MUSE

MUSE
S4 ~ MALAM KELAM



MUSE S4


EPISODE 25


S4 \~ MALAM KELAM


\~Aku terus berseru dan mengucapkan pertanyaan sarkastik di dalam hati, menyembunyikan rasa penyesalanku, mengalihkan rasa sakitku, dan membantuku untuk tidak semakin jatuh dalam kekecewaan akan tindakanku.\~


________________


Kami duduk berdua di sebuah gazebo dekat rumah nenek penjual susu, gazebo ini merupakan sumbangan dari pemerintah daerah. mereka membangunnya di beberapa spot tertentu agar para wisatawan bisa beristirahat di sini saat lelah berjalan-jalan. Kebetulan, di depan gambar sayap ada sebuah gazebo, aku dan Ken beristirahat sebentar sembari menunggu catnya kering.


Matahari sore mulai terlihat kemerahan, bersinar dengan hangat, langit juga nampak cerah. Ah, sudah lama tidak turun hujan, mungkin musim telah berganti. Ken terlihat menegguk air mineral dengan cepat, berdiri seharian pasti membuatnya lelah dan kehausan.


"Keringatmu banyak sekali, girl." Ken mengambil tisu dan mengusapkannya pada dahiku.


"Thanks, Ken."


Kami menikmati senja sore ini, hembusan angin sepoi-sepoi membuat perasaanku yang tadinya gundah menjadi sedikit lebih nyaman. Aku memang telah menyeseli semuanya. Caraku memperlakukan Ra, dan juga ucapanku terakhir kali yang sangat melukai hatinya.


"Ken, apa kau tak bisa mengajak Ra mengobrol?" tanyaku ingin tahu, dulu mereka pernah bertengkar, itu berarti mereka bisa saling berkomunikasi.


"Biasanya bisa, tapi semenjak aku terbangun Ra tak pernah terdengar, bahkan jika aku bertanya padanya pun dia tak pernah menjawabnya. Hanya kesunyian yang ada di dalam batinku," jelas Ken panjang lebar.


Ken tersenyum dan merangkul pundakku, membawaku untuk bersandar pada pelukannya. aku memejamkan mataku menikmati dekapan itu, Ra juga pernah mendekapku sehangat ini saat kami minum wedang ronde tempo hari. Saat itu Ra mengatakan bahwa dia mencintaiku, namun sekali lagi, aku terlalu bodoh untuk mencerna ucapannya.


"Sepertinya cetnya sudah kering. Kita harus menyelesaikannya sebelum larut, girl." Ken membuyarkan lamunanku.


Ken benar, aku masih ada tugas dan tanggungan yang harus aku kerjakan. Aku harus menebalkan catnya dan memolesnya dengan clear paint agar hasilnya sempurna.


Aku bergegas bangkit dan kembali mengkocok cat kaleng. Ken menghidupkan lampu emergency yang sengaja kami bawa, agar memberikan penerangan ekstra saat malam tiba.


"Ambilkan itu, Ken." Aku meminta kuas kecil pada Ken.


"Ini."


"Thanks."


"Welcome girl," jawabnya.


Aku menebalkan sekali lagi ditail dari sayap sebelum menimpanya dengan finishing akhir. Tanganku terus bergetar hebat saat menebalkan sayap si iblis itu. Aku terus teringat sosok Ra, senyum seringainta, dan juga tatapan tajamnya.


Kenapa kau begitu bodoh?!


Dasar cowok arogan! Kenapa kau begitu jahat?! Kenapa pergi? Kenapa meninggalkanku?


Aku terus berseru dan mengucapkan pertanyaan sarkastik di dalam hati, menyembunyikan rasa penyesalanku, mengalihkan rasa sakitku, dan membantuku untuk tidak semakin jatuh dalam kekecewaan akan tindakanku.


"Inggrid." panggil Ken lembut.


"Tidak apa-apa Ken. aku bisa." Aku mengkocok sekali lagi cat semprot bening sebagai finishing akhirnya, dengan cekatan aku menyemprot tiap-tiap jengkal bagian gambar sampai semuanya tertutup dengan rata.


