MUSE

MUSE
S2 ~ LOST



MUSE S2


EPISODE 86


S2 \~ LOST


\~ Cukup aku yang akan mengingatnya Kalila, Bahkan jika kisah kita hanya akan menjadi masa lalu, dan terkikis oleh zaman. Bahkan sampai seperti kayu arang terbakar menjadi abu dan terhapus oleh anginpun, Cintaku padamu tidak akan pernah padam... \~


•••


Aku memutar kendali mobil mengitari jalanan menuju ke Palette Cafe. Sudah satu minggu aku terbaring di rumah sakit. Dan hari ini, begitu aku diperbolehkan pulang, aku langsung bergegas untuk menemui Kalila.


Aku begitu merindukannya, dadaku seakan mau pecah karena menahan rasa ini.





Mengagumimu, mungkin itulah kata-kata yang bisa aku gambarkan saat aku melihat dirimu pada kaca pintu cafe. Kau terlihat baik-baik saja, bahkan bisa tersenyum selebar itu saat ini. Sayangnya kau tak tersenyum untukku. Kau tersenyum untuk lelaki lain.


Aku mencoba untuk mengatur hatiku, menata akal sehatku. Jujur melihatmu tersenyum dan tertawa padanya membuat hatiku kembali geram, aku marah. Tapi aku tak boleh kembali merusaknya, merusak hubungan kita.


Setelah menarik napas panjang sebanyak tujuh kali, aku merasa jauh lebih baik dan siap untuk menghadapi Kalila. Aku turun dari mobilku dan berjalan ke arah cafe. Aku akan mencoba untuk berbicara lagi dengannya. Aku harap Kalila hanya main-main dengan permintaan putusnya tempo hari.


Krrriingggcling Kling... 🎶


Suara lonceng yang selalu terdengar saat masuk ke dalam cafe menyambutku.


“Kami sudah tutup!” seru Caca.


Seketika itu juga, mereka berempat langsung memandangku dengan mata terbelalak.


“Arvin?!” Kalila terpekik.


“Mau apa kau kemari?” Angga menghampiriku. Caranya memandangku penuh dengan rasa emosi.


“Aku hanya ingin bicara dengan Kalila.” jawabku, aku mencoba untuk lebih santai menghadapinya.


“Tak ada yang perlu dibicarakan lagi!” Kalila membuang mukanya.


“Apa maksudmu, Kalila? Masih banyak hal yang belum terselesaikan!” teriakku.


“Tidak, semuanya sudah berakhir.” Kalila menangis. Sebenarnya ada apa? Apa aku melakukan kesalahan lainnya lagi?


“Kau dengarkan!! Kalila nggak mau! Jadi lebih baik kau pergi dari sini!” Angga mendorongku.


Aku memandangnya dengan tajam, aku mengepalkan tanganku untuk menahan amarah.


“Kalila!!” panggilku.


Angga mendorong tubuhku keluar, dan aku membalasnya. Aku mendorong tubuhnya juga. Kami saling adu pandangan tidak suka.


“Hentikan!! Jangan bertengkar di sini!!” Kalila berteriak, Melody mendekap lengannya.


“Bicaralah denganku, Kalila. Kumohon!” Aku merenggek padanya.


“Kau tuli, ya? Kalila bilang nggak maukan?!!” Angga mencengkran kerahku.


Aku kehabisan kesabaran dengannya, aku menahan diriku demi Kalila. Tapi laki-laki ini juga sepertinya nggak mau menahan dirinya. Baiklah kalau itu yang dia inginkan.


BUK!!


Aku meninju wajahnya, dia membalasku, aku menghindar dan meninju lagi perutnya. Membuatnya tersungkur ke bawah. Tanpa ampun aku kembali menarik kerahnya dan melepaskan sebuah bogem mentah lagi.


“ANGGA?!” pekik Kalila.


Aku menarik kerah Angga, “kita bicara, Kalila!! Atau aku bunuh dia!!”


“Baik, ayo, ayo kita bicara Arvin..., tapi tolong lepaskan Angga!!” Kalila menangis dan mengikuti ucapanku. Aku melepaskan Angga, membuatnya kembali tersungkur ke bawah.


“Kalila, jangan!!” Angga masih bisa berkata-kata, ingin aku congkel saja lidahnya keluar.


