
MUSE S4
EPISODE 15
S4 \~ MUSE
\~ Yup, dia memang inspirasiku, dialah MUSE ku, keindahan malaikat dan iblis yang tergambar dalam dirinya membuatku bisa memunculkan ide brilian ini.\~
_______________
Hanya denganmu aku berbagi 🎶
hanya dirimu paling mengerti
kegelisahan dalam hatiku
yang selama ini tak menentu
Tak ada ragu dalam hatiku
pastikan aku jadi cintamu 🎶
seiring waktu yang tlah berlalu
mungkin kau yang terakhir untukku
Akan kulakukan semua untukmu 🎶
akan kuberikan seluruh cintaku
janganlah engkau berubah
dalam menyayangi dan memahamiku 🎶
(Kulakuka semua untukmu. Nadila ft Fatur)
Yak diputarnya lagu nostalgia itu menutup perjumpaan di radio kesayangan kita semua .... pip!
Aku mematikan radio dan beranjak naik ke atas kasur. Sudah lewat lima bulan sejak pertemuanku dengan Ken dan Ra malam itu. Keano sedang sibuk kuliah, saat ini dia sudah menjadi mahasiswa kedokteran.
Ken sendiri juga mengambil beberapa job les privat untuk tambahan penghasilan. Biaya kuliahnya di fakultas kedokteran tidak murah. Mommy sempat menawari Ken sejumlah uang namun Ken menolaknya. Mami Melody juga tak ingin mengemis dan lebih memilih menjual kue di cafe.
Aku sendiri sudah mulai mempersiapkan ujian akhirku sebagai anak SMA. Tinggal 6 bulan lagi aku lulus. Maka dari itu, kami sangat jarang bertemu sekarang. Ah, jujur aku sangat merindukan Ken belakangan ini.
Aku melirik ke arah jam, pukul 7 malam. Apa Ken sudah berubah menjadi Ra?
Aku belum pernah berjumpa dengan Ra semenjak kejadian malam itu. Bagaimana perasaannya, ya? Apa dia terluka?
Waktu itu yang menyatakan cinta Ra atau Ken, ya? Pertukaran mereka sangat membingungkan.
“Argh, Bosan,” gumamku.
Tring ...!
Bunyi grup chat masuk terdengar.
Genk NIKMAD Tuhan mana yang kau dustakan?
Nama genk kami diambil dari inisial kami masing-masing, Nael dan Niel, Inggrid, Karen, Momo, Ara, Daffin. Sudah lama kami tidak menggambar, mereka juga pasti rindu.
Niel:
Nuna ada kabar baik untukmu. 👻
Nael:
Kami berhasil membujuk Papa.
Ara:
Papa Arron juga setuju membantu kita 👍
Inggrid:
Benarkah?
Momo:
Asyik donk! 😝
Inggrid:
Pihak pemerintah setuju?
Nael:
Sedang diusahakan.
Ara:
Traktir kami di cafe! 🤤
Inggrid:
Tentu gaes.
Momo:
Bagaimana kabar kak Keano? 😍
Ajak dia juga buat cuci mata.
Daffin:
Jangan 😞
Ara:
Kak Daffin cemburu. 🤭
Hahaha
Karen:
Ngumpul yuk. 😤
Niel:
Sekarang? 😳
Inggrid:
Ayo!! Aku gabut di rumah. 🥴
Nael:
Taman bawah jembatan OK?! 👍
Inggrid:
OK
Karen:
OK
Momo:
OK
Daffin:
OK
Ara:
Jemput aku Niel! 😘
Niel:
Meluncur Cintakuh. 😘
Nael:
Manja! 😡
Ara:
Ah, ucapan Ara membuatku sedikit merasa aneh. Aku pacaran dengan Keano cukup lama, namun aku tak pernah bermanja ria maupun saling memanfaatkan seperti pasangan lain pada umumnya.
“Baiklah! Ayo kita pergi!” seruku.
