MUSE

MUSE
S5 ~ RAINY DAY II



MUSE S5


EPISODE 46


S5 \~ RAINY DAY II


\~ Kau punya Aiden sebagai alasan, sedangkan Nick hanya punya cinta dariku sebagai kekuatan. Izinkan aku menemuinya, Lucas. Izinkan aku merawatnya.\~


__________________


AUTHOR POV


Hujan turun pagi ini, sederas air mata yang mengalir dari kedua mata bulat Bella. Setelah semalam ia melewatkan rasa takut dan cemas yang begitu mencekam jiwanya. Hatinya tak bisa berhenti memikirkan keadaan Nick. Apa pria itu baik-baik saja? Apa pria itu sudah sadar?


Bella tidur memunggungi Lucas, ia terus memandang ke arah luar jendela besar yang penuh dengan buliran air. Langit masih gelap karena hujan terus turun dengan deras, sampai fajarpun belum ada tanda hujan mau berhenti.


“Kau sudah bangun?” Lucas memeluk tubuh polos Bella dari belakang. Mengelus naik dari pinggul melewati lekukan pinggang Bella dan naik ke lengannya. Lucas mengecup perlahan pundak Bella.


Sedangkan Bella tak menjawab, ia hanya terisak pelan, selain benci dia juga tak ingin menyulut kembali amarah Lucas.


“Kau menangis lagi?” Lucas memutar tubuh Bella agar menghadap dirinya.


“Hiks ...!” Bella lagi-lagi tak menjawab, hanya terisak.


Lucas menghapus air mata Bella dengan ibu jarinya. Ia mencium lembut kening Bella dan kembali mendekapnya erat.


“Maaf.”


“Hiks ... huhuhu ...!” Bella semakin tersedu-sedu, menangis histeris dalam pelukan Lucas.


Lucas mengelus lembut rambut panjang Bella. Hal yang paling membuat hatinya sakit selain penolakan Bella adalah saat melihat wanita ini menangis. Lucas tahu dia salah, Lucas tahu caranya mendapatkan hati Bella kembali itu salah. Menghajar Nick sampai sekarat memang mendukakan hati Bella saat ini, membuat Bella semakin membencinya. Namun Lucas tak punya pilihan, baik Bella maupun Nick, keduanya tak akan berpisah tanpa kekerasan.


“Jangan menangis, kau membuatku sedih, Ella!” Lucas menyatukan dahi mereka. Bella bisa merasakan hembusan napas Lucas yang panas menerpa wajahnya.


“Kau jahat, Lucas!! Kau kejam!!” Bella memukul-mukul dada Lucas, ia meronta dan berteriak histeris.


Lucas memejamkan matanya, mendesah pelan. Ia hanya bisa bersabar dan menunggu wanita cantik itu berhenti menangis. Lucas hanya bisa berharap Bella akan memberikan kembali hatinya seiring dengan berjalannya waktu.


Lucas mencium pipi Bella, mengecap sedikit rasa asin dari air matanya yang mengalir. Bella membelalak, ia memandang wajah Lucas, menusuk jauh ke dalam gelap dan pekatnya manik mata Lucas. Dulu dia pernah begitu terpesona pada iris matanya. Bella dulu pernah menyerah dan jatuh ke dalam jurang obsesi karena cintanya pada pria ini.


“Aku tahu aku bersalah padamu, Ella. Aku memang pengecut, aku takut mengakui bahwa aku membutuhkanmu, bahwa aku mencintaimu. Aku takut mempertahankan cinta kita di hadapan orang tua hanya karena pengorbanan Mamaku untuk kebahagiaan Papa.” Lucas ikut menitikkan air matanya, ia juga merasa begitu sakit karena kehilangan Bella selama empat tahun.


“Aku bodoh, Ella. Aku sadari itu. Aku mengira kita akan bisa bertahan karena kita masih muda, masih bisa menata kehidupan. Namun sungguh, kenyataannya aku tetap tak bisa melupakanmu dari dalam hatiku.” Lucas menghapus air mata yang terus keluar dari mata bulat Bella.


Bella menangis, baginya segala alasan itu sudah terlambat.


“Sudah terlambat, Lucas. Sudah tak ada gunanya kau menjelaskan semua ini padaku, aku tak lagi mencintaimu.”


