
MUSE S4
EPISODE 11
S4 \~ PARTY
\~Sambil berdansa kami kembali menyatukan bibir dan bermain bersama dalam buaian rasa manis. Berbagi kehangatan dan dekapan manja. Sama-sama mengullum rasa, getarannya sampai ke dalam sudut hatiku yang terdalam. \~
________________________
Setelah malam itu, hubunganku dengan Ken menjadi kembali baik. Ken meminta maaf padaku karena telah menyakitiku saat menjadi Ra. Hubungan cintaku tak jadi terancam punah gaes. Kini kami kembali jalan bersama.
Siang ini aku duduk di pinggir kasur bersamanya. Aku menceritakan masalahku dan anak-anak tentang ide kami memperbaiki jalanan belakang perumahan. Ken sangat berterima kasih padaku walaupun ide itu belum terkabul.
“Thanks, girl.” Ken berjongkok di depanku, ia menggenggam dan mencium tanganku.
“Erm..., ide itu belum terwujud Ken,” kataku sedikit malu, tak enak dengan Ken yang terlanjur menyanjung tinggi diriku.
“Tidak apa, yang penting kau peduli pada mereka.” senyuman hangat Ken membuatku ingin mencair. Oh, no. Aku mencair!
“Ken, kenapa kau begitu baik hati?” tanyaku keheranan. Dia begitu peduli dengan nasib orang lain, bahkan Ken juga bukan orang kaya. Dia hanya berkecukupan.
“Entahlah, Inggrid. Melihat mereka kesusahan seperti melihat bayangan diriku saat tahun-tahun pertama kematian Papa. Mami harus strugle dengan kehidupannya.” Ken kembali duduk di sampingku.
Aku naik ke atas ranjangnya, berbaring dan menatap langit-langit. Apa kalau aku menjadi istri Ken akan melihat langit-langit ini setiap harinya? Hah, mikirmu kejauhan Inggrid, lebih baik kau selesaikan saja masalah Ra terlebih dahulu. Bagaimana cara menghapus Ra dalam diri Keano?
Ken ikut berbaring di sampingku. Kami berbagi cerita dan juga senyuman. Ken sudah bagaikan separuh jiwaku, tak pernah ada yang ku sembunyikan darinya. Tiap-tiap pengalaman yang ku dapatkan selalu aku ceritakan padanya. Aku rasa diapun juga begitu.
“Cium aku Ken.”
“Sekarang?”
“Iya.”
Ken mendekatkan wajahnya, kami hendak bercium. Namun tiba-tiba tangannya mendorong dahiku.
“Hei ganjen!! Kenapa tiap saat minta cium?”
“Ra?”
“Kenapa tidak pulang dan malah main ke mari? Keano mesti belajar kau tahu!!”
“Kenapa kau muncul pas Ken mau menciumku sih?! Nyebelin deh!” gerutuku.
“Ck ck ck, cewek ga ada ahklak!!” ledeknya padaku.
“Kau yang nggak ada ahklak!! Bisa-bisanya keluar saat aku ingin berciuman.” balasku keras.
“Sudah sana pulang!!” usirnya.
Aku bangkit dengan sebal dari atas kasur dan menyahut tasku. Dengan kasar aku membuka pintu.
“Hei!!” panggilnya.
“Apa?”
“Tidak!! Tidak jadi, pulanglah.”
“Dasar aneh!” lirihku.
Aku kembali membuka pintu dan keluar, namun aku berhenti karena teringat sesuatu, “hei! Nanti malam kau jangan keluar, aku akan berlatih dansa dengan Ken.” Ra hanya menjawabnya dengan tersenyum simpul.
— MUS S4 —
•••
Debu mengepul saat skateboardku beradu dengan jalanan berpasir. Sudah hampir pukul 7 malam. Saatnya menuju rumah Ken untuk berlatih dansa.
“Ken!!” Aku masuk ke dalam kamar.
