
MUSE S7
EPISODE 25
S7 \~ HATI
Farel terdiam sesaat, memikirkan ucapan temannya. Benar, kenapa Farel tak memprovokasi Levin seperti anjuran mereka. Levin terlihat menyukai Leoni, begitu pula Leoni.
__________________
Esoknya, liburan hari tenang menjelang ujian kelulusan dimulai. Leoni melamun, ia menghentikan kegiatannya mengolah adukkan semen putih. Dari kemarin hatinya tak tenang semenjak pertemuannya dengan Farel. Leoni takut Farel masih menyimpan dendam pada Levin. Apa yang akan Farel lakukan? Kenapa juga menantang Levin?
“Kenapa Farel berubah? Nyebelin!! Si biang kerok, Levin juga berubah dua tahun ini.” Leoni mendesah sebal.
“Apa yang kau gumamkan, Girl?” Leon mengelus kepala Leoni.
“Papa? Kau sudah pulang?” Leoni kaget melihat kehadiran Papanya di dalam studio kriya.
“Yup, penerbangan paling awal.” Leon duduk di dekat Leoni.
“Ah begitu.”
“Apa yang sedang kau kerjakan, Sayang?” Leon memeriksa sket tangan buatan anak gadisnya. Ada gambar patung malaikat.
“Michael, malaikat perang.” Leoni melirik sket tangannya.
“Konsep yang menarik. Siapa seniman idolamu?”
“Michael Angelo.”
“Wah, Wah, standart yang tinggi.” Leon menaruh kembali kertas-kertas gambar yang berserakkan itu.
“Sebenarnya aku ingin membuat patung wajah Levin. Tapi sampai sekarang tak bisa selesai. Sejak kecelakaan itu Levin tak mau lagi menemuiku,” keluh Leoni, Leon terdiam, dulu Levin pernah berjanji untuk menjauhi Leoni dan ternyata anak itu menepatinya.
“Mungkin Levin punya alasannya sendiri.” Leon mengelus wajah Leoni.
“Huft ... tapi ini benar-benar membuatku frustasi, Pa. Kau masih ingat Farel, dia bahkan menaruh dendam pada Levin.” Leoni menceritakan semua kejadian dari awal sampai akhir. Bagaimana dengan perasaan Farel yang terluka karena keteledoran Leoni yang meminta Levin mengalah. Bagaimana Farel pergi dengan menyisakan kekesalan. Bagaimana Levin tak lagi mau berteman bahkan berbicara dengannya. Bagaimana juga dengan Farel yang kembali hadir menemuinya semalam.
“Oh, ya? Pertingkaian anak-anak bisa sampai separah itu!” Leon terperangah.
“Hei, kami bukan anak-anak,” sergah Leoni.
Leon tersenyum, bagi orang tua anak-anak tetaplah anak-anak, mau berapa pun usia mereka.
“Boleh Papa cerita sesuatu?”
“Apa?”
“Levin sebenarnya telah berjanji kepada Papa dan juga Daddynya. Dia menjanjikan dua hal. Yang pertama berhenti berteman denganmu, yang kedua berhenti balapan liar sampai lulus SMP karena Daddynya akan menyekolahkan Levin ke Spanyol.”
“APA??? Kenapa Papa tak pernah bilang pada Leoni?” Kini gadis itu yang terperangah.
“Yah, Papa tak ingin dia mengajakmu melakukan hal-hal berbahaya lagi,” ujar Leon.
“Ya ampun, Pa!! Levin tak pernah mengajak Leoni. Leoni yang minta ikut, selama ini Leoni yang memaksa Levin.” Bahu Leoni melemas, ternyata selama ini Levin justru yang melindunginya dari amukan orang tua. Menanggung sendiri beban kesalahan mereka berdua.
“Harusnya Leoni juga dihukum, Pa!!” Leoni menangis.
“Hei, hei, kenapa malah menangis?!” Leon memeluk Leoni.
“Gara-gara Leoni, Levin kehilangan sahabat. Gara-gara Leoni juga Levin mendapat amarah Papa dan Daddynya. Harusnya dulu Leoni menceritakan semuanya. Jadi Levin tak perlu menanggung semua itu seorang diri.” Leoni terisak dalam dekapan Leon.
“Sudah-sudah! Papa minta maaf. Anak itu memang bukan anak nakal. Tapi Papa takut kalau dia akan membawamu pada hal berbahaya.”
...— MUSE S7 —...
Tak jauh berbeda dengan Leoni, Levin juga sedang merasa galau lantaran kedua sahabatnya mengatakan bahwa Farel datang menemui mereka semalam. Bryan dan Chiko melaporkan tentang keberadaan Balapan Liar yang akan diikuti oleh Farel. Farel juga mengundang Levin, menuntaskan pertarungan lama yang belum tuntas.
