MUSE

MUSE
S7 ~ JOHANA



MUSE S7


Episode


S7 \~ JOHANA


\~Leoni sudah mencoba menepisnya seperti kata Kanna, namun semakin ia ingin menepisnya, perasaan gundah itu justru terasa semakin kuat mengikat hatinya. \~


________


“Hai,” sapa Johana, gadis itu duduk di samping Leoni. Ia mengeluarkan juga peralatan tatah dan juga beberapa buah permen lolipop.


“Hai juga.” Leoni menatap Johana sekilas sebelum beralih pada deretan permen di samping tatah.


“Kau mau?” tanyanya, Leoni tersenyum tipis sembari bergeleng.


Johana tersenyum sebelum membuka sebungkus permen, rasa susu coklat. Tanpa ragu Johana mengullum permen itu di tengah jam pelajaran berlangsung. Leoni menaikkan sebelah alisnya, tampak tak terbiasa dengan pemandangan ini.


Leoni mengamati lagi gadis manis di sampingnya itu lamat-lamat. Baru ia sadari kalau tingkah norak para anak-anak cowok tak salah. Johana memang cantik, bibir tipis, hidung mancung, alis rapi, mata bulat, bulu mata lentik, kulit putih bersih, langsing, dan dadanya pun berisi. Sedikit Lebih besar dari milik Leoni. Oh, ada beauty mark, ta hi lalat di bawah bibir yang membuatnya terlihat manis.


Pantas saja anak-anak cowok langsung mencari informasi seputar gadis ini ke bagian kantor tata usaha. Johana


“Ada sesuatu di wajahku?” Johana sadar kalau Leoni sedang mengamatinya.


“Ti … tidak, sory, aku hanya melamun.” Leoni gelagapan, ia tak menyangka Johana akan menyadari tatapan Leoni.


“Oh, ya, kita belum berkenalan dengan benarkan?! Namaku Johana, kau?” tanyanya dengan nada supel, sepertinya Johana begitu mudah bergaul.


“Leoni,” jawab Leoni sembari menerima jabatan tangan Johana. Tangan yang cukup halus bagi pemahat batu.


“Nama yang cantik, secantik pemiliknya.” Johana memuji Leoni, wajah Leoni bersemu kemerahan. Di puji oleh gadis cantik ternyata lumayan mendebarkan.


“Ah bisa saja. Kau jauh lebih cantik dariku.” Leoni balas memuji Johana.


Johana tersenyum, masih sambil meng emutt permen lolipopnya, gadis itu menunjuk bongkahan gypsum di atas meja Leoni.


“Tugas kali ini membuat wajah manusia?”


“Iya, batas pengumpulannya akhir bulan ini.” Leoni mengangguk, yang semula tak tertarik kina mulai tertarik untuk berbincang dengan Johana.


Johana mengangguk, ia melihat bongkahan semen putih di hadapannya tanpa berkedip, masih belum tersentuh. Entah siapa yang akan menjadi modelnya.


“Siapa yang menjadi modelmu??” tanya Johana, Leoni tak bisa menjawab, modelnya adalah Levin. Levin terlalu terkenal belakangan ini dan Leoni tak mau menyusahkan dirinya sendiri dengan mengatakan pada seseorang yang belum pernah di temuinya bahwa kekasihnya adalah seorang pembalap internasionl.


“Kekasih … dan juga … Muse-ku,” jawab Leoni.


“Wah, bahkan kau punya Muse. Iri sekali. Aku bahkan tak punya siapa pun untuk berbagi cerita dan beban hidup.” Johana menghela napasnya panjang.


“Eh … kenapa?” Leoni penasaran dengan latar belakang Johana, benarkah gadis manis ini kini hidup sebatang kara? Tanpa orang tua atau pun sanak saudara.


“Aku hidup sendiri, rumah kecil di ujung jalan sebelum jalan raya adalah rumahku.”


“Kenapa hidup sendiri? Apa kau tidak punya saudara atau kerabat??” Tanya Leoni, Johana bergeleng pelan. Senyuman yang semula manis berubah kecut.


“Orang tuaku meninggal karena kecelakaan saat aku berumur dua belas tahun. Semua uang asuransi mereka keluar atas namaku. Namun baru bisa cair saat aku berumur tujuh belas tahun. So ... selama itu pula aku tinggal di panti asuhan.” Johan menceritakan kisah pilunya pada Leoni.


“Kenapa kau memilih pindah ke kota ini?” tanya Leoni penasarab, bukankah di kota asalnya Johana pasti sudah memiliki banyak teman.