“Hallo, girl.” sapanya. Siapa yang berdiri di depanku? Ken atau Ra? Suaranya sama, memanggilku mirip Ken, tapi dia tak pakai kaca mata!
“Ken? Ra?”
“Ken, Inggrid.” jawabnya.
“Ken!!” Aku berlari menghampiri tubuh jangkungnya, melompat dan memeluknya seperti biasa.
“Sudah makan? Mau aku masakkan sesuatu?” tawar Ken.
“Nggak, aku sudah makan. Dan kita harus berlatih dansa, waktunya semakin mepet Ken.” Aku menolak tawarannya. Ken menurunkanku ke bawah.
“Baiklah, ayo kita mulai.” Ken mengelus lenganku sampai mengambil telapak tanganku untuk menyatukan jari kami.
“Jangan terlalu kaku OK!” pintaku.
“OK, Inggrid.”
Aku menaruh tanganku yang lain pada pundak Ken, dan Ken menaruh tangannya yang lain pada pinggangku. Kami saling bersitatap sesaat sebelum akhirnya Ken memecah keheningan.
“Kau cantik sekali, girl. Aku sampai gugup saat melihatmu sedekat ini.” Ken menjatuhkan kepalanya di atas pundakku.
“Besok kau jangan begini ya!” Aku terkekeh.
“Tentu saja.”
“Terus kau bilang pada Ra jangan muncul dan mengacaukan semuanya OK!” ucapku sembari melangkahkan kaki ke depan dan belakang.
“OK.”
Aku mengalihkan lenganku untuk merangkul lehernya. Bergelayut manja dan semakin mendekatkan diri padanya. Bisa ku rasakan tubuh kami saling bersentuhan. Rona kemerahan menyembul di wajah Keano. Ah, dia imut sekali saat malu-malu begini. Aku terpaksa harus berjinjit agar bisa mengecup bibirnya.
“Aku mencintaimu Inggrid.”
“Aku juga Ken. Aku sangat mencintaimu.”
Sambil berdansa kami kembali menyatukan bibir dan bermain bersama dalam buaian rasa manis. Berbagi kehangatan dan dekapan manja. Sama-sama mengullum rasa, getarannya sampai ke dalam sudut hatiku yang terdalam.
— MUSE S4 —
•••
Akhirnya pesta ulang tahunku tiba juga. Aku sudah berdandan dari jam pulang sekolah. EO sudah menjemputku dan mengantarkanku ke salon terbaik pilihan Mommy.
Ball room di sebuah hotel berbintang lima telah di sulap dengan permainan LED, decor, dan juga lighting sesuai tema, Arabian night. Suasananya remang dengan dominan lampu berwarna ungu. Agar suasananya semakin mirip mereka mengisi sound dengan lagu-lagu dari rebana dan tamborin.
Sebuah kue tart dengan konsep aladin menjulang setunggi hampir 1,5 meter. Daddy sengaja memesan yang paling besar dan mewah. Terdapat angka 17 yang besar, menunjukan bahwa kini umurku genap 17 tahun.
Makanan, minuman, sweet treat, kudapan asin, roti-roti kering, sampai permen telah di tata dengan rapi di menja buffe. Kursi-kursi dengan tatanan rapi dan juga souvenir tas totte go green, berbahan kanvas dengan tema Aladin sebagai souvenirnya. Dress code hari ini juga adalah Arabian Night, tentu saja semua tamu juga akan berdandan ala timur tengah.
Pihak salon merias diriku mirip dengan princess Jasmin. Membuat rambutku semakin panjang dengan hair clip, tak lupa mereka menaruh hiasan rambut sesuai dengan asessoris sang Putri.
Aku berganti pakaian, memakai baju ala princes Jasmin berwarna biru tosca dengan taburan batu gemerlapan. Celananya menggembung dan berhiaskan kerincingan, sehingga saat aku bergerak nanti akan menimbulkan bunyi gemerincing yang merdu. Pusarku terlihat karena memang model bajunya seperti ini. Lalu ada kain tranparant panjang sebagai ekor dan menyambung dengan cincin pada jemariku. Di kain itu ada bordiran dengan motif bulu burung merak.
