MUSE

MUSE
S5 ~ MANDI



MUSE S5


EPISODE 8


S5 \~ MANDI


\~ Jantung Bella langsung berloncatan, bagaimana bisa sebuah kecupan terasa begitu dasyat. Bella langsung menarik diri dari pelukan Lucas, bisa-bisa malah Bella yang masuk dengan sukarela ke dalam pelukan buaya darat yang tampan ini.\~


______________________


AUTHOR POV


Lucas tersenyum dan bangkit mendekati Ella, ia menyeringai saat melihat wajah cantik Ella berkerut sebal.


“Apa kau mau terus memakai baju basah dan merasa lengket sepanjang malam, Baby?” Lucas mengecup pipi Bella.


Bella mendengus sebal, perkataan Lucas tidak salah tapi tidak mungkin dia mandi di sana. Seluruh dinding kamar mandinya dari kaca transparan dan bisa terlihat jelas dari dalam kamar.


Kamar Lucas sangat luas, berhubungan langsung dengan ruang ganti dan juga kamar mandi. Area tidur dan kamar mandi hanya dipisahkan oleh dinding kaca transparan dan bisa melihat ke dalam. Di dalam kamar mandi ada bathtube, shower case, wastafel, dan juga sebuah closet. Di ruang ganti ada lemari pakaian besar dan beberapa dresser tempat Lucas menyimpan semua jam tangan dan juga dasi mahalnya.


“Lucas kau buaya!”


“Salah siapa suru buaya ini mengajakmu pergi?” Lucas tersenyum nakal.


“Lucas!!” Protes Bella.


“Sudahlah, mandi atau tidak terserah padamu.” Lucas memberikan sebuah handuk putih dan juga kaos berwarna hitam pada Bella.


Bella menerimanya, namun masih menatap dengan sebal ke arah Lucas. “Kau mesum ya? Kenapa bikin kamar mandi tanpa penutup?”


“Ini namanya design, Ella! Lagi pula aku tinggal sendiri, siapa yang mau mengintip?” Lucas mengambil sekaleng bir dingin dari dalam kulkas kamar, “lagian kalau aku punya istrikan sah-sah saja memandang tubuhnya setiap hari, bahkan saat mandi.” Lucas tersenyum dan menenggak minumannya.


Bella kehabisan kata-kata, ia tak bisa menjawab ucapan Lucas. Memang apa yang salah, toh apartemen itu memang milik Lucas, dia mau mendesignnya seperti apa juga bukan urusan Bella. Bella hanya tamu, tamu yang banyak maunya. Hish, Bella jadi malu karena merasa salah sangka pada Lucas. Bahkan sampai menuduhnya seperti seekor buaya yang mau menelan Bella bulat-bulat.


“Aku keluar, mandilah!” Lucas hendak keluar dari dalam kamarnya.


“Jangan mengintip, OK!” sergah Bella sebelum Lucas keluar.


“Siapa yang mau mengintip?” Lucas keluar dari kamarnya.


Bella menelan ludahnya, ia bergegas mengunci pintu kamar Lucas. Setelah merasa cukup aman Bella masuk ke dalam kamar mandi. Ia sempat berdecak kagum beberapa saat sebelum menaruh kaos dan handuknya di meja wastafel. Kamar mandi Lucas terlihat mewah, bahkan lebih luas dari kamarnya.


Bella melepaskan bajunya kikuk, sedikit aneh juga karena pemandangannya langsung mengarah ke kamar tidur.


“Tidak ada kamerakan?” Bella melihat lagi ke sekeliling.


Akhirnya Bella memutuskan untuk menghidupkan keran bathtube, memilih mandi di dalam bak itu. Mandi di bawah guyuran shower dengan pemandangan kamar membuatnya merinding. Rasanya aneh dan membuatnya tidak percaya diri.


Air hangat hampir sampai ke bibir bak, Bella melepaskan sisa baju dalam yang membungkus tubuh indahnya. Setelah tubuhnya polos, Bella mencelupkan diri ke dalam bak. Mengoleskan sabun ke seluruh tubuhnya dan menggosoknya sampai bersih. Minuman manis yang mengering membuat rasa lengket disekujur tubuhnya susah hilang.


KLEK!


Pintu kamar terbuka, Bella langsung mendelik begitu Lucas masuk ke dalam kamarnya.


