MUSE

MUSE
S4 ~ HILANGNYA RA



MISE S4


EPISODE 22


S4 \~ HILANGNYA RA


\~ Lagi pula cara berciuman Ra sangat luar biasa! Duh, kenapa aku malah jadi memikirkan ciumannya? Oh, Inggrid walaupun dia sama-sama Keano, tapi bukankah itu berarti aku mengkhianati Ken dengan memikirkan ciuman panas dari Ra?\~


______________________


Akhirnya aku mulai bekerja di Pallete cafe, hari ini aku datang cukup pagi. Berusaha untuk memahami seluk belum kondisi cafe. Ada dua orang pekerja yang berperan sebagai Barista ada dua orang yang berperan sebagai pelayan, mereka berganti shiff kerja tiap enam jam. Jadi tiap jam 08.00-14.00 ada satu barista dan satu pelayan, jam 14.00-20.00 yang lainnya.


Selain kopi cafe ini juga menyediakan kue dan roti sebagai teman minum. Untuk partisiernya tentu saja mami Melody yang membuatnya, dia selalu datang lebih awal untuk membuat cake dan juga kue. Kami menjual berbagai macam kudapan, kue basah, kue kering, dan juga croisant sampai pai asin.


Mami Melody memang telah memiliki toko roti nya sendiri tapi dia selalu datang kemari untuk membuat kue, dia selalu melakukannya sebelum ke tokonya. Pallet cafe punya kenangan tersendiri bagi mami, tak beda dengan mommyku. Mami Melody dia juga punya banyak kenangan indahnya sendiri tentang cafe ini. Mami bilang mereka membuat dan merintis cafe ini berdua dengan mommy, saat itu mereka seusiaku dan baru saja keluar dari sejarah kelam hidup mereka. Cafe inilah yang memberi mereka penghidupan, bahkan sampai saat ini. So, walaupun mommy dan mami sudah punya penghasilan lebihpun mereka tak akan pernah menutup cafe ini.


Saat ini umurku 18 tahun dan aku akan mulai bekerja di sini.


Baiklah Inggrid! Mari kita lakukan!


Aku memutar mataku, mengamati interior cafe yang tak banyak yang berubah. Dominasi warnanya tetap warna-warna pastel yang cantik, hanya sofa dan juga kursi dan beberapa meja yang memang telah berganti karena yang lama telah usang. Mommy sengaja mengganti bangku kayu dengan besi, tetap dengan konsep shabby chic namun dengan bahan yang lebih tahan lama.


Aku memulai hari dengan mengamati sekitar dan berkenalan dengan tiap-tiap pekerja yang ada di sana. Dona, barista yang kebetulan shiff pagi membantuku memahampi proses cold drip, brewing, resep kopi dan takarannya, sampai cara membuat latte art sederhana.


Aku berhasil membuat latte art sederhana pertamaku. Yah, belum terlalu sempurna sih, tapi namanya juga mencoba.


Krincing Kling ....


“Welcome to Pallete Cafe,” sapa Dona dan Erik bersamaan, Eric adalah pelayan di cafe. Dia masih kuliah, rata-rata pegawai Mommy adalah anak kuliahan yang membutuhkan sambilan saat sekolah.


“Hallo,” sapa Keano.


“Ken?” Aku kaget, kalau dari suara lembutnya aku yakin dia pasti Ken.


“Inggrid? Kau di sini, girl?” Ken datang mengantarkan kue buatan mami Melody.


“Mami tidak datang?”


“Mama ada pesanan di toko, jadi dia memintaku mengantarkan kue kemari.”


Ken yang mengantarkan roti hari ini, aku melihatnya dan Ken tersenyum padaku. Aku sedikit heran bukankah yang ada di dalam tubuhnya adalah Ra? Dibilang tak ingin mengalah? Tak akan mengizinkan Ken keluar? Lalu kenapa? Kenapa dia berubah pikiran?


“Kau bisa keluar, Ken?! Lalu di mana, Ra?” tanyaku penasaran.


“Entahlah, aku terbangun pagi ini dan kesadaranku kembali memenuhi tubuh ini.”