Aku mengambil jaket hodie berwarna merah dengan telinga kucing pada tudungnya. Aku memadukannya dengan celana jeans rapped pendek. Tak lupa backpack berwarna putih dengan gantungan kunci berbentuk kucing. Untuk sepatunya model warrior shoes setinggi mata kaki berwarna merah.
Aku mengendap-endap keluar dari kamar. Melirik ke bawah sebelum bergegas menuruni anak tangga menuju pintu luar. Beruntung saja Papa dan Mama sudah mendekam di dalam kamar mereka. Jadi aku bisa keluar tanpa ketahuan.
•
•
•
Aku hampir sampai ke tempat tujuanku saat sebuah suara yang ku rindukan terdengar memanggil namaku.
“Inggrid!”
“Ra?”
“Ken!”
“Ken?? Beneran Ken?” Aku menghentikan laju skate dan menghampirinya.
“Mau kemana malam-malam?” tanyanya sembari menerima pelukkanku.
“Kumpul sama anak-anak,” jawabku.
“Oo, boleh aku ikut?”
“Tentu donk.”
Kami berjalan bergandengan tangan menuju ke taman di bawah jembatan layang. Taman itu terletak di ujung jalan belakang rumahku, taman yang sama di mana aku minum wedang ronde bersama dengan Ra.
“Kenapa bukan Ra? Bukankah ini sudah malam?” tanyaku penasaran, apa jadwal tukar mereka kembali kacau.
“Ra membantu mama di cafe siang tadi. Aku sendiri baru saja selesai memberikan les privat.”
“Ow, begitu.” Aku manggut-manggut tanda mengerti.
“Bagaimana keadaanmu, girl? Kita sudah lama tak bertemu. Aku merindukanmu.” Ken mempererat genggamannya.
“Aku juga rindu padamu, Ken! Tiap malam aku selalu memimpikanmu,” gombalku riang. Namun wajah Ken memerah saat mendengarnya, membuatku semakin cinta saja.
Gemesin banget sih?! batinku.
“Jangan begitu Inggrid. Aku tak tahan mendengarnya.”
“Hahaha,” tawaku keras.
“Hei cewek bar-bar, kalau ketawa jangan kenceng-kenceng!! Manis dikit napa?”
Aku langsung menghentikan langkah kakiku dan menatap Keano. Terlihat pandangan matanya berubah tajam, sudah pasti kini Ra yang muncul dan menggantikan Ken.
“Ra?!” Aku menghempaskan gandengan kami.
“Iya, Ra!”
“Ngapain keluar? Padahal aku lagi enak-enaknya melepas rindu dengan Ken!” dengusku sebal.
“Aku merindukanmu juga, Inggrid,” ucapan Ra membuat wajahku menghangat, aku tersipu karenanya.
“Ra?!” lirihku.
“Maaf, aku bohong!! Siapa yang rindu cewek bar-bar macam dirimu?!” Ra menutup tudung jaketku sampai ke depan wajah. Aku memukulnya namun lusut, Ra berhasil melingsut pergi.
Urgh ... sialan, aku kemakan guyonannya.
Yah, itulah beda Ken dan Ra. Ken sangat manis jadi aku suka menggodanya, sedangkan Ra sangat menyebalkan jadi dia suka menggodaku. Kebalikkan gaes?!
Kami sampai pada kumpulan genkku. Mereka terlihat sedang menikmati kopi dan juga gorengan. Mereka anak orang kaya tapi makannya gorengan pinggir jalan? Nggak takut sakit perut apa? Eeh, Tapi aku juga suka sih, rasanya yang gurih dan asin terlalu susah untuk di tolak. Apa lagi kalau ada cabe rawit yang menemaninya, uuugh, menggiurkan.
“Gaes!!” seruku lantang.
“Hallo!” seru mereka tak kalah lantang.
