MUSE

MUSE
S2 ~ TOREHAN LUKA



MUSE S2


EPISODE 79


S2 \~ TOREHAN LUKA


\~Air mata menetes dari sudut matanya. Bisa kulihat pandangannya menyiratkan rasa kecewa yang begitu besar. Aku tak tahan melihatnya, aku takut mengetahui akibatnya.\~


•••


Jadi bagaimana ceritanya???


Jadi kenapa semua ini bisa terjadi???


Kenapa aku menyakitinya? Apa karena dadaku rasanya begitu sakit dan hatiku terasa begitu terluka?


Aku menyakitinya hanya karena aku cemburu padanya.


Aku kembali berubah menjadi seorang monster karena keegoisanku sendiri.


Aku egois, aku membuatnya menanggung semua rasa sakit hatiku.


Aku sama sekali tak mempedulikan teriakannya, permohonan ampunnya, sampai tangisannya.


Wajahnya yang cantik mengeluarkan darah namun aku tak peduli.


Matanya yang lentik terus mengeluarkan air mata dan aku tak peduli.


Peluh membasahi sekujur tubuhnya dan aku tetap tak peduli.


Kenapa???


Kenapa aku begitu memuakkan?


Kenapa jiwaku begitu rusak?!!


Kenapa akal sehatku menghilang?!!


Kesadaranku kembali saat bau darah tercium begitu pekat dan air mata Kalila berhenti menetes. Isakan tangisnya mereda, berganti dengan tatapan kosong pada kedua mata bulatnya.


Sekejap kemudian Kalila menutup matanya dan tak sadarkan diri.


“Kalila?! Kalila?!” Ku panggil namanya berkali-kali.


Kini ketakutan menyelimuti sanubariku, aku tak ingin dia meninggalkanku. Aku tak ingin dia pergi dari sisiku. Aku membutuhkannya, aku mencintainya, Kalila..., bangunlah sayang!


“Baby..! Bangun!! Maafkan aku...!” Aku mengangkat tubuh Kalila dan memeluknya. Mendekapnya dalam pelukanku, mencium dan mengelus lembut wajahnya yang kacau. Keringat dan air matanya masih tersisa, membuat hatiku merana penuh penyesalan.


Tanganku gemetar saat menyentuh luka pada kening Kalila yang timbul karena perbuatanku sendiri.


Ya, Tuhan. Kenapa aku melakukannya???!!!


Kenapa???!!!


“Bangun Kalila. Kumohon...! Maafkan aku. Maaf...! Baby, maaf!” Aku tahu beribu kata maafpun tak akan membuatnya bangun dan memaafkanku. Tapi setidaknya aku ingin mengatakan kepadanya bahwa aku begitu menyesal telah melakukan semua ini.


Aku menangis sambil memeluk Kalila. Tangannya lunglai, aku menarik tangannya untuk menggenggam tanganku. Aku terus terisak saat mendekapnya. Air mataku membasahi wajah cantiknya.


Kenapa aku menyakitinya? Menyakiti tubuh mungilnya? Kenapa Arvin? Kenapa kau begitu hina?!


“Tidak...! Baby!! Bangun, baby!!” Aku menepuk pipinya perlahan, Kalila tetap tak merespon panggilanku.


Aku mencium bibirnya, dingin dan tanpa balasan. Padahal bisanya bibir itu begitu hangat dan terasa penuh. Merekah merah dan begitu manis. Kenapa aku merusak semuanya?! Kenapa aku menorehkan luka yang begitu dalam pada hatinya. Padahal aku pernah berjanji untuk mengobati hatinya yang terluka.


Aku merebahkan kembali tubuh Kalila dengan hati-hati. Mencari ponsel dan menghubungi Aleina. Dalam kepanikkan aku mengusap kasar keningku. Berjalan mondar mandir bak setrika, kehilangan arah dan akal sehat.


“Hallo, Tuan?”


“Aleina, panggil dokter ke aprtemenku.”


“Anda tidak jadi makan malam??”


“SEKARANG!!! Panggil dokter sekarang!!!!” Aku berteriak pada Aleina.