Mommy dan Daddy tak henti-hentinya berdecak kagum dengan kecantikanku. Aku sendiripun terkesima dengan perubahan wajahku. Aku tak pernah berdandan sebelumnya, jadi wajahku langsung terlihat berbeda saat aku berdandan.
“Kau siap princess?” tanya Daddy, diapun telah berdandan dengan pakaian bak sultan.
“Sure, Dad.” jawabku.
“Mommy panggil Keano dulu, ya, bukankah kau akan masuk bersamanya.”
“Oke Mom.”
Aku menunggu cukup lama sampai akhirnya Ken datang. Dia telah berdandan ala Aladin, dengan rompi ungu dan juga celana gombor berwarna silver metalik. Ken tampak sangat tampan dengan dandanannya itu.
“Ken!” seruku senang saat melihatnya.
“Kau cantik sekali.” pujiannya membuatku malu.
“Thanks, Ken. Kau juga sangat tampan.” senyumku.
“Aku bohong, kau jelek!” tawanya membuatku sebal. Ternyata bukan Ken, dia Ra!
“Apa??” dengan terheran-heran aku mendekatinya. Padahal aku sudah bilang pada Ken agar tak mengizinkan Ra mengambil alih tubuhnya malam ini.
“Sory, Inggrid. Aku Ra, aku datang menggantikan Ken.”
“Kenapa?”
“Kenapa ya? Karena Ken malu berpakaian seperti ini.” Ra berputar, memang sih, kurang bahan pakaiannya.
“Kau bohongkan?” tanyaku, aku sangat kecewa karena bukan Ken yang mendampingiku masuk ke dalam ballroom.
“Oh, kalau kau tak ingin aku yang menemanimu aku akan keluar.” Ra menunjuk ke arah pintu keluar dengan ibu jarinya. Sementara lengannya yang lain terlipat di depan dada.
Aku menghela napasku dengan kasar dan berat. Melihat pria yang ku cintai berubah menjadi pria yang ku benci. Oh, No. Kenapa bukan Ken? Kenapa bukan dia yang mendampingiku? Jujur aku kecewa, tapi aku bisa apa?!
Panggung menyambut ke datanganku dengan lagu-lagu indah khas Aladin. Sepanjang jalan aku menggandeng Ra, menapaki setiap jengkal karpet merah menuju ke atas panggung dengan jengkel.
Arabian nights 🎶
Like Arabian days
More often than not are hotter than hot
In a lot of good ways 🎶
Arabian nights
Like Arabian dreams
This mystical land of magic and sand
Is more than it seems
There's a road that may lead you to good or to greed 🎶
Ra melepaskanku begitu aku tiba di atas panggung. Prosesi demi prosesi acara di mulai. Aku bisa melihat hiruk pikuk dan antusias semua teman-teman seangkatanku. Senyumanpun tak pernah luput dari wajah kedua orang tuaku. Maka itu akhirnya aku mengalah, memilih untuk bersabar demi pesta yang lancar dan meriah.
Aku melihat Ra mengobrol asyik dengan Momo di kursi tamu. Mereka terlihat sangat bahagia dan cocok. Tanpa sadar aku mengulum senyuman kecut sebelum meniup lilin ulang tahunku.
Akhirnya semua proses acara selesai. Tinggal acara puncak sebelum makan malam. Yaitu pesta dansa, lampu langsung menyorot ke tengah panggung, lagu mulai terdengar. Ra berjalan menuju ke belakang panggung tempat di mana aku menunggunya. Rencananya kami akan muncul begitu aba-aba di berikan.
“Kita tak perlu berdansa Ra!!”
“Lalu kau akan berdansa dengan siapa?” Ra menaikan alisnya bingung.
“Entahlah, yang pasti aku tak ingin berdansa dengan lelaki menyebalkan sepertimu,” jawabku.
“Apa maksudmu Inggrid? Kita sudah latihan bersama!” geram Ra, ia mencengkram lenganku.
