
MUSE S3
EPISODE 103
S3 \~ MENGINAP
\~ Aku masuk ke dalam hangatnya suhu tubuh Leon. Wajahku menempel pada dada bidangnya, aroma tubuh Leon tercium begitu jelas. Feromon yang manis.\~
_______________
“Tidurlah, Kanna.” Leon menaruh lipatan tangannya pada kusen jendela. Seperti biasa kami selalu berdebat untuk menentukan siapa yang akan menutup jendelanya terlebih dahulu.
“Kau dulu, Leon,” jawabku, aku melakukan hal yang sama dengannya. Melipat tangan dan menaruhnya dengan manis di atas kusen jendela.
“Kau ingin menggenggam tanganku?” Leon menggodaku, ia mengulurkan tangannya.
“Nggak mau,” ku gelengkan kepalaku menolak tawarannya.
“Lalu?”
“....”
Besok Leon akan berangkat dengan bis paling pagi. Ia akan kembali ke kampung halaman orang tuanya di desa T untuk menghabiskan liburan. Aku bakalan kesepian seorang diri di sini. Rasanya aku belum rela berpisah dengannya malam ini. Aku masih ingin merasakan kehangatan tangannya dan mengagumi wajah tampannya.
“Aku ingin kau memelukku, Leon. Aku belum rela berpisah denganmu,” jawabku jujur dan malu-malu.
“Beneran?” Leon mengangkat tubuhnya.
“I..., iya,” gagapku heran dengan responnya.
“Oke, buka jendelamu lebar-lebar, Kanna!” Leon mengambil ancang-ancang, ia menaikkan salah satu kakinya ke atas.
“Ka..., kau mau apa, Leon?” tanyaku.
“Apapun yang terjadi, kau jangan berteriak, ya!” Leon tersenyum.
Aku tau Leon adalah tipe pemuda yang nekat dan penuh semangat. Tapi ini terlalu nekat! Walaupun jarak jendela kami tidak jauh, tetap saja berbahaya kalau jatuh. Belum lagi kalau Papa dan Mamaku sampai tau, atau mungkin ada warga ronda yang memergoki Leon. Bisa-bisa kami dirajam batu oleh orang satu kampung!
“Leon jangan!!” cegahku.
“Kau bilang masih ingin memelukku?”
“Tapi nggak gini, donk, caranya.”
“Trus bagaimana? Apa aku harus turun dan mengetuk pintu rumahmu? Lalu bertanya ‘Permisi, Om boleh saya masuk untuk memeluk, Kanna?’.” kekeh Leon yang merasa geli dengan ucapannya sendiri.
“Tunggu!! Aku kunci kamarku.”
Setelah mengunci kamar dan menarik napas panjang beberapa kali aku membuka lebar-lebar daun jendela. Jendela kami model kupu tarung, jadi daun jendelanya bisa terbuka sangat lebar.
Ya, Tuhan, jantungku berdegup sangat kencang!! Aku merasa aneh namun juga bersemangat!! Leon memang gila, dan kegilaannya sudah berhasil menular kepadaku. Oh, Gosh, Oke, aku siap! Aku mengulurkan kedua tanganku untuk membantunya meloncat ke dalam jendela.
“Jangan tegang, Kanna!” Leon menertawakanku, wajahku pasti sangat lucu saat ini. Aku memang terlalu tegang, ini pertama kalinya aku memasukkan seorang laki-laki ke dalam kamar.
“Satu, dua, tiga!” Leon menghitung aba-aba dan meloncat masuk ke dalam kamarku.
“Ach!!” pekikku pelan saat tubuhnya terjatuh di atas tubuhku.
“Hallo, Cimut!!” Leon tersenyum padaku.
Ya, Tuhan, maafin aku yang belajar jadi gadis nakal malam ini. Aku sungguh tak ingin berpisah darinya. Aku tak tahan melihat senyuman itu dan ingin memonopolinya setiap saat.