“Pergilah sendiri, aku sudah berjanji untuk tidak balapan lagi sebelum lulus SMP.” Begitulah cara ia menolak ajakan teman-temannya.
Jadi malam itu, Levin terdiam di dalam kamarnya, belajar pun tak membuat suasana hatinya membaik. Akhirnya cowok itu mencoba untuk beristirahat sejenak. Membuka-buka file-file foto pada ponselnya. Ada banyak sekali foto tentang persahabatannya dengan Farel. Kadang Levin merasa heran, benarkan Farel merasa iri padanya? Padahal Levin sangat menyukai saat-saat bersama Farel, dia juga mengagumi Farel.
Kenapa perhabatan bisa berubah secepat itu? pikir Levin. Pikiran manusia yang katanya tak terselami itu sebenarnya memang sempit, sebagaian besar berdasar pada ego dan hasrat semata. Ketika ego dan hasrat membentuk iri hati, hal kecil itu bisa merubah manusia sampai kedasar hatinya.
“Wkwkwkwk, kenapa dia bisa tidur dengan nyenyak begitu?!” Levin terbahak, video Leoni mencairkan suasana hatinya.
“Aku merindukanmu, Singa.” Levin mengelus wajah polos Leoni.
Andai saja kecelakaan itu tak pernah terjadi. Apa kita masih berteman? Apa semuanya masih akan baik-baik saja? Levin menghela napas panjang.
Namun sepertinya ketenangan hati Levin tak berangsur lama saat sebuah deringan telepon membuat dahinya mengeryit.
Farel is calling ...
Mau apa dia?
...— MUSE S7 —...
Farel menanti kedatangan Levin, tapi ternyata Levin menolak hadir. Penolakan Levin membuat Farel geram. Sudah lama ia menunggu perjumpaan mereka kembali.
“Kenapa?? Apa dia masih meremehkanku?” Farel menatap sebal pada ponselnya, Levin mengacuhkan panggilannya.
“SIAL!!” umpat Farel.
“Kenapa kau tidak memprovokasinya saja, Rel? Apa yang paling membuatnya terusik?” Teman-teman Farel di geng motor memberikan masukan.
Farel terdiam sesaat, memikirkan ucapan temannya. Benar, kenapa Farel tak memprovokasi Levin seperti anjuran mereka. Levin terlihat menyukai Leoni, begitu pula Leoni.
“Leoni, ya.” Farel menyeringai.
“Pertandingan sudah dimulai!!” Teriak kawanannya.
Bunyi sirene meraung-raung tanda balapan akan segera dimulai. Mereka bertaruh banyak pada Farel. Dan benar saja. Pertandingan malam hari itu dimenangkan oleh Farel.
Sampai pertandingan selesai Levin tetap tidak datang malam itu. Tapi Farel belum menyerah, tetap ingin bertanding ulang dengan Levin. Farel ingin menunjukkan pada dunia bahwa kerja keras bisa mengalahkan bakat. Farel ingin membuktikan bahwa dia juga layak mendapatkan kesempatan itu. Dan demi memenuhi hasratnya untuk mengalahkan Levin, Farel bahkan telah mempersiapkan rencana. Rencana untuk memprovokasi kehadiran Levin.
“Halo, Leoni.”
“Farel? Bagaiamana kau tahu nomor ponselku?”
“Dari Levin. Kami sudah berbaikkan.”
“Benarkah? Kalian sudah baikan? Aku ikut senang mendengarnya.” Leoni tersenyum bahagia.
“Yah, begitulah. Kami akan bertemu untuk mengenang masa lalu. Apa kau mau bergabung? Aku akan menjemputmu besok,” tawar Farel dalam panggilannya.
“Tentu saja, Rel. Ada hal penting yang juga ingin aku sampaikan pada Levin.” Leoni ingin meminta maaf pada Levin atas kejadian dua tahun lalu. Ingin kembali berteman dengannya:
“Okey, aku akan menjemputmu jam 6 sore.”
“See you, Rel.”
“See you, girl,” seru farel. Farel menutup panggilan ponselnya, menyeringai sebelum pergi bergabung dengan teman-temannya yang lain.
...— MUSE S7 —...
...Cek pendapatan saya gaes, ngenes banget ga sih? 🤣🤣🤣🤣🤣...
...Semenyedihkan inikah jadi author rengginan?...
...Nyesek kalau liat....
...Makanya beli buku saya, biar saya dapat pendapatan gaes....
...😭😭😭😭...
...Hubungi saya ya 💋💋💋...
...081802517030...
...Nanti saya bonusi ttd...
...🤣🤣...