Aku menamplek cepat tangan mereka satu persatu sebagai high five. Lalu duduk di sebelah kak Daffin. Mecomot gorengan yang sedang di makannya.
Ra yang melihat kelakuanku tampak sebal, buktinya ia langsung duduk di antara kami.
“Jangan di makan!” Ra mengambilnya dan mengembalikkannya pada Kak Daffin.
“Kenapa?” tanyaku heran.
“Nanti jadi ciuman tidak langsung!” tandasnya.
“Cih, kau cemburu?” decis kak Daffin.
Wajah Ra memerah, wah, apa artinya ini? Masa iya dia beneran cemburu karena aku hampir berciuman tidak langsung dengan kak Daffin?!
“Nggak! Siapa yang cemburu?” Ra langsung bangkit.
“Pacarmu aneh! Cemburukan hal yang wajar saat berpacaran!” bisik kak Daffin di telingaku.
“Dia memang sedikit sarap, Kak!” celetukku, tak mungkinkan aku berkata dia bukan pacarku pada Kak Daffin. Wajah dan tubuhnya sama dengan Ken.
“Jadi bagaimana agenda kita?” Karen menghentikan kunyahannya dan mulai mengarah ke ranah serius.
“Begitu izin keluar kita langsung gambar saja, Kak,” ujar Nael.
“Terus menyikapi para pembuang sampah sembarangan bagaimana?” tanya Momo, masalah utama kami adalah hal itu.
“Kita sediakan tong sampah di beberapa tempat. Kita lukis tongnya dengan lucu. Lalu juga berikan kata-kata himbauan di tiap gambar. Secara tak langsung mereka pasti tergelitik nuraninya,” jelas Kak Daffin panjang lebar.
“Boleh tuh idenya,” sela Momo.
“Sudah aku hitung, tiap orang dapat bagian 25 meter,” ujarku. Mereka semua langsung melongo mendengarnya.
“25 meter itu bukan jarak yang pendek Nuna!” jerit Niel.
“Iya, tau! Maka itu kita butuh personil volunter, jadi tiap dari kita membawahi beberapa seniman lain dan juga membuat konsepnya.”
“Semacam ketua grup?”
“Hoo, semacam itu.”
“Kita buat semacam pesan moral berantai saja, jadi tiap-tiap orang bisa mencari pesan dan makna dalam diri mereka.” Aku kembali menjelaskan visiku.
“Semacam kuisioner?” tanya Momo.
“Benar. Saat semua kuisioner terisi, mereka akan mendapatkan nilai. Nilai itu menetukan apakah dalam diri mereka itu bersemayam Malaikat atau Iblis,” lanjutku.
“Waw, keren banget idemu, Kak.” Ara bertepuk tangan.
“Iya, nanti di sisi terujungnya aku akan menggambar satu sayap malaikat dan satu sayap iblis. Jadi orang bisa berfoto dengan sayap itu sesuai hasil kuisioner mereka. Atau berfoto di antara keduanya,” jelasku untuk bagian akhir dari rencanaku.
(Credit pict to owner)
“Daebak!! Idemu fresh banget, salut banget!” Kak Daffin mengelus pucuk kepalaku.
“Keren banget! Dapet inspirasi ide dari mana?” tanya Kak Karen juga.
“Tuh ..., dari dia!” Telunjukku mengarah pada sosok Keano yang sedang berdiri memandang aliran sungai.
Yup, dia memang inspirasiku, dialah MUSE ku, keindahan malaikat dan iblis yang tergambar dalam dirinya membuatku bisa memunculkan ide brilian ini.
Benar, tak peduli kau itu Iblis atau Malaikat, bagiku kau tetap pria yang kucintai, kaulah MUSE -ku
— MUSE S4 —
Wah, MUSE UP
MAAF CUMA UP SEDIKIT
DIKEJAR REVISI.
besok janji crazy up kalau sudah selesai revisinya.
Makasih para readers, jangan lupa vote dan juga kasih like dan commentnya.