“Kau bisa berdansa dengan Momo.” kataku, aku tak takut dengan pandangan tajamnya.
“Apa maksudmu?!” Ra membentakku.
“Hei, easy!!” Kak Daffin muncul, aku memang meminta pihak EO untuk memanggilnya ke belakang panggung.
“Aku akan berdansa dengan Kak Daffin.” Aku langsung melingkarkan lenganku pada lengan Kak Daffin.
Ra memandang nanar ke arah Kak Daffin sebentar sebelum akhirnya beranjak pergi dari back stage. Kembali menghambur ke tengah-tengah tamu undangan.
“Ada apa dengan kalian?” tanya Kak Daffin.
“Tidak ada apa-apa, Kak.” Aku berusaha untuk tersenyum. Tak mungkin aku berkata bahwa saat ini dia bukanlah Ken melainkan Ra. Tentu Kak Daffin akan memandangku dan mengira kami sudah gila.
“Siap?” tanya seorang EO.
“Siap.” Anggukku.
“Maafkan aku Kak. Aku memaksamu berdansa denganku.” Aku tertunduk lesu, namun tangan kokohnya menggenggam tanganku. Kak Daffin tersenyum.
“Yang penting kau tersenyum Inggrid. Malam ini adalah pestamu, kau harus bahagia. Jangn biarkan hal kecil merusak moodmu.” ucapnya seraya mendampingiku berjalan keluar.
“Kau benar, Kak.” Aku tersenyum. Hari ini pesta ulang tahunku. Harusnya aku terus tersenyum bahagia. Walaupun bukan Ken yang mendampingiku, setidaknya Kak Daffin juga adalah cowok yang baik dan tampan.
I can show you the world 🎶
Shining, shimmering, splendid
Tell me, princess, now when did
You last let your heart decide?
I can open your eyes
Take you wonder by wonder
Over, sideways and under
On a magic carpet ride 🎶
A whole new world🎶
A new fantastic point of view
No one to tell us, "No"
Or where to go
Or say we're only dreaming
A whole new world
A dazzling place I never knew 🎶
But when I'm way up here
It's crystal clear
That now I'm in a whole new world with you
(A whole new world, naomi scott)
Musik mengalun. Aku berdansa di tengah area panggung dengan Kak Daffin. Ia melingkarkan tangannya pada pinggangku dan membantuku berdansa. Ternyata dia cukup ahli juga, padahal kami tak pernah latihan bersama sebelumnya. Setelah beberapa langkah maju dan mundur, kak Daffin memutar tubuhku dan memelukku erat.
Kak Daffin memelukku dari belakang. Kami masih berdansa dengan kedua tangannya bersarang pada pinggangku dan juga alunan napasnya yang panas menyentuh leherku. Kami bergoyang perlahan mengikuti alunan lagu yang indah itu. Benar-benar serasa menjadi seorang Putri, sayangnya Pangeranku berkostum Jafar bukan Aladin.
Kak Daffin kembali memutar tubuhku, aku sedikit oleng dan menabrak tubuhnya. Bisa ku rasakan degupan jantungnya yang melaju dengan cepat. Dia lelah atau gerogi?!
“Kau cantik, Inggrid. Selama ulang tahun.” Kak Daffin mengecup punggung tanganku begitu lagu selesai.
“Thanks, Kak.” jawabku.
Sepanjang makan malam aku menemani Daddy dan Mommy di meja keluarga. Aku sama sekali tak melihat kehadiaran Ra di meja, padahal seharusnya dia makan bersama dengan kami. Mami Melody juga mencari keberadaannya. Semuanya pasti bertanya-tanya dalam hati kenapa aku tak berdansa dengan Keano. Mereka hanya tak berani berkata-kata karena memang tak ingin merusak moodku.
•
•
•
Tiba saatnya pengunjung acara!! Party time!! Yuhhhuuu.....! Saatnya anak muda berpesta. Para orang tua pulang, kini tinggal anak-anak seumuranku yang menikmati hiruk pikuk meriahnya acara bebas malam ini.
