
MUSE S3
EPISODE 116
S3 \~ KECEWA
\~ Kebahagian yang ku harapkan hanya sebatas pujian dan ucapan semangat darinya.\~
_______________
Aku mengerjapkan mataku, mencoba untuk mengumpulkan kepingan nyawaku. Kepalaku terasa begitu berat dan mataku berkunang-kunang. Plafon polos dan lampu TL putih terang menyambutku saat membuka mata.
“Di mana aku?” gumamku pada diri sendiri.
“Kau di rumah sakit, Kanna.” sebuah suara bariton menyambut pertanyaanku. Aku sedikit kaget, kenapa pria ini masih ada di sini?
“Zean? Kenapa kau berada di sini?”
“Kau pingsan dan aku mengantarmu ke RS.” jawabnya. Zean masih duduk dengan pembawaan tenang di samping ranjangku. Wajah tampannya terlihat begitu tenang dan santai, aku benar-benar tak pernah bisa menebak emosi dalam darinya.
“Pulanglah, Zean. Aku sudah tidak apa-apa,” ku coba untuk duduk dan meneggakkan badan.
“Kau mengusirku?”
“Maaf, bukan itu maksudku. Aku hanya tak enak hati padamu, keluargaku telah merepotkanmu, aku tak ingin merepotkanmu juga. Kau pasti sangat lelah dengan apa yang terjadi hari ini.”
“Easy, Kanna. Kau sama sekali tidak merepotkanku, dan aku sama sekali tidak lelah.” jawaban Zean semakin membuatku merasa keheranan.
“Sebenarnya apa tujuanmu, Zean? Apa kau suka padaku?” tanyaku to the point, aku harus menolaknya aku sudah punya Leon.
“Ya, kan sudah ku bilang sebelumnya. Aku fans dari bidadari Kanna.” Zean tersenyum.
“Benarkah hanya sekedar fans? Tak lebih?” batinku dalam hati.
“Zean, aku sudah punya...,”
“Kau sudah bangun Kanna?!!” tiba-tiba seruan Mama menyela ucapanku, membuat fokus kami berdua beralih padanya.
“Tante sudah datang. Kalau begitu aku pamit, Kanna. Cepatlah sembuh, aku akan mengenalkanmu pada Kakakku.” Zean bangkit dan menepuk pelan punggung tanganku. Aku mengangguk pelan sebagai jawaban.
“Mari, Tante.” pamit Zean pada Mama.
“Hati-hati, Nak Zean.” jawab Mama.
“Tunggu, Zean!!” panggilku lagi.
“Ya?”
“Terima kasih.”
“Sama-sama.” Zean kembali mengulum sebuah senyuman manis sebelum keluar meninggalkan ruangan rawat inapku.
Mungkin aku terlalu berpikir berlebihan tentang Zean. Sepertinya dia tak ada maksud apapun. Tak mungkin juga dia menyukaiku, kami bahkan sama sekali tak saling mengenal sebelumnya.
Sepeninggalan Zean, Mama duduk di sampingku. Ia menyuapkan bubur yang sengaja diberikan oleh pihak RS. Mama juga membantuku bersandar agar aku merasa lebih nyaman saat makan.
“Kau itu, sudah tahu ada sakit maag. Masih nggak makan seharian.” Mama mulai ngomel, memang ucapannya tidaklah salah. Mamapun marah karena khawatir padaku.
“Lagi males makan, Ma,” jawabku, masih dengan mulut penuh bubur.
“Pelan-pelan ngomongnya, nanti tersedak.” kata Mama dengan lembut.
“Mama dan Papa ngapain, sih, belain Kak Rezzi sampai kayak gitu?”
“Namanya juga orang tua, Kanna.” Mama kembali menyuapkan bubur ke mulutku.
“Trus semisal Kanna nggak kenal sama Zean apa Papa dan Mama akan tetap membayar uang itu?” tanyaku heran, benar semua orang tua sayang anaknya, tapi kalau cinta orang tuaku itu namanya cinta yang menyesatkan.
“Mama juga nggak tau, Kanna. Sudah jangan bicarakan Kak Rezzi. Kamu makan dulu yang banyak biar cepat sembuh.”
Aku menyerah, meyakinkan orang tuaku untuk tidak memanjakan anak-anak mereka seperti berbicara dengan batu. Lebih baik aku diam dan menyimpan tenagaku.
