
MUSE S3
EPISODE 115
S3 \~ FANS
\~ Aku menghempaskan tangannya dan mengumpat! Anak kurang ajar yang membuat Mamanya berlutut untuk menebus kesalahannya tak pantas disebut manusia.\~
_______________
Pagi tadi Leon mengambil bis terpagi untuk berangkat ke desa T. Aku hanya bisa mengantarkan kepergiannya dengan isakan tangis, baru satu minggu bertemu dan aku sudah harus rela berpisah lagi darinya.
“Jangan nangis, Cimut, cuma seminggu. Aku harus menjenguk nenek.” Leon mengusap air mataku.
“Iya, Leon. Kabari aku begitu kau sampai di sana.”
“Oke. See you my love.” Leon mencium kening lalu mengecup bibirku. Rasanya ingin membalas lumattan itu, namun aku mengurungkan niatku karena bis yang ditumpanginya sudah hampir berangkat.
“Hati-hati, pacar! I’ll miss you.”
“Hati-hati juga pulangnya, ya, Cimut.”
Leon beberapa kali menoleh ke belakang sebelum memasuki bis. Ia juga terus melambaikan tangannya begitu bis mulai bergerak menjauh pergi meninggalkan terminal. Aku ikut melambaikan tanganku sampai ia tak terlihat lagi.
Aku menghapus sisa air mata dan menenggak sebotol air mineral yang dari tadi ku genggam. Mencoba menghilangkan dahagaku karena terlalu banyak menangis pagi ini.
Ach..., Tanganku mulai bergetar hebat, rasa nyeri kembali menghantam perutku, tepat di ulu hati. Aku merogoh saku dan mengambil pill box dengan gambar kepala singa yang lucu. Tanpa menakar jumlah obatnya, aku menuang semua pil-pil kecil itu pada telapak tanganku. Cepat-cepat aku meminum semuanya. Rasa nyeri pada lambungku semakin menjadi-jadi beberapa hari terakhir, padahal aku sudah berusaha makan dengan teratur.
“Hemp...,” tiba-tiba rasa mual kembali menyerang. Kakiku langsung melangkah dengan cepat mencari kamar mandi umum. Aku kembali memuntahkan cairan asam dari lambung. Rasanya sangat tidak nyaman. Keringat dingin langsung membasahi keningku, dan air mata keluar dari sudut mataku.
“Sialan!! Sampai kapan aku akan terus begini?!” gerutuku dalam hati, aku memukul pelan pintu cubicle toilet, sedikit menyesali kebodohanku. Diet ngawurku berujung pada sakit pencernaan yang tak kunjung membaik.
Setelah membasuh wajah dan membersihkan diri aku keluar untuk kembali ke rumah. Aku harus segera membeli beberapa suplemen kesehatan juga obat maag. Obat terakhirku telah ku telan semuanya, tak ada lagi sisa untukku nanti malam.
— MUSE S3 —
•••
Di tengah jalan aku bertemu dengan Zean, pria yang menolongku saat di Reveline kemarin. Kemarin aku lupa membawa kartu debit, dan pria ini meminjamiku uang.
Aku sedikit takut, kenapa pria ini bisa berada di sekitar perumahan tempatku tinggal? Apa dia membuntutiku? Atau hanya kebetulan? Tapi mana mungkin hanya kebetulan, di sini hanya perumahan biasa, ada urusan apa dia di sekitar sini?
Zean bergegas turun untuk menyapaku, dia mengajakku untuk menemaninya minum secangkir kopi.
“Anggap saja kau membayar hutangmu, Kanna.” Zean sangat pemaksa, walaupun caranya meminta bisa dikatakan halus.
“Baiklah, hanya dua jam, OK!” Akhirnya aku menerima ajakannya, ingin segera mengakhiri hubungan utangku dengannya. Walaupun sedikit takut, aku mencoba untuk percaya padanya, sepertinya dia bukanlah orang jahat.
Selama perjalanan kami memilih untuk diam dan saling mengamati. Sampai akhirnya mobil mewahnya membawa kami pada sebuah kedai kopi dengan nuansa rustic yang hangat. Aku memesan smothies karena belum makan apapun dari pagi. Zean menawariku makan, tapi aku menolaknya.
