
MUSE S2
EPISODE 62
S2 \~ PERTANYAAN
\~ Entah kenapa rasanya begitu aneh, seakan-akan aku merindukan kebersamaan ini. Kami benar-benar seperti keluarga bukan? Tertawa dan bercanda di meja makan. \~
•••
Suara hujan mulai terdengar riuh saat turun dan menyentuh permukaan bumi. Pantas saja tidak ada matahari padahal sudah jam 6, ternyata mendung. Hujan menyambut pagi hari ini dengan luapan energi. Tak beda dengan pria di depanku saat ini. Energinya terlalu meluap sampai bisa nekat melompat ke dalam balkon apartemenku.
“Bagaimana ini? Aku ada meeting jam 9.” Arvin mengacak rambutnya, ia frustasi karena tak bisa melompat kembali ke balkonnya. Terlalu bahaya meloncat saat hujan, tralisnya pasti licin.
“Salah sendiri,”ejekku.
Arvin terduduk di pinggir ranjang. Masih mencari cara agar bisa kembali ke dalam kamarnya.
“Kenapa nggak pakai passcode, sih?” tanyanya heran, kenapa apartemen masih pakai kunci dan bukan passcode.
“Inikan apartemen murah, bukan apartemen mewah,” jawabku.
Arvin merebahkan separuh dirinya di kasur. Aku lama-lama terbiasa juga melihatnya bertelanjang dada seperti itu. Mau bagaimana lagi, kasihan juga kalau harus menyuruhnya melompat.
“Aleina harusnya punya kunci duplikat.” Arvin menjambak rambutnya.
“Hubungi dia, donk. Ini ponselku pakai saja.”
“Nggak hapal nomer ponselnya.”
“Sosmednya?”
“Ga tahu juga. Aku bukan tipe lelaki yang KEPO.”
“Lalu kenapa KEPO terhadapku?” Aku bangkit dan mengambil beberapa kaos yang ku rasa ukurannya cukup besar.
“Kalau itu beda.” cengirannya bikin salah tingkah.
“Dasar, coba kau pakai kaosku, Kak.”
“Mana cukup?”
“Dicoba aja. Ini XL kok. Dulu aku belinya kebesaran.”
Dengan ragu Arvin menerima kaos berwarna pink bergambar anak kucing. Ia mencoba memakainya, dan aku langsung tertawa terpingkal-pingkal begitu melihatnya.
“Haha haha haha...,” aduh sampai ada air yang keluar dari sudut mataku karena geli.
Kaos itu terlihat sangat ketat di tubuh kekar Arvin. Bayangkan saja, ototnya yang kencang membuat gambar wajah anak kucing terlihat tak lagi imut. Kaos itupun tak bisa menutup sampai ke perutnya, membuatnya seakan-akan memakai baju model crop top.
“Lebih baik dari pada tidak.” Arvin ikut tertawa, dasar memang laki-laki ini sudah gila. Otaknya mulai nggak center kali kebanyakkan lembur.
Setelah puas tertawa aku bergegas ke pantry dan mengambil beberapa bahan makanan di kulkas.
“Kau bisa memasak?”
“Bisalah, tapi cuma sederhana.”
“Masak apa?”
“Bubur, kau mau?”
“Boleh, aku akan mencoba masakan calon istriku.” Arvin duduk di depan meja pantry.
“Siapa, siapa calon istrimu?” Aku mencoba memperjelas ucapannya barusan. Siapa tahu aku salah dengar.
“Kalila. Namanya Kalila.” senyum Arvin.
“Jangan gila, Kak,”
“Siapa yang gila?”
Aku merasa wajahku panas, uap panas rebusan bubur membuatnya semakin panas. Aku beralih memotong sayuran dan juga menggoreng telur dadar sebagai pelengkap bubur.
“Ada yang bisa ku bantu?” tanya Arvin, ia berdiri di sampingku, penampilannya tidak bisa tak membuatku tertawa.
“Kenapa tertawa lagi?!”
“Kau lucu, Kak.” Aku tertawa sampai berjongkok.