“Kumohon, Ella. Berikan aku satu kesempatan lagi. Untuk menerima cintamu, untuk melindungimu, untuk membangun sebuah keluarga yang utuh bersamamu. Bukankah kita punya Aiden?!” Lucas mengusap lembut lengan Bella.


“Aiden milikku, Lucas. Bukan milikmu.” Bella bangkit dari tidurnya. Ia masuk ke dalam kamar mandi, membanting pintu dan kembali menangis.


Aiden adalah hal paling ingin Bella lindungi, cinta Bella terhadap Aiden jauh lebih besar dari pada cintanya pada Nick ataupun Lucas dulu. Bella bisa kehilangan Lucas atau Nick, tapi tak bisa kehilangan Aiden. Karena bagi Bella, Aidenlah cinta sejatinya.


Lucas mendesah pasrah, hanya bisa menunggu Bella membuka hatinya kembali. Entah kapan itu terjadi.


— MUSE S5 —


Tak berbeda di daerah pegunungan tempat Elise dan Aiden tinggal, di sana hujan juga turun dengan lebat. Elise menjemput Aiden di TK tempatnya bersekolah saat ini. Balita berusia empat tahun itu keluar dengan wajah masam, cemberut, dan tak mau menggandengan tangan nini-nya.


Elise mengerutkan alisnya keheranan, tak biasanya Aiden begitu marah sampai tak peduli padanya. Dengan cepat Elise memaksa untuk menggandeng tangan mungil Aiden.


“Kenapa, Nak? Kenapa marah?” tanya Elise lembut.


“Teman-teman Aiden bilang kalau Aiden anak haram, nggak punya ayah, padahal Aidenkan punya Papi,” jawaban Aiden membuat hati Elise mencelos.


“Benarkah??”


“Iya, mereka bilang Aiden nggak punya Ayah kayak mereka.” Aiden kembali bersedih.


“Tapikan Aiden punya Mami, punya Nini, punya Aunty Sekar,” jawab Elise sambil mengelus rambut cucunya.


“Mami di mana? Kenapa Mami tak pernah pulang?” Mata Aiden berkaca-kaca.


“Mungkin Mami sedang sibuk.”


“Mami juga tak pernah menghubungi Aiden!! Padahal Aiden kangen sama Mami, kangen sama Papi!” gerutu bocah kecil itu, kini ia tahu caranya merajuk dengan benar.


“Nanti kita telepon Mami, ya! Sekarang Aiden senyum, ya, nanti Nini beliin ice cream.”


“Ice cream? Mau!! Aiden mau.” Tak susah ternyata untuk membujuk seorang anak kecil berhenti merajuk, cukup dengan makanan dingin dan manis itu.


Elise tersenyum kaku, sedikit khawatir dengan kondisi Aiden. Elise juga bingung kenapa sudah hampir dua minggu Bella tak pulang ke desa. Dia juga tak menghubungi Aiden seperti biasanya. Padahal Bella selalu rajin menelepon Aiden setiap hari.


Apa terjadi sesuatu kepada Bella? Hati Elise sedikit gelisah, ia akan mencoba untuk menghubunginya nanti.





Bella berjalan mendekati Lucas yang sedang bekerja di depan layar monitor, mengamati pergerakan pasar uang pagi ini. Sesekali ia menelepon asisistennya di kota S.


“Lucas.” Panggil Bella.


Lucas menghentikan gerakan tangannya, ia langsung tersenyum pada Bella. Melihat Bella sudah mau berbicara dengannya membuan hati Lucas bahagia.


“Ada apa, Ella? Apa kau butuh sesuatu?” Lucas mendekat, ia mengambil tangan Bella dan mencium pergelangan tangannya.


“Aku butuh ponsel. Boleh aku meminjam ponselmu? Aku sangat rindu pada Aiden.” Bella menatap kosong ke arah ponsel Lucas. Ponselnya tak tahu entah berada di mana setelah kejadian dengan fans fanatiknya tempo hari.


“Boleh aku iku mengobrol dengan Aiden?” Lucas langsung sumringah, ia langsung menyahut ponselnya dan memberikannya kepada Bella.


Bella menelan salivanya saat menerima ponsel itu. Sebenarnya Bella ingin menjauhkan Lucas dari Aiden kalau bisa, namun saat ini Bella sangat merindukan Aiden dan Bella pun yakin Aiden pasti sedang merenggek mencarinya. Sudah dua minggu Bella tidak pulang dan tak memberi kabar apapun, setidaknya dia harus menjelaskannya pada Elise agar wanita itu bisa mengerti situasinya. Jadi Bella tak punya pilihan selain membiarkan Lucas melihat Aiden.