Tak lama, kami sudah berhasil beradaptasi, mengobrolkan tentang hal-hal kecil seputar kehidupan kami masing-masing. Ternyata prilaku dan cara berbicara Zean tidak kaku seperti wajahnya, dia pribadi yang cukup hangat. Aku merasa cukup nyaman dan enjoy saat bersamanya.
Zean sangat nyambung saat membicarakan tentang make up dan impianku sebagai seorang beauty bloger. Terus, yang paling membuatku terkejut adalah fakta bahwa Zean adalah adik dari Diana, seorang MUA yang terkenal dengan make up fantasinya.
Ah, sudah dari dulu aku mengaggumi Diana, aku ingin berkolaborasi dengan dirinya. Sayang banget jadwal Diana begitu padat, aku tak pernah bisa mendapatkan kesempatan itu.
“Kau mau aku mengenalkanmu pada Kakakku?”
“Serius??!” tanyaku antusias.
“Tentu saja, dia ada di kota J. Aku bisa mengajakmu bertemu dengannya besok.” Zean menghabiskan lattenya.
“Mau..., aku mau!” tanpa ragu aku menerima kesempatan ini. Kapan lagi bisa bertemu dengan Diana tanpa menunggu jadwal temu?
Triiing... 🎶
Suara panggilan ponsel Zean berbunyi.
“Maaf, ponselku berbunyi.” Zean minta izin untuk mengangkat panggilan masuk. Tak lama ponselku juga ikutan berbunyi. Aku bergegas untuk mengangkatnya.
“Hallo, ada apa Ma?”
“Hiks..., Kanna, Kakakmu Rezzi saat ini ada di kantor polisi. Dia di tuduh menggelapkan uang perusahaan.” isak Mama.
Apa? Kantor polisi? Kakakku mencuri uang perusahaan? Oh, God! Hatiku langsung ambles, wajahku pasti memucat saat ini. Cobaan apa lagi ini Tuhan?! Kenapa bisa Kak Rezzi sehina itu? Aku benar-benar tak bisa mempercayainya.
“Kau yakin namanya Arrezzi?” kata Zean, ada nama kakakku dalam kalimatnya. Spontan aku langsung memandangnya dengan begitu lekat.
Zean ikut memandangku.
DEG...!!! Jantungku lagi-lagi meloncat tak beraturan.
Aku langsung memandang ke arah Zean dengan wajah tegang. Kenapa saat ini Zean juga mengatakan nama Kak Rezzi? Bukankah ini sebuah kebetulan yang terlalu tak masuk diakal? Atau jangan-janagn Zean ada hubungannya dengan kasus Kakak?
“Kanna!! Kau dengar Mama? Mama takut, Nak. Kata orang kantor, boss mereka bernama Zean, dan dia sendiri yang akan menuntut kakakmu. Bagaimana kalau kakakmu sampai dipenjara, Kanna?!”
Ternyata benar dugaanku, Zean adalah pemilik perusahaan itu. Ponselku langsung terjatuh, aku tak kuasa menahan rasa malu dan juga kesedihanku.
Bagaimana bisa aku punya keluarga yang begitu memalukan?
“Apa dia Kakakmu?” tanya Zean.
“Iya, dia Kakakku.” Aku menangis, aku malu sekaligus kecewa.
“Ah, aku tak menyangka.” Zean langsung tersenyum simpul.
Ya, Tuhan. Zean pasti akan memandang rendah diriku juga. Aku adik dari orang yang telah menggelapkan dana di perusahaan miliknya. Aku bahkan tak bisa mengartikan arti senyuman simpulnya itu, mungkin dia heran, mungkin juga jengkel, atau bahkan penuh dengan rasa kecewa. Yang pasti kakak dari idolanya adalah seorang pencuri.
“Kau tidak apa-apa, Kanna?” Zean mengambil ponselku dan mengembalikannya ke atas tanganku.
“Eh?” aneh, kenapa dia masih bersikap biasa saja padaku?
“Tenanglah, hapus dulu air matamu. Kita sama-sama ke kantor polisi.” Zean bangkit dan meminta billnya, sesaat kemudian ia kembali dan mengulurkan tangannya.
