MUSE

MUSE
S6 ~ MUSE



MUSE S6


EPISODE 27


S6 \~ MUSE


\~ Setiap melody yang dihasilkan dari gesekan dawai ini untukmu, kaulah Museku\~


__________________


Tubuh Ivander tergolek lemah di atas ranjang rumah sakit. Bau obat dan juga diffuser tercium pekat. Kulit Ivander memucat, penuh luka bekas pertarungannya dengan Adrian.


“Ivander!!” Gabby merosot pada dinding kaca yang memisahkan keduanya.


“Bangun, Schatz! Kau bilang akan mengajakku ke ladang bunga lavender?!” Gabby menangis terisak-isak.


“Bangun dan katakan kau mencintaiku!” Gabby memukul pelan dinding kaca.


“Ich liebie dich, Van!!” Gabby meraung.


Dari kejauhan Kalila hanya bisa menangis dan memeluk suaminya. Arvin terdiam, ia ikut menyesali keadaan ini. Namun masalah yang menimpa anak-anak mereka sudah terlanjur terjadi.





Sudah tiga hari Ivander memejamkan matanya, belum ada tanda-tanda tubuhnya memberikan respon kesadaran. Kehilangan banyak darah dan menerima banyak pukulan pada kepalanya membuat Ivander koma.


Bau diffuser memenuhi ruangan Ivander, hari ini Gabby mengganti aromanya dengan bunga mawar yang manis, berharap aromanya yang sensual bisa menggelitik hati Ivander. Suster mengizinkan Gabby menemaninya di dalam ruangan, bahkan diluar jam besuk sekalipun.


“Kau bisa mengajaknya berbicara pelan-pelan, Nona. Atau mungkin memutar music agar otaknya bisa segera kembali merespon,” kata seorang suster yang kebetulan sedang mengganti pakaian lama Ivander.


“Musik?”


“Iya, walaupun hal sepele namun sudah banyak yang membuktikan bahwa musik punya kekuatan untuk membangkitkan kenangan.” Lanjutnya.


“Ah, begitu.” Gabby memandang telapak tangan kirinya yang terbalut perban. Tulangnya retak karena tertembus pisau, otot tendonnya putus dan Gabby tak bisa menggerakkan jemarinya.


Air mata Gabby menetes perlahan, mungkin benar kenangan mereka penuh dengan musik yang indah. Namun sayangnya, jemarinya tak bisa digunakan untuk memainkan musik itu lagi.


“Apa kau akan bangun bila aku memainkannya untukmu?” Gabby mengelus rambut Ivander, berkata-kata di dekat telinganya.


Tak lama Gabby meminta Levin untuk membawakannya biola. Semula Levin kaget, bukankah Kakaknya tak bisa bermain biola lagi saat inj? Kenapa malah meminta biola?


“Kak, untuk apa biolanya?” Levin memberikan tas biola pada Gabby.


“Aku akan memainkannya,” jawab Gabby.


“What! No!! Jangan memaksakan lagi tanganmu bekerja. Kata dokter kau masih punya kesempatan pulih, kalau saat ini kau memaksakannya, kau bisa benar-benar kehilangan fungsi tanganmu!” cerca Levin, ia kaget mendengar penuturan kakaknya yang kelewat nekat.


“Kau memainkannya demi pria itu? Ya, ampun, Kak! Pria itu sudah membawamu dalam bahaya, dia tak bisa melindungimu. Kenapa Kakak masih rela berkorban demi dirinya?” Levin mencegah Gabby, hendak merebut biola dari tangannya.


“Jangan, Levin! Aku tak ingin kehilangan cintaku untuk ke dua kalinya. Bila memang harus kehilangan tangan ah, tidak, bila harus kehilangan nyawa ini pun aku rela.” Gabby menarik biolanya lagi, ia bergegas menuju ke ruangan tempat Ivander dirawat.


Gabby mengunci pintunya, mencegah Levin masuk dan melarangnya bermain biola. Dari balik pintu luar Levin menggedor pintunya. Berharap Gabby mau mengurungkan niatnya.


“Sssttt!! Jangan berisik, Levin!” Nick yang baru saja datang mengeplak kepala Levin.


“Kak Nick, cepat hentikan Kak Gabby melakukan hal gegabah. Dia akan menyakiti dirinya sendiri.” Levin menarik lengan kakaknya.