Bagaimana bisa? Pikir Bella, jelas-jelas dia telah mengunci pintu kamar itu.


Lucas menggerakkan lehernya ke kanan dan kiri beberapa kali, mencoba mengusir ketegangan pada otot-ototnya karena pertandingan tadi.


“Wah, kau belum selesai mandi rupanya.” Lucas menyeringai menatap Bella yang masih berendam di dalam bathtube.


“Ba—bagaimana kau bisa masuk??!” Bella keheranan.


“Ck, ini rumahku. Aku punya kunci setiap pintunya.” Lucas memamerkan segerombyong kunci kepada Bella.


“Keluar Lucas! Kau bilang tidak akan mengintipku!” teriak Bella menagih janji Lucas.


“Aku tidak mengintip, aku terang-terangan melihat kok.” Lucas terkikih, membuat wajah Bella merona kemerahan.


Bella bergegas mengumpulkan busa sabun dipermukaan air agar menutupi tubuh indahnya. Berharap agar Lucas tidak bisa mengambil keuntungan dalam situasi ini.


“Mandimu lama sekali? Aku juga gerah tahu, keringatku banyak.” Lucas melepaskan bajunya, membuat Bella menjatuhkan dagunya saat melihat abs dan otot dada Lucas yang kencang.


“Berhenti!! Kau mau apa??” Bella langsung mencegah Lucas melanjutkan aksinya.


“Mandilah!” Lucas tak menghiraukan teriakan Bella dan tetap melepaskan semua pakaiannya. Ia menaruh baju kotornya ke keranjang pakaian.


Bella membuang pandangannya, menghindari tubuh kekar Lucas yang telah polos tanpa sehelai benangpun.


“Lucas kau sungguh tak tahu malu!!” cela Bella dengan keras.


“Keluar saja kalau kau keberatan melihatku mandi.” Lucas masuk ke shower case dan mulai membersihkan diri.


Bella memandang handuk dan pakaian bersih yang ia letakan di atas meja wastafel. Ia harus melewati Lucas kalau mau menjangkau bajunya. Bella menggigit bibirnya sebal, mengerutuki dirinya sendiri yang menaruh handuk di tempat yang jauh dari jangkauannya.


“Kenapa? Nggak jadi keluar?” Lucas menyembulkan kepalanya yang masih berbusa karena sedang keramas.


“Sialan!” Bella melemparkan botol sabun namun Lucas bisa menangkapnya dengan tepat.


“Thanks, aku memang lagi butuh sabun.” Cengir Lucas.


Bella mendengus sebal, ia membenamkan tubuhnya lebih dalam ke dalam air. Menyembunyikan wajahnya yang menghangat karena malu.


“Baru kali ini liat tubuh pria?” tanya Lucas, ia baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


“Si—siapa bilang? Aku juga sudah pernah liat sebelumnya!” ucap Bella. Ia sudah pernah melihat milik pria saat masuk ke toilet cowok di sekolahnya seminggu yang lalu.


“Benarkah? Lalu kenapa semalu ini melihatku?” Lucas mendekat, ia berjongkok di samping Bella.


Bella menutup wajahnya dengan tangkupan tangan, ia tak berani memandang Lucas, terlalu memalukan dan juga aneh.


BYUR!!


Lucas ikut masuk ke dalam bathtube, duduk di sisi lainnya. Membuat air di dalam bak luber keluar. Bella gelagapan, ia langsung menarik dan memeluk lututnya agar Lucas tak bisa melihat badannya.


“Segarnya!! Sudah lama aku tak berendam air hangat di temani wanita cantik.” Lucas merenggangkan lengannya dan bersandar pada tepian bak.


“Lu—Lucas, aku akan keluar, bisa kau pejamkan matamu, ini memalukan.” Bella meminta Lucas mengalah.


“Asal kau menciumku, Ella, aku akan memejamkan mataku.” Lucas tertawa kecil saat melihat wajah Bella yang terus memerah.


“Apa bedanya kau dengan cowok-cowok brengsek tadi?” Bella menendang kaki Lucas.


“Bedalah! Aku tidak pernah memaksa wanita sampai dia benar-benar mencintaiku.” Lucas menatap wajah cantik gadis di depannya, mengamati tiap detail garis wajahnya dan turun ke bawah.


