengang. Saat semua penonton riuh bersorak aku hanya terdiam dan hampir menangis. Aku baru beranjak pergi saat air mataku menetes pada sket gambarku. Aku memang menggambar Leon saat itu, menuliskan inisial nama kami berdua, dobel L, Leon dan Lova.


Inikah yang namanya tertolak sebelum bertanding?


Getaran rasanya membuat perutku mual. Rasanya menyebalkan. Jantungku tak tenang dan hatiku terasa sakit. Emosiku memuncak. Aku ingin menyalurkannya, aku ingin membalasnya.


Esoknya, aku datang sepagi mungkin ke sekolah. Saat belum ada orang yang datang. Aku bergegas menuju kelasnya, mencoret meja belajarnya dengan coretan berbau sarkastik.


BAB1 jauhi Leon!!


Kau tak pantas untuknya.


ENYAH GENDUT!!!


GENDUT JELEK!!


Aku menyeringai puas. Aku tau tindakkanku adalah tindakan pengecut. Tapi aku memang membencinya. Aku benci gadis jelek itu merebut Leon dariku. Karena Leon adalah satu-satunya alasanku membuka diri.


— MUSE S3 —


•••


Jam menunjukan pukul 12 siang saat Kakak menelepon seseorang. Kakak kini telah sukses, ia bekerja sebagai tangan kanan seorang pengusaha kaya raya bernama Julius.


“Leon, bisa kita bertemu sekarang. Ada bisnis yang ingin aku bicarakan denganmu.” kata Kakak pada ponselnya.


Leon??? Sudah lama aku tak mendengar nama itu. Apa Leon yang Kak Iksan telepon adalah Leon yang sama? Leon, pria yang pernah aku cintai dulu.


Ah, aku jadi merindukannya. Seperti apa wajahnya kini? Apa dia masih tampan dan begitu bersinar?


“Siapa, Kak?” Aku memberanikan diri bertanya pada Kakak. Rasa penasaran menggelitikku.


“Oh, Leon. Kenalan Kakak, kalau nggak salah dia satu sekolahan denganmu dulu.” jawab Kak Iksan sembari mengambil air dari dispenser.


Deg..., jantungku langsung meloncat. Rasa bahagia menyeruak masuk ke dalam hatiku. Ternyata benar, Leon itu adalah Leon yang ku kenal.


“Dia akan kemari?” tanyaku lagi.


“Iya, Kakak menyuruhnya kemari.” jawab Kak Iksan, wajahnya sedikit heran.


“Aku akan berdandan.”


“Kenapa? Leon ingin bertemu Kakak, bukan kamu?”


“Leon itu cinta pertama Lova, Kak!” ucapku malu-malu.


“Ah, dasar!! Kau masih suka padanya?!”


“Masih tersisa sedikit cinta, Kak. Tapi andai saja ada kesempatan. Aku akan menumbuhkannya kembali,” senyumku manis.


“Leon anak yang baik. Kakak akan mendukungmu.” Kak Iksan ikut tersenyum membalas senyumanku.


“Janji, ya! Dukung aku.”


Aku berlari naik ke atas memilih baju yang lebih terlihat cantik dan juga memoleskan sedikit lipt tint agar bibirku tidak pucat.





TING TONG


Suara bel berbunyi.


“Itu pasti, Leon.” Aku langsung berlari dan membukakan pintu untuknya.


Benar saja, singa-ku berdiri di depan pintu. Tubuhnya terlihat lebih lebar dan kekar, kulitnya kini sedikit kecoklatan dengan banyak tatto menghiasi permukaannya. Rambutnya juga mulai panjang. Aku menggigit bibir bawahku dengan gemas. Dia bahkan lebih tampan dari pada saat masih SMA dulu.


“Kak Iksan ada?” tanyanya.


“Ada, silahkan masuk.” Aku mempersilahkannya masuk ke ruang tamu.


“Permisi.” izin Leon.


Aku bergegas ke dalam untuk memanggil Kak Iksan. Lalu kembali dengan dua cangkir teh hangat, lengkap dengan camilan pendamping. Aku meletakkan keduanya di atas meja tamu.


“Bagaimana kabarmu, Leon?” tanya Kak Iksan membuka pembicaraan.


“Baik, Kak. Kakak juga sepertinya sudah sukses.”


“Benar, lumayan, kehidupan kami kini lebih baik.”


“Iya, bisa ku lihat.” Leon mengamati sekeliling ruangan.


“Oh, ya, Leon. Kenalin, ini adikku, Lova. Dia satu SMA denganmu.”


“Benarkah?” Leon kaget, sudah aku duga, ia tak pernah mengenaliku.


“Lova,” salamku.


“Leon.” Leon menyambut balik jabatan tanganku.