Lelaki lemah yang berusaha untuk membela Kalila! Emang apa yang bisa dia berikan pada Kalila?


“Diam!!” Aku menendang Angga.


“KYAA!!!” Mereka bertiga berteriak karena takut.


“Ayo, Kalila.” Aku mengulurkan tanganku pada Kalila.


Dengan gemetaran Kalila menerima gandenganku. Tangannya dingin dan berkeringat. Maaf, baby aku membuatmu kembali ketakutan. Aku hanya ingin berbicara berdua denganmu, salahnya kenapa menghalangiku.


Aku menarik tangan Kalila dan mengajaknya keluar, masuk ke dalam mobilku. Aku harus mengajaknya berbicara tanpa ada yang mengganggu kami lagi.


Aku menghidupkan mesin mobil dan melaju menuju pada jalanan di pusat kota. Berputar-putar tanpa arah dan tujuan yang pasti. Kalila hanya diam, dia memainkan jemarinya sambil menerawang jauh ke arah luar.


“Maafkan aku, baby,” suaraku terdengar, mencoba untuk memecah keheningan. Aku menggenggam tangannya.


“Aku bukan baby -mu. Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi.” Kalila menarik tangannya dari genggamanku.


“Kalila? Apa kau benar-benar ingin putus dariku?” dengan spontan aku menginjak rem. Membuat Kalila sedikit terpental.


TIN!!! TIIINNN!!!!


Suara klakson dari mobil-mobil belakang langsung terdengar memekakkan telinga.


“Jalan Kak!! Kau mengganggu jalan!!” Kalila berteriak, ia marah.


Aku kembali menjalankan mobilku, masuk ke arah jalan raya antar kota. Mencari jalanan yang lebih lebar dan legang.


“Kau benar-benar ingin putus dariku?” tanyaku lagi, ku ulangi pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.


“Iya, aku ingin putus darimu!!” Kalila berteriak, ia memandangku dengan nanar. Wajahnya memerah dan air matanya mulai mengalir.


“KALILA?!”


“Aku muak denganmu, Kak!! Aku lelah!!” Kalila melepaskan gelang pemberianku dan melemparkannya padaku. Bisa ku lihat kekecewaan memenuhi wajah cantiknya.


“Apa kau kecewa mengetahui keadaanku, Kalila?! Apa kau tak bisa menerima segala kekuranganku?”


“Benar!! Aku benci dirimu yang tak pernah berkata jujur padaku!!”


“Aku berusaha, Kalila. Aku berusaha untuk jujur padamu. Aku hanya ingin menunggu saat yang tepat.”


“Tidak!! Kau bohong!!”


“Kalila, kumohon dengarkan aku. Aku mencintaimu, bagiku kau segalanya.”


“TIDAK!! BAGIMU AKU HANYA WANITA MURAHAN!!! Yang bebas kau tiduri kapanpun kau butuh?!”


“Tidak, kau satu-satunya cintaku!!”


“Jangan bohong, Arvin!! Kau sudah bertunangan bukan!!!”


“Siapa yang bilang???!!”


“Tunanganmu!!”


“Diana?”


“Iya, Diana!!”


“Dan kau percaya???”


“Kenapa tidak??!”


“KALILA!!!”


“APA?!”


“Kalau aku tidak serius padamu, kenapa aku sampai mengajakmu menemui orang tuaku??!!” Aku menarik napas panjang-panjang, berusaha mengatur emosi.


“....” Kalila hanya diam saja.


“Kalau aku punya tunangan, apa mungkin aku mengajakmu menemui Papa dan Mamaku, Hah???”


Kalila tetap diam saja, apakah Diana telah berhasil menghasut Kalila? Apa dia menyakiti Kalila? Apa yang dia katakan pada Kalila? Kenapa sekarang Kalila begitu membenciku?


“Katakan, Kalila!! Apa kau sudah tak mencintaiku lagi?!” tanyaku.


Kalila hanya diam saja, aku menunggu jawabannya dengan emosi.


“Katakan!!!”


“Aku tidak lagi mencintaimu!”


“KAU BOHONG!!!” Aku tahu Kalila pasti berbohong, aku tahu dia masih mencintaiku.