“Ledek aja aku terus!!” Arvin membalasku, dia menggelitik perutku.
Bunyi luapan bubur menghentikan aksinya. Aku bergegas bangkit dan mengaduk buburnya agar tidak meluap. Tapi uap panas menyakiti tanganku, “auch...!”
“Kemarikan!” Arvin bergegas mengguyur tanganku dengan air dingin.
“Kenapa nggak hati-hati, sih?”
“Maaf,” hlo kok aku malah minta maaf sama Arvin?
“Kau duduk saja, biar aku yang mengaduknya.” Arvin merebut spatula dari tanganku.
Aku menurut, duduk di meja pantry. Memandang punggungnya yang lebar menyelesaikan masakkanku. Dengan telaten Arvin mengaduk bubur dan menumis sayuran. Walaupun outfit -nya terlihat lucu dan menggemaskan, tapi tak dipungkiri kalau ia memang begitu tampan.
“Silahkan, Tuan Putri. Cobalah masakan hambamu yang hina ini.” setelah berhiperbolla, Arvin meletakkan semangkok bubur lengkap dengan sayur dan telur dadar.
“Wah, hebat. Aku kira bakalan gosong,” godaku.
“Coba dulu, aku tak yakin dengan rasanya.” Arvin melepaskan apronnya.
“Enak, kok,” pujiku setelah memakan sesuap bubur.
“Benarkah?! Syukurlah kalau kau suka.” Arvin mengelus rambutku. Ah, lagi-lagi kehangat ini kembali terasa.
Aku menunduk untuk menyembunyikan wajahku, kembali fokus memakan bubur buatan Arvin. Arvin juga hanya tersenyum dan memulai sarapannya. Entah kenapa rasanya begitu aneh, seakan-akan aku merindukan kebersamaan ini. Kami benar-benar seperti keluarga bukan? Tertawa dan bercanda di meja makan.
“Mamaku selalu memasak sarapan untuk kami setiap pagi.” Arvin bersuara.
“Wah, hebat,” pujiku, tak semua wanita kaya mau melakukan hal itu. Mereka punya pelayan dan juga koki pastinya.
“Dulu aku kira itu hal yang membosankan dan menyebalkan. Mengingat masakan yang Mama masak hanya berputar itu-itu saja.” ucap Arvin.
Aku mendengarkan ceritanya, “lalu?”
“Tapi Papa begitu menyukainya. Ia suka melihat Mama menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Dan...,”
“Dan?” Aku menaikkan alisku menunggu kelanjutannya.
“Dan sekarang aku tahu kenapa?” Arvin memandangku sambil tersenyum manis.
Oh, Tuhan. Aku meleleh.
Tidak! Kenapa ucapannya begitu manis? Dan senyumannya selalu berhasil membuatku tersipu malu.
Ya, ampun Kalila sadarlah.
Arvin mendekatiku, menahan tubuhnya dengan kedua tangan pada dudukan kursiku. Tangannya terasa hangat saat menyentuh kulit paha. Ia memutar kursiku agar kami saling berhadapan. Memandang dalam diam. Aku mengullum sendok makan untuk menyembunyikan rasa canggung.
“Aku mencintaimu, Baby. Aku serius.”
Arvin mengambil sendok dari tanganku dan mencium bibirku. Lekat dan dalam. Lagi-lagi jantungku berdebar tak karuan.
— MUSE S2 —
OH KALILA.
Udah terima aja, nggak usah galau
Ntar aku ambil hlo arvinnya kalau kelamaan.
😂😂😂
YO DI LIKE
YO DI COMMENT
YO DI VOTE
BIAR MUSE MAKIN FEMES
Makasih juga bagi yang sudah vote dan mendukung saya dengan jempolnya yang begitu luar biasa. Terima kasih comment dan juga masukkan- masukkan yang membangun.
Saya senang baby, saya bersyukur...
Walaupun readers saya mungkin nggak banyak, tapi kalian sangat LUAR BIASA.
❤️❤️❤️❤️
Lup ya