
MUSE S2
EPISODE 61
S2 \~ MORNING II
\~ Membuat getaran itu semakin bertambah kencang. Rasanya bagaikan tergelitik oleh ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dekatmu.\~
•••
Aku menikmati air hangat yang mengguyur seluruh tubuhku. Hangatnya air membuat perasaanku lebih nyaman. Aroma lembut sabun mandi tercium lekat, membuatku kembali mengenang kehadirannya dalam hidupku.
Entah sejak kapan aku mulai memikirkannya.
Apakah sejak pertemuan pertama kami?
Atau sejak pertemuan kami kembali malam itu?
Ah, Kalila, apa kau sudah gila? Memikirkan laki-laki petualang seperti dirinya? Aku yakin sudah puluhan bahkan ratusan wanita yang pernah masuk ke dalam selimutnya. Aku pasti hanya salah satu dari mereka.
Oh, God, kenapa hatiku tak mau berhenti melaju dengan cepat saat teringat padanya?
Kubanting tubuhku ke atas ranjang. Menikmati keindahan dibalik kata ‘rebahan’. Aku memandang langit-langit kamar yang sedikit kekuningan karena cahaya lampu tidur tependar ke atas.
“Ah, mending aku tidur saja.”
•
•
•
Trrriiing 🎶
Bunyi jam weker membangunkanku. Aku menggerayangi sisi kanan meja nakas dan mematikannya. Enaknya, tidurku cukup nyenyak semalam. Aku merenggangkan diri sebelum beranjak bangkit dari atas kasur.
Minum segelas air putih hangat waktu bangun tidur bisa membantumu memperlancar pencernaan. Perut juga bisa jadi lebih ramping, hlo. Makanya tiap pagi aku selalu meminum segelas air hangat sambil menikmati udara pagi.
Aku membuka pintu geser yang menghubungkan kamar dengan balkon. Udara pagi terasa sejuk menyentuh kulit. Bisa ku lihat anak-anak kaktusku menyambut mentari pagi dengan bahagia. Aku memang menyukai kaktus hias, mereka bertahan dalam panas dan minim air, tapi tetap bisa menghasilkan bunga yang cantik.
Aku menguap beberapa kali dan merenggangkan badanku. Hawa dingin membuatku kembali menguap. Tumben sekali matahari belum terbit padahal sudah hampir jam enam pagi. Aku meneguk lagi air dari dalam gelas sampai habis.
Aku begitu kaget saat ternyata ada seorang pria yang berdiri di balkon sebelah. Rambutnya masih sama acak-acakkannya denganku. Ia bertelanjang dada dan memamerkan otot tubuhnya yang terbentuk sempurna.
BRRUUUSSHHH....
Aku memuncratkan hampir semua air di dalam mulutku saat mengetahui siapa laki-laki itu.
“ARVIN??!” teriakku tak menyangka. Bagaimana bisa dia ada di situ?
Jadi tetangga baruku itu adalah dia?
“Morning, baby.” senyumannya terlihat puas. Apa yang sedang dia pikirkan?
“Kenapa kau bisa berada di situ?” Aku tergagap tak percaya.
“Kangen!” serunya, ia mengangkat naik tubuhnya yang dari tadi menunduk, bersandar pada siku tangan.
Aku terkejut dan seketika berbalik badan. Aku malu melihatnya. Melihat seorang pria yang bertelanjang dada di depan matamu pasti membuatmu salah tingkah bukan.
“Kenapa?”
“Pakai bajumu!!” teriakku sebal.
“Kaukan sudah melihat semuanya, kenapa mesti malu?” teriak Arvin.
“Hei!!!” protesku sebal. Memang sih aku sudah melihat semuanya. Tapi bukan berarti aku tak malu saat melihat dadanya telanjang.
“Kurang, ya? Apa perlu aku lepas sekalian celanaku?” Arvin semakin menjadi-jadi, aku menggigit bibirku menahan rasa sebal.
“Dasar tak tahu malu.” Aku berbalik dan melemparkan kerikil yang kuambil dari pot kaktus.