Aku menutup mulutku, setengah tak percaya. Leon ada di dalam kamarku dan aku menjadi gadis yang nakal. Waw, rasanya terlalu berbahaya, hati dan perutku terus berdesir, parahnya lagi jantungku berloncatan seakan ingin keluar. Namun, aku benar-benar menyukai rasa itu! Debaran baru yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.
“Leon,” panggilku lirih.
Leon memamerkan giginya seraya membantuku untuk bangkit berdiri. Kami duduk di atas ranjang, dan suasananya menjadi sedikit canggung. Aku tak tau harus berbuat apa? Aku hanya bisa memainkan jari-jariku agar tidak terlalu gerogi. Leonpun terus menggaruk kepalanya, padahal mungkin tidak gatal.
“Waw, kamarmu rapi sekali. Nggak kayak kamarku.” Leon mengakui kalau kamarnya berantakan.
“Masa, sih?” sudut bibirku tersungging.
“Kamarku jorok, Mama sering ngomel karenanya.” Leon bangkit dan melihat-lihat kamarku. Penampilannya dengan baju tidurnyapun terlihat tampan. Padahal hanya kaos oblong dan juga celana kolor pendek.
Huwah, cinta memang aneh....
“Yang rajin bersihin, donk!”
“Iya, iya, bawel!” Leon kembali dan mencubit hidungku.
“Tidurlah, Kanna. Aku akan memberimu pelukkan.” Leon membuka lebar lengannya.
Auw, desirannya begitu terasa menggelitik perut. Aduh duh, aku benar-benar tak sanggup menolak pesonanya. Aku berjalan masuk ke dalam pelukkannya dan melingkarkan tanganku pada pinggangnya.
“Good night, my girl.” Leon mengecup keningku.
“Good night, Leon.” Aku mengangkat wajahku, sedikit berjinjit untuk mengecup bibirnya. Duh, Kanna, kau sekarang semakin berani saja!
Leon mengusap pelan pucuk kepalaku sebelum pergi. Ia kembali mengambil ancang-ancang untuk melompat kembali.
“Leon!!” panggilku, aku menarik kaosnya, menahan Leon agar tidak meninggalkanku.
“Kenapa?”
“Apa kau mau menginap di sini?” tanyaku.
“Kanna???? Kau serius??” Leon syok, aku juga syok. Aku sendiri juga tak tahu dari mana datangnya semua keberanianku untuk menanyakan hal itu.
“E..., enggak mau, ya?” Aku kecewa.
Kenapa aku kecewa? Hais, Kanna kau pasti sudah benar-benar gila!! Kau itu cewek, mana baru kelas satu SMA! Sudah berani ngajakin cowok menginap di kamarmu! Gila! Aku gila Tuhan!!
“Mau, donk!” Leon langsung menurunkan kakinya. Tak kusangka dia langsung menyetujuinya begitu saja. Benar-benar seorang Leon.
“Hei!!” Leon membungkam mulutku, takut ada yang mendengarnya.
“Hihihi, maaf, aku kelewat geli dengan kelakuanmu, Leon.”
“Harusnya aku yang bilang seperti itu, Kanna.”
“Aku sendiri heran, kenapa aku bisa begitu nekat?!”
“Kau pasti sangat cinta padaku?!”
“Bisa jadi, Leon. Aku benar-benar tak ingin berpisah darimu.” Aku menjauhinya.
“Ck, seperti tak ada hari esok saja?!” Leon mengekor, berhenti pada sisi ranjang.
Aku menghela napas panjang dan mengatur posisi tidur di ranjang. Aku menepuk sisi ranjang Queen size milikku agar dia ikut merebahkan diri.
“Serius?” Leon nampak ragu.
“Huum, kemari!” Aku mengangguk, kembali menepuk lagi kasur dengan pelan.
Leon mengangkat alisnya dan menuruti keinginanku. Ia berbaring di sampingku, memandang langit-langit kamar yang terang karena cahaya lampu.
“Mirip dengan kamarku.”
“Namanya juga perumahan.”
“Benar.”