“Ayo, Kanna. Kita temui Kakakmu.” ajak Zean.
Aku menghapus air mataku dan mengekornya keluar. Sepanjang jalan aku hanya bisa menunduk. Aku ingin meminta maaf untuk mewakili Kakakku, tapi lidahku sangat kelu. Aku tak yakin diapun mau menerima permintaan maaf dariku, karena yang namanya mencuri tetap sebuah kesalahan besar.
“Kau tidak meminta maaf?” tanya Zean, pertanyaannya langsung membuatku terkesiap karena kaget.
“Kau mau menerima permintaan maaf dari adik seorang pencuri sepertiku?”
“Tentu saja, kalau kau meminta maaf aku akan memaafkan Kakakmu.” Zean mengangguk.
“Kesalahan Kakakku bukanlah hal yang bisa di maafkan begitu saja.” Aku kembali tertunduk malu.
“Tidak, Kakakku harus mempertanggung jawabkan kesalahannya,” jawabku, kini rasa kecewaku berubah menjadi rasa geram dan juga amarah.
“Baiklah, ayo kita temui Kakakmu.” Zean memarkirkan mobilnya tepat di area parkir kantor polisi.
Setibanya kami di dalam, seorang wanita menghampiri Zean. Aku mengenalnya dia adalah Orela, kakak tingkatku saat berkuliah dulu. Tak kusangka dia bekerja dengan Zean, dan dialah yang menemukan kecurangan Kak Rezzi.
“Tuan, Zean.”
“Kerja bagus Orela. Di mana dia sekarang?” tanya Zean.
“Di ruang pemeriksaan.”
“Baiklah aku akan ke sana.” Zean berjalan terlebih dahulu.
Fokus Orela beralih kepadaku, ia mengamatiku sejenak dan langsung mengenaliku, “Kanna?”
“Hallo, La,” sapaku ala kadarnya dan berlalu pergi, aku malas bercengkrama. Ingin segera menemui Kakakku tercinta.
Di dalam ruang pemeriksaan aku menyaksikan pemandangan yang memilukan. Papa menampar Kak Rezzi, Mama menangis dan memohon pada Zean untuk tidak menuntut anaknya. Papa dan Mama akan berusaha mencari pinjaman dan membayar semua kerugian yang dialami perusahaan karena ulah Kak Rezzi.
Aku hanya bisa berdencis sebal melihat kelakuan orang tuaku yang begitu menyayangi anaknya. Terutama Mama, ia begitu membela Kak Rezzi. Kenapa mereka sampai rela merendahkan harga diri mereka demi menebus kesalahan anaknya? Padahal jelas-jelas mereka tau kalau anaknya bersalah. Pencurian bukanlah hal sepele, bisa saja ia kembali melakukannya suatu saat kelak.
“Tolonglah, Tuan. Saya yang tak becus mendidiknya.” Mama menggenggam erat kemeja Zean.
Zean hanya memandang kedua orang tuaku dengan wajah yang datar. Akupun tak bisa memahami isi hati Zean, dia begitu pintar menyembunyikan ekspresinya.
“Kami mohon, Tuan. Pasti kami akan membayarnya dengan segera.” Papa mendekati Zean.
“Dua ratus juta bukan uang yang kecil.” akhirnya Zean buka mulut.
“Du..., dua ratus juta?” wajah Mama memucat, air matanya kembali menetes. Aku tak sanggup lagi melihatnya, air matakupun ikut menetes.
“Kenapa, Pa, Ma? Kenapa sampai seperti itu membela anak yang bersalah?” pikirku dalam hati.
“Kumohon, Tuan. Beri kami waktu, kami akan membayarnya, jangan tuntut Rezzi.” Mama hendak berlutut di depan Zean.
Aku kaget dan langsung menghampirinya, dengan segera aku menahan lengannya agar beliau tak sampai berlutut. Aku tahu kesalahan ada dipihak keluargaku. Tapi membiarkan Mamaku berlutut di hadapan orang lain membuat hatiku sakit, harga diriku tak mengizinkannya, karena kesalahan itu tak sepantasnya ditanggung oleh Mama.
“Zean...,” kupanggil namanya dengan lirih.
