MUSE

MUSE
S7~ PERTANDINGAN PERTAMA



MUSE S7


Episode


S7 \~ PERTANDINGAN PERTAMA


“Kau harus menang, Jagoan.” Leoni menarik bibirnya. Meski enggan untuk melepaskan panggutannya mereka tetap harus mengakhirinya karena pertandingan akan segera di mulai.


__________


Setelah melewati proses latihan panjang dan juga seleksi yang ketat, Levin diberi kesempatan untuk mengikuti grand pix 125 cc. Levin mengendarai brand Du**ti. Bersaing dengan brand brand bergengsi lain. Brand kendaraan besar mengikuti ajang kompetisi ini juga seakan demi memanerkan performa terbaik dari mesin besutan mereka. Berlomba menjadi yang terbaik di mata penonton dan konsumen.


“Semuanya bersiap!! Pertandingan akan dimulai sebentar lagi!” Kepala dari tiap tim berseru-seru pada semua anggota, mulai dari tim mekanik, pelatih, pengarah posisi, sampai pencatat rekor waktu, dan tak ketinggalan joki kuda besi mereka masing-masing.


Semuanya sudah berkumpul di area balap. Sirkuit dengan lintasan yang cukup berkelok, cuaca sedikit mendung hari ini. Namun tak menyurutkan semangat para peserta dan penonton.


Kelurga besar Arvin berada di tribun penonton, ingin melihat dengan mata kepala sendiri pertandingan adu kecepatan dan juga adrenalin itu. Mereka sudah hadir dua jam sebelum pertandingan di mulai.


Sedangkan Leoni berada di dalam ruangan milik Levin. Terletak di bawah tribunal, tempat pos pos para tim Du**ti dan lawan berkumpul.


Levin berada di dalam ruang tunggu pemain. Leoni mendampinginya sejak pagi tadi.


“apa menurutmu ini tidak terlalu pendek?” Leoni melihat penampilannya pada kaca, mematut diri dengan penampilan barunya sebagai umbrella girl.


Umbrella girl adalah gadis-gadis muda cantik dengan outfit seksi, bertugas memberikan payung pada para pemain supaya tidak kepanasan sebelum pertandingan di mulai.


“Kau cantik tahu!” Levin tersenyum melihat Leoni yang begitu cantik dalam balutan rok span kuning dan jaket kulit warna senada. Sepatu boot putih setinggi lutut dengan heel tinggi. Rambutnya dibiarkan tergerai lurus dengan make up yang jauh lebih tebal dari biasanya. Bila Kanna melihatnya ia pasti akan mati bahagia. Ya … Iyalah, setelah sekian lama ia mengharapkan anak gadisnya mau menjadi seorang wanita tulen yang gemar berdandan seperti sang Mama —namun selalu di tolak— kini justru dengan sukarela membiarkan penata rias memoles wajahnya dengan sangat elok.


“Sungguhkah?” Leoni membetulkan roknya sekali lagi.


“Iya, Singa. Percaya diri saja. Tubuhmu tak kalah indah dengan mereka kok.” Levin menunjuk deretan para umbrella girls yang lain. Rata-rata dari mereka memang memiliki patat yang kencang dan dada yang sekal. Tubuh molek karena mereka memang model kelas internasional.


“Jangan membandingkanku dengan mereka. Mereka model internasional.” Ketus Leoni, iri sih, apa lagi bagian ini dan ini. Leoni menatap dada dan pantat mereka.


“Hehehe … yang penting kau pacarku. Dan aku ingin kau yang mendampingiku bahkan di detik-detik sebelum pertandingan di mulai.” Levin mengecup pelan bibir Leoni, kecupan-kecupan yang semakin bertambah intens menjadi panggutan penuh kemesraan.


“Jangan lama-lama, nanti lipstiknya hilang.” Leoni mendorong pelan dada bidang Levin yang tertutup dengan pakaian racing. Pakaian yang di design khusus untuk pembalap, ringan namun kuat, anti api dan mampu meminimalisir luka akibat kecelakaan.


“Iya-iya.”


“C’on Vin, We are ready.” Seorang pria berrambut pirang yang merupakan salah satu anggota tim memberi isyarat pada Levin untuk bersiap di posisi. Levin mengangguk, ia harus melakukan test drive ringan pada kendaraannya sebelum terjun ke lapangan.


Leoni bergabung dengan para umbrella girl lainnya dan berjalan keluar dari dalam tribun menuju ke sirkuit. Mereka semua berjajar rapi sesuai dengan nomor yang diberikan pihak panitia. Satu orang umbrella girl akan mendampingi satu orang pemain.