“Ayo kita foto, Leon!” Aku bangkit dan mengambil ponsel di atas nakas. Menghidupkan aplikasi foto.
“Kau yakin, Kanna?”
“Hanya untuk kita berdua, Leon. Kita tak memiliki foto mesra berduakan?” cengirku.
“Baiklah, ayo kita berfoto!” Leon semangat, ia membentuk tanda metal dengan jemarinya sambil menjulurkan lidah. Sedangkan aku membuat mataku berada di ujung dalam sambil mengerucutkan bibirku. Kami mengulang beberapa kali dengan pose yang berbeda-beda. Dia bahkan sempat mencuri-curi kecupan pada pipiku.
“Lucu banget!” senyumnya.
Aku menggeser-geser layar ponselku, melihat beberapa gambar foto hasil jebretan tanganku.
“Aku jelek banget!!” Aku melihat hasilnya. Sudah berkali-kali aku mengulang take, dan tetap saja hasilnya begitu buruk saat bersanding dengan Leon. Dia terlalu bersinar, sedangkan aku terlalu suram.
“Nggak jelek kok, lucu.”
“Lucu dari mana? Lihat doble chin begini!” cibirku sebal.
“Sudah kalau gitu nggak usah dilihat!” Leon merebut ponsel dari tanganku dan mengembalikannya ke atas meja.
“Leon!” seruku protes.
“Kanna!” Leon menirukan nada protesku.
Leon menggelitik perutku agar aku kembali ceria, “puft...!” Aku menahan tawa.
“Ck, sudah, ayo tidur!! Kalau nggak tidur aku balik, hlo!” ancam Leon.
“Oke.”
Aku mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur. Kini kamar menjadi remang, hanya lampu kecil dan sinar bulan yang masuk ke dalam melalui jendela kamar yang menjadi sumber cahaya utama.
Leon memelukku erat, kami berbagi selimut yang sama. Napasnya terasa begitu berat dan panas pada tengkukku. Jantungku benar-benar berdebar dengan cepat. Bisa kurasakan bunyi debaran jantung Leon yang tak kalah kencang. Iramanya sangat indah.
“Wanginya.” Leon menghirup aroma rambutku. Untung saja sore ini aku sudah mencuci rambut.
Aku memutar tubuhku, kini kami saling berhadapan. Leon mendekatkan wajahnya dan menciumku. Kami berbagi napas dan lumattan mesra. Bermain dengan tautan lidah, rasanya aneh namun menagihkan. Kami berhenti untuk menarik oksigen. Wajah Leon begitu merah dan hangat, aku menyentuhnya dengan kedua telapak tanganku.
Leon tersenyum dan menggenggam tanganku, tangannya yang lain menarik tubuhku agar aku mendekat masuk dalam pelukkannya. Aku menurut, masuk ke dalam hangatnya suhu tubuh Leon. Wajahku menempel pada dada bidangnya, aroma tubuh Leon tercium begitu jelas. Feromon yang sangat manis.
Ah, aneh sekali, kenapa rasanya benar-benar nyaman?
Dikala hatiku terasa kering, Leonlah oasisku.
Dikala merana menyelubungi dadaku, Leonlah yang menghelanya.
Dikala aku menangisi kehidupan, Leonlah yang menggantinya dengan canda tawa.
Kini, kenyamanan tubuhnya membuatku melupakan semuanya. Genggaman tangannya terasa begitu hangat. Pelukan lengan kokohnya membuatku begitu aman. Ini pertama kalinya aku tertidur dengan begitu nyenyak. Sepertinya aku tak akan pernah bisa hidup tanpa dirinya.
“Kau sangat berbahaya, Kanna!” bisik Leon.
— MUSE S3 —
Muse Up lagi buat nemenin buka puasa kalian. Akankah Kanna berhasil diet kelas XI nanti?
MUSE UP!!
YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.
VOTE, LIKE, dan COMMENT ❤️
Comment kalian bikin saya semangat 45!
PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!
Terima kasih sudah membaca,
Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama
Love,
Dee ❤️❤️❤️