“Ra memang mengekangmu cukup lama.” Aku menghela napas lega. Ra sudah tidak marah dan mengizinkan Ken keluar.


“Bagaimana kabarmu, girl? Aku tak pernah serindu ini padamu.” Ken menggenggam tanganku, aku juga merindukannya. Aku ingin masuk ke dalam pelukannya saat ini, tapi malu karena ada banyak orang yang sedang melihat ke arah kami.


“Kenapa kau memakai appron itu?” Ken menunjuk apron coklat yang ku pakai.


“Oh, mulai hari ini aku akan berkerja di sini! Aku akan mengurus cafe ini menggantikan Mommy,” jawabku dengan riang.


“Wah, hebat.”


“Apa kau sudah makan? Mau minum kopi? Aku baru saja belajar membuatnya.” Aku menawarinya kopi buatanku.


“Tentu saja, mari kita cicipi kopi buatan Inggrid!” Ken mengelus pucuk kepalaku.


Aku tersenyum dan bergegas pergi ke belakang meja bar mencoba untuk membuat resep kopi yang telah diajarkan oleh Dona, si Barista cantik yang bekerja di sini. Aku mengikuti resep buatan mommy dulu. Aku telah belajar meraciknya, mulai dari menyeduh kopi untuk espresso, takaran susu dan krimer, sampai membuat hiasan pada latte art sederhana.


Ken menungguku dengan sabar di depan meja bar. Wajah tampannya tak berkedip saat memandangku, sepertinya dia begitu terkesima dengan trampil-nya tanganku. Harus aku akui, sih, aku memang pintar. Aku tak perlu belajar banyak, panjang, dan lebar untuk bisa menguasai suatu hal.


“Ini.” Aku memberikan Ken secangkir kopi panas dan juga roti berisi ham dan keju. Cemilan yang paling laris di cafe ini, dan tentu saja roti ini adalah bikinan mami Melody.


Tentu saja Ken juga sering memakannya, tapi, entahlah, rasa roti ini begitu enak sampai kita tak akan pernah bosan saat memakannya.


“Cobalah Ken!” Aku menunggu komentarnya dengan berbinar-binar.


“Bagaimana?” Aku sangat antusias saat menunggu jawabannya, tak sabar ingin mengetahui bagaimana rasa kopi buatanku.


“Tunggu Inggrid.” Ken menyesap perlahan kopi itu sekejap kemudian dia menurunkan jempolnya, aku terkesiap, benarkah kopiku itu tidak enak? Lalu dengan senyuman manis ia mengangkat balik jempolnya.


“Luar biasa, Inggrid, kopimu adalah kopi yang paling enak yang pernah aku minum,” pujinya.


“Jangan gombal. Ken.” Aku mendengarnya dengan bahagia.


“Benar.”


“Thanks.”


“Aku akan membantumu, apakah aku juga boleh bekerja di sini?”


“Sepertinya aku tidak akan kuat, untuk menggaji seorang dokter bekerja di sini!” tolakku sambil menggodanya.


“Tak perlu digaji, lagi pula aku bukan dokter, aku masih masiswa kedokteran tahu!” Aku tersenyum bahagia, melihat senyuman manisnya. Ken ku telah kembali. Tatapan lembutnya telah kembali memandangku dan lesung pipinya yang manis telah kembali terkembang.


Aku mensyukuri nya, ternyata Ra tidak seburuk yang aku kira. dia mengijinkan Ken keluar untuk melihat hasil karya itu. Aku akhirnya bisa menunjukkan hasil kebaikan hatinya untuk banyak orang.


“Apa kau tahu kalau proyeknya sudah hampir selesai?”


“Benarkah? Hebat sekali!”


“Apakahkau mau melihatnya?”


“Tentu saja aku mau, kapan kita akan melihatnya?”


“Bagaimana kalau setelah cafe tutup?”


“Jam berapa cefenya tutup?”


“Jam 08.00 malam.”


“Baiklah aku akan menjemputmu, girl.” Ken tersenyum lalu kembali melanjutkan menyesap kopinya.


“Kau tidak ada kuliah hari ini?”


“Ada nanti siang.”


“Kau tidak pulang dan beristirahat dulu?”