“Biarkan saja, tekatnya begitu kuat. Lagi pula cinta tak akan pernah menguat tanpa adanya perngorbanan.” Nick mengelus punggung Levin, berusaha membuat si bontot tenang.


“Tapi, Kak!”


“Sssst ...! Beri Gabby waktu.”


Gabby membuka perban yang melilit pada tangannya. Melepaskan semuanya, bebatannya sangat tebal karena memang sengaja dilakukan untuk menempelkan kembali tulangnya yang retak.


“Aargh ...,” desah Gabby, ia meringis kesakitan.


Tak lama tangannya telah terbebas dari kungkungan perban. Ada bekas jahitan pada luka, dan bekas itu masih sedikit basah. Luka itu berdenyut perih, Gabby merasa kesakitan, namun ia menahannya. Dengan sekuat tenaga Gabby mengumpulkan keberaniannya, mengambil biola dan busur.


Gabby menelan salivanya berat, belum tentu ia bisa memainkan biolanya dan entah juga apa hasil yang akan di dapatkannya begitu biola ini digesek. Apakah Ivander akan siuman? Apakah Ivander akan diam? Apakah tangannya akan semakin rusak? Ataukah baik-baik saja?


Tak ada yang tahu, namun Gabby hanya bisa berdoa dan berharap, keajaiban yang akan membawa keduanya pada hal yang terbaik.


Tangan Gabby bergetar hebat saat menerima leher biola, dengan perlahan Gabby mengangkatnya, mengampit sandaran pada bahu dan dagunya. Lalu dengan meletakkan busur di atas senar.


Gabby menarik napas panjang sebelum berusaha menekan senar-senar biola dengan tangannya yang mati rasa dan bengkak. Tekanannya tidak begitu kuat, musiknya sumbang. Gabby berkeringat dingin, rasa sakit membuatnya lemas.


“Aku tak boleh menyerah, Ivander begini juga karena menyelamatkanku.” Gabby kembali mengumpulkan tekatnya, ia memaksa tangannya, bergerak lebih lincah dan lebih lincah lagi, bermain pada leher biola.


“Argh ...!” Jerit kesakitan Gabby saat tangannya mulai kembali berdarah. Mengeluarkan darah segar, namun saat darah itu keluar tangannya sedikit lemas dan mudah bergerak.


Aku bisa, aku bisa menahannya demi dirimu. Gabby bergumam dalam hatinya.


Gabby mulai memainkan biolanya, menggesek pelan senar-senarnya dengan rambut busur. Mencoba menghasilkan suara dan nada yang sesuai, mengalun sangat lembut dan menggetarkan jiwa. Lagu yang sama yang diputarnya untuk Krystal. Lagu yang sama yang diputarnya saat mencoba menarik perhatian Ivander, lagu yang sama yang coba ia mainkan untuk mengenang mendingan Mamanya.


Bukalah matamu Ivander, dengarkan suaranya, dengarkan kelembutan nadanya. Setiap nadanya punya cerita, setiap alunannya punya rasa. Musik bagaikan sihir tertinggi yang mampu membawamu kembali padaku.


“Gab ... by?” lirih Ivander.


“Ya, ini aku, Van.” Gabby memeluk Ivander.


“Suara yang indah itu memimpinku keluar dari kegelapan pekat.”


“Hiks ...!” Gabby menangis.


“Kau melakukannya untukku?”


“Benar. Setiap melody yang dihasilkan dari gesekan dawai ini untukmu, kaulah Museku!” kata Gabby dengan sedikit terisak, darah terus menetes dari punggung tangannya, namun tak ada rasa sakit, tak ada penyesalan, hanya ada rasa syukur dan bahagia.


“Danke, Schatz.” Ivander dengan lemas mengangkat tangannya untuk mengelus wajah Gabby.


“ich liebe dich,” ucap Gabby.


“ich liebe dich auch,” balas Ivander.


— MUSE S6 —


Enam bulan kemudian ...


Gabby mendatangi sebuah Rumah Sakit Jiwa Daerah. Ia membawa sekeranjang buah apel kesukaan Adrian. Setelah mengantongi izin dari perawat, Gabby masuk pada sebuah kamar rawat inap pasien. Seorang perawat laki-laki mendampingi Gabby, prosedur keamanan untuk mengawasi kalau-kalau pasiennya mengamuk.