“Baik, Tuan.”


Aku membanting ponsel sampai hancur berkeping-keping. Aku tersungkur dan menjambak rambutku.


“Maafkan aku, Kalila,” tangisku seakan tak ada artinya lagi saat ini.





Aleina datang dengan seorang dokter. Aku sudah memindahkan Kalila di dalam kamarnya sendiri. Memakaikannya pakaian yang lebih layak.


“Ada apa ini?” dokter wanita itu tampak kebingungan dengan apa yang terjadi.


Siapa yang tidak bingung saat melihat betapa banyaknya kiss mark yang aku berikan pada Kalila beserta dengan luka-lukanya, belum lagi kesadarannya yang menghilang karena beban mental yang begitu besar.


“Cukup obati dia!! Dan jangan banyak bertanya!” bentakku.


“Ba..., baik!!”


“Kalau dia tak sadar aku akan membunuhmu juga!!!” ancamku.


Aleina dan dokter muda itu terlihat menelan ludahnya beberapa kali karena takut dengan ancamanku.


“Tuan, biarkan dokter memeriksa Nona Kalila. Anda beristirahatlah.” Aleina menyuruhku keluar, dia takut perlakuan kasarku malah akan menghambat dokter saat mengobati Kalila.


Aku menurut, aku kembali ke kamarku. Menghidupkan shower air dingin. Dinginnya air turun dan mengguyur tubuhku. Pekatnya darah berubah menjadi encer saat air membasuh tiap-tiap tetesaannya.


Aku memeluk lututku dan menangis. Baru kali ini aku memangis karena suatu hal. Aku kira cintaku padanya cukup untuk membuatku menjadi orang yang normal. Aku kira cintaku padanya cukup untuk membuatku sembuh.


“ARG...!!!!” Aku meraung dan menangis.


Kenapa aku begitu bodoh???!!!


Aku bodoh karena berharap menutupi semua kelemahanku dengan cinta.


Aku bodoh karena berharap cinta akan sempurna hanya dengan rasa saling memiliki.


“Kalila, Kalila, Kalila!!!” Aku memanggil namanya dalam penyesalan.


Hatiku begitu sesak, aku merasa bersalah padanya. Kalila pasti ketakutan, baby ku pasti ketakutan saat aku menjamahnya dengan kasar. Dia pasti ketakutan saat aku menjadikannya bulan-bulanan akan rasa sesak di dalam hatiku.


— MUSE S2 —


•••


Dinginnya air membuat tubuhku menggigil kedinginan. Bibir dan juga tanganku terasa kebas dan mati rasa. Aku ingin menghukum diriku sendiri yang telah menyakitinya.


“Tuan?!” Aleina masuk dan membantuku bangkit. Ia mengambilkan handuk dan menyelimutkannya pada pundakku.


“Bagaimana Kalila?”


“Nona sudah mendapat pengobatan, Tuan. Dia hanya syok, tidak ada luka yang serius.” Aleina berusaha menenangkanku.


“Syukurlah.” Aku menghela napas lega, air mataku kembali menetes karena rasa syukur. Kenapa aku jadi secengeng ini?


“Tuan, tangan anda juga harus dijahit.” Aleina melirik pada kepalan tanganku yang masih meneteskan darah segar.


“Baiklah.”


“Gantilah baju, Tuan. Saya akan menyuruh dokter bersiap.” Aleina kembali keluar.





Aku mengganti pakaianku dan membiarkan dokter menjahit luka-luka yang ku dapatkan karena meninju cermin.


“Aku tidak apa-apa, Na.” Aku menepisnya.


“Lebih baik anda istirahat.”


“Aku akan menjaga Kalila sampai dia sadar.” Aku berjalan menuju kamar Kalila.


“Jangan nekat, Tuan. Tubuh anda juga butuh istirahat.”


“Aku akan beristirahat di samping Kalila,” kataku.


“OK, Baiklah, Tuan, setidaknya minumlah obat.” Aleina menyerah untuk membujuk diriku. Ia tau betul dengan sifatku yang keras dan teguh saat memiliki sebuah kemauan.


