MUSE

MUSE
S4 ~ EKSTRA PART II



MUSE S4


EPISODE 30


S4 \~ EXTRA PART


\~Bercumbu dan bersatu di bawah keindahan alam yang eksotis. Berusaha untuk menyuntikkan benih cinta yang mungkin akan kami semai tahun depan.\~


______________________


INGGRID POV


“SALJU!!!” teriakku begitu kami menyentuh dataran Greenland.


Greenland adalah sebuah negara dengan lempengan es abadi setelah antartika. Merupakan negara dengan penduduk terjarang di dunia. Greenland merupakan pulau terbesar di dunia. Salju abadi turun sepanjang tahun menutupi kawasan ini. Namun jangan salah, negara ini merupakan negara yang cocok digunakan untuk berbulan madu hlo. Hawa dingin, hotel romantis, dan pemandangan alam yang eksotis membuat tiap pasangan betah menggoreskan kisah mereka di tempat ini.



(Ceedit pict to owner)


“Ra!! Lihat, hotelnya keren banget!” Aku langsung melonjak bahagia melihat sebuah hotel igloo.


“Sabar Inggrid!!” Ra membawa koper kami berdua.


“Terima kasih!” Ra mengucapkan terima kasih pada warga setempat bernama Floki. Dia adalah pemandu wisata kami selama berada di sini.


“Aku akan jemput kalian besok, hari ini beristirahatlah terlebih dahulu, OK!” usul Floki.


“Benar, kami sangat lelah. Berjam-jam di dalam pesawat membuatku mual!” jawab Ra.


“OK, beristirahatlah, see you gaes.”


“See you, Floki.”


“Bye-bye!” Lambaiku.


Aku langsung bergegas memasuki kamar kami. Hotel Berbentuk Iglo dengan atap kaca transparan yang bisa membuatmu menatap pemandangan langit dan alam sekitar yang luar biasa. Kita bisa menikmati aurora borealis saat malam tiba. Tidur dengan beratapkan tirai kiasan cahaya, bak berada di dalam surga. Apa lagi aku menikmatinya dengan orang yang paling aku cintai di dunia ini. Aku bersemangat!!


“Aku lelah!” Ra membanting tubuhnya pada ranjang empuk di tengah-tengah kamar.


“Mau aku pijiti?” Aku bergegas melepaskan sepatuku dan meloncat naik ke atas tubuhnya.


“Memang kau tidak lelah, girl?” tanya Ra.


“Nope!” Senyumku.


“Sudah nggak usah, sana istirahat saja. Sudah sore dan jadwal kita besok sangat padat.” Ra mendorong tubuhku agar turun dari atas tubuhnya. Tak butuh waktu lama suara dengkuran pelan terdengar, Ra sudah terlelap. Dia pasti terlalu lelah menempuh perjalanan udara dan darat yang cukup memakan waktu.


Aku turun dengan riang, mengamati sekeliling, masih terus terpesona dengan keadaan. Kamar kami ada sebuah ranjang king size di bagian tengah, di belakangnya ada partisi dan mini pantry, lalu ada sofa melingkar untuk menikmati pemandangan, dan sebuah meja bulat dari kaca.



(Credit pict to owner)


Yang paling spektakuler adalah semua atapnya terbuat dari kaca. Aku terus mengagguminya. Greenland punya beda waktu siang lebih panjang diwaktu malamnya, menarik bukan? Jadi walaupun ini sudah jam 7 malam, di luar masih terang. Dan kalau kalian berada di sini pada bulan april kalian bisa melihat fenomena midnight sun, di mana siang hari di sini berkisar 20 jam, wow sekali ya.



(Credit pict yo owner)


Aku melepaskan sarung tangan dan juga coat lalu masuk ke dalam dekapan Keano.


“Uhm ....” Keano melengguh pelan karena aku mengganggu tidurnya.


“Hangat.” Aku memeluk tubuhnya dan akhirnya ikut terlelap.