Baik Zean, Papa, Mama, dan juga Kak Rezzi langsung memandang ke arahku dengan keheranan. Mereka heran karena aku mengenal Zean. Bahkan memanggilnya tanpa embel-embel apapun.
“Apa yang bisa aku lakukan agar Kakakku bebas?” akhirnya aku memberanikan diri bertanya padanya.
“Cukup minta saja padaku, Kanna. Aku akan mengabulkan semua permintaanmu.” Zean tersenyum.
“Aku tak harus menebus apapun?” tanyaku dengan heran.
“Tidak, kan sudah ku bilang. Aku fansmu, manfaatkan aku, Kanna.” bisik Zean di dekat telingaku. Telingaku terasa begitu panas, wajahku seakan tersipu karenanya.
“Kanna, tolong Kakak!! Tolong Kakak!!” Kak Rezzi langsung menggenggam pergelangan tanganku.
“Kau br*ngsek!! Kau lebih buruk dari anj*ng!!” Aku menghempaskan tangannya dan mengumpat! Anak kurang ajar yang membuat Mamanya berlutut untuk menebus kesalahannya tak pantas disebut manusia.
“Maafkan Kakak, Kanna! Kakak khilaf!”
“Jangan sentuh aku!! Kau sampah!!”
“Kanna...!” Mama melarangku mengumpat, ia masih melindungi anaknya, dengan kasar Mama menarik lenganku. Tapi Zean jauh lebih cepat, ia langsung menarik tubuhku dan mendekapnya.
“Jangan kasar-kasar, Tante!” Zean melindungiku dari Orang Tuaku sendiri, bagaimana bisa?
“Maaf, Tante hanya ingin menyuruh Kanna berhenti mengumpat, karena dia seorang wanita, tak baik berbicara kasar.” Mama mencari alasan untuk membenarkan tindakkannya.
“Jadi bagaimana?” Zean tak menghiraukan ucapan Mama, ia mengalihkan fokus pandangannya kepadaku.
“Aku mewakili keluargaku minta maaf, Zean. Jadi bisa minta to..., tolong kau cabut laporannya, Zean.” setelah mengambil jeda napas cukup panjang aku memberanikan diri untuk meminta maaf dan memintanya mencabut segala laporan dan tuntutan hukum atas Kak Rezzi.
“Baiklah. Tapi dia tetap harus menebus kesalahannya, dia harus menggantinya pelan-pelan. Dan aku akan tetap memecatnya.” Zean mengelus pundakku.
“Te..., terima kasih, Zean,” jawabku sedikit ragu. Benarkah Zean tak meminta imbalan apapun? Bahkan ia tak meminta ganti rugi? Setidaknya dia harus memberikan bunga terhadap uang itu. Benarkah dia merelakan semua itu hanya karena dia fansku?
“Terima kasih, Tuan.” Papa dan Mama langsung menghujani Zean dengan rasa terima kasih.
“Maafkan saya, Tuan Zean.” begitu juga dengan Kak Rezzi.
Hanya aku yang terdiam, perbuatanku seakan-akan telah membuat sebuah celah besar yang akan membawaku menuju ke lubang maut. Entah apa itu? Yang pasti perasaanku tidak enak.
Aku berbalik dan meninggalkan mereka, mencoba untuk merenungi tindakkanku. Namun lagi-lagi perutku terasa begitu nyeri. Aku belum makan, dan obatku habis. Aku tetap membuka kotak obat singa milikku, berharap menemukan keajaiban. Namun nihil, kotak obat itu kosong.
Aku tak lagi bisa menahan rasa sakitnya dan ambruk ke bawah.
“KANNA!!!” teriakan demi teriakan memanggil namaku.
“Kanna!!!” suara Zean terdengar samar.
“Zean....?”
Zean menggendongku. Aku bisa melihat wajah Zean yang begitu cemas sebelum akhirnya aku jatuh pingsan.
— MUSE S3 —
Wah, Zean...
Aku suka aku suka ❤️❤️❤️
MUSE UP!!
YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.
VOTE, LIKE, dan COMMENT
PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!
Terima kasih sudah membaca,
Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama
Love,
Dee ❤️❤️❤️