“Ponseku mana, Ma?” tiba-tiba aku teringat pada Leon, dia pasti sudah menghubungiku sembari tadi. Dia pasti sudah sampai di desa T dari sore tadi.
“Oh, Papa yang simpan. Tadi Leon terus meneleponemu. Terpaksa Papa yang angkat.”
“Tunggu makanmu habis, Mama mintakan ponselnya.” Mama kembali menyuapkan bubur ke dalam mulutku. Rasanya hambar, namun aku tetap menyelesaikannya agar bisa segera memperoleh ponselku lagi.
— MUSE S3 —
•••
Aku dirawat hampir 5 hari di rumah sakit. Pipiku kembali bengkak, dan beratku seakan bertambah. Aku melirik ke arah timbangan di samping lemari pakaian. Biasanya aku sudah tak takut menimbang beratku, namun saat ini, mau melangkah naik saja membutuhkan keberanian ekstra. Keringatku bercucuran, aku kembali takut dengan alat pengukur berat badan itu.
Dan benar saja, ketakutanku terbukti! Sesaat setelah melangkah naik ke atas timbangan aku melihat angka 58, naik tiga kilo. Hah..., kenapa tubuhku mudah sekali melebar? Hanya cairan gizi dari infus dan makan teratur saja sudah berhasil membuat lemak tiga kilo kembali bersarang pada tubuhku.
“Aku harus berolah raga,” gumamku gemas.
Triiing... 🎶
Suara ponsel membuatku terkejut.
“Hallo, Leon?”
“Kanna, kau sudah makan? Jangan sampai terlambat makan lagi!” Leon selalu menelepon disaat jam makan, ia selalu mengingatkanku untuk makan.
“Iya bawel, ini aku mau makan,” jawabku.
“Good, VC aku saat kau makan Kanna! Jangan bohong!”
Klik
Leon mematikan panggilannya dan menggantinya dengan panggilan video.
Bagaimana aku bisa menghindar coba? Leon membuatku mau tak mau harus makan. Aku mengambil sepiring nasi beserta dengan lauk pauk, dan makan di depan ponsel. Leon menungguku menghabiskan semua makanan di atas piring.
“Sudah habis,” ku angkat piringku.
“Good girl!” senyum Leon senang, aku membalasnya dengan senyum sumbang.
“Jangan diet berlebihan Kanna. Itu tidak baik. Aku tak mau melihatmu sakit. Tidak apa kau gemuk, aku suka kau apa adanya. Jangan menyiksa dirimu, Ok!” Leon kembali berceramah, padahal selama aku di RS dia juga sudah memarahiku. Kini, setiap ada kesempatan dia kembali mengulang wejangannya. Duh, aku sangat bosan mendengarnya.
Entah kenapa aku malah tak menyukai caranya memperhatikanku. Tak tahukah Leon kalau aku mendambakan tubuh yang ramping selama ini karena dirinya? Demi merasa pantas saat bersanding dengan dirinya? Dan dia malah menyuruhku makan terus dan terus, dia bilang aku gemuk tak apa-apa! Lalu apa artinya aku berubah selama ini?
Aku bahkan tersiksa demi dirinya, setidaknya sudah seharusnya dia memujiku, bukan? Tak usah memujipun tak apa, setidaknya dia diam dan dukung saja semua keputusan yang aku ambil.
“Kenapa Leon selalu menyuruhku makan dan makan? Apa dia ingin aku kembali pada sosok Kanna yang dulu? Bab1 jelek yang gemuk?” pikiran burukku kembali melayang, membuat hatiku penuh dengan kesedihan.
Air mata mengalir dari pelupuk mataku. Kebahagian yang ku harapkan hanya sebatas pujian dan ucapan semangat darinya.
“Kenapa kau menangis Kanna?” Leon heran melihat air mataku.
“Aku benci padamu, Leon!”
Aku mematikan ponsel dan berlari masuk ke dalam kamar, menangis tersedu-sedu. Bantalku basah karena air mata. Hatiku sakit, kalau Leon saja tak pernah menghargai bentuk tubuhku saat ini, lalu apalah artinya aku melakukan semua ini?
— MUSE S3 —
Haduh Kanna...
Kasihan 😭😭
Jangan salah paham sama Leon donk. Diakan begitu karena sayang.
MUSE UP!!
YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.
VOTE, LIKE, dan COMMENT
Masih ada dua hari untuk vote berhadiah kaos MUSE dari author!!
So... PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!
Terima kasih sudah membaca,
Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama
Love,