“Mau ke mana?”
“Masuk.”
“Eh, tunggu! Aku ke situ, ya.” Arvin naik ke atas tralis balkon. Membuatku terbelalak kaget.
“Kau mau apa? Jangan melompat!! Bahaya!!!” teriakku.
Balkon kami terpisah dengan jarak kurang lebih 2 meter dan kamar kami berada di lantai 5. Bagaimana kalau dia gagal melompat? Kalau jatuh bagaimana? Kalau sampai terluka bagaimana? Kalau mati bagaimana??!!
“Tunggu di situ, Kalila.” Arvin nekat.
“Jangan!!! ARVINN!!! Jang...!!!!” teriakku mencoba menghentikan aksinya, tapi terlambat Arvin melompat.
“ARVIN!!” Aku berlari ke sisi balkon. Mencari keberadaannya. Jantungku berdebar tak karuan, aku takut terjadi sesuatu padanya.
“Kumohon... kumohon... jangan mati,” doaku pelan.
“WAAA!!!” Arvin yang bergelantungan pada tralis, lalu meloncat naik ke atas. Membuatku kembali kaget.
Tubuh kami kini hanya terpisah tralis balkon. Arvin tersenyum begitu melihatku ketakutan setengah mati.
“Kau ternyata sangat sayang padaku, baby!”
Sialan, dalam keadaan seperti ini dia masih bisa menggodaku. Ingin aku dorong saja dia ke bawah, jadi rasa cemasku nggak terbuang sia-sia.
“Bagaimana kau bisa senekat itu?” Aku memukul lengannya kencang, menyalurkan rasa takut. Aku masih bergetar karenanya.
“Kau takut aku mati?” kikih Arvin.
“Tidak! Aku hanya nggak mau masuk ke dalam berita viral karena seorang pria meninggal saat meloncat ke dalam balkonku.” Aku memandang wajahnya dengan cemberut.
Pandangan kami bertemu, dan entah bagaimana ceritanya Arvin berhasil mengecup bibirku. Membuat getaran itu semakin bertambah kencang. Rasanya bagaikan tergelitik oleh ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dekatmu.
“Sory, baby. Aku tak tahan godaannya.”
Aku langsung berbalik meninggalkan Arvin. Aku harus melakukannya sebelum wajahku bertambah panas dan jantungku melompat keluar. Lebih baik aku pergi darinya. Oh, Tuhan, ingin rasanya aku menghilang saja.
“Gila!! Pulang sana!!” usirku.
“Hei, ke mana?” Arvin melangkah masuk.
“Kembali tidur!” Aku kembali menutup diri dengan selimut.
“Kita sudah satu minggu tak bertemu, masa kau mengusirku begitu saja?” Arvin masuk ke dalam kamarku.
“Pulang!!” usirku lagi, aku tetap bersembunyi di dalam selimut.
“Jangan, donk!! Susah payah aku kemari.” jawab Arvin.
Aku menyibakkan selimutku, “setidaknya pakai dulu bajumu!!” teriakku.
Hah.... Apa pria ini mau aku mati kehabisan napas?
“Oh, OK.” Arvin keluar melalui pintu kamarku, sekejap kemudian dia kembali lagi.
“Baby, aku lupa kunci kamarku.”
Aku menepok jidatku!!! Laki-laki bodoh ini!
“Lompat lagi aja sana!!” geramku.
— MUSE S2 —
MUSE UP.
Good morning everyone..
Happy GOOD FRIDAY bagi yang merayakan
God bless
Jangan lupa
LIKE LIKE LIKE
VOTE VOTE VOTE
COMMENT COMMENT COMMENT
Nggak terasa udah hampir 4 minggu sejak #dirumahaja ya gaes..
Tetep semangat ya,
Tetep enjoy dengan banyak melakukan hal positif.
Jaga hati dan pikiran dengan melakukan hal-hal kecil seperti olah raga ringan, memasak, atau baca novel saya
Wkwkwkkwkwk...
See yu next episode ya,..
❤️❤️❤️
Luv yu