— MUSE S4 —


KEN POV


Hari ini Floky membawa kami jalan-jalan ke area seluncur dan kereta anjiing. Kami akan menaiki kereta yang di tarik oleh 6 ekor anjiing siberian huski atau alaska malamut. Inggrid tampak begitu antusias dan bersemangat. Dia memang menyukai binatang terutama anjiing, di rumahnya ada seekor anjing pomerian putih. Tapi Gabby yang paling sering memonopolinya.


Ra sialan! Bukannya dia pemberani, kenapa malah sembunyi? Aku mengumpat ke benakku sendiri.


Ogah!! Kalau sampai mabuk bagaimana? Aku nggak mau merasakan sensasinya! Kau saja! Jawab Ra dalam benakku.


Akhirnya aku mengalah, melihat senyuman terkembang di wajah istriku membuat nyaliku membesar.


“Kau tampaknya sangat antusias, girl?!”


“Sudah lama aku memimpikan hal ini! Kalau bisa aku mau tidur di kelilingi oleh mereka.” Inggrid memandang para doggi dengan mata yang jauh lebih berbinar dari pada saat memandangku.


Ya ampun, masa kau cemburu sama anjiing!


Dalam benakku Ra menyindir.


“Diam kau!!” bentakku.


“Ken?!!” Inggrid mencelos.


“Sorry Inggrid, aku membentak, Ra.”


“Memang Ra ngomong apa?”


“Dia bilang kau jelek kalau sedang nggak sabaran!” fitnahku, rasain Ra!! Kagak dapet jatah kau nanti malam.


“Benarkah?”


“Iya, dia bahkan bilang kau nggak cocok pakai baju tebal seperti ini, membuatmu terlihat seperti bakpao kukus isi daging.” tambahku.


Tapi Inggrid memang tenggelam di dalam coat putihnya yang tebal, ditambah dengan masker dan tudung kepala berwarna senada membuatnya mirip dengan bakpao isi daging.


“Ra nyebelin!! Awas saja ntar minta cium!! Nggak aku kasih!”


“Good!”


Hei, nerd!! Kau ngefitnah aku ya? teriak Ra dari dalam.


Rasain, salah siapa nggak mau keluar?! Enak saja maunya keluar cuma pas bagian ena-ena di dalam kamar!! Sindirku di dalam hati. Si egois ini nggak mau nemenin Inggrid liburan, jatah di dalam kamar aja dia keluar. Kampredkan?!


“Ayo, Ken!” Inggrid menggandeng lenganku untuk naik ke dalam kereta.


Yah, cukup melihat senyuman terkembang di wajah cantiknya sudah membuatku bahagia. Kan aku memang malaikat di hatinya. 😇


“Imutnya, bakpaoku!!!” Aku menggigit pipinya yang memerah karena terpaan angin dingin.


“Jangan nakal!” Inggrid memukulku pelan.


“Kalian siap?” teriak si kusir.


“Siap!!” Teriak kami bersamaan


“Oke anak-anak, kita bawa teman kita jalan-jalan!!” Si kusir kereta menarik kekangnya dan kereta meluncur.


Wuus ....


Derap langkah para anjiing membuat kereta melaju cepat, licinnya es nampaknya tidak berpengaruh untuk kaki-kaki mereka. Dengan cepat mereka berlari menarik kereta kami dan mekelak-kelok keluar dari area tunggu menuju ke hamparan es yang begitu luas.


“WWWAAAAA!!!!” Inggrid berteriak bahagia.


“Cobalah, Ken!!”


“WWWAAAA!!!” Aku ikut berteriak, merasakan angin dingin menerpa wajah dan juga tubuhku. Untung saja kami pakai masker dan juga kaca mata gogle, bayangin kalau angin sedingin ini menerpamu tanpa penahan apapun, sudah pasti wajahku membeku.


“Keren!!!” Inggrid senang.


Para Anjiing mulai memperlambat langkah mereka saat kami tiba di sebuah air terjun es. Mereka sengaja melambat agar kami bisa berfoto dan juga menikmati pemandangan alam. Salju putih dengan sedikit birunya air terlihat menyegarkan mata. Walaupun monoton tapi rasanya sangat istimewa.