Leoni tersenyum saat beberapa kamera mulai membidik dirinya. Dari tribun penonton, keluarga besar Arvin bersorak saat wajah cantik Leoni memenuhi layar kaca televisi-televisi besar di sirkuit.


Leoni tampak malu-malu, namun tetap berusaha tersenyum semanis mungkin, membuat wajahnya terlihat semakin imut dan menggemaskan. Levin yang sedang melakukan test drive pun ikut tersenyum saat melihat wajah pacarnya terpampang di layar raksasa.


“Dasar Singa.” Levin terkikih pelan dan bergegas memutari sirkuit untuk menempatkan diri pada nomornya.


Motor Levin melaju cepat bersama dengan motor-motor yang lain. Mesin dengan empat silinder itu berbondong-bondong memenuhi area di belakang garis start. Berhenti Pada nomor masing-masing. Levin pun tak ketinggalan. Ia berhenti di samping Leoni dan melingkarkan tangannya pada pinggang sang kekasih.


“Jangan cemburu. Aku hanya tak tahu harus berbuat apa selain memamerkan senyuman terbaikku.” Leoni mencubit pipi Levin.


“Kemari, cium aku sebelum pertandingan di mulai.” Levin menarik pinggang Leoni, keduanya semakin berdekatan. Payung menutup wajah mereka berdua. Leoni sengaja melakukannya agar adegan mesra saat Levin melabuhkan ciuman hangat dan lummatan penuh keintiman itu tidak terekspos keluar.


“Kau harus menang, Jagoan.” Leoni menarik bibirnya. Meski enggan untuk melepaskan panggutannya mereka tetap harus mengakhirinya karena pertandingan akan segera di mulai.


“Tentu saja, ingat, bila aku menang. Kau harus memberikanku hadiah yang kuminta.” Levin terkekeh, ia melepaskan pelukannya dan kembali memakai helm racing.


“Ihhh … aku malu!” Leoni menceples pundak Levin.


“Awas bila kau ingkar janji. Aku akan menggelitikimu sampai lemas, Singa.” Ancam Levin.


“Ihh … Pokoknya menang saja dulu deh!!” Leoni tersenyum manis.


“Oke.” Levin meremas pantat Leoni sebelum menghidupkan mesin motornya.


“Dasar mesum!!” Leoni mendelik galak, tapi Levin hanya terkekeh.


Semua umbrella girl langsung pergi begitu lampu merah pada lintasan start sirkuit menyala. Itu berarti Leoni juga harus meninggalkan Levin pergi.


Levin bersiap, ia terus fokus pada lampu sirkuit dan berdoa. Semua keluarga menjadi tegang. Semua penonton pun ikut memperhatikan start dimulai tanpa berkedip. Start memang bagian paling menentukan dalam sebuah lomba balap.


Lampu Merah menyala … Semua motor mulai menderu, kopling motor di tekan.


BRUM … BRUM …BRUM … Suara motor bersilinder besar meraung.


Lampu Kuning menyala … Deruanya semakin kencang, memekakkan telinga, semua mata fokus pada lampu terakhir dan juga loncatan pertama mereka masuk ke dalam sirkuit.


Lampu hijau menyala … start dimulai.


BRUMMM…!


Semua motor langsung meloncat dan menerjang ke dalam sirkuit lintasan, tak terkecuali motor milik Levin.


“LEVIN!!!” Semua saudara-saudara Levin berteriak menyemangati Levin. Kalila dan juga Arvin pun tersenyum penuh kebanggaan saat melihat anaknya yang berusia enam belas tahun telah berlaga di kancah internasonal. Menjadi pembalap kelas dunia.


“AYO VIN!!!” Teman-teman Levin tak klah bersemangat.


“Ayo, Sayang!” Leoni bergumam lirih, ia terus berdoa agar kekasihnya diberikan keberuntungan dan bisa memenangkan pertandingan hari ini.


Di tempat lain, Leon dan Kanna menonton siaran pertandingan langsung dari Jepang karena Leon ada pameran di sana.


Sementara itu Farel pun ikut menonton siaran langsung sembari memperbaiki motor di bengkel miliknya. Sang Ayah dan juga Fariz kakaknya pun ikut menonton pertandingan itu.


“Levin …” ucap Farel, ada rasa getir bersarang pada sanubari Farel, mungkin orang akan menuduhnya iri hati, bisa jadi dengki, namun sepertinya perasaan Farel saat ini mungkin lebih bisa di jabarkan sebagi wujud penyesalan. Yah, ia menyesal pernah membuang sahabat dan saingan sehebat Levin hanya karena rasa iri hatinya.


Pertandingan pertama Levin pun di mulai. Akankah Levin bisa memenangkan pertandingan ini?


...— MUSE S7 — ...