“Terima kasih, Lucas.”


“Tidak, Ella, aku yang berterima kasih padamu.” Lucas tersenyum sangat lebar.


Bella bergegas memencet nomor ponsel milik Elise dan melakukan panggilan video. Bella langsung bisa melihat wajah ganteng Aiden dan juga wajah Elise yang terlihat sangat lega.


“Nini sabar donk!! Kan Aiden dulu yang mau ngobrol sama Mami,” sahut Aiden, bibir mungilnya melayangkan protes, membuat Bella terkikih. Mereka mengobrol ringan dan bercanda tawa seperti biasa.


Lucas berdiri di samping Bella, ia mengamati wajah tampan putranya. Sungguh Lucas tak pernah mengira bahwa Bella akan melahirkan anak semirip itu dengan dirinya. Mata Lucas berkaca-kaca, ia menekan sudut matanya agar tidak menangis.


Namun haru biru Lucas tak bertahan lama saat dengan polosnya Aiden bertanya, “di mana Papi Nick? Aiden kangen juga sama Papi.”


Bella langsung tertegun, mimik wajahnya berubah, sendu. Elise ikut mengerutkan dahinya, bertanya-tanya, apakah hubungan mereka kandas di tengh jalan?


“Papi sedang sibuk, Aiden. Dia akan menghubungimu nanti.” Senyum Bella, ia mencoba menenangkan hati anaknya.


Namun Lucas tak terima, Aiden anaknya, bukan anak Nick. Aiden harusnya memanggilnya Papi bukan Nick. Tanpa ragu Lucas merebut ponselnya, lalu duduk di samping Bella. Kelakuannya membuat Elise lagi-lagi berkerut kebingungan. Aiden juga menatap wajah Lucas dengan rasa ingin tahu.


“Siapa uncle ini, Mami?” tanya Aiden, Bella tercekat.


“Aku Ayahmu, Nak. Aku adalah orang yang seharusnya kau panggil Papi.” Jelas Lucas sambil tersenyum.


“Nggak mau!! Aiden sudah punya Papi!! Namanya Papi Nick!” sergah Aiden. Ia menolak mengakui Lucas. Lucas merasa sakit hati, mengalami penolakan dari Bella dan kini dari anaknya sendiri, dan semua ini gara-gara Nick, lagi-lagi gara-gara lelaki lemah itu.


“Suka atau tidak suka aku adalah Ayah kandungmu!” Balas Lucas, Elise langsung menutup mulutnya dengan tangkupan tangan. Akhirnya Lucas menemukan Bella, akhirnya pria itu kembali pada kehidupan Bella.


“Lucas!! Ku mohon jangan begini, Aiden hanya anak kecil.” Bella berusaha menghentikan kelakuan Lucas yang bisa saja menyakiti hati Aiden dengan kenyataan ini.


“Dia harus tahu, Ella. Darahku mengalir dalam tiap-tiap pembuluh nadinya!! Bahkan sampai ke nadi yang terhalus!! Bukan darah Nick!!” Lucas mencengkram lengan Bella.


“Hei!! Apa yang kau lakukan pada Mami??” teriak Aiden dari seberang sana.


“Tidak, Aiden. Uncle hanya sedang berusaha meyakinkan Mami, bukan menyakiti Mami.” Bella berusaha membuat Aiden tenang.


Lucas terdiam, masih berusaha mengatur emosinya. Bella benar, ia tak boleh memaksa Aiden merimanya begitu saja. Nyatanya ia memang telah gagal melindungi mereka berdua, nyatanya dia sendiri yang tak pernah mengetahu keberadaan bocah itu selama ini.


“Maafkan, Uncle Aiden. Uncle terlalu mencintai Mami mu, terlalu sayang padamu. Ingin kau menjadi anak uncle juga. Ingin menjaga kalian berdua.”


“Tidak, Papi Nick sudah berjanji lebih dahulu akan menjaga kami.” Aiden kembali merajuk dan meninggalkan VC, ia masuk ke dalam kamar.


“Aiden, tunggu, Nak!!” teriak Bella, ia masih belum puas melihat wajah tampan anaknya.


“Sabar, Bella. Nanti Aunty akan bicara padanya.” Elise menengahi.


“Baik, Aunty, terima kasih,” ucap Bella.