“AKU TIDAK BOHONG!!” Kalila ikut berteriak.


“KATAKAN KAU MENCINTAIKU!!!”


Aku menekan lebih kuat pedal gas, membuat mobilku melaju dengan kecepatan tinggi pada jalanan antar kota.


“ARVIN!! Kau gila!! Berhenti!! Jangan mengebut!!!” Kalila ketakutan, ia mencengkram lenganku.


“KATAKAN!!! KATAKAN KAU MENCINTAIKU!!” ancamku lagi.


Mobil kami masih melaju dengan cepat, aku masih menginjak gas dalam-dalam, melaju dengan kencang, menyelip mobil demi mobil, truck demi truck, bis demi bis.


“KATAKAN KALILA!!”


“STOP ARVIN!! Kumohon!!”


“MAKA KATAKANLAH!!”


TIIIIINNNN...!!!!!!!! Suara klakson terdengar.


“ARVIN!! AWAS!!!!”


Sebuah truck melaju kencang dari arah berlawanan, dengan cepat aku membanting setir untuk menghindarinya, namun naas truk itu gagal mengerem dan oleng menghantam sisi kiri body mobilku, membuat kami terpental. Mobil berguling beberapa kali ke arah jalan raya. Airbag menyembul keluar, namun serpihan kaca tetap menghujam ke arah kami.


BRRUUUKKK!!! DUAR!!


Mobilku membentur beton pembatas jalan dan berhenti berguling. Aku mencoba mengumpulkan kesadaranku. Merangkak keluar dari dalam mobil. Aku bergegas mencari keberadaan Kalila, mengecek kondisinya.


“Kalila!!! Kalila!!” Aku melihat Kalila tak sadarkan diri, wajahnya yang cantik penuh luka gores dari serpihan kaca.


“KALILA!!!” Aku berteriak memanggil namanya. Menggoncangkan pelan tubuhnya.


“Darah...?!” Aku melihat tangaku yang penuh dengan darah, darah itu berasal dari perut Kalila. Perutnya tertancap kaca berukuran cukup besar.


“Kalila!! Bangun, baby! Kumohon jangan tinggalkan aku!” isakku.


“TOLONG!! TOLONG PANGGIL AMBULAN!!!” teriakku! Aku menangis meminta bantuan pada orang yang berkerumun di sekitar kami.





Aku mengikuti rentetan perawat yang menggledek tubuh Kalila masuk ke dalam ruang oprasi.


“Bertahanlah Kalila, Kumohon!!” Aku terus melirihkan kata-kata itu sepanjang perjalanan kami.


“Mohon tunggu di sini!” seorang perawat melarangku ikut masuk ke dalam kamar oprasi.


“Tolong selamatkan Kalila!!”


“Kami akan berusaha sebaik mungkin.”


Aku terperosot jatuh pada dinginnya lantai rumah sakit. Melihat ke arah tanganku yang penuh dengan darah Kalila. Aku menangis menyesali kebodohanku. Sebenarnya apa yang sedang kami pertengkarkan sampai jadi seperti ini??


Ya, Tuhan, aku bahkan tidak ingat dengan apa yang sedang kami pertengkarkan?!


Aku menangis sambil menjambak rambutku, kalau terjadi apa-apa pada Kalila apa yang harus aku lakukan?!


“Tuan? Apa anda keluarganya?” tuba-tiba seorang perawat keluar dan memanggilku.


“Benar, ada apa?!” Aku bangkit dan bergegas menghampirinya.


“Pasien mengalami syok, dan kehilangan banyak darah. Stok darah golongan A kami habis, Tuan. Apa ada keluarga yang punya golongan darah yang sama?”


“Golongan darah saya A, suster. Ambil, suster, ambil sebanyak yang anda butuhkan!!” jawabku.


“Baik, ikut saya, Tuan.”


Karena dokter kehabisan waktu, akhirnya dokter melakukan tindakan transfusi darah secara langsung. Suster membersihkan diriku dan mengganti pakaianku dengan baju steril, mereka menghubungkan jarum transfusi darah pada siku lenganku dan mengalirkannya pada pergelangan tangan Kalila.