“Bertemanlah dengan Lova, Leon. Di terlalu introvert.”


“Kakak!” selaku, jangan sampai Kak Iksan ngomong yang nggak-nggak sama Leon.


“Duduklah di sini, Lova. Siapa tau kau bisa membantu Leon.” Kak Iksan sepertinya tau apa yang sedang aku pikirkan. Aku memang masih ingin memandang wajahnya, mengaggumi keindahan rupa dirinya. Seperti namanya, dia masih sangat menyilaukan.


“Ada apa mencariku, Kak?”


“Bosku akhir-akhir ini menyukai seni keramik. Dia ingin mengisi galery seninya dengan pameran keramik. Sudah lama galery itu terbengkalai.”


“Tapi aku bukan seniman terkenal.” Leon tampak kaget mendengar ucapan Kakak.


Tentu saja dia kaget, mengisi sebuah galery bukanlah hal kecil. Namanya akan terpajang jelas pada setiap karya seni, dan semua pengunjung pasti akan langsung menilai karyanya. Mau itu pujian ataupun kritikan, seorang seniman harus siap menerimanya.


“Tenang saja, Leon. Aku pernah menunjukkan karyamu padanya, dan dia suka. Kapan-kapan aku akan mengajaknya bertemu denganmu.” lanjut Kak Iksan.


“Serius, Kak?!”


“Iya, serius.”


“Aku tak percaya, Kak. Kesemptan emas bisa datang secepat ini.” senyum Leon, aw, senyumnya sangat manis.


“Lalu?”


“Setelah orang tua kami meninggal, toko itu terbengkalai. Aku ingin kau mengurusnya, kau bisa menjual keramik karyamu di sana.”


“Berapa biaya sewanya, Kak?” alis Leon tertaut.


“Nggak perlu, Leon! Cukup kau bantu aku menjaga, Lova. Kau bisa mengajaknya bekerja, dia akan membantumu mengurus toko.” usul Kak Iksan. Aku sampai terbelalak mendengar idenya, jenius sekali Kakakku tercinta ini. Ingin rasanya aku mencium pipinya sebagai ucapan rasa terima kasihku padanya.


“Kak Iksan, kenapa kau begitu baik padaku?” Leon memandang Kak Iksan dengan sayu.


“Karena aku seperti melihat diriku di dalam dirimu, Leon. Penuh semangat dan juga berjuang keras demi cita-cita, kau tak pernah ragu saat memilih jalan hidupmu.” Kak Iksan menepuk pundak Leon.


“Bagaimana aku harus membalasnya Kak? Hutang budiku dulu saja belum bisa aku lunasi sampai sekarang.”


“Santai, Leon. Kau sudah seperti adik bagiku.”


“Terima kasih, Kak.”


Aku ikut terharu mendengarnya. Ternyata Kak Iksan dan Leon pernah punya kisah mereka sendiri.





Tak lama setelah obrolan yang cukup panjang Leon pamit untuk pulang. Aku melepaskan kepergiannya dengan senyuman manis. Aku memang tak pandai mengungkapkan perasaan lewat perkataan. Jadi aku hanya menggunakan gestur sebagai wujud rasa cintaku padanya.


“See you, Lova.”


“See you, Leon.”


Aku kembali masuk setelah melihat punggung Leon menjauh pergi. Di dalam rumah Kak Iksan sudah tersenyum licik.


“Seneng?”


“Seneng banget!! Kok Kakak bisa dapat ide semacam itu, sih?”


“Yah, Kakak hanya khawatir dengan masa depanmu, Lova. Kau terlalu pendiam dan tak banyak punya teman. Kakak takut kau tak bisa punya kekasih, hehehe.” kekeh Kak Iksan meremehkanku.


“Enak aja.”


“Kau cantik, sayangnya susah di dekati. Lagi pula Kakak yakin Leon anak yang baik. Dia cocok bersama denganmu. Kakak bisa tenang kalau meninggalkanmu besok.”


“Memang Kakak mau ke mana?” wajahku menegang.


“Menikahlah!! Kakak juga ingin punya istri kali!” Kak Iksan mencubit hidungku.


“Ah, Ya, ampun. Kau membuatku kaget!!! Aku kira Kakak akan meninggalkanku ke tempat yang jauh seperti Papa Mama!” Aku memukul lengannya sebagai bentuk protes.


“Nggak, Kakak nggak akan kemana-mana. Kakak akan selalu mengawasimu.”


“Ck, buktinya mau meninggalkanku menikah!”


“Itu perkara lain!”


“Makasih, ya, Kak.”


“Sama-sama, Lova. Kau harus berusaha sendiri, kau harus membuat Leon menyukaimu.”


“Iya, Kak. Aku akan berusaha.”


