
MUSE S2
EPISODE 40
S2 \~ PALETTE WARNA
\~ sosoknyapun berubah menjadi MUSE yang tak sempurna dalam hidupku.\~
Kota S, dua tahun kemudian..
Kriinncingg kling...
Bunyi lonceng yang sengaja ku taruh di atas ambang pintu berbunyi. Aku memang sengaja menaruhnya di atas pintu agar saat ada tamu yang datang kami bisa langsung melayani mereka.
“Welcome to palette cafe!” seruku.
“da..maa—mi!” seorang bayi mungil berjalan tertatih-tatih. Mulutnya yang sekecil paruh burung memanggilku dengan riang.
“Aku kira pelanggan, ternyata kamu sayang.”
“Ba..ba..ya..” celotehnya riang.
“Pelan-pelan, Ken. Kaukan baru saja bisa berjalan.” Aku langsung berlari dan memeluk Keano, bayi laki-laki berumur 13 bulan itu memang sangat menggemaskan. Rambutnya masih tipis, tapi pipinya gembul dan kemerahan. Giginya yang berjumlah 6 biji menyembul kecil saat ia tersenyum.
Aku menggendong dan menciumnya. Bau minyak telon dan aroma bedak bayi memang sangat lembut. Aku menyukainya. Aku masih terus mencium pipi, dan perut si kecil Keano sampai ia terkikih lalu menangis karena sebal.
“Cup.. cup.. sayang..”
“Sory, La. Ken tadi sangat rewel.” Melody memakai apronnya dan segera bergegas menuju pantry. Ia mengeluarkan puff pastry dari frezer dan mulai membuat croistant polos.
“Kenapa kau rewel, Ken?” Aku kembali menggoda si kecil dengan gelitikkan tanganku.
“Aku menyapihnya,” jawab Melody.
“Kenapa? Kan baru 13 bulan.” Aku keheranan. Bukankah Asi harus di berikan pada bayi sampai usia 2 tahun.
“Aku akan kembali ke kota J. Ayahku sakit keras. Mungkin ini akhir hidupnya. Yah.. walaupun dia bukan Ayah yang baik, tapi dia tetap Ayahku bukan?” Melody menghela napasnya sebelum memasukan pastry pada oven.
“Kau akan meninggalkan, Ken-Ken?”
“Iya, Aku ingin menitipkan Ken-Ken padamu, La. Aku tahu aku egois tapi aku tak bisa mengajaknya ke sana. Rumah sakit bukan tempat untuk anak kecil.” Melody tersenyum, ia melemparkan pelan lap ke atas oven.
“Aku tak keberatan, Mel. Pergilah, aku akan menjaga Ken-Ken,” senyumku.
“Ah.. andai saja aku nggak menikahi seorang tentara. Aku bisa menitipkan Ken-Ken pada Papanya. Menyebalkan. Kenapa sih dia harus dapat tugas ke luar pulau?” Melody berdecak sebal. Belum genap Keano 4 bulan, Raffa suami Melody dikirim tugas ke perbatasan. Pekerjaannya sebagai tentara membuatnya tak bisa mengabaikan tugas negara begitu saja.
“Ken, mau sama mami-kan?” aku menggoda Ken-Ken, memaksanya menunjukan gigi susunya yang menggemaskan.
“Aaa..wuuu..” jawaban Keano membuat kami berdua tertawa nyaring.
“Kapan kau berangkat, Mel?”
“Mungkin besok, mungkin lusa. Aku harus menyiapkan semua perlengkapan dan susu untuk Keano.” Melody mengambil Keano dari gendonganku.
“Kau juga harus segera menikah, La. Buatlah bayi untuk teman bermain Ken-Ken.” Melody tersenyum.
“Kau tahukan aku masih tak bisa melupakan kejadian itu,” seulas sudut simpul menghiasi bibirku.
“Lalu mau sampai kapan kau menangisi hidupmu? Udahlah move on. Cari laki-laki baik seperti Raffa yang mau menerima kekurangan wanita seperti kita apa adanya.” Melody mengelus lenganku.
Aku menerawang kosong ke luar jendela. Melirik pada kelopak bunga hibicus yang mulai merekah merah. Benakku mulai mengulang kejadian selepas malam yang begitu menyakitkan bagiku.
•
•
•
Flash back on..
Aku membayar semua biaya RS dengan cek pemberian pria itu. Uangnya hampir pas, hanya tersisa beberapa ratus ribu. Aku belum bisa mengebumikan jenasah kedua orang tuaku. Aku juga sudah tak punya rumah lagi untuk pulang karena bulan depan bank pasti akan menyita rumahku. Angsurannya sama sekali tak terbayar, tentu saja mereka akan melelangnya.
Aku duduk di bangku besi yang dingin pada ujung koridor rumah sakit. Aku memasukkan tanganku pada saku jaket karena dingin. Dalam kebingungan aku menemukan kartu nama pemberian pria itu.
Marvinous, CEO Maxsoft.
+62 8122xxxxxx
Ah, ternyata dia sangat kaya. Seorang CEO dari sebuah perusahaan game dan programer. Pantas saja ia bisa membeliku dengan harga setinggi itu, uangnya pasti sangat melimpah.
Aku tahu salah satu game milik perusahaannya begitu laku keras di pasaran, menjadi trending chart di beberapa negara. Game petualangan dan pertarungan online. Angga dulu juga sering memainkannya. Aku kadang sebal karena saat bermain Angga selalu lupa waktu. Ia bahkan lupa akan mengajakku kencan sangking asyiknya bermain game.
Haruskah aku menelfonnya?
Kembali meminta uang padanya?