“Kau selesaikan dulu masalahmu dengan baik, jangan terbawa nafsu dan luapan emosi, Bella. Banyaklah memohon hikmat pada Dewata. Aunty rasa kau sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan semua masalah ini dengan kepala dingin, lagi pula, apapun keputusanmu Aunty pasti akan mendukungmu.”


“Hiks ... baik, Aunty. Baik. Terima kasih, ya, dan tolong jaga Aiden untukku.” Bella menggigit bibir bawahnya, menahan air mata kembali turun.


“Oke, beristirahatlah. Makan yang banyak Bella, kau harus sehat, kalau kau tak bisa melakukan hal itu untuk dirimu, maka lakukanlah untuk Aiden.” Elise menasehati Bella sebelum memutuskan panggilannya. Bella hanya bisa mengangguk tanda setuju.


Lucas yang masih sedikit cemburu akhirnya ikut mendinginkan pikirannya. Benar, mereka sudah bukan pasangan yang dulu lagi. Sudah bukan Bella dan Lucas yang di mabuk cinta dan penuh dengan gairah masa muda. Mereka kini adalah orang tua, dan tugas orang tua sejatinya adalah mengayomi dan membahagiakan anak-anak mereka.


“Maafkan aku, Ella.” Lucas memeluk Bella dari belakang.


“Dia sangat mirip denganmu, Lucas. Bahkan sampai cara bicaranya pun sama.” Bella menitikkan air matanya.


“Sungguh aku menyesal telah mengabaikan kalian berdua. Beri aku kesempatan lagi, Ella!! Aku mohon!” Lucas turun dari sofa, ia berlutut di depan Bella dan mencium tangannya.


“Tidak bisa Lucas. Aku tidak bisa.” Bella bergeleng.


“Lakukan untuk Aiden. Lakukan untuk anak kita, dia berhak mendapatkan keluarga yang utuh, bukan?!” Lucas mengiba, penuh sorot pengharapan.


Bella terisak pelan, tak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan Lucas. Walaupun berat mengakuinya, tak dipungkiri ada darah Lucas mengalir pada tubuh Aiden.


Bukankah selama ini Bella mendambakan keluarga yang utuh untuk Aiden?


Bukankah selama ini Bella mendambakan kasih yang berlimpah ruah untuk Aiden?


Terngiang di benak Bella ucapan Aunty Elise. ‘Kalau kau tak bisa melakukannya untuk dirimu sendiri, maka lakukan itu intuk Aiden’.


“Tapi sebelumnya aku punya satu permintaan Lucas.” Bella mengusap air matanya.


“Apa itu?”


“Izinkan aku merawat Nick sampai dia sembuh.”


“Ell ....” Bella memotong ucapan Lucas.


“Kekejamanmu adalah kesalahanku, tubuhnya yang hancur juga adalah kesalahanku. Hatinya yang merana juga kesalahanku. Nick adalah pria baik, dia tak layak mendapatkan semua ini.” Bella berusaha tegar.


“Ella?!” protes Lucas.


“Setelah Nick sembuh aku akan kembali padamu, Lucas. Aku akan berusaha menerima cintamu kembali.” Bella menundukkan wajahnya.


“Kenapa? Kenapa masih saja ....” Lucas kehabisan kata-kata.


“Karena aku telah memberikan cintaku padanya, Lucas. Dan itu membuatnya menderita.”


“Ella, kau tahu aku tidak bisa. Aku tak bisa melihatmu bersama lelaki lain.”


“Kau punya Aiden sebagai alasan, sedangkan Nick hanya punya cinta dariku sebagai kekuatan. Izinkan aku menemuinya, Lucas. Izinkan aku merawatnya.” Bella menaruh kepalanya pada dahi Lucas, air matanya terus turun, ia harus menyerah dan membuat Nick menyerah akan cinta mereka.


“Setidaknya aku tak akan menyesal telah memilihmu kembali,” lirih Bella.


— MUSE S5 —


Ya ampun sapa naruh bawang di sini??? Kok sesak ya?? Kok perih too?! Ah, hati Othor rengginan atit.


😭😭😭😭😭


Lebih atit kalau kalian nggak Vote gaes!!


Yuk vote nya dikencengin. Biar semangat.


Jangan lupa kasih like dan comment.


Makatih


Jangan lupa baca novel baru Othor!! Dijamin penuh kebucinan dan kesesakkan. Wkwkwkwk ...