
MUSE S2
EPISODE 78
S2 \~ BLOOD, SWEAT, & TEARS
\~ Bau darah bercampur dengan keringat, membuat sensasi memuakkan yang menusuk hidung. Tangannya terus mengeluarkan darah, dan aku terus mengeluarkan keringat dan air mata \~
•••
GLEGAR..!!
Suara guruh terdengar begitu jelas dan cahayanya menghiasi angkasa. Gelap dan dinging. Hujan terus turun dengan deras, membuat tidak ada orang yang keluar atau melintas di area depan apartemen kami.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk melerai perkelahian mereka. Baik Arvin maupun Angga tidak ada yang mau mengalah. Aku kebingungan dan hanya bisa menangis.
Arvin jauh lebih kuat dari pada Angga, ia memukul Angga berkali-kali, membuat darah segar terus keluar dari hidung dan kulitnya yang robek. Aku tak tahan lagi, bagaimana kalau Arvin membunuh Angga?
“Arvinn!!! Kumohon hentikan! Aku mohon!!” tangisku semakin pecah, aku tak ingin Arvin menyakiti Angga. Bukan berarti aku masih punya perasaan pada Angga, tapi nuraniku tak mengizinkan Arvin menyakitinya.
Arvin menurut, ia melepaskan Angga. Aku harus mengusir Angga beberapa kali agar ia mau meninggalkanku. Aku tak ingin Arvin kembali lagi memukulnya atau bahkan sampai membunuhnya.
“Arvin?!” sekali lagi aku memanggil namanya, mengelus pelipisnya yang juga berdarah.
Tanganku gemetaran, entah karena hujan, entah karena rasa takut. Yang pasti pria di depanku saat ini telah berubah menjadi seseorang yang tidak ku kenal. Kemarahannya mengerikan. Nafsu membunuh terlihat pada sorot matanya yang tajam.
Aku benci mengakuinya, tapi sepertinya aku memang takut kepadanya.
“Kemari!!”
Arvin menarik pergelangan tanganku, ia menyeretku masuk ke dalam kamar aprtemennya. Sekeras apapun aku memberontak, ia tetap tak mau melepaskannya, bahkan semakin bertambah kencang dan sakit.
“Arvin!!! Berhenti!! Ku mohon!! Berhenti!!”
Arvin mencium paksa bibirku, aku tak menyukai prilakunya ini, rasanya aneh!! Apa bedanya dia dengan Angga??!
“Kenapa menolakku? Kau tadi tidak menolaknya?!”
“Arvin!!!!”
“Kau menerima begitu saja ciumannya?!!!”
“Arvin!!”
“ARGH!!!” Arvin meninju cermin di samping wajahku.
“KYYAAA!!!” dengan reflek ku tarik tubuhku untuk menunduk dan menghindari pecahan kaca.
Siapa bilang aku mau menerima ciumannya? Siapa bilang aku tak menolaknya?! Aku menolak ciuman Angga, hanya saja tenaganya tak bisa aku lawan.
Arvin melepas paksa semua pakaianku, gaun cantik itu robek dalam sekali tarikan. Aku semakin ketakutan. Aku berusaha berteriak meminta tolong, namun percuma, sampai serakpun tidak ada yang mendengar suaraku. Apartemen sebelah adalah kamarku dan sebelahnya lagi kamar Arvin.
Aku merangkak menjauh selagi masih ada kesempatan, namun tangannya menarik kedua kakiku mendekat, wajahku terantuk lantai, rasanya sangat menyakitkan. Darah keluar dari hidungku.
“Arvin!!! Hentikkann!!!” teriakku sambil menendang-nendang.
Ya, Tuhan, siapa pria ini? Kenapa dia begitu kejam dan kasar? Apa benar dia Arvin yang ku kenal? Arvin yang ku cintai?
Tidak!!
Arvin yang ku cintai begitu lembut, ia begitu sayang kepadaku! Siapa laki-laki ini?!
Arvin mengikat tanganku dengan sabuk kain dari gaun hitam itu. Dengan kasar ia melemparkanku ke atas ranjang. Ia mulai meniindihku, menyesap leher dan juga dadaku. Rasanya sangat aneh, sangat menjijikkan.
“KAU MONSTER, ARVIN!!” teriakku, dia bukan kekasihku, dia bukan Arvin.
Aku menangis meraung-raung saat Arvin mulai kembali menyesap semua bagian tubuhku. Menimbulkan noda merah yang panas dan perih. Rasanya sangat menjijikkan. Entah ada berapa puluh kiss mark yang telah ditinggalkan olehnya?
“Lihat aku, baby!!!” Arvin menjambak rambutku, rasanya sangat sakit.
“Auch!!!”
“Kau milikku, bukan?! Sudah ku bilang kau milikku!!!” Arvin berteriak.
“Tidak!! Aku tak akan pernah melepaskanmu!!!”
“Arvinn!!!!”
“TIDAK!!!!”
“Katakan Kalila!! Katakan bahwa kau milikku!!!” Arvin menjambak rambutku sampai kepalaku ikut terangkat.
“Huhuhuhu..., aku bukan milikku! Aku membencimu,” jawabku.
“KAU MILIKKU!!”
PLAK!
Arvin menampar pipiku, rasanya sangat sakit.
“Ach!!” pekikku.
“Katakan Kalila!!!”
“Aku membencimu,” suaraku bercampur dengan tangisan.
Arvin akhirnya memaksa kakiku kembali diam dan mulai menghujamku dengan tubuhnya. Rasanya begitu menyakitkan, panas dan perih. Namun sakit di area kewanitaanku tidak sesakit hatiku.
Hatiku begitu sakit dan terluka.
Hatiku marah dan geram.
Hatiku merana.
Aku memberikan segalanya untuknya, aku memberikan cinta dan menaruh pengharapanku padanya. Dan dengan amarah ia menodai semuanya.
Dengan amarah ia menghapus semua rasa cintaku padanya.
“Kau kejam...,” tangisku semakin lirih. Pukulanku semakin pelan.
Aku sudah tak punya tenaga untuk memberontak, aku menyerah, membiarkannya menikmati tubuhku. Membiarkan monster ini melepaskan amarahnya.
Bau darah bercampur dengan keringat, membuat sensasi memuakkan yang menusuk hidung. Tangannya terus mengeluarkan darah, dan aku terus mengeluarkan keringat dan air mata.
Aku menerawang kosong ke arah balkon, keclapan cahaya kilat masih terus terlihat riuh. Menyayat langit dengan seberkas cahaya dan dentuman keras. Seperti hatiku saat ini, ia menyayatnya begitu dalam dan menyakitkan .
Air mata mengalir dari sudut mataku. Akhirnya aku menutup mataku.
Aku tak kuat lagi menahan rasa sakitnya.
Hatiku benar-benar hancur.
Rasanya sangat menyesakkan.
“Kalila?! Kalila?!”
“Baby..! Bangun!! Maafkan aku...!”
Suara Arvin terdengar samar dan akhirnya menghilang.
— MUSE S2 —
Saya menangis bombay..
Maaf Kalila kau berhak untuk bahagia.
Aku akan membuatmu bahagia, Baby!
TOLONG VOTE, LIKE & COMMENT, hiks... yang banyak ya, hiks...
😭😭😭😭😭😭😭😭
Lap yu readers
❤️❤️❤️❤️