“Imutnya!!”


“Apanya? Anjiingnya?”


“Tentu saja wajah istriku!”


“Gombal Ken!!” Inggrid tertawa lalu melepaskan maskernya.


“Kenapa dilepas? Nanti kedinginan.”


Aku terkikih pelan lalu menggodanya, “kau tidak takut lidah kita membeku dan tak bisa lepas?”


Inggrid langsung melongo, lalu hendak memakai kembali maskernya.


“Hahaha ... kemari girl!” Aku mendekapnya dan mencium Inggrid, mendaratkan bibirku di atas bibir ranumnya.


“Nanti lengket!! Nggak bisa lepas!!” cegah Inggrid.


“Aku hanya menggodamu!” Aku menyatukan dahi kami.


“Jahat!!” Inggrid memanyunkan bibirnya sebal.


Setelah puas berputar-putar dan bermain dengan para Anjiing besar ini, kami bergegas kembali ke resort. Menikmati rebusan makanan hangat dan juga perapian. Dinginnya salju mulai membuat tubuh kami menggigil dan perut keroncongan.


King Crab super besar menjadi hidangan utama kami sore ini. Kepiting alaska ini memang selalu menjadi primadonanya seafood. Harganya juga nggak main-main!! Di Indo, satu buah kakinya saja bisa berharga sampai tiga ratus ribuan, untung saja kita nggak di Indo, kita di tempatnya kepiting ini berasal, jadi pasti lebih murah.


“Enak sekali!” Inggrid menghirup kuah panas langsung dari mangkuknya, menimbulkan bunyi sruputan yang sangat keras.


“Pelan-pelan Inggrid! Panas.”


“Tidak panas Ken! Cobalah!”


Aku mencobanya, padahal asapnya mengepul sangat banyak, dan airnya meletup, tapi nyatanya benar-benar tidak panas. Mungkin suhu udara yang dingin membuat kita tak bisa merasakan panasnya kuah hotpot.


“Enakkan Ken?”


“Iya enak sekali!”


“Ah, dagingnya tebal dan lembut!!” Inggrid mematahkan kaki kepiting itu dan memakan isinya.


“Suka?”


“Suka!!” serunya.


“Baguslah, dua ratus juta tak terbuang sia-sia!” Aku hampir menangis, harga tiket dan penginapan serta tour setempat untuk kami berdua hampir 200 juta.


“Baiklah!! Ayo kita habiskan biar uangnya nggak sia-sia.” Inggrid tertawa.


Kami menghabiskan rebusan hangat itu dan bergegas kembali ke penginapan.


— MUSE S4 —


RA POV


Aku baru saja keluar dari benak Keano dan menjadi dirinya setelah selesai mandi. Inggrid sudah menungguku dengan dua cangkir coklat panas dan kentang bakar. Dia duduk pada sofa yang melingkar di sudut ruangan.


Inggrid menatap ke arah langit-langit yang mulai gelap, matahari yang panjang telah beristirahat dan berganti dengan bulan. Kilauan cahaya hijau kebiru-biruan mulai terlihat, meliuk-liuk bak tirai yang tersibak angin.


Aku duduk di samping Inggrid, ia mencibirkan bibirnya dengan sebal saat tahu aku bukan Ken.


“Ra, ngapain keluar?!”


“Kau marah?”


“Kau bilang aku jelek!”


“Itu Ken yang bilang! Aku nggak bilang apa-apa!” tandasku dengan sebal. Ken yang memfitnahku siang tadi, dia sebal karena aku nggak mau naik kereta.


“Ra Jahat, pokoknya jahat!” guratan sebal dan bibir manyunnya membuatku senang dan geli, kan memang aku Iblis di hatinya. 😈


Aku hanya bergeleng pelan dan meminum coklat panas yang tergeletak di atas meja. Inggrid memandang tajam ke arahku, sepertinya dia nggak rela aku meminumnya. Mungkin dia membuatnya untuk Ken! Hais, ayolah baby! Aku juga suamimu! Tubuh ini juga tubuh Ken! Siapapun yang meminumnya sama saja hasilnya. Tetap terurai dan menjadi pipis. 😅


“Sudah jangan ngambek!” Aku merangkul pundaknya.