“Adrian, apa kabar?” Gabby membuka gorden jendela, membiarkan udara sore yang hangat masuk.


“Baik, kau bagaimana?” Adrian duduk, ia menutup buku yang sedang dibacanya.


“Aku juga baik. Ini aku bawakan apel, kau mau aku mengupaskannya untukmu?” tawar Gabby.


“Wah, mau donk.” Senyum Adrian, Gabby ikut tersenyum hangat, ia mengupaskan apel untuk Adrian.


“Bagaimana kabar Krystal, Gab? Apa dia masih jadi pramugari?” tanya Adrian sembari menggigit apel pemberian Gabby.


“Huum, masih, dia sehat.” Gabby mengangguk sambil menahan air matanya.


Semenjak kejadian itu, mental Adrian terpukul, ia akhirnya menderita kelainan jiwa, terus berteriak dan menghajar dirinya sendiri. Ia terus menyalahkan dirinya, ketakutan, dan juga berhalusinasi. Polisi yang menahannya tak bisa menetapkan Adrian sebagai tersangka karena dia gila.


Akhirnya Adrian berakhir pada sebuah bangsal kecil di rumah sakit jiwa. Setelah menerima terapi kejiwaan dan perawatan, Adrian berangsur-angsur pulih, sayangnya ia tak mengingat apapun perbuatan kejinya karena dokter menghapusnya dengan hypnoterapi. Menumpuk memory yang rusak dan mengisinya dengan yang baru.


“Dia pasti bahagia.” Adrian mengunyah perlahan apelnya.


“Iya, dia pasti bahagia, terbang bebas di atas sana.” Gabby tersenyum kecut, Krystal berbahagia di surga.


Progres Adrian semakin membaik, keluarganya terus mendukung kembalinya Adrian. Gabby juga sudah merelakan dan mengampuni kesalahan Adrian. Membuka awal pemulihan bagi jiwanya yang rusak.


“Dri, apa aku sudah cerita kalau aku dan Kakakmu akan menikah?” Sudah puluhan kali Gabby mengingatkan Adrian, namun Adrian selalu saja lupa.


“Kau akan menikahi Ivander?”


“Benar.”


“Kapan?”


“Akhir tahun ini, Dri.”


“Dua bulan lagi?” Adrian menatap kalender.


“Kau harus dinyatakan sembuh agar bisa menghadiri pernikahan kami.” Gabby menggenggam tangan Adrian.


“Ah, begitu. Baiklah aku akan sembuh, heem ... tapi aku sakit apa?” tanya Adrian dengan polos.


“Hiks ...!” Gabby tak kuasa lagi menahan air matanya, ia menangis tersedu-sedu.


“Kenapa menangis?” Adrian kebingungan, ia bangkit lalu memeluk Gabby.


“Tidak, aku menangis karena bahagia.”


“Kau bahagia?? Bahagia?? Hem ... kenapa kau bahagia, Gabby? Bagaimana rasanya bahagia itu? Aku juga mau merasakannya.” Adrian melepaskan pelukkannya, ikut menangis. Membuat hati Gabby semakin ambles. Adrian kini bahkan tak bisa membedakan rasa yang muncul di dalam hatinya, seakan benar-benar mati rasa.


“Dri, kumohon, cepatlah sembuh dan jalani hidupmu dengan normal! Kami semua menyayangimu! Kami semua sudah memaafkanmu.” Gabby mengelus wajah Adrian.


“Gabby, aku rasa hatiku meloncat-loncat, apa ini yang namanya bahagia?!” Adrian tersenyum.


“Benar, itu namanya bahagia. Kau juga harus bahagia.” Gabby menangis haru, ia kembali memeluk Adrian, terisak pelan di atas bahunya.


Adrian memejamkan matanya, menikmati belaian pelan tangan Gabby pada rambut tebalnya.


— MUSE S6 —


Wah besok sudah ending MUSE.


Thanks sudah baca MUSE GAES!!


VOTE LIKE DAN COMMENT



Baca novel saya judulnya ZEN! Ini iseng-iseng bikin buat ikutan kontes. Dukung ya 😘😘😘