"Bagus sekali hasilnya." Ken tersenyum.


"Benarkah?" Aku juga tersenyum.


"Ra pasti juga menyukainya, girl."


"Andai saja dia bisa melihatnya saat ini, Ken."


Kami membereskan semua peralatan kami sebelum memutuskan untuk kembali ke rumah. Jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Badanku lemah dan lesu karena seharian penuh berdiri untuk menggambar. Bau asem tercium dari balik outfitku, bagaimana tidak? Kami seharian berjemur di bawah terik matahari dan pasti sangat berkeringat.


"Lapar, mau beli cilok di taman nggak?" tanyaku pada Ken, ada cilok enak di dekat taman kota, tempat biasa kami berlatih skate.


"Boleh, tapi sepertinya sudah sepi. Apa masih jual?" Ken melirik lagi jam tangannya.


Memang saat ini sudah malam, dan taman pasti juga sudah sepi. tapi tak ada salahnyakan dicoba? Lagi pula aku benar-benar merindukan rasa kenyal dan gurihnya bulatan-bulatan aci itu. di tambah dengan saus pedas dan juga manisnya kecap, Ugh!! siapa yang bisa menolak pesonanya saat bergoyang di dalam mulut?


"Tidak ada salahnya di coba, Ken. aku benar-benar ingin memakannya." Mataku berbinar.


"OK."


Kami berjalan menuju ke taman kota, kami berjalan dua blok dan sampai pada sebuah taman, taman itu terlihat sepi. Mungkin anak-anak mudanya sudah pulang atau malah pindah ke kampung grafiti dan nongkrong di sana.


"Masih jual, Ken." tunjukku pada paman penjual cilok.


"Wah, kau beruntung sekali," kata Ken. Aku tersenyum dan melangkah riang menuju gerobak cilok.


"Bang ciloknya dua, sausnya yang pedes ya." pintaku, rasa pedas sangat cocok saat di makan waktu hati sedang gundah.


"Habis, Neng, cuma bisa satu porsi."


"Yah, tapi ga apa-apa deh, Bang dari pada enggak." lanjutku.


"Ini, Neng," ucapnya sembari memberiku cilok.


"Ini uangnya. Ambil aja kembaliannya."


"Wah, Terima kasih banyak, ya, Neng."


"Masama, Bang."


Aku kembali pada Ken yang sedang bersandar pada pagar besi. Ia terlihat lelah dan pasti sangat kelaparan. Aku bergegas menemuinya dan memberikan cilok padanya.


"Ini makanlah, Ken."


"Kau tidak makan?"


"Sudah." Aku berbohong, tapi tinggal satu plastik mana mungkin aku tega memakannya sendiri.


"Serius? cepet banget makannya?"


"Ngebut, laper." elakku lagi.


Ken memasukkan sebutir bulatan pada mulutnya, aroma wangi tercium dan membuat air liur memenuhi mulutku. Ah, baunya begitu nikmat. lihat saja besok, aku pasti kan memborong satu gerobak dan memakan semuanya sendirian.


"Inggrid."


"hum?"


Tiba-tiba Ken menyuapkan bola aci masuk ke dalam mulutku.


"Aku tahu kau belum makan girl. ini makanlah, aku cukup dua butir saja." Ken menyerahkan bungkus plastiknya.


"Tapi kau belum makan, Ken, dan ini sudah malam."


"Kau juga belum makan, girl."


Aku terharu saat Ken mengusap kepalaku dengan tangannya, sangking terharunya sampai rasa gurihnya bercampur sedikit asin karena air mata.


"Kau jadi cengeng, girl?" kikih ken sembari menghapus air mataku.


"KAu yang membuatku begini." Aku membuang muka karena malu.


Ken mendekatkan wajahnya dan mencium genangan air mata di pipiku, sejenak kemudian Ken memindahkan bibirnya ke atas bibirku.


"ini lebih enak dari pada cilok."