“Ah.. kau murahan sekali, Kalila.” Aku menutup wajahku. Belum reda rasa sakit di area kewanitaanku dan aku sudah kembali mencarinya.
— MUSE S2 —
Keesokkan pagi aku akhirnya memutuskan untuk kembali menghubunginya. Sudah jatuh dan kotor, apa yang harus di takutkan lagi?
“Tu—Tuan Arvin?” tanyaku pelan, aku takut keliru memanggil namanya.
“Baby?” Ia balas bertanya.
“Iya, ini saya, Tuan. Bisa kita bertemu? Saya membutuhkan uang.”
“Kau butuh uang? Uang yang kemarin sudah habis?” sepertinya dia begitu keheranan dengan caraku menghabiskan uang.
“Maaf, Tuan.”
“Kenapa kau meminta maaf? Berapa uang yang kau butuhkan?”
“500 juta.”
Aku memejamkan mataku, yah aku memang tak tahu diri. Siapa aku sampai berani meminta uang sebanyak itu padanya? Menelan ludahpun terasa begitu berat saat menunggu jawaban darinya. Aku memang sengaja meminta imbalan besar, siapa tahu dia menyetujuinya. Jadi aku bisa menebus rumahku yang digadaikan ke bank.
“Oke. Temui aku di hotel yang sama malam ini.”
Eh??? Dia mau? Dia akan memberiku uang 500 juta? Serius? Atau Main-mainkah?
“Benarkah?”
“Ya. Aku akan memberimu uang itu asal kau kembali melayaniku dengan baik.”
“Baik, Tuan. Terima kasih.”
Aku langsung terperosot lemas setelah menutup telfonku. Pria ini entah malaikat atau iblis yang dikirim Tuhan padaku. Yang pasti dia benar-benar penolong.
— MUSE S2 —
Malam itu aku kembali melayaninya. Masuk ke dalam selimutnya. Aku tak banyak bicara, tak banyak melawan. Aku membiarkannya kembali menyentuh seluruh permukaan kulitku. Membiarkannya menyesap seluruh area sensitif dari tubuhku. Tubuhku bergetar hebat saat menerima semua cumbuannya.
Kehangatan menyeruak jauh ke dalam tubuhku saat ia telah berhasil menyatukan tubuh kami. Akupun merasa lebih releks saat ia mulai bermain. Rasanya tidak terlalu sakit, walaupun tetap saja perih dan panas.
“Baby, say my name!!” pintanya, saat tubuhnya masih menghujam tubuhku.
“Ar—vin,” desahku di telinganya.
Aku menjambak rambutnya pelan saat sebuah rasa yang begitu nikmat datang. Aku tak bisa menahan getarannya, menggigit bibirpun tak bisa menahannya. Aku berteriak dan merancau.
•
•
•
Cek 500 juta aku bayarkan ke bank senilai hutangku 350 juta, bank memang selalu meminjamkan uang maksimal 2/3 dari harga rumah. 150 juta aku pakai untuk mengambil jenazah orang tuaku dan mengebumikannya di kota kelahiran Mama di kota S.
Tak lama kemudia rumahku laku terjual senilai 500 juta. Aku menjualnya pada sepasang lansia yang mendambakan hidup sederhana berdua. Aku memberikan semua perabotannya pada mereka. Hanya foto-foto kelurga dan pakaianku saja yang ku bawa pergi.
Aku pindah ke kota S bersama dengan Melody. Melupakan kenangan pahit kalau kami pernah menjadi kupu-kupu malam. Kami putus sekolah, dan mulai membangun bisnis. Uang penjualan rumah aku pakai untuk membeli rumah kecil yang saat ini berubah menjadi palette cafe. Sisanya aku pakai untuk menyewa apartemen dan hidup sampai saat ini.
Penghasilkanku cukup lumayan, kedai kopi kami cukup terkenal di kalangan anak muda. Mungkin karena barista dan pastisier -nya adalah wanita-wanita muda yang cantik. Padahal mereka tak pernah tahu, bahwa wanita-wanita ini pernah jatuh terpuruk dalam jurang yang dalam.
Tak lama setelah kami pindah ada seorang pria yang melamar Melody. Dia adalah Raffa, Ayah dari Keano. Aku bersyukur Melody menemukan pria yang baik dan mau menerimanya apa adanya.
Aku sendiri tak pernah meminum obat pencegah kehamilan yang di berikan Melody. Aku pernah berharap untuk hamil, aku tak ingin seorang diri di dunia ini. Tapi ternyata Tuhan belum mengizinkanku untuk memilikinya.
Oh iya, Aku suka menggambar, dulu aku selalu aktif dalam eskul menggambar di sekolahan. Aku memang menyukai warna-warna pastel yang lembut yang tersusun cantik dalam sebuah pallet warna. Melihat gradasi warna pink, biru, ungu, dan peach membuatku bahagia.
Lalu kejadian pelik malam itu membuatku mencampurkan warna gelap dalam setiap goresan tanganku. Aku mulai menggoreskan warna gelap di setiap kertas gambar. Aku terus menorehkan sosoknya dalam tiap gambar demi gambar. Tiap goresan demi goresan.
Tapi... sepertinya aku telah melupakan wajahnya.
Aku terus mencoba menggambarnya..
Menggoreskan terus pensil arang sampai aku mengingatnya..
Tapi percuma..
Aku tak bisa mengingat wajahnya yang begitu mempesona.
Mungkin pahitnya hidup membuat otakku menghapus memory yang paling menyakitkan.
Dan kini..
sosoknyapun berubah menjadi MUSE yang tak sempurna dalam hidupku..
— MUSE S2 —
Bantu Muse dengan klik bintang 5 ya readers
I lop yu..
Juga bagi like, comment, dan vote kalian
Makasih
🥰🥰🥰