Aku duduk di samping ranjang Kalila, mengelus rambutnya yang hitam dan panjang. Aku sangat menyukai rambutnya. Ah, Tidak!! Aku menyukai tiap inci semua bagian dari dirinya. Matanya, bibirnya, jemarinya, kuku kakinya, semuanya.


Dokter dan Aleina sudah membasuh dan membersihkan tubuh Kalila. Ia mengganti baju Kalila dan juga mengoleskan salep pada luka-luka lebamnya.


“Maaf, Baby,” ku genggam tangannya yang lentik, ada rasa yang begitu hangat menyalur dari jemarinya.


“Hukum aku, Baby! Tapi jangan pernah tinggalkan aku.” Aku menaruh telapak tangan Kalila pada pipiku dan menciumnya.


— MUSE S2 —


•••


Kepalaku terasa begitu pening, dan leherku sakit. Entah pukul berapa aku tertidur di samping ranjangnya. Menggenggam tangannya dengan sepenuh hati. Menunggunya bangun untuk kembali memanggil namaku. Aku suka caranya memanggil namaku dengan manja.


Pagi ini hujan masih terus turun, walaupun tidak sederas kemarin malam . Suara kicauan burung tidak terdengar, mungkin masih bersembunyi di dalam sarang dan saling menghangatkan.


“Kalila?! Kau sudah bangun?”


Aku melihat Kalila tengah duduk dan bersandar pada headboard ranjang. Ia melihatku dengan nanar, menahan air matanya yang seakan ingin tumpah ke luar.


“Bagaimana perasaanmu, baby? Feeling better?” tanyaku.


Kalila tetap diam dan mengacuhkanku. Ia mengalihkan pandangannya pada jendela luar. Kalila akhirnya tak kuasa membendungnya, ia menitikkan air mata.


“Kalila, maafkan aku.” Aku menarik tubuhnya agar memelukku.


Hening....


“Tolong maafkan aku, Baby. Aku bersalah padamu.” Aku mengulangi lagi permintaan maafku, namun ia tetap diam dan tak menjawabnya.


“Kumohon jangan diam saja!! Hukum aku Kalila!! Kata-kata i aku, pukul aku, salurkan amarahmu!” teriakku.


Tetap hening, Kalila tetap diam membisu.


“Aku rela, baby, asal jangan kau acuhkan aku seperti ini.” Air mataku kembali menetes saat melihatnya diam tanpa ekspresi. Rasanya lebih menyakitkan dibanding saat dokter menjahit lukaku semalam.


Aku menggenggam tangan Kalila, “ini lebih menyakitkan, Kalila!!”


Kalila tetap diam, seakan-akan ia memang ingin membalasku. Aku tertunduk, rasa sesak kembali menyeruak. Harusnya aku akui saja dari dulu kalau aku seorang syco. Jadi Kalila tidak akan terluka seperti ini.


“Aku pernah bercerita padamu kalau aku mengidap sebuah penyakit, bukan? Apa kau masih ingat?”


Kalila diam, tapi mulai menaruh perhatian pada ucapanku.


“Aku sakit jiwa, Kalila. Aku syco, sadist, juga masokis. Aku menyiksa wanita sebelum berhubungan s*ks dengan mereka.” Aku memberi jeda pada ucapanku untuk sekedar mengambil napas.


“Aku juga tak segan-segan membunuh orang, baik dalam arti nyata ataupun arti kiasan,” lanjutku.


Aku memang membunuh lawanku dan saingan bisnisku dengan menghancurkan mentalnya, atau merebut perusahaannya.


“Aku merasa aku bisa sembuh saat mengenal dirimu dua tahun lalu, Kalila! Kau masih ingat malam itukan?! Malam pertama kita?”


“Aku sama sekali tak menyiksamu, aku tulus saat melakukan semuanya denganmu.”


“....”


“Maka dari itu aku mencarimu dua tahun belakangan ini. Aku merasa aku akan bisa sembuh karena kehadiranmu, Kalila.” Aku menyatukan dahi kami berdua, napasnya yang hangat menyentuh kulit.