“Tidak, pagi ini aku ingin menikmatinya dengan cara memandang wajah cantikmu itu. Sudah lama aku tidak melihatmu dan aku begitu merindukanmu sampai ingin mati rasanya.” Ken mendekatkan wajahnya sampai hidung kami bertemu, membuat wajahku menghangat dan jantungku berdegup tak beraturan.


“Ck, kau semakin sering berkata kata manis akhir-akhir ini? Apa kau berubah menjadi playboy sekarang?” Aku menepuk pelan pipinya.


“Iya, mungkin saja Ra terlalu lama menjadi Keano dan aku jadi ikut ikutan seperti dirinya.”


Ra memang kasar dan bad boy, tapi bukankah para gadis menyukai sifatnya yang kasar itu? Lagi pula cara berciuman Ra sangat luar biasa! Duh, kenapa aku malah jadi memikirkan ciumannya? Oh, Inggrid walaupun dia sama-sama Keano, tapi bukankah itu berarti aku mengkhianati Ken dengan memikirkan ciuman panas dari Ra?





Akhirnya satu hari telah berakhir, aku menanti Ken datang menjemputku malam ini. Rencananya kami akan melihat hasil karya dari anak-anak dan juga pemikirannya atas para lansia itu.


“Lama nunggunya?”


Saat ini hanya ada satu gambar yang belum selesai yaitu gambar sayap malaikat dan juga iblis yang kugambar. Aku memang sengaja menggambarnya secara perlahan-lahan. Aku ingin menikmati setiap ditail dalam setiap semprotannya. Tak lupa aku selalu membayangkan Keano, aku membayangkan Ra adalah iblis-nya dan Ken adalah Malaikatnya. Saat membayangkan mereka berdua, disitulah gambar itu menjadi sempurna, karena memang mereka berdua adalah MUSE -ku.


Setibanya di sana kami disambut dengan hiruk pikuk pemuda pemudi yang sedang asik nongkrong dan mengobrol. Ada juga yang asyik berfoto, bersepeda, dan bahkan menikmati makanan serta minuman yang telah sengaja disiapkan oleh warga sekitar. Kini kehidupan warga sekitar di sana lebih baik, perekonomian mereka jadi lebih menanjak naik berkat adanya kampung wisata ini.


Sekarang bahkan tak jarang para wisatawan dari luar kota pun datang untuk ber foto di sini. Warga merubah beberapa spot yang dulunya adalah lahan kosong atau rumah yang telah rusak menjadi toilet umum dan juga area berisi bangku kecil untuk menikmati suasana malam. Padahal malam sudah sedikit larut, namun binar kehidupnya belum berakhir dan malah semakin bertambah hidup.


Kami menjumpaii Kak Daffin, Karin dan juga anak-anak lainnya. Mereka sedang asik mengobrol di ujung jalan, menikmati cemilannya dan juga susu coklat panas.


Ken dan aku langsung bergegas menghampiri mereka. Kak Daffin memandang Ken dengan heran. Aku terpaksa harus menyenggolnya agar dia tidak bertanya hal yang tidak-tidak pada Ken saat ini. Aku takut kak Daffin akan menyakiti hati Ken yang lembut ataupun menyulut emosi sampai hal terburuk dengan keluarnya Ra.


“Bagaimana kabarmu?”


“Baik, Kak.” jawaban Ken langsung membuat kak Daffin mengeruitkan dahinya, hal itu memperjelas kalau dia pasti benar benar heran dengan perubahan sikap Ken padaku.


Keano yang ini memang jauh berbeda dengan Keano yang di kenal Kak Daffin. Dia menjadi sangat lembut padaku. Tak hanya Kak Daffin yang tersenyum keheranan, Momo juga memandang Keano saat ini tak kalah heran, biasanyakan kalau bertemu dengan Momo, di dalam diri Keano isinya Ra. Ra yang kasar, serampangan, dan penuh percaya diri, sekarang berubah menjadi Ken yang lembut, sopan, dan baik hati.


Aku duduk dan ikut mencomot terang bulan yang telah dipesan oleh mereka. Memakan kue hasil dari kocokan telur dan gandum, beraroma vanilla dan mentega yang begitu kuat. Di tengahnya selalu ada coklat yang melumer keluar, lalu di atas coklatnya ada campuran keju dan wijen, sangat nikmat bila dinikmati dengan teh panas ataupun kopi hitam yang pekat.