“Sebenarnya aku masih punya seorang Paman. Tapi dia terus mengincar warisan orang tuaku. Jadi aku kabur untuk menghindarinya. Beruntung kepala panti punya banyak kenalan, kepala sekolah SMK ini adalah anak asuhnya dulu. Jadi beliau meminta dia menerimaku sebagai murid pindahan,” tutur Johana dengan raut wajah yang menyedihkan.


“Wah, tak kusangka hidupmu sangat berat.” Leoni menghela napas panjang.


“Well, tapi tak lagi berat. Kini aku sudah bebas menjalani hidupku sendiri. Aku juga akan punya teman-teman baru dan membangun hidup yang baru. Aku juga akan mencari kekasih, cita-citaku menikah muda.” Johana menyenggol lengan Leoni sambil terkekeh, Leoni pun ikuttan tertawa. Hah … kekasih ya? Apa kabar kekasihnya saat ini?? Cowok tengil yang selalu membuatnya khawatir itu akan pulang minggu depan.


“Apa kau sudah lama bersamanya?” Johana menunjuk patung milik Leoni yang baru terlihat bentuk kasarnya.


“Huum, sudah. Kami bersama sejak TK, namun baru pacaran saat lulus SMP.” Leoni mengangguk dengan wajah berseri-seri, pipinya merona kemerahan saat membayangkan bagaimana mereka bisa jadian dulu. Kenangan masa kecil yang manis. Kini Leoni sudah dewasa, delapan belas tahun, tanpa terasa mereka sudah menjalani hubungan jarak jauh selama tiga tahun.


“Wah ... irinya … aku juga ingin lekas punya kekasih.” Johana menguluum lagi permen lolipop.


“Kau suka sekali makan permen?”


“Gula membuatku relaks. Gangguan kecemasan, trauma psikis karena kehilangan orang tua membuatku sering mengalami serangan panik dan berkeringat dingin. Jadi rasa manis dari permen inilah yang menolongku untuk tidak cemas. Kadang aku menggantinya dengan coklat atau permen karet.”


“Ah, begitu.”


Leoni menjadi akrab dengan Johan hanya dalam waktu singkat. Sifatnya yang supel dan wajah manisnya membuat Leoni teringat dengan Inggrid kakak Levin yang paling tua.


“Semoga kau lekas menemukan kekasih. Nanti kita doble date ya.” Leoni tersenyum.


“Sure! Janji.” Johana mengangguk.


“Sekarang lekas kau selesaikan tugasmu. Jangan sampai guru memergokimu hanya mengobrol denganku.” Leoni menunjuk gumpalan batu putih di depan Johana yang masih teronggok polos.


“Ah, kau benar. Aku akan mencari gambar di ponsel. Wajah siapa yang yang harus ku pahat?” Gumamnya.


Johana sibuk membuka gambar-gambar di dalam ponsel, ribuan gambar tersimpan di dalam memory ponsel. Berisi kenangannya selama di panti, selfie foto dirinya, foto makanan, juga foto sang idola.


Levin? Ih … apa aku pahat wajah dia saja ya?? Dia menggemaskan! Batin Johana.


“Oke, aku memilihmu.” Dengan hati riang Johana memulai karyanya.


...— MUSE S7 —...


Satu minggu kemudian …


“Aku masuk ke dalam pesawat dulu ya, tunggu aku kembali.” Levin menutup wajahnya dengan masker, ia sama sekali tak ingin membuat kekacauan di bandara, karena tentu saja akan ada banyak fans berbondong-bondong meminta foto dan tanda tangannya.


“Hati-hati, Vin. Aku akan menunggumu.” Leoni tersenyum sumbang. Entah kenapa ia justru merasa tak mampu bertemu dengan sang kekasih, mungkinkah karena rasa cemas berlebihan yang ia alami kini berpengaruh sampai ke hubungan mereka juga??


Leoni sudah mencoba menepisnya seperti kata Kanna, namun semakin ia ingin menepisnya, perasaan gundah itu justru terasa semakin kuat mengikat hatinya.


Pesawat kelas suite berangkat dari bandara Madrid menuju ke Jakarta. Kurang lebih dalam dua hari Leoni akan bisa melihat dan memeluk sang kekasih kembali.


...— MUSE S7 —...


Jangan lupa di vote gengk!! Di kasih gift dan like yang banyak ya biar othor rengginan jadi terkenal 🤣🤣🤣