“Kaulah obatku, penawar jiwaku yang rusak.” Aku memeluk Kalila.


“Aku benar-benar mencintaimu, Kalila. Jangan tinggalkan aku. Ku mohon.” Aku mempererat pelukkanku.


Aku memohon padanya. Hanya dialah satu-satunya cintaku, obatku, dan juga penawar jiwaku. Tanpanya aku akan kembali hancur, tanpanya aku akan kembali menjadi manusia yang hina dan penuh dosa.


“Kau salah, Arvin. Kau tidak mencintaiku,” akhirnya Kalila menjawab ucapanku, walaupun bukan itu jawaban yang ingin ku dengar darinya.


“Aku mencintaimu, baby. Sungguh!”


“Kalau cinta kau tidak akan menyiksaku.”


“Tidak!! Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Lihat hatiku, Kalila!! Rasakan degupannya karena dirimu!!” Aku menaruh tangannya di atas dadaku.


Air mata menetes dari sudut matanya. Bisa kulihat pandangannya menyiratkan rasa kecewa yang begitu besar. Aku tak tahan melihatnya, aku takut mengetahui akibatnya.


“Arvin, kita putus saja, ya,” akhirnya terdengar juga ucapan yang menghancurkan hati itu.


Ucapan singkat yang berasal dari bibirnya yang kering membuatku merana.


Kalila menarik tangannya dari genggamanku. Dengan lembut dia mengelus wajahku yang terluka.


“Aku bukan obatmu, Kak,” kepalanya bergeleng pelan.


Kalila mengecup keningku dan berpindah untuk mengecup bibirku. Hanya sekejap namun terasa sangat menyakitkan. Aku memandangnya dengan mata terbelalak, aku tak menyangka dia benar-benar ingin pergi dariku.


“Kau tak akan pernah mengerti betapa aku mencintaimu, Arvin. Semakin aku mencintaimu, semakin sakit pula derita yang kau torehkan dalam hatiku.” Kalila mengusap bibirku yang lecet dengan ibu jarinya.


“Karena cintaku yang begitu dalam, aku tak ingin lagi terluka karenamu.” Kalila menarik tangannya.


“Tidak!!! Kalau cinta maka bertahanlah!! Bertahanlah untukku, Kalila!!” Aku menahan pergelangan tangannya.


Air mata mengalir dari sudut mata Kalila. Aku kembali menyakitinya dengan cengkraman tanganku. Aku sadar itu.


Benarkah cintanya membuat rasa sakit semakin terasa sakit? Dan torahan lukanya terasa semakin dalam.


“Kalila, maafkan aku.”


“Aku sudah memaafkanmu.”


“KALILA!!!”


“Aku sudah memaafkanmu, Arvin.”


“Baby!!! Kumohon, beri aku sebuah kesempatan untuk memperbaikinya.”


Suaraku semakin serak. Kepalaku kembali pusing karena memang fluku belum reda. Panas tubuhku ternyata tak mengizinkanku untuk melanjutkan pembicaraan kami. Akhirnya akupun ambruk dan jatuh pingsan.


“ARVIN?!”


— MUSE S2 —


MUSE UP


Bagaimana perasaan kalian setelah membaca episode kali ini?


Memang kekuatan cinta itu begitu luar biasa. Dalamnya cinta membuat rasa sakit ikut terasa begitu dalam.


Namun percayalah bahwa cinta juga mampu mengobati rasa sakit itu dengan caranya sendiri.


Semoga suka membaca Novel saya ini. Semua murni tulisan saya, kalau memang ada novel lain yang mirip baik jalan cerita ataupun nama tokoh mungkin hanya kebetulan. Saya sama sekali tidak mencontoh apalagi meniru.


Terima kasih buat dukungan dan doanya ya readers. Juga LIKE, COMMENT, DAN VOTE KALIAN!! Saya selalu membacanya sebagai mood booster saya saat menulis. Jadi comment yang banyak, ya.


Semoga ratting MUSE bisa naik dan tambah di kenal.


Salam manis


dee.Meliana.


Lap yu ❤️❤️❤️