Kan ikut duduk, dia memesan hal yang sama denganku yaitu teh panas kental. Kami mengobrol cukup lama seperti biasanya. Ken hanya diam dan mendengarkan dengan baik. Dia memang pendiam tapi untung saja dia tidak seperti Ra yang walaupun banyak bicara namun tak pernah bisa menyuarakan isi hatinya dengan baik. Ra seakan akan tak pernah berfikir terlebih dahulu dengan apa yang dia ucapkan.


“Bagaimana proyeknya? Tinggal Giliranmukan?”


“Hari ini mulai mulai bekerja di kafe dan aku baru bisa memperbaiki gambarnya hari minggu besok.” Aku menelan terlebih dahulu kue yang ku kunyah sebelum kembali berkata, “Aku akan menyelesaikannya hari Minggu besok, bahkan bila sampai subuh pun aku pasti akan menyelesaikannya.” Janjiku.


“Aku akan membantumu,” kata Ken.


“Bisakah?”


“Bisa atau tidak, setidaknya aku bisa menemani Inggrid dan menjaganya di sana.”


“Baiklah kalau begitu kami akan istirahat kami lelah bekerja satu bulan ini.” Karen membenarkan ucapan Kak Daffin. Kami memang sangat lelah, walaupun rasa lelah kami sbenarnya sudah terbayar dengan keadaan yang begitu ramai.


“Terima kasih, ya, berkat kalian semuanya bisa terwujud.” Ken berterima kasih pada mereka semua, memang berkat mereka lah apa yang Ken cita citakan bisa terjadi.


Ken bahkan bisa melihat senyuman manis berkembang di wajah nenek penjual susu. Ia tak pernah merasakan kedainya seramai ini sebelumnya, susunya kini tak pernah tidak habis terjual, bahkan kadang sampai kurang. Berapa orang lainnya seperti kakek yang menjual kardus tidak lagi jadi pemulung kardus, kini dia bekerja membuka sebuah tempat nongkrong kecil menjual angkringan nasi kucing dan minuman hangat. Teh-nya bahkan terkenal hlo, tehnya sedap sekali. Teh yang kami minum saat ini adalah bikinan dari sang kakek, resepnya legend katanya, hasil dari campur tiga jenis teh hitam yang berbeda.


“Kita camping, yuk, kita naik ke gunung!” ajak Niel.


“Wah jauh amat sampai ke gunung?” tukas Momo.


“Kan dingin enak bisa berpelukan sambil liat sunset atau sunrise keluar.” Niel memeluk Ara. Nael hanya menyunggingkan senyum man sebel ke arah kembarannya.


Naelkan belum punya pacar tidak seperti Niel yang sudah memiliki Ara sebagai pacar, lalu dia mau peluk siapa kalau dingin? Berbeda lagi dengan kak Daffin, dia malah terus memandangku. Apa dia masih mengharapkanku? Padahal aku sudah bilang padanya untuk melupakanku dan mencari Cinta yang lain.


“Aku sih, setuju-setuju saja.” Karen dia juga setuju karena sudah memiliki pacar.


“Momo juga ikutan deh, killing time.”


“Kau gimana Nuna?”


Aku berpikir sejanak, tentu saja yang paling tersiksa di sini adalah aku, karena jika aku mengajak Ken dan ternyata Ra yang muncul , aku tidak akan bisa menikmati liburanku di gunung. Yang ada aku malah akan bertengkar dengannya setiap hari.


“Baiklah.” Aku akhirnya ikut, masa bodo dengan Ra dan Ken, kalau memang saat liburan mereka tak bisa akur mending aku berlibur dengan teman-temanku saja.


“Oke, baiklah kita putuskan kita akan pergi ke gunung untuk camping sebelum kuliah dimulai!!” seru Niel bahagia. Akhirnya kami menutup malam itu dengan hati yang riang.