"Ken!!" seruku kaget.


Kami menikmati sebungkus cilok di dampingi dengan ciuman manis dan hangat. Malam itu terasa begitu romantis sampai sebuah suara membuat kami berjengit kaget.


"Wah, Wah, lihat siapa yang sedang memadu kasih?"


“Kaukan?!” Aku kaget melihat segrombolan anak nakal, mereka dipimpin oleh senior muka badak, kakak tingkatku saat di SMA dulu.


“Mau apa??? Hahaha ...!” Jeda, “tentu saja mau balas dendam padamu!”


“Memang apa yang pernah ku lakukan?!”


“Dasar j*lang!! Kau tendang burungku sampai aku kesakitan!”


“Kau yang menggodaku duluan!” decisku sebal.


“Juga, dia!! Aku harus membalasnya karena telah melemparku dengan keras.”


Ken semakin mundur ke belakang. Ia melihat ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari bantuan. Namun taman kelewat sepi, malam telah larut, dan anak-anak muda sudah pulang.


“Aku minta maaf, tolong kita berdamai saja, jangan sakiti Inggrid.” pinta Ken. Ya ampun Ken? Kenapa kau mesti melindungi diriku sampai merendahkan diri pada brandalan macam mereka.


“Ken!!”


“Jangan gegabah Inggrid, jangan emosi, mereka ada 7 orang.”


“Iya.” Aku bersembunyi di balik tubuh Ken.


“Tolong lepaskan kami, kami minta maaf.” Ken melanjutkan negosiasinya.


“Enak aja minta maaf, lukaku susah untuk di obati kau tahu?! Aku tersiksa beberapa hari karena anak-anak cewek memandang aku lemah!” Saat itu Ra memang mengalahkan kakak senior badak sih. Membuat semua cewek satu sekolahan jadi menyukai Ra.


“Maafkan aku, Kak.” Ken kembali meminta maaf.


“Ayo kita bikin perhitungan.”


“Lawan aku satu lawan satu.” Aku maju ke depan, Ken tak bisa bertarung. Dulu Ra yang bertarung, kakak senior ini saja begitu susah dilawan dan sekarang mereka malah main kroyokan.


“Lawan aku satu-satu kalau berani!” bentakku mempertegas ucapan.


“Sory, kita mau balas dendam, bukan mau bertanding. Ngapain pake aturan yang Fair?” Ucapan senior badak disambut gelak tawa seluruh teman berandalnya.


Mereka langsung menyerbu kami, dua orang mencengkram lengan Ken agar dia tak bisa melawan. Dua orang lagi mencengkram lenganku. Aku meronta-ronta ingin melepaskan diri. Menendang-nendang ke udara dengan kasar.


Ketiga orang termasuk senior badak mulai memukuli Ken! Mereka meninju wajahnya, perut dan menendang kakinya. Mereka melakukannya bertubi-tubi.


“Tidak, Ken!!! Lepasin kalian b*rengsek!! Lepasin!! Bisanya main curang!!” Aku kembali meronta, aku ingin menghajar mereka semua.


“Tunggu saja giliranmu b*tch!!” Bentaknya.


Ken langsung tersungkur begitu mereka melepaskan lengannya. Darah segar keluar dari mulut Ken, tubuhnya meringkuk di pasir yang berdebu. Tanpa ampun mereka kembali menendang Ken.


“B*rengsek!! Kenapa tidak melawan? Bukankah kau kuat? Bukankah kau sombong?” Cowok b*ngsad itu semakin menggila, ia terus menendang tubuh Keano.


“Jangan!! Kumohon jangan!!! Lepasin Ken!! Cowok b*ngsad lepasin dia!!!” Aku meronta, menarik-narik tanganku. Namun cengkraman mereka sangat kuat, tubuh laki-laki berbeda dengan wanita.


“Kau bilang aku apa?”


“B*ngsad!!!” Teriakku.


Dia langsung bangkit dan meninggalkan Ken yang tersungkur lemas menuju ke arahku. Aku menggigit lengan salah satu dari mereka supaya bisa meloloskan diri.