“Siapa yang ngambek?” Dengan malu-malu Inggrid masuk ke dalam dekapanku.


Kami menikmati pemandangan alam yang luar biasa indah sambil menikmati indahnya cinta dan manisnya secangkir coklat panas. Aurora borealis terlihat begitu mempesona, memberikan semburat warna pada gelapnya malam.


Aku mengambil cangkir kami berdua dan meletakkannya di meja.


“Mau aku suntik lagi?” bisikku panas di telinganya.


Inggrid tak menjawab, hanya tersenyum dan menggigit ujung kuku ibu jarinya.


Aku mengecup pelan cerukkan lehernya, tanganku bergriliya masuk ke dalam sweter pink yang dipakainya saat ini. Inggrid tak menolaknya, ia malah mengeluarkan desisisan pelan yang menyiratkan hasrat dan gairah.


“Berikan aku bayi!!” Aku menggigit telinganya, membuatnya semakin menggeliat menanggapi sensasinya.


“Aku mencintaimu, Inggrid!” ucapku sebelum mencium bibirnya.


“Aku juga mencintai kalian!”


Aku menggendong tubuhnya dan menaruhnya di atas kasur, mulai menyesap tiap jengkal kenikmatan dari tubuh indahnya. Bercumbu dan bersatu di bawah keindahan alam yang eksotis. Berusaha untuk menyuntikkan benih cinta yang mungkin akan kami semai tahun depan.


— MUSE S4 —


AUTHOR POV


Satu tahun kemudian ....


“Ba ... ba ... ba ...!” seorang bayi mungil asyik mengoceh, ia sesekali tertawa kecil melihat ke atas karena Papanya sedang mengajaknya bermain mata.


Dia anakku!”


Anakku!!


Aku yang membuatnya!


Aku juga!


Aku yang pertama


Tidak, aku juga pernah jadi yang pertama!


Pertarungan perebutan hak kepemilikan bayi terjadi dalam benak Keano. Ken dan Ra tengah berebut siapa yang telah berhasil membuahi Inggrid.


Inggrid hanya bisa bergeleng melihat perubahan raut wajah suaminya, kadang lembut, kadang tajam, kadang menautkan alisnya, kadang menyayukan matanya.


“Sebenarnya apa yang sedang kalian perdebatkan?” Inggrid bangkit dan meletakkan kembali bayinya ke dalam box.


Kini ada dua orang bayi di dalam box.


“Siapa Papa mereka!” jawaban Keano sukses membuat Inggrid mencelos.


“Bodohhh banget sih???!!” teriak Inggrid sambil menjewer telinga suaminya.


“Ck, sakit tahu! Dasar cewek bar-bar!” pungkas Ra.


“Pikiran kalian aneh!” Inggrid bergeleng.


“Benar, Inggrid, Ra keterlaluan, jangan mau tidur dengannya malam ini!” tandas Ken sambil menggosok telinganya yang nyeri.


“Jangan donk! Kita sudah lama puasa!” protes Ra.


“Memang siapa yang mau kasih jatah kalian?!” Inggrid menepok jidat Keano.


“Kakak sudah minta Adek!” tanggap Ken.


“Bener!” Imbuh Ra.


“Kayaknya mulut kalian minta disumpalin popok bau pesing!” Inggrid melengos.


“Yah, nggak ada main dokter-dokteran lagi donk malam ini?”


“Main saja sama kambing sana!” tawa Inggrid geli melihat wajah kecewa suami-suaminya.


Ken dan Ra langsung menurunkan bahu Keano tanda kecewa. Penantian puasa 6 bulan mereka bertambah panjang lagi ...!


Kasihan ...


— MUSE S4 —


Please like, comment, and vote


Follow my IG @dee.meliana