
MUSE S7
EPISODE 13
S7 \~ MODEL
Levin terdiam, memang sih, kalau tidak karena Levin mungkin ketiga sahabatnya tak ada yang ikut menjahili Leoni. Tapi entah kenapa rasanya aneh. Levin tidak suka Farel mengambil kesempatan untuk bersama dengan Leoni tanpa sepengetahuannya. Kenapa?
______________
Seminggu berlalu semenjak kejadian salah paham itu terjadi. Levin menerima chat dari Farel, kakaknya akan bertanding malam ini.
Farel:
Kakakku akan bertanding.
Bagaimana?
Kita kumpul tidak malam ini?
Chiko:
Aku masih kapok.
Takut tertangkap.
Bryan:
Kalau Levin ikut aku ikut
Farel:
Memang kau bucinnya?
Dasar ho**
Bryan:
Aku setia kawan.
Chiko:
Awas kalau kau
Menyakiti hati Anya
karena Levin🤞🏻
Bryan:
🖕🏾🖕🏾🖕🏾🖕🏾
Farel:
Di mana Levin?
Kau ikut tidak, Vin?
Bryan:
Vin?
Levin:
Ikut.
Tunggu, aku sedang dirumah
Singa.
Farel, Chiko, Bryan :
?????
SINGA??!
Levin:
Nanti aku cerita.
Levin memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Berjalan kembali ke ruang keluarga. Selain Leoni yang menguap lelah di sofa, masih ada Kanna, Kalila, dan Melody. Mereka berbicara tentang masa-masa SMA.
Jadi ceritanya, Kanna berencana berterima kasih pada Levin karena menyelamatkan Leoni. Ia ingin mengundah Levin makan malam bersama. Kebetulan Kalila mengangkat panggilan Kanna. Terlibat percakapan asyik. Lalu mereka berjanji bertemu dan terjadilah acara reuni dadakan ini. Kalila mengajak Melody, mengenang masa-masa SMA mereka.
Kapan pembicaraan membosankan ini akan selesai? pikir Levin sebal. Levin melirik ke arah Leoni yang terkantuk-kantuk di sampingnya.
“Imutnya,” lirih Levin.
“Heh? Kau bilang apa?” tanya Leoni setengah sadar.
“Nggak.” Levin menoleh kaku.
Bodoh!! Apa yang baru saja aku pikirkan?? Levin menggelengkan kepala.
“Aku mengantuk sekali, kapan pembicaraan menyebalkan ini akan berakhir?” Leoni menghela napas panjang.
“Aku juga bertanya hal yang sama barusan dalam hati.” Levin terkikih. Mereka sehati.
“Berhenti!! Kau jelek saat tertawa!” Leoni menangkup wajah Levin. Membuat keduanya saling pandang.
“Apa yang kau inginkan, Singa?! Jauhkan tanganmu dari wajahku.”
“Ck, kenapa wajahmu sempurna sekali?! Aku jadi ingin menirunya!” Leoni memutar kepala Levin, kanan, kiri, atas, bawah. Matanya menyipit saat mengamati Levin.
“Kau baru saja memujiku tampan?!” Levin terkekeh.
“Ck, bukan. Aku hanya bilang bentuk wajahmu sempurna.” Leoni menepuk pipi Levin.
“Heleh! Ngeles.”
“Iih, beneran! Jadi modelku, ya. Kau mau kan?!” Leoni menatap Levin dengan puppy eyes yang menggemaskan.
—Jadi ceritanya, Leoni beberapa hari bolos sekolah karena kakinya sakit. Selama di rumah saja, Leoni memikirkan ucapan Papanya untuk belajar menggeluti sesuatu. Leoni mencoba beberapa hal baru. Sepertinya ia sedikit tertarik dengan kerajinan tanah liat tapi dalam bentuk patung, bukan keramik seperti keahlian Leon.—
“Model?”
“Not bad.” Angguk Levin.
“Kau maukan? Ya ya ya,” renggek Leoni.
“Memang nggak cukup hanya dengan foto saja?” Levin terlihat enggan, mereka selalu bertengkar, mana mungkin Leoni serius meminta bantuannya. Jangan-jangan mau menjebak Levin lagi.
“Nggak cukup donk. Kan butuh merasakan juga, tingkat lekukan, kedalamannya, teksturnya.” Leoni menjelaskan alasannya.
Levin menimbang sesaat, sepertinya Leoni tidak bercanda. Gadis itu terlihat serius dengan apa yang ia kerjakan.
“Baiklah, aku akan menjadi modelmu. Tapi dengan satu syarat.” Levin mengajukan permohonan juga.
“Apa?!” Leoni tersenyum senang.
“Kau jadi pembantuku selama proses itu! Dan Turuti semua kemauanku! Hahahaha!!” Levin tertawa, dengan mengajukan syarat yang mustahil Leoni pasti akan mundur dengan sendirinya.