Bella langsung menyilangkan tangannya di depan dada dan kembali menarik kakinya.


“Li ... lihat apa kau?!” sergah Bella sebelum mata Lucas melirik ke arah yang lain.


Lucas terlihat memandang Bella dengan genit, menggoda gadis ini sungguh membuat hatinya bahagia. Benarkah Lucas begitu terpesona dengan gadis ini?


“Lihat ini, Ella.” Lucas membuka kerai di samping bathtube, kerai itu menutup jendela besar yang memamerkan pemandangan kota dari ketinggian.


Mata Bella terbelalak, setengah tak percaya dengan keindahan yang tersuguh di depannya. Orang kaya memang beneran bebas, bahkan mereka bisa mandi sambil menikmati pemandangan perkotaan di malam hari. Lampu-lampu rumah dan juga hiruk pikuk jalan raya yang masih aktif.


“Indah bukan?” tanya Lucas.


“Bagaimana kalau ada yang melihat kita?” Bella malah mempedulikan hal yang lain.


“Ck, ini lantai 21, Ella. Siapa yang bisa melihatmu??” Kikih Lucas geli dengan kepolosan Bella.


“Siapa tahu.” Bella merasa semakin malu.


“Kemarilah!” Lucas menarik tangan Bella, Bella hendak menolaknya, namun Lucas tetap memaksanya.


Lucas menuangkan shampo mint ke atas kepala Bella, menggosoknya dengan lembut, membersihkan rambut panjang dan ikal itu dari rasa lengket.


“Kenapa tidak keramas?”


“Be-belum sempat, kau sudah masuk,” jawab Bella kikuk, ia kira Lucas akan berlaku kurang ajar, ternyata hanya mengeramasi rambutnya.


Bau maskulin dari shampo mint tercium jelas, apa lagi hangatnya air membuat uap panas naik dan mempertajam aromanya. Bella menurut saja saat Lucas membersihkan rambutnya. Bella memilih diam dan menikmati belaian Lucas, matanya menatap ke arah pemandangan kota yang sangat cantik.


“Lalu aku makan apa? Sekolahku bagaimana?” Bella mendengus kasar.


“Aku akan memberikan uang padamu,” jawab Lucas.


“Dengan cuma-cuma?!” Bella menoleh.


“Ck, tentu saja kau harus jadi pacarku!” Lucas menyentil dahi Bella.


“Itu namanya aku menjual diri donk!” Bella kembali memutar tubuhnya ke depan dan memandang lautan bintang. Apa bedanya dengan menjual diri kalau dia mendapatkan uang dari menjadi wanita Lucas? Lucas mendapatkan tubuhnya dan dia mendapatkan uang Lucas.


“Beda, Ella. Karena aku benar-benar mencintaimu.” Lucas mengecup punggung Bella, membuat bulu kuduk Bella berdiri. Desiran halus bahkan begitu terasa sampai ke ujung jarinya.


“Lu—lucas!”


“Aku berjanji tak akan menyentuhmu sampai kau benar-benar mencintaiku.” Lucas melingkarkan lengan kekarnya pada bahu Bella.


Bella menikmati dekapan hangat Lucas, ia terus menundukkan wajahnya, malu sekaligus bahagia. Selama ini Bella memang mendambakan kasih sayang yang tulus, rasa cinta yang hangat, juga keindahan perasaan dan kebersamaan.


“Bagaimana kalau aku anggap saja ini sebuah pekerjaan?” Bella masih jual mahal ternyata, ia mengajukan syarat pada Lucas.


“Lalu?”


“Aku akan jadi pacarmu dari pulang sekolah sampai jam 6 sore. Sama seperti jam kerjaku selama ini.” Bella melepasakan dekapan Lucas.


“Terus?” tanya Lucas penasaran dengan syarat Bella.


“Selebihnya di hitung lembur.”


“Oke.”


“Aku akan memasak dan membersihkan rumahmu.”


“Itu namanya pembantu, bukan pacar!” tolak Lucas.


“Lalu apa perkerjaan pacar?”


“Peluk aku setiap saat, cium aku setiap saat, elus rambutku setiap saat, bisikkan kata cinta setiap saat.” Lucas meletakkan dagunya di pundak Bella.


“Ehmp ..., itu berlebihan.” Bella malu mendengarnya.


“Tidak saat kau belajar mencintaiku, Ella.” Lucas mengecup pundak Bella.


Jantung Bella langsung berloncatan, bagaimana bisa sebuah kecupan terasa begitu dasyat. Bella langsung menarik diri dari pelukan Lucas, bisa-bisa malah Bella yang masuk dengan sukarela ke dalam pelukan buaya darat yang tampan ini.


“Jadi bagaimana?” tanya Lucas lagi.


“Berapa gajinya?” tanya Bella.


“Kau mau berapa?” tanya Lucas.


Bella berpikir keras, bagaimanapun Lucas adalah pria yang terlihat cukup mapan. Jadi gajinya pasti tidak kecil.


“Seratus ratus ribu per jam?” pinta Bella.


“Puft ...!” Lucas menahan geli.


“Kenapa? Kau keberatan?”


“Tidak, bagimana kalau 1 juta per jam?”


“Hah??” Bella mencelos, kalau sejam satu juta berarti sehari 4 juta, itu bukan uang kecil bukan? Kalau sebulan saja bersama Lucas dia bisa mengumpulkan uang 120 juta! Hei!! Ini serius atau main-main?


“Baiklah!!” Bella langsung memandang Lucas dengan mata yang berbinar bahagia.


“Ck, dasar mata duitan!” Lucas berdecak geli.


Bella memejamkan matanya sembari membayangkan banyaknya uang yang akan diterima dari Lucas.


“Kalau kau tidak mencintaiku maka gajimu aku potong.” Lucas mengancam Bella.


“Wah, baiklah, aku akan belajar mencintaimu!!” ujar Bella penuh keyakinan.


“Baiklah, ayo keluar! Tanganmu sudah berkerut karena berendam terlalu lama.” Lucas menyuruh Bella keluar, Bella bergeleng.


“Perlu aku paksa?” Lucas menaik turunkan alisnya.


“Nggak!!” Bella menyipratkan air ke wajah Lucas.


“Sana keluar! Aku tutup mataku.” Lucas menutup matanya.


“Beneran jangan ngintip.” Bella beranjak dari dalam air.


“Aku nggak suka mengintip, Ella, aku lebih suka melihatnya secara langsung.” Lucas membuka matanya.


Bella langsung mendelik marah, untung saja ia sudah melilitkan handuk, kalau tidak pria mesum di depannya pasti telah berhasil melihat seluruh bentuk tubuhnya yang indah.


Ck, baru SMA saja sudah begitu menggiurkan apa lagi kalau dewasa. Batin Lucas, ia menyesali keputusannya yang membiarkan gadis itu mencintainya terlebih dahulu sebelum bisa menyentuhnya.


— MUSE S5 —


Bella mengitari apartemen Lucas sembari menunggu pria itu mengganti bajunya. Bella mengenakan kaos berwarna hitam milik Lucas. Kaos itu sangat besar sampai membuat tubuhnya tenggelam. Bella menyelak kaget saat tiba-tiba Lucas telah berhasil memeluk dan menjujungnya dari belakang.


“Hei!!” protes Bella.


“Ayo ke kamar!”


“Kenapa?”


“Kau-kan pacarku sekarang!” Lucas menaruh Bella di atas pundaknya dan merebahkannya di atas kasur.


“Lucas!! Kau bilang tidak akan menyentuhku sampai aku mencintaimu!” Bella mundur ke sisi dalam ranjang.


“Hm, benar! Tapi saat ini aku benar-benar sudah tak bisa menahannya Bella!” Lucas melepaskan bajunya.


“LUCAS??!” Bella berteriak histeris.


“Kemarilah!” perintah Lucas.


“Apa?” Bella melirik Lucas.


“Lakukan saja!”


— MUSE S5 —


Jadi mau apa mereka??


Wah masa Lucas menjilatt ludahnya sendiri?


Wah, penasaran?!


Next Episode ya gaes.


LOVE


LIKE


COMMENT


VOTE


Dih, nggak kuat dengan pesona Lucas ini. Bisa mati meleleh akunya.. kalian gimana gaes? Udah jatuh cinta sama Lucas belum?


Pengen bikin kisah cinta bucin lah sekali-kali. Jangan yang sedeh-sedeh mulu.. ahahahaha... semoga kalian nggak bosen ya, masa satu episode isinya cuma mandi doang


Wkwkwkwkkw


Lope lope lope