DJ langsung menghidupkan suasana music beat dengan kencang. Semuanya berdansa dengan riang, menari sambil meloncat sekuat tenaga mereka.
“Lets Party!!!! Kita sambut Miss Inggrid!! The princess for tonight!!!” Teriak DJ dari mic nya.
“YEEEE!!!!!” Sorak semuanya.
Aku melambaikan tanganku senang!! Lalu bergegas masuk ke kerumunan keramaian dan berbaur untuk menari bersama.
“Thanks, sudah datang ke pestaku!!!” teriakku agar mereka semua bisa mendengarnya.
“Sure Inggrid!!! Pestanya luar biasa!!!” Teriak semuanya.
Mereka kembali meloncat dan berdansa, tanpa sadar aku ikut meloncat bahagia. Aku sama sekali tak peduli lagi dengan Keano. Benar kata Kak Daffin, malam ini adalah malamku, aku tak harus merusaknya dengan mood yang jelek hanya karena Ra!!
“Inggrid!!” Kak Daffin menggandeng tanganku dan mengajakku ke balkon.
“Ada apa Kak?” tanyaku keheranan.
“Ada yang ingin aku katakan padamu.” Jawab Kak Daffin.
“Apa?” Kami sampai pada balkon, music keras tak lagi terdengar.
“Entah kenapa aku tak bisa menyembunyikan lagi perasaanku yang begitu menggebu-gebu, Nggrid.”
“Perasaan?” jantungku berdetak hebat, aku yakin Kak Daffin juga merasakan hal itu.
“Iya, sudah lama aku suka padamu Inggrid. Jauh sebelum mengenalmu, aku selalu melihatmu bermain di taman.”
“Tapi aku sudah punya pacar Kak!” Jawabku.
“Dia tak pernah menganggapmu pacar bukan? Dia bahkan tak ada di sampingmu saat berdansa tadi.” ucap Kak Daffin, tangannya menggenggam erat tanganku.
“Maaf, Kak. Bukan begitu, dia hanya...,” Duh!! Susah banget jelasinnya!! Dia Ra bukan Ken pacarku. Aku menggigit bibi bawahku karena kebingungan.
“Aku cinta padamu, Inggrid. Please beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku lebih baik darinya.” Kak Daffin mendekatkan wajahnya hendak menciumku. Namun tiba-tiba...,
BUK!!!!
Ra melemparkan sebuah bogem mentah ke wajah tampan Kak Daffin. Dengan pandangan seperti ingin membunuh Ra menghampiri lagi tubuh Kak Daffin yang terpental ke lantai.
“Brengsek!! Kau mau apa?!” tanyanya Kasar.
“Jangan!!” cegahku.
Ra melepaskan cengkramannya dari kerah Kak Daffin. Dengan segera ia menghampiriku. Lalu mengusap kasar bibirku, seakan-akan bibirku begitu kotor. Padahal Kak Daffin saja belum sempat menciumku.
“Kenapa??!” tanyaku bingung, namun cowok ini tak mempedulikan ucapanku.
“Ke...,” aku hendak mengulangi pertanyaan yang sama namun bibirnya sudah lebih dahulu membungkam bibirku. Melumattnya dengan begitu dalam seakan-akan aku adalah miliknya.
Sejenak otakku membeku, aku bingung dengan situasinya. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Ra menciumku?! Apa dia cemburu?
— MUSE S4 —
Muse Up
Yuk di VOTE
LIKE
COMMENT
JANGAN LUPA BACA NOVEL SY YANG LAIN.
Terus jangan lupa banyak minum air putih.
Banyak makan buah. Biar stay healty.
Jangan lupa tetep jaga bumi kita dengan membuang sampah pada tempatnya dan juga mengurangi penggunaan plastik.
Bawa tas belanja dan juga wadah makan sendiri gaes.
Love yu.
Love people
Sweet, dee ❤️❤️❤️