Triiing...🎶


Bunyi nada dering panggilan mengagetkan kami berdua. Sepertinya ponsel Leon tertinggal.


“Milik Leon,” kataku.


“Kau tau rumahnya?”


“Tau.”


“Kau antarkan saja, Lova. Mungkin ini kesempatan yang diberikan Tuhan untukmu.” Kakak mengelus pucuk kepalaku.


“OK, aku pergi,” pamitku riang.


“Pakai mobil, Kakak. Mendungnya semakin tebal.” Kak Iksan melemparkan kunci mobilnya padaku.


“Oke, Kak.”


Aku bergegas memacu mobil kak Ikhsan menuju ke sebuah perumahan. aku masih ingat betul alamat rumah Leon. Aku pernah mengikutinya beberapa kali saat SMA dulu. Rumahnya tak begitu jauh dari sekolah, rumah yang asri dan nyaman.


Saat aku sampai di sana aku melihat Leon sedang bertengkar hebat dengan seorang wanita cantik. Leon marah dan wanita cantik itu menamparnya. Aku menurunkan kaca jendela mobil agar bisa mendengar pertengkaran mereka. Ternyata wanita cantik itu adalah Kanna.


Mulutku terus mengangga melihatnya, Kanna yang dulu gendut dan jelek itu kini berubah menjadi wanita cantik bak bidadari. Gila!! Dalam dua tahun dia berubah menjadi begitu cantik. Serius? Berapa puluh juta yang dia pakai untuk merubah dirinya?


Tak lama Papa Kanna kelur, ia ikut campur dan memperkeruh suasana. Sampai akhirnya Kanna memutuskan Leon begitu saja. Wajah Leon terlihat syok dan begitu sedih. Ia berdiri mematung di depan perkarangan rumah Kanna.


GLEGAR...!


Suara petir menyambut turunnya hujan. Hujan yang turun di awal musim sangat deras dan dingin.


Ternyata Tuhan begitu baik padaku. Ia tak henti-hentinya memberikan kejutan dan juga kesempatan emas. Mana mungkin aku menyia-yiakan kesempatan itu begitu saja.


Leon masih berdiri di tengah derasnya hujan. Ia terus memandang jendela kamar Kanna. Aku tau hatinya pasti sangat sakit, jiwanya pasti ingin berteriak. Aku tau betapa besarnya rasa cinta Leon pada Kanna dulu. Aku yakin saat inipun belum berubah.


Tapi bukankah hati manusia itu mudah tersakiti? Hati manusia itu rapuh. Cukup kau taburkan garam di atas lukanya, dan pasti dia akan berteriak kesakitan. Lalu perasaannya akan berputar 180 derajat, ia pasti membencimu.


“Kenapa berdiri di tengah hujan?” Aku memayungkan payung pada Leon.


“Lova? Kenapa kau bisa ada di sini?”


“Ponselmu ketinggalan, aku mengikutimu kemari. Maaf, ya, aku melihat semuanya.” Aku menepuk punggungnya.


“Kau tidak salah.”


“Tapi Leon, haruskah kau berdiri di sini seperti orang bodoh?” tanyaku.


“Apa maksudmu, Lova?”


“Kanna yang mengkhianatimu dengan lelaki lain, Papanya yang menolak dan merendahkanmu. Lalu kenapa kau yang bersedih? Kenapa justru harus kau yang menjadi orang bodoh?” Aku mulai menaburkan garam pada lukanya.


Bencilah Kanna, Leon, bencilah wanita itu! Dia yang mengkhianatimu, dia tak pantas untukmu.


“Ucapanmu benar, Lova.” Leon mengalihkan pandangannya padaku.


“Peluk aku, Leon. Tenangkan dirimu.” Aku menawarkan sebuah pelukkan, memberikan obat pada lukanya.


“Kenapa dia mengkhianatiku, Lova? Apa salahku? Aku melakukan segala yang aku bisa demi dirinya.” Leon menaruh kepalanya di atas pundakku. Ia menangis, seorang Leon menangis demi cintanya. Leon yang ku kenal adalah pria yang kuat, dia singa jantan yang hebat. Air mataku ikut keluar, akupun begitu terluka melihatnya menangis utuk orang lain.


“Sstt..., jangan menangis, Leon. Dia tak pantas kau tangisi.” Aku membuang payungku dan lebih memilih untuk mengelus rambutnya.


Bencilah Kanna, Leon! Dan lupakan dirinya.


— MUSE S3 —


Muse Up


Jangan lupa like comment dan vote


Ayo VOTE MUSE, buat voter terbanyak author kasih pulsa 10 ribu tiap minggunya.


Enakkan!! Kapan lagi baca novel gratis masih dapat hadiah.. hihihi..


Love, dee


❤️❤️❤️