“Ach, sialan!! Wanita sial!!”


Tangannya terlepas, namun tangan yang lainnya menampar pipiku.


PLAK!!!


Rasanya panas dan perih.


Air mataku menetes, wajahku penuh keringat dan terasa begitu kacau. Rambutku tergerai dan menutupi wajah, dengan penuh amarah seniorku itu menjambak rambutku, memaksaku untuk melihat wajahnya yang hina.


“Kau kira kau secantik apa sampai begitu sombong?!” ucapnya.


“Lepasin!! Aku lapor polisi kalau kau tak melepaskan kami?!”


“Oh, aku takut!!” Ia pura-pura bergidik ketakutan.


“Inggrid ....” panggil Ken lirih.


“Ken!!!!” Panggilku.


“Wah, wah, romantisnya, pasangan saling mencintai terluka karena diriku.” Pungkasnya sombong, ingin ku congkel lidahnya keluar sampai dia tak bisa berkata apa-apa lagi.


“Baiklah cantik, bagaimana kalau aku lepas semua bajumu di depan pacarmu dan teman-temanku?” ucapan menjijikkannya membuatku terbelalak. Dia bilang apa? Dia mau merobek bajuku? Brengsek!! Cowok hina.


Aku semakin meronta, tangannya yang menjijikkan mulai menjamah tubuhku. Teman-temannya tertawa terbahak-bahak. Mereka ikut menikmatinya, menikmati si b*ngsad ini melakukan tindakan pelecehan seksual padaku!!


“Kumohon jangan!!!” Pintaku, aku menangis dan terus menendang-nendang, mengulur waktu dan berharap ada seseorang yang bisa menolongku dari kegilaan ini.


“TOLONG!!!” jeritku.


“Teriak saja!! Menjerit saja!! Tak akan ada yang mendengarnya.” Ledeknya, benar saja malam semakin larut dan taman sudah sangat sepi, teriakkanku tak akan mungkin bisa terdengar sampai ke jalanan. Mereka menggiring kami ketengah taman.


“TOLONG!!!!” Jeritku lagi, kali ini lebih keras.


PLAK!!!


Sebuah tamparan kembali bersarang di wajahku. Aku merinding ketakutan. Aku benar-benar takut saat ini. Tanpa sadar air mataku mengalir dengan deras, tubuhku lemas dan tak bertenaga. Begini sajakah akhirnya? Aku akan kehilangan kesucianku?


BRREETTT!!!


Bunyi robekan terdengar nyaring, kaos bergambar pahlawan kesayanganku itu robek. Menunjukkan pakaian dalamku dan juga bagian depan tubuhku. Aku menangis, ingin meronta, namun tenagaku habis. Aku lelah menggambar, dan berteriak.


Mereka mengerumuniku dan menontonku seperti aku adalah sebuah tontonan yang menarik.


“Inggrid!!” panggil Ken, ia hendak berdiri. Tubuhnya sempoyongan, namun terus berusaha bangkit.


Senior muka badak mengalihkan pandangannya, dia kembali menyuruh temannya untuk mencengkram lengan Ken, lalu melayangkan sebuah pukulan padanya.


BUK!!


Bunyi pukulan yang beradu.


“Tidakk!!!!” Aku memejamkan mataku tak bisa melihat mereka memukul Ken lagi.


— MUSE S4 —


Wah, nasib Inggrid bagaimana nih?!


😭😭😭😭


MUSE UP


YUK DUKUNG AUTHOR DENGAN VOTE


VOTE KALIAN 10 pointpun berarti buat saya gaes.


Suport saya dengan dukungan point dan koin.


Jangan lupa juga buat like dan commentnya.


Biar MUSE FEMES!! Author rengginan jadi author femes!! 🤭🤭🤭


Jangan lupa bagi cinta untuk banyak orang


Jangan lupa cintai alam


Jangan lupa bawa kantong belanja sendiri


Jangan lupa kalau saya cinta kalian