Dinginnya kamar oprasi membuat seluruh badanku terasa ngilu dan bergetar hebat. Aku melihat ke arah langit-langit, hanya seberkas cahaya terang dari lampu. Bunyi alat-alat deteksi kehidupan terus terdengar miris. Beberapa perawat terlihat mondan-mandir membantu dokter menangani tubuh Kalila.


Aku memiringkan wajahku ke kiri agar bisa melihat dirinya. Aku melihat Kalila terbaring tak sadarkan diri, walaupun tubuhnya tertutup oleh gorden hijau pembatas, namun aku masih bisa melihat wajahnya. Wajahnya yang cantik tergolek lemah tak berdaya, matanya tertutup, bibirnya terlihat memucat, sekujur tubuhnya penuh dengan selang penunjang kehidupan.


Aku menangis saat melihatnya, ternyata jiwaku begitu rusak! Aku memang tak bisa disembuhkan. Aku memang adalah seorang monster. Aku iblis. Aku membawa sendiri wanita yang ku cintai pada ujung hidupnya, hanya karena emosiku yang tak terkontrol.


Aku terus saja menyakitinya lagi dan lagi.


Aku tak bisa menepati janjiku untuk tidak menyakitinya.


Ya, Tuhan. Kalau aku bisa menukar nyawaku dengan nyawanya aku rela...


Lebih baik aku saja yang mati agar dia bisa hidup dengan bahagia.


Aku melirik ke arah siku tangan. Darah merah mengalir dari pembuluh nadiku melewati selang trasnfusi dan masuk pada nadi Kalila. Kini nadinya bersatu dengan nadiku, dalam tiap detakan jantungku dipenuhi dengan dirinya, dalam tiap detakan jantungnya dipenuhi olehku.


Aku bahagia Kalila, asal kau bisa hidup dengan bahagia.


“Tuan!! Sadarlah!! Tuan!!” seorang perawat menggoncangkan tubuhku pelan.


Air mata menetes perlahan dari kedua sudut mataku.


Tuhan, terima kasih karena telah mengizinkanku mengenal wanita sebaik dirinya.


Matipun aku rela, Tuhan.


Aku akan selalu mengingatnya, kecantikanmu, senyuman manismu, juga rintihan merdumu.


Ah, aku mulai mengingat semua kenangan indah tentang kita Kalila.


Tentang hujan yang terus menderu saat kita pertama kali berhubungan intim malam itu.


Tentang susahnya aku saat berusaha mencari dirimu.


Tentang pertemuan yang menakjubkan malam itu.


Tentang indahnya saat-saat aku mengejar cintamu.


Tentang bahagianya aku saat melihatmu tersenyum manis kala itu.


Juga tarian kita di tengah hujan.


Hujanlah yang terus menjadi saksi tentang cinta dan air mata kita berdua, Kalila.


Kini biarlah hujan pula yang menghapus segala kenangan indah tentang diriku dalam hatimu, sayang.


Cukup aku yang akan mengingatnya Kalila, Bahkan jika kisah kita hanya akan menjadi masa lalu, dan terkikis oleh zaman. Bahkan sampai seperti kayu arang terbakar menjadi abu dan terhapus oleh anginpun,


Cintaku padamu tidak akan pernah padam...


“Tuan!! Sadarlah!!”


“Dokter....!!”


Suara mereka semua terdengar semakin menjauh. Kini hanya tinggal kegelapan yang begitu pekat yang terlihat di hadapanku.


Hiduplah Kalila, cintaku.


Bahagialah...


Dan,


Maafkan aku...


Baby...


— MUSE S2 —


Arvin tolong jangan tinggalkan aku...


Hiks..


Hiks..😭


Saya menangis bombay..


MUSE UP


LIKE


COMMENT


VOTE


THANKS SAYANGKUH


Ada giveaway menarik buat para readers setia MUSE.


Caranya gampang;


•Baca dan like tiap episodenya, comment bila berkenang.


•Vote MUSE sebanyak-banyaknya.


•Masuk ke Grup Chat Author.


•Di tutup 15 Mei 2020.


•Pengumuman pemenang di Grup Chat!!


3 orang Readers yang vote MUSE paling banyak akan mendapatkan kenang-kenangan dari saya berupa kaos bertuliskan MUSE, bahan katun combet 30s


❤️❤️❤️


Lap yu gaes