
MUSE S3
EPISODE 123
S3 \~ HAMIL
\~Aku berharap dia segera menyelesaikan hal memuakkan ini saat aku diam dan tak membantah. Rasanya sangat menyakitkan, hatiku sakit dan terluka. Leon benar-benar benci padaku.\~
________________
“Kau harus membayarnya, Kanna. Rasa sakitku. Kau harus membayarnya berkali-kali lipat lebih sakit daripada apa yang pernah aku rasakan!” bisikkan Leon masih terus terngiang-ngiang di telingaku. Ucapannya menyiratkan rasa sakit hatinya yang mendalam, juga rasa dendamnya yang membuncah.
Aku kembali meringkuk kesakitan. Area kewanitaanku terasa begitu perih. Sekujur tubuhku remuk redam, Leon mencengkram tanganku dengan sangat kuat. Ia sama sekali tak membiarkanku melawan tenaganya. Leon juga mengancamku membeberkan foto telanjangku kalau aku mengadukannya ke polisi.
Kenapa Leon berubah?
Kenapa dia sekarang begitu mengerikan?
Sekarang Leon benar-benar seperti hewan buas yang siap menerkamku kapan saja.
Aku tahu aku bersalah padanya, tapi perbuatannya saat ini sangat keterlaluan.
Hatiku sakit, melihat pria yang ku cintai berubah. Dulu dia bahkan tak tega melihatku menangis, kini dia bahkan menginginkanku merangkak untuk memohon belas kasihannya. Menangis di bawah kakinya, merangkak naik untuk memohon maaf padanya.
“Leon...,”
Bodohnya aku yang masih bisa memanggil namanya, berharap ia kembali menjadi pria yang ku cintai dulu.
— MUSE S3 —
•••
Sudah tiga hari semenjak kejadian pemerk*saan yang aku alami. Aku masih terus mengurung diri di dalam kamar. Zean terus menghubungiku, aku memintanya untuk tidak khawatir. Aku baik-baik saja dan hanya kelelahan. Lagi pula aku tak mungkin menemui Zean dengan tubuh seperti ini. Bekas sesapan dan terjangan Leon banyak membekas pada sekujur tubuhku.
Trriing... 🎶
Bunyi nada dering ponsel membuatku terkejut. Aku sungguh takut kalau Leon menghubungiku. Aneh bukan? Padahal dulu aku begitu merindukan panggilan teleponnya.
Zean is calling...
Aku bernapas lega saat nomor Zean yang muncul pada layar ponsel.
“Halo, Zean.”
“Bagaimana keadaanmu Kanna?”
“Baik, Zean. Kau sendiri bagaimana?”
“Aku nggak baik-baik saja! Aku sangat merindukanmu, Kanna.”
“Aku juga, Zean.”
“Oh, iya, Aku akan ke luar negeri bersama Paman Julius selama satu bulan, Kanna. Urusan bisnis.”
“Oh, kenapa lama sekali?” tanyaku heran.
“Iya, aku mengurus bisnis baru Paman. Sekalian mengembangkan sayap juga.”
“Begitu, ya,” jawabku lemas.
“Kau lemas sekali? Jangan sedih, Kanna. Aku akan membelikanmu banyak oleh-oleh.” janji Zean.
“Iya, Zean. Berhati-hatilah, maaf, ya, aku tak bisa mengantarmu ke bandara. Aku kurang enak badan.”
“Apa aku mampir sebelum berangkat?” Zean pasti mengkhawatirkanku.
“Jangan!!” seruku.
“....”
“Maksudku, nggak perlu Zean. Lebih baik persiapkan tubuhmu dengan baik. Kita bisa bertemu selama yang kita mau begitu kau pulang nanti.” Aku memperhalus penolakkanku.
“Baik, Kanna. Aku akan memakanmu dengan penuh gairah begitu pulang nanti.” goda Zean nakal.
“Hahaha, maka cepatlah pulang, Zean.” jawabku.
“See you, Kanna. Jaga dirimu baik-baik.”
“Kau juga, Zean.”
Aku menutup panggilan dari Zean, melemparkan ponsel itu ke atas ranjang dan kembali memeluk lutut.
Triiing... 🎶
Suara panggilan ponsel kembali terdengar. Mungkin Zean lupa mengatakan sesuatu.
“Halo, Zean?”
“Wah, wah, aku sakit hati, Kanna. Kau bahkan memanggilku dengan nama pria itu sekarang.”
“Leon?!” suaraku langsung bergetar karena ketakutan.
“Iya, Cimut. Ini aku.”
“Apa maumu?”
“Lihatlah ke luar jendela!”
Aku berjalan perlahan, tubuhku bergetar hebat. Leon berdiri sambil menyeringai di seberang sana. Ia melambaikan tangannya padaku, bisa kulihat sorot matanya yang penuh dengan kebencian.
“Kemarilah, Kanna! Puaskan aku.”
“Leon..., kenapa kau begitu br*ngsek sekarang?”
“Kau yang bilang aku jahat, kau yang membuatku seperti ini, Kanna.”
“Leon!! Aku benci padamu!”
“Kemari!! Atau aku sebar fotomu!!!”