“Itu sajakah? Okelah!” Leoni malah dengan entengnya setuju.
“Hei, hei, Singa!! Aku memintamu untuk menjadi seorang kacung hlo!! Kenapa kau malah setuju?” Levin mengeplak kepala Leoni.
“Hlah habis, siapa lagi yang bisa jadi modelku? Tak ada wajah lain yang sempurna seperti milikmu.” Leoni lagi-lagi menangkup wajah Levin, menatapnya lamat. Hal ini sontak membuat Levin salah tingkah.
“Serius hlo ya! Jangan mengeluh.” Levin mengalihkan pandangannya.
“Iya, asal kau mau jadi modelku.” Leoni tersenyum.
“Mulai kapan?”
“Besok! Jaga wajahmu baik-baik! Jangan sampai terluka ataupun cacat!” Leoni terkekeh.
“Baiklah.” Levin mengambil ponsenya, mengetik beberapa balasan.
“Kau ada rencana? Mau pergi?” tanya Leoni penasaran. Dari tadi gelagat Levin memang aneh, dia terlihat tidak tenang. Terus mengambil dan melihat ponselnya.
“Tidak.”
“Bohong, kau pasti mau kabur dari rumah malam-malam untuk pergi mainkan. Melihat balapan liar.” tuding Leoni.
“Ba—bagaimana kau tahu?” Levin terlihat gagap karena Leoni mengetahui rahasianya.
“Farel, dia banyak bercerita tentang kalian.” Leoni menghenyakkan punggung ke sandaran sofa, rasa kantuknya telah menghilang.
“Farel?”
“Iya, seminggu tak masuk sekolah dia dua kali menjengukku.” Leoni menjawab rasa penasaran Levin.
“Kenapa?”
“Memangnya kenapa? Apa harus ada alasan menjenguk teman yang sakit?” Leoni bingung.
“Hah?? Ya, gak harus ada sih. Tapikan kalian nggak sedekat itu untuk saling menjenguk saat sakit.” Levin menggaruk kepalanya.
“Hla, emang kau kira kita cukup dekat untuk bisa saling bertandang? Enggak kan? Dan buktinya kau bisa duduk di rumahku. Bahkan makan malam bersama kami.” Leoni kembali menjawab Levin. Jawaban Leoni benar.
“Ck, padahal bocah itu biasanya suka mengejekmu. Apa menurutmu itu tidak aneh?” Levin mengusap dagu tanda berpikir.
“Enggak, sepertinya malah kau yang lebih sering menjahiliku. Sedangkan Farel, dia bilang dia hanya ikut-ikut dirimu.” Leoni menenggak es sirup di depannya.
Levin terdiam, memang sih, kalau tidak karena Levin mungkin ketiga sahabatnya tak ada yang ikut menjahili Leoni. Tapi entah kenapa rasanya aneh. Levin tidak suka Farel mengambil kesempatan untuk bersama dengan Leoni tanpa sepengetahuannya. Kenapa?
“Woi!! Ngalamun!!” Leoni menyenggol lengan Levin dengan sikutnya.
“Nggak kok, siapa yang ngelamun.”
“Aku ikut ya, bolehkah?” Leoni menatap lamat Levin.
“Itu bukan tempat untuk bocah.”
“Kau juga bocah, Dodool!! Kita seumuran.” Leoni mengumpat sebal.
“Menentang bahaya hlo. Bising, bau minyak, belum lagi kalau ada polisi. Kita bisa tertangkap.” Levin bergeleng.
“Pokoknya aku ikut atau aku bilang ke Aunty Kalila.” Ancam Leoni.
Levin tampaknya tak punya pilihan. Akhirnya, ia mengangguk menyetujui permintaan Leoni.
“Yes!”
“Pakai jaket hitam dengan tudung dan masker.” Levin mendekatkan wajahnya ke telinga Leoni.
“Memangnya kita mau mencuri?” Leoni membalas bisikan Levin dengan lirih.
“Lakukan saja! Namanya juga kabur dari rumah!” Levin menyentil dahi Leoni.
“Oke!”
“Aku jemput jam 11.30 malam! Jangan telat! Ketiduran aku tinggal.” Ancam Levin.
“Siap.” Leoni memberi hormat menyiapkan diri.
“Jangan kebelet pipis, di sana nggak ada toilet!!” Levin memberi peringatan.
“Hah??? Ga boleh pipis?!”
“Yakin masih mau ikutan?”
“Mau lah!” Leoni bertekat.
“Huft ... Okelah, see yu tonight!” Levin menyerah.
...— MUSE S7 —...
...Nakal emang menular 😌😌...
...Bau bau Farel mau nikung eeaaa ......
...Eh nggak nikung donk, kan emang belom jadian mereka, walau udah ciuman 🤣...
...Jangan lupa like and commentnya...
...Banyakan biar crazy update...