Eesoknya aku kembali bekerja di Pallet cafe, Ken ikut bekerja denganku, dia membantuku. Tangannya dengan cekatan membersikan setiap meja-meja yang telah selesai dipakai, tak lupa ia juga cuci setiap piring-piring kecil untuk menyuguhkan kue.


Bahkan Ken hari ini sengaja datang untuk membuat kue.


Ken menuangankan mentega, gandum, dan telur. Lalu Ken mengocoknya dengan mixer sampai akhirnya adonan itu sedikit lebih kalis dan siap untuk dia uleni. Ken memijit adonan, setelah menguleninya Ken bentuknya menjadi satu bagian utuh dan menutupnya dengan plastik agar adonan lebih mengembang. Setelah mengembang, Ken membaginya ke beberapa bagian dan membentuk menjadi bulatan kecil. Bulatan itulah yang kemudian dia dia isi dengan berbagai macam filling, ada yang coklat, ada yang strawberry, ada yang nanas, dan juga ada yang Blueberry.


Terakhir Ken mengoleskan kocokan kuning telur dan mentega ke atas adonan-adonan itu sebelum memanggangnya. Bau mentega tercium harum dari oven membuatku tidak sabar untuk segera mencicipinya.


Mataku tak berkedip, aku terus memandang ke arah ke arah kaca oven. Bulatan-bulatan itu mengembang dan akhirnya matang. Ken mengangkatnya dengan sarung tangan anti panas. Oh, aku menyukainya, Ken begitu tampan saat membuat roti. Dia memang pintar memasak, masakannya tak pernah tak enak karena dia sering ditinggal oleh mami bekerja. Hal ini membuat Ken mau nggak mau hidup dengan mandiri.


Jyah, Ken kenapa kau begitu tampan?


Kagumku dalam hati.


Ken langsung mengambil satu buah roti yang berisi coklat keju. dia langsung menyobeknya pelan pelan, uap panas keluar dari sela-sela robekan roti, terlihat coklat dan keju meleleh bersamaan. Sensasi lelehannya begitu memanjakan mata. Ken dengan perlahan meniupnya sebelum ia memasukan rotinya ke dalam mulutku, lelehan coklatnya langsung meledak di dalam mulut, membuat rasa manis bercampur dengan gurihnya keju. Ah, belum lagi adonannya yang benar benar kalis dan juga lembut, roti buatan Ken tak kalah dengan buatan Mami. Ken benar-benar mewarisi bakat mami Melodi. Dia benar-benar suami yang ideal, kalau saja aku bisa memilikinya kembali tanpa ada Ra yang mengganggu.


Oh, Tunggu, ngomong-ngomong tentang Ra, sudah seminggu ini dia tak terlihat?


Bahkan saat malam pun Ken tetaplah Ken. Ra sama sekali tidak keluar.


Kenapa dia sekarang tak pernah keluar?


Kenapa dia sekarang nggak pernah ada?


Kenapa dia sekarang tidak pernah bawel?


Kenapa dia sekarang tidak pernah main dan menemuiku?


Muncul pertanyaan dalam benakku, apakah ucapanku begitu menyakiti hatinya sampai dia sama sekali tidak mau keluar? Ataukah dia memang sudah menyerah atas tubuh Keano?!


Aku memandang lagi wajah Keano, seperti merasa ada sesuatu yang kurang dalam dirinya!


Ken memang lembut tapi Ra terasa jauh lebih pesona dengan tetapan tajamnya yang mampu melelehkan hati setiap wanita.


Harusnya aku senang dia tak terlihat, tapi entah kenapa aku malah merindukan tatapan tajamnya itu?!


Apa Ra sungguh menghilang?


Karena ucapanku?


— MUSE S4 —


Wah Ra, jangan pergi donk!!


MUSE UP


YUK DUKUNG AUTHOR DENGAN VOTE


VOTE KALIAN 10 pointpun berarti buat saya gaes.


Suport saya dengan dukungan point dan koin.


Jangan lupa juga buat like dan commentnya.


Biar MUSE FEMES!! Author rengginan jadi author femes!! 🤭🤭🤭


Jangan lupa bagi cinta untuk banyak orang


Jangan lupa cintai alam


Jangan lupa bawa kantong belanja sendiri


Jangan lupa kalau saya cinta kalian


🥰🥰😝