“Kemarilah!! Jangan buat aku mengulanginya lagi!!” bentak Leon.
Ponselku terjatuh ke bawah, air mataku kembali menetes. Tak bisakah dia menerima permintaan maafkanku begitu saja? Tak bisakah dia melepaskanku? Tak bisakah kami berdua hidup bahagia pada jalan kami masing-masing?
Aku berjalan lemas menuju ke rumah Leon. Dulu aku selalu riang dan gembira saat masuk ke dalam rumahnya. Aku selalu tak sabar ingin segera sampai ke dalam. Namun kini, aku berharap jaraknya begitu jauh, aku berharap tidak segera sampai.
“Kemari!!” Leon langsung menarik tanganku begitu aku tiba di depan pintu rumahnya.
“Lepasin, Leon!!” pekikku kaget ketika Leon menggendongku di atas pundaknya.
Dengan kasar Leon melemparkanku ke atas ranjang. Ia mulai membuka kaosnya dan mencium sekujur tubuhku. Aku ketakutan, hatiku berdesir, dan tubuhku bergetar hebat.
“Jangan, Leon!!” tolakku saat Leon mulai melepas paksa baju yang ku kenakan.
“Ck!! Kau terlalu jual mahal, Kanna.” ucapan yang terlontar dari bibirnya membuat hatiku sakit. Ternyata aku begitu tak ada harganya di mata Leon saat ini.
Aku menangis saat Leon mulai menyerangku, menghujamku dengan tubuhnya. Aku takut namun memilih untuk menyerah. Aku berharap dia segera menyelesaikan hal memuakkan ini saat aku diam dan tak membantah. Rasanya sangat menyakitkan, hatiku sakit dan terluka. Ternyata Leon benar-benar benci padaku.
— MUSE S3 —
•••
Sudah hampir tiga minggu Zean pergi. Leonpun sudah tak pernah menghubungiku lagi. Aku sedikit bisa bernapas lega.
“Kanna, ayo makan!” Mama berteriak dari lantai bawah.
“Iya,” jawabku tak kalah kencang.
Dengan lesu aku menuruni tangga dan memakan makananku. Namun tiba-tiba sebuah dorongan aneh membuatku mual, “hemp..., heeemp....”
Aku bergegas lari ke kamar mandi dan memuntahkan lagi makananku. Aku terduduk lemas di depan closet. Mama yang melihat keadaanku ikut panik.
“Maagmu kumat lagi?” tanya Mama.
“Sepertinya iya, Ma.” Aku membersihkan mulut. Belum sempat aku beralih dari kamar mandi, aku sudah kembali mual dan kembali muntah.
“Kanna??!” teriak Mama.
HOEK..! Hoek...!
“Ayo kita ke RS, Kanna. Sepertinya maagmu sangat parah!”
“Nggak, Ma. Kanna harus siaran siang ini.”
“Tapi, Nak...,”
“Istirahat sebentar juga reda,” elakku.
“Baiklah, tapi kalau sampai besok nggak sembuh kita ke RS, ya?” usul Mama.
“Iya, Ma.”
Aku kembali ke dalam kamarku, merebahkan badan agar tubuhku bisa sedikit relaks. Padahal sudah lama maagku nggak kambuh separah ini.
DEG...!
Tiba-tiba aku teringat akan sesuatu. “Leon..., dia tak pernah mengeluarkan benihnya di luar!”
Cepat-cepat aku menyahut kunci dan masker. Aku bergegas mencari tespack di apotek. Tanpa ragu aku membeli 5 buah alat penguji kehamilan itu.
Setibanya di rumah. Aku langsung membuka semua bungkusnya dan pergi ke kamar mandi. Aku menggunakan kelimanya sekaligus. Tanganku gemetar saat mencelupkan ujung pengetesnya.
“Please.., please..., please Tuhan, jangan hamil!!” Aku berdoa sebelum melihat hasilnya.
DEG...!
Dua garis merah terpampang jelas pada semua alat penguji kehamilan itu. Aku langsung terduduk lemas, merosot pada lantai kamar mandi yang basah.
Bagaimana ini? Aku hamil!! Aku hamil anak Leon.
Aku sangat kebingungan saat ini, tanganku terus bergetar hebat. Aku tak mungkin mengakui pada Zean kalau aku telah hamil anak dari matan kekasihku. Aku juga tak bisa memberi tahu Leon karena dia bisa saja meremehkanku dan menganggap ini adalah anak Zean.
Aku juga tak bisa mengaku pada Zean kalau ini adalah anaknya. Zean selalu memakai pengaman saat kami berhubungan karena aku yang memintanya. Aku tak ingin hamil sebelum menikah.
Bagaimana ini Tuhan? Aku tak mau menjadi pembunuh!
Tanpa sadar air mataku kembali keluar, aku menyesali kebodohanku.
“Hiks..., hiks...,”
Kenapa Leon? Kenapa kau melakukan ini padaku?
— MUSE S3 —
Duh, gimana donk?!”
😭😭😭
Kasihan Kanna!
MUSE UP!!
YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.
VOTE, LIKE, dan COMMENT
PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!
Terima kasih sudah membaca,
Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama
Love,
Dee ❤️❤️❤️