
MUSE
SPECIAL EPISODE NATAL
PART I
Bau daging panggang merebak sampai ke seluruh ruangan begitu keluar dari oven. Aroma rempah-rempah bercampur dengan lemak kalkun tercium menggoda selera. Membuat air liur menetes, tak sabar untuk segera menyicipinya.
“Yeee sudah matang!!” Inggrid bertepuk tangan saat Keano mengeluarkan seekor kalkun panggang utuh dari dalam oven.
“Selain pintar kau jago masak! Kakakku yang tidak bisa apa-apa itu beruntung mendapatkanmu, Ken.” Nick menepuk pundak Keano sembari mencomot tomat cerry di atas meja. Keano hanya menyeringai geli.
“Enak aja nggak bisa apa-apa!! Memang siapa yang bantu Mommy mengurus cafe?! Aku bisa meracik kopi, bisa menjadi ibu yang baik. Mengurus dua anak kembar sambil bekerja.” Inggrid mendengus sebal mendengar perkataan Nick, tapi ikut mencomot makanan di atas meja.
“Hei kalian berdua, jangan hanya makan saja!! Bantuin tata meja! Lagian, lebih banyak Mommy dan Tante Melody yang mengurus si kembar dibandingkan kak Inggrid.” cibir Gabby.
“Puft!!” Nick menahan tawa. Keano hanya bergeleng geli.
“Hish ...!” Inggrid hampir mengeplak Nick, sayangnya bel pintu membuat mereka semua terkejut.
“Pasti Ivander, biar aku yang membukanya.” Gabby meletakan nampan. Menyambut kekasihnya yang khusus terbang dari kota J malam ini demi acara keluarga Gabby.
“Hei pria lajang, kapan kau akan melamar dan menikahinya? Gabby bahkan akan segera menikah.” Inggrid menyenggol lengan adik lelakinya.
“Entahlah, aku belum memikirkannya.” Nick menelan sepotong kue.
“Lalu kenapa kau bawa cewek itu menemui keluarga besar, kalau tak ada niatan menikahinya?” Inggrid menunjuk ke arah Queency yang terlihat asyik menggoda si kembar. Bayi-bayi menggemaskan itu membuat Queency tertawa.
Nick menggaruk kepalanya padahal tidak gatal. Mereka berdua bahkan sudah pernah tidur bersama. Menghabiskan malam-malam bersama. Tapi entahlah, Nick tak bisa mengerti perasaannya. Rasanya sosok Bella belum bisa menghilang seratus persen dari dalam hatinya. Membuat Nick ragu untuk menikahi Queency. Nick takut, ragu, bahwa ternyata perasaannya bukanlah cinta, namun hanya pelampiasan semata.
“Jangan dianggurin kelamaan, wanita tak suka kalau kalian menggantung perasaan kami.” Inggrid menyentil dahi Nick.
“Akan aku pikirkan.” Nick tersenyum.
Tak lama Ivander datang, membawa satu botol red wine untuk merayakan malam natal bersama keluarga besar calon istrinya. Mereka semua sudah saling mengenal sebelumnya.
“Duduklah, Ivander. Sebentar lagi daddy dan mommy akan datang.” Gabby kembali pada pekerjaannya.
Lampu-lampu kecil berkelap kelip memenuhi pohon natal. Kado-kado dengan bungkus warna warni berserakan di bawah pohon natal itu. Kebiasaan dari kecil, karena mereka empat bersaudara jadi bisa saling tukar menukar kado dengan gembira.
Bel rumah kembali berbunyi, kali ini Nick keluar untuk membuka pintu.
“Ck, aku kira Oma sama Opa, ga bawa kunci?” Nick menempeleng kepala Levin.
“Iya ketinggalan.”
“Huft! Masuk gih!” Nick mengusik rambut Levin.
“Hei, aku bukan anak kecil lagi!”
“Iya-iya juara!!” Nick mencibir Levin dan tersenyum pada Leoni.
“Udah baikkan kalian?” Tanya Nick, Levin langsung menginjak kaki Abangnya. Nick mengaduh tertahan lantas melirik Levin.
“Belum, Kak. Cuma nggak enak aja sama Om dan Tante yang telefon tadi.” Leoni enggan menatap wajah Levin. Masih marah.
“Ow,” Nick melirik Levin, Levin menatap Leoni.
“Ya udah, yuk masuk aja! Dingin.”
“Iya. Permisi ya Kak.”
Keduanya masuk dengan canggung. Nick mengekor. Tak lama Arvin dan Kalila datang dengan Oma Rose, dan Opa Kai. Menuntun mereka berdua. Tubuh renta membuat keduanya tertatih saat berjalan.
“Opa!! Oma!!” seru Inggrid dan Gabby, mereka memeluk keduanya mesra.
“Sudah mau menikah jangan manja begini.” Oma Rose menepuk punggung Gabby.
“Iya nih, manja banget.” Nick mentowel pipi Gabby.
“Diem!!” Gabby mendelik galak.
“Sudah-sudah!! Mereka semua pada nungguin. Ayo kita duduk dan makan.” Ajak Kalila.
Semuanya menurut. Menempatkan diri pada masing-masing kursi. Meja panjang dengan berbagaimacam hidangan dan juga kue-kue manis berjajar rapi. Semuanya mengobrol dan bercanda tawa dengan seru. Mengenang masa-masa kecil. Berbagi ejekan dan juga bahan cemoohan.
“Kapan kau akan menyusulku menikah?” Gabby mencela Nick. Membuat Nick tersedak air yang sedang diminumnya.
“Hei! Jangan ungkit masalah pernikahan.” Nick melotot galak. Queency menggenggam erat jemarinya, tak berharap pertanyaan itu akan muncul.
“Jangan main-main, Nick. Kau juga harus menikah. Benarkan Queency.” Arvin menatap Queency.
“Ya??? Ee... itu ... itu terserah, Nick.” Queency mendadak kehilangan nafsu makannya. Belum pernah ia meragukan Nick. Setidaknya Queency tahu bahwa Bella sudah hidup bahagia bersama dengan suaminya. Tak ada yang Queency khawatirkan. Tapi pada malam hari ini, entah kenapa Queency benar-benar meragukan perasaan Nick terhadapnya.
“Tuh kan, Queency juga pasti belum siap menikah. Dia baru saja berada dipuncak karirnya, Dad. Menikah hanya akan membuat namanya menghilang dari dunia hiburan.” Nick menggenggam tangan Queency.
Queency menggigit bibirnya, menatap lamat ke arah Nick. Benarkah Nick tak ingin menikahinya? Bahkan bila harus kehilangan karir dan segala kerja kerasnya demi Nick pun, Queency dengan senang hati akan melakukannya. Kenapa Nick memutuskan sepihak, meminjam namanya?
Apa kau tak pernah serius mencintaiku? Pikir Queency.
Semua mata menatap tajam ke arah Nick. Membuat Nick kebingungan.
“Apa? Kenapa kalian menatapku?” Nick mengangkat bahunya bingung.
“Kakakmu polos apa bodoh sih?” Ivander menyenggoh lengan Gabby.
“Dua-duanya,” jawab Gabby.
“Kakakmu sama nggak pekanya sepertimu.” Leoni berbisik pada Levin, membuat Levin cemberut.
“Well, anak muda. Sepertinya kau memang harus banyak belajar tentang cinta dan kehidupan.” Arvin bergeleng, diikuti gelak tawa semua anggota keluarga. Hanya Opa Oma dan kedua bayi kembar yang tidak mengerti. Mereka tetap makan dengan lahap, terlalu tua dan terlalu muda membuat mereka tak bisa mencerna informasi itu.
“Apa perlu kakakmu ini mengajarkannya padamu?” Inggrid merangkul pundak Nick, tapi Nick menepisnya.
“Jangan meledek, Nick. Aku yakin dia akan menemukan jawaban akan perasaannya.” Kalila menatap putra tertuanya dengan lembut.
Nick menggaruk kepalanya, masih belum tahu letak kesalahannya. Bukankah sudah ia katakan kalau bukan hanya dia yang belum siap menikah. Lantas apa hubungannya dengan kata “nggak peka”.
Bunyi pesan masuk membuat Nick memgalihkan fokusnya. Benda pipih itu menyala, menampilkan deretan kata.
BELLA:
Selamat Natal Nick
Kami membuat pesta
sederhana di rumah
Bisa kau mampir.
Aiden sangat merindukanmu
NICK:
OK
Tentu saja, Quee....
Nick berpikir sejenak, lalu menghapus teksnya.
NICK:
OK
Tentu saja, Bella.
BELLA:
Ajak kekasihmu juga.
Kenalkan padaku
NICK:
baiklah.
see you
Tak lama Nick bangkit, mencium pipi Arvin dan Kalila sambil berpamitan. Arvin juga mengangguk setelah Nick pamit. Nick menghampiri kamar kecil. Mengetuk pintu.
“Queen, kau sakit perut? Kenapa lama sekali?” seru Nick.
“Tidak, aku sudah selesai.” Queency keluar, matanya sedikit basah.
“Aku mau pergi mengunjungi rumah teman. Apa kau mau ikut?” tanya Nick.
Quenncy menatap kelurga besar Nick, lalu beralih menatap kekasihnya.
“Kemana?” tanya Queency.
“Rumah Bella.”
DEG ....! Detak jantung Queency semakin cepat begitu mendengar nama Bella disebut. Queency tercekat, belum bisa menjawab.
“Bagaimana?” desak Nick.
“Aku ....”
...— MUSE —...
Selamat natal!!! Aku kasih episode spesial natal. Hohoho